“POTONGAN CERITA DI KARTU POS”

cover-3-wp.jpg

Judul Buku : Potongan Cerita di Kartu Pos
Pengarang : Agus Noor
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Cetakan : I, September 2006
Tebal Buku : vi+173 Halaman

Kumpulan Cerpen Agus Noor, Potongan Cerita di Kartu Pos, memperlihatkan upaya tekhnis dan estetis Agus Noor sebagai seorang penulis cerpen untuk menjelajahi bermacam gaya dan kemungkinan bercerita, sekaligus eksplorasi tema. Bagaimana mengolah tema dengan menekankan gaya bercerita, sangat terasa dalam buku ini. Maka sebagai penulis cerpen pun Agus Noor seakan mengukuhkan satu sikap estetik: bahwa seorang penulis mestilah tidak berhenti dengan satu gaya atau style. Tulisan Satmoko Budi Sastosa, berikut ini, bisa menjadi rujukan untuk melihat proses kreatif Agus Noor. Tulisan ini diambil dari Jawa Pos (Minggu, 26 November 2006). Selengkapnya, silakan simak “Estetika Kefasihan Pengarang Bercerita” berikut…

Estetika Kefasihan Pengarang Bercerita

Oleh Satmoko Budi Santosa

KEMBALI dunia sastra Indonesia digairahkan oleh penerbitan buku kumpulan cerpen berjudul Potongan Cerita di Kartu Pos karya Agus Noor. Bagi yang jeli mengamati proses kreatif Agus Noor sepanjang kepengarangannya pastilah bakalan bersepaham bahwa kumpulan cerpen ini adalah buku kelima yang dihasilkannya, setelah sebelumnya ia menerbitkan buku kumpulan cerpen yang berjudul Memorabilia (1999), Bapak Presiden yang Terhormat (2000), Selingkuh Itu Indah (2001), dan Rendezvous: Kisah Cinta yang Tak Setia (2004).

Sedikit berbeda dengan buku-buku kumpulan cerpen yang sebelumnya dihasilkan, di dalam buku ini Agus Noor terlihat lebih matang dalam bereksperimen. Baik dari sisi spesifikasi tema –karena ada cerpen yang hanya berbicara soal kupu-kupu — maupun alur penceritaan. Lihat saja pada cerpen yang berjudul Puzzle Kematian Girindra, misalnya. Cerpen ini dibagi dalam beberapa bagian, berkisah tentang misteri kematian tokoh Girindra. Cerita berkelindan pada sejumlah kemungkinan penyebab kematian Girindra. Juga pada tokoh-tokoh yang terlibat sepanjang kehidupan Girindra. Yang menarik adalah teknik penceritaan yang memang seperti permainan puzzle.

Jadi, pembaca yang telah mengikuti alur cerita sampai bagian lima, misalnya, bisa saja menjadi harus membaca bagian pertama lagi karena ada petunjuk teknis dari pengarang bahwa penyebab atau alasan tertentu memang hanya bisa dirujuk di bagian pertama.

Teknik penceritaan yang tak lazim semacam ini, jelas menuntut kejelian dan ketangkasan penguasaan alur. Dan, saya kira, sebagai pengarang, Agus Noor telah berhasil membangun irama keterkejutan kepada pembaca: teknik penceritaan yang dipaparkannya berhasil mengguncang-guncang ketegangan.

Teknik penceritaan menarik lainnya ada pada cerpen yang berjudul Potongan-potongan Cerita di Kartu Pos. Cerpen ini menceritakan bahwa seorang tokoh telah mendapatkan beberapa kiriman kartu pos. Dan, seorang tokoh tersebut mendapatkan kartu-kartu pos yang ternyata bersambung. Setiap kartu pos memuat potongan cerita yang akan dilanjutkan pada kartu pos berikutnya. Tentu saja, dari segi teknik penceritaan bisalah disebut bahwa teknik semacam itu adalah model cerita berbingkai dengan media berupa kartu pos.

Yang perlu dikritisi adalah, terlepas dari keberhasilan upaya pembangunan teknik penceritaan yang mengedepankan aspek alur, Agus Noor telah menggiring paradigma pembaca bahwa celah-celah pengembangan estetika sungguh tak terbatas. Di situlah esensi kehadiran kreator bakal teruji, apakah seorang pengarang memang akan berperan sebagai pengisah yang piawai atau cuma melanjutkan klise bahwa kerja mengarang telanjur terjebak pada gaya-gaya tertentu yang seolah-olah menjadi pakem, baik realis, surealis, absurd, maupun yang lainnya, tanpa adanya kebaruan apa pun, misalnya dari sisi teknik penceritaan.

Bagi saya, alternatif teknik penceritaan yang dikembangkan Agus Noor, dengan menyentuh “khasanah puzzle” dan cerita berbingkai, telah mengonkretkan kredonya sendiri bahwa sebaiknya cerpen-cerpen yang ada di dalam buku mengemban konsekuensi eksperimentasi yang beragam dan luas. Ingat, Agus Noor adalah pengarang yang senantiasa menganjurkan keterbatasan ruang eksperimentasi cerpen di koran haruslah mendapatkan solusi. Rupa-rupanya, format buku menjadi pilihan memikat untuk mengembangkan eksperimentasi karena aspek keluasan halaman, keterbebasan dari risiko “norma moral dan sosial”, dan sebagainya. Meskipun memang, tak semua cerpen Agus Noor yang ada di buku ini memuat aspek eksperimentasi, terutama dalam hal teknik penceritaan dan kepanjangan halaman. Beberapa cerpen lainnya toh masih tetap “berformat” koran, padahal jika mau dikembangkan lagi juga bisa lebih memikat.

Membaca cerpen-cerpen Agus Noor di buku ini, bagi saya juga mengukuhkan pandangan bahwa ruang-ruang alternatif penjelajahan imajinasi memang sebaiknya senantiasa diciptakan. Kita tahu, banyak cerpenis Indonesia yang telanjur terjebak pada “tema-tema dan teknik yang monoton”, katakanlah yang “konvensional” dengan penggambaran deskripsi realisme warna lokal maupun sebagaimana estetika yang belakangan marak yang mengemban unsur-unsur seksisme sebagai wilayah ekspresi. Dengan kata lain, sesungguhnya banyak tema dan pendekatan teknik penceritaan yang berserak yang bisa dijumput dan digarap, di luar yang sudah umum dikerjakan oleh sejumlah cerpenis lain.

Dengan kata lain pula, sebetulnya sebuah cerpen memang bisa saja tak harus terbebani pesan moral atau apa pun, karena pretensinya yang hanya ingin bereksperimen itu sendiri. Resep estetik yang bisa dipraktikkan oleh para penulis cerpen lain setelah membaca buku ini adalah soal penguasaan/kefasihan teknik bercerita yang sungguh-sungguh memegang peranan penting, sebelum tema dan varian lain yang menggelayuti tubuh sebuah cerpen terkuasai, untuk sebuah hasil penciptaan secara sadