Posts Tagged 'Agus Noor'

– PEMENTASAN “TANGIS” TEATER GANDRIK

IMG_20150207_135314

 

TEATER GANDRIK, akan manggung mementaskan lakon Tangis, pada 11-12 Februari 2015 di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, kemudian dilanjutkan dengan pementasan di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta, 20-21 Februari 2015. Inilah lakon, yang pada awalnya ditulis oleh (Alm) Heru Kesawa Murti, dan karena itu pementasan Teater Gandrik ini mempunyai makna yang spesial. Saya, kemudian mengembangkannya. Tangis berlatar perusahaan batik milik Juragan Abiyoso menyimpan banyak masalah. Perusahan batik yang sukses itu perlahan-lahan mengalami kebangkrutan. Banyak spekulasi perihal apa yang menyebabkan trah Juragan Abiyoso itu berantakan. Pak Dulang, seorang dalang, menceritakan tentang “canting pusaka” milik Juragan Abiyoso yang kabarnya hilang. Berkat “canting pusaka” itulah konon kabarnya Abiyoso bisa sukses menjadi juragan batik. Kini, rumah sekaligus pabrik batik itu menyimpan banyak misteri. Bahkan kabarnya berhantu. Suatu kali, seorang buruh pabrik batik bernama Sumir mendadak menghilang dan dikabarkan mati sebagai tumbal. Lanjutkan membaca ‘– PEMENTASAN “TANGIS” TEATER GANDRIK’

– BUKU “CERITA BUAT PARA KEKASIH” AGUS NOOR

Seperti dalam 1001 malam, kukisahkan cerita- cerita ini untukmu. Kenangkanlah, ketika pada suatu malam aku menceritakannya dalam hidupmu…

Cover Cerita buat para kekasih-C-R

 

Begitulah, dari satu malam ke malam lainnya, seorang kekasih yang setiap malam selalu merasa dirinya menjelma kunang-kunang, bercerita pada para kekasihnya. Cerita yang seakan mengusir kebosanan dan kesepiannya. Cerita yang berusaha menentramkan kekasihnya. Cerita yang kadang menakjubkan tapi kadang juga membuat gemetar yang mendengarnya. Ia, kekasih yang suka bercerita itu ingat, suatu malam seseorang pernah berkata padanya. ”Di antara para kekasihku, hanya kamu yang suka bercerita. Rasanya belum tercatat di Guinness Book of World Records siapa yang paling banyak bercerita dalam satu malam. Ratu Syahara- zad, hanya menceritakan satu cerita dalam satu malam..”

”Berapa records-ku?”

”Dua belas cerita dalam satu malam….”

Dan ia tertawa.

”Kenapa?”

”Itu melampaui jumlah pacar-pacarku…”

”Tapi pasti jauh lebih sedikit dibanding bualanmu!”

Lanjutkan membaca ‘– BUKU “CERITA BUAT PARA KEKASIH” AGUS NOOR’

– KEMENANGAN

Dalam situasi dan kondisi apa “kemenangan” menjadi bernilai dan mermakna? Ini esai opini saya, yang dimuat di KOMPAS, Senin, 21 Juli 2014. Selamat merenungkan…

 

GAMBAR KEMENANGAN

 

Ramadhan, Piala Dunia dan pilpres, terasa saling berkaitan saat ini, untuk merefleksikan makna kemenangan. Ramadhan, disebut “bulan kemenangan” yang ditandai dengan limpahan rahmat. Piala Dunia dan pilpres, tak bisa dilepaskan dari hasrat untuk menjadi pemenang. Dalam politik, tak ada kekuasaan tanpa kemenangan. Hasrat akan kemenangan merupakan sifat dasar manusia yang kompetitif, juga hasrat untuk berkuasa (the will to power) seperti ditegaskan Nietzsche, menjadi “manusia unggul” (Ubermensch). Lanjutkan membaca ‘– KEMENANGAN’

– RAKYAT YANG WARAS

Ini esai saya, yang terbit di Harian KOMPAS, Selasa 24 Juni 2014. Selamat jadi rakyat yang waras…

gambar25

 

 

RAKYAT YANG WARAS

 

 

Beruntunglah negara ini memiliki rakyat yang waras. Bahkan, bila diungkapkan dengan hiperbolis, rakyat yang waras itulah satu-satunya keberuntungan yang masih dimiliki negara kita, karena sumber daya alam yang melimpah, keanekaragaman hayati dan kekayaan kebudayaan sudah lama diabaikan negara.

Telah sekian lama negara tidak mampu melindungi potensi-potensi yang sesungguhnya sangat berharga itu. Bila Indonesia tidak benar-benar menjadi negara gagal (failed states) dengan situasi seperti yang terjadi di Somalia, Chad, Zimbabwe atau Kongo, maka itu bukanlah karena negara telah bekerja efektif mengatasi indikasi bermacam kegagalannya, tetapi lebih karena rakyat yang waras itu terus memberdayakan dirinya, tanpa merasa perlu tergantung pada negara. Sampai-sampai ada ungkapan yang diekspresikan melalui mural tembok kota: “teruslah bekerja, jangan berharap pada negara”. Karena negara tak hanya seringkali absen saat rakyat membutuhkan perannya, tetapi negara memang terlalu direpoti oleh urusan-urusan politik, birokrasi yang tak efisien, sampai kasus-kasus korupsi yang tak berkesudahan. Ada anekdot tiap kali terjadi bencana: yang pertama kali sampai ke tempat bencana bukanlah pemererintah (sebagai representasi negara) tetapi mie instans. Lanjutkan membaca ‘– RAKYAT YANG WARAS’

– KARTU POS DARI SURGA

Saya teringat kembali cerpen ini, ketika membaca berita pesawat Boeing 777 maskapai penerbangan Malaysia Airlines, hilang — yang sampai tulisan ini saya posting, belom jelas kabarnya. Di duga hilang di Samudera HIndia. Ini cerpen lama saya, ada di buku antologi cerpen Pilihan Kompas 2008 dan juga masuk dalam buku cerpen-cerpen terbai Indonesia Penas Kencana tahun 2009. Kemudian saya masukkan dalam buku Sepotong Bibir paling Indah di Dunia. Saya pernah munuliskan pula, bagaimana proses cerpen ini saya selesaikan.

 

Kartu Pos 5

 

KARTU POS DARI SURGA

Mobil jemputan sekolah belum lagi berhenti, Beningnya langsung meloncat menghambur. “Hati-hati!” teriak sopir. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. Seperti capung ia melintas halaman. Ia ingin segera membuka kotak pos itu. Pasti kartu pos dari Mama telah tiba. Di kelas, tadi, ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun. Lanjutkan membaca ‘– KARTU POS DARI SURGA’

– MATA TELANJANG

Cerpen Mata Telanjang adalah cerpen kedua yang saya tulis bareng Djenar Maesa Ayu, setelah cerpen Kunang-kunang dalam Bir.  Cerpen Mata Telanjang ini, muncul di majalah Esquire edisi Maret 2013.

Suatu malam kami bertemu, membuka laptop, dan mulai menulis, tanpa sebelumnya merancang cerita atau alurnya. Mengalir begitu saja. Kali ini gantian, setelah pada Kunang-kunang dalam Bir Djenar menuliskan kalimat pertama, giliran pada Mata Telanjang, saya membuka cerita. Kalimat pertama melintas, dan saya menuliskannya. Mengalir mengikuti kelebatan imajinasi dalam kepala. Seperti sebuah tarikan nafas pertama, dan berhenti ketika harus berhenti. Lalu Djenar melanjutkan.

Begitupun dia, menulis apa yang ada dalam imajinasinya, dan berhenti kalau memang merasa harus berhenti, untuk kemudian diestafetkan kembali ke saya. Begitu seterusnya, kami saling merespon, membiarkan dan mengikuti kemana cerita ini bergerak.  Laptop bolak-balik, kayak setrikaan, ke hadapan saya dan Djenar. Ketika Djenar menulis, saya membiarkannya, dan begitu juga sebaliknya. Kami tak mengarahkan cerita ini dengan saling mendiskusikan atau memperdebatkannya sebelumnya atau selama proses penulisannya. Bahkan ketika menulis kalimat pertama pun, kami tak tahu, akan menulis cerita tentang apa, siapa tokohnya, apa judulnya. Kali ini, kami hanya menyepakati soal sudut pandang penceritaan, agar proses yang kami jalani juga tidak mengulang apa yang kami jalani sebelumnya, dan karna itu menantang bagi bami berdua.

Proses ini jauh lebih menyenangkan, karna kami sering terkejut ketika harus melanjutkan. Misalkan, ketika saya gantian kembali harus melanjutkan cerita, saya kaget membaca apa yang sudah Djenar tulis, karna saya tak menduga sebelumnya. Atau, apa yang ditulis tidak sebagaimana dugaan saya sebelumnya. Dan saya kira, Djenar pun demikian. Cara Djenar mengakhiri cerita pun, membuat saya terkejut. Saya tak menyangkanya.

Nah, selamat menikmati Mata Telanjang.

Gambar 48

Lanjutkan membaca ‘– MATA TELANJANG’

– PADA SEBUAH SAKIT

PADA SEBUAH SAKIT

                                                      @ameelias

masih subuh, kau membatin

 

subuh yang lain

bagi yang mungkin

 

seperti terdengar gemeretih

penggorengan mendidih

dari jantungmu

 

ranjang serba putih ini

sedingin porselin

(dan wajahmu lebih pasi

dari sekerat roti)

 

kesakitan adalah

dataran asing yang kaujelajahi, sendiri Lanjutkan membaca ‘– PADA SEBUAH SAKIT’

– DELAPAN KWATRIN KELOPAK BUNGA

Image

1

kau melihat kelopak bunga mengapung

di selokan rumahsakit.

“aih,” katamu,” ia bagai nyawa bayi yang dibuang,

dan menjerit.”

2

malam hari, dalam mimpimu,

kelopak bunga itu tumbuh berkilauan, bersih seperti

wajahmu semasih bayi.

kau, juga tiktok jam itu, perlahan saling tersedu.

3

kau petik bunga  yang tumbuh dalam mimpimu itu,

iseng kau tanggalkan kelopaknya, satu per satu.

kau dengar ada yang mengaduh,

ketika kelopak itu runtuh Lanjutkan membaca ‘– DELAPAN KWATRIN KELOPAK BUNGA’

– REQUIEM KUNANG-KUNANG

Cerpen: Agus Noor

BARANGKALI aku akan menjadi kunang-kunang terakhir di kota ini. Segalanya terasa sebagai kesenduan di kota ini. Gedung-gedung tua dan kelabu, jalanan yang nyaris lengang seharian, deretan warung kelontong dan kafe-kafe sunyi dengan cahaya matahari muram yang mirip kesedihan yang ditumpahkan. Kota ini seperti dosa yang pelan-pelan ingin dihapuskan.

Bila suatu kali kau berkunjung ke kota yang terletak di lekuk teluk yang bagai mata yang mengantuk ini, kau sesekali hanya akan bertemu dengan satu dua orang tua, yang berjalan malas atau pemabuk yang meringkuk mendengkur di bangku-bangku taman. Bila kau perhatikan dengan cermat, setiap perempuan yang kau temui di kota ini selalu berjubah dan kerudung hitam, seolah-olah mereka terus berkabung sepanjang hidupnya, seolah-oleh mereka semua adalah rahib kesedihan. Dan bila kau memperhatikan lebih cermat lagi, lebih teliti, maka kau akan segera tahu: hampir dari mereka semua, buta! Lanjutkan membaca ‘– REQUIEM KUNANG-KUNANG’

– NASKAH MONOLOG “KUCING”

Naskah lakon monolog ini saya tulis ulang dari cerpen karya Putu Wijaya yang juga berjudul Kucing. Anda bisa membaca cerpen itu, dan melihat bagaimana cerpen itu kemudian saya olah untuk kebutuhan pemanggungan. Mungkin menarik pula untuk perbandingan. Pertama kali, lakon monolog ini dimainkan oleh Butet Kartaredjasa pada tanggal  30-31 Oktober 2010, di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kemudian dipentaskan di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Bahkan Butet Kartaredjasa sempat mementaskannya berkeliling ke kota-kota, mulai dari Bandung, Tasikmalaya, Cirebon, Semarang, Tegal , Salatiga dan Purwokerto.

Berikut adalah versi lengkap naskah monolog Kucing itu. Selamat menikmati, dan silakan bila ingin mementaskannya.


Lanjutkan membaca ‘– NASKAH MONOLOG “KUCING”’


Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Oktober 2021
S S R K J S M
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Archives Files

Catagories of Files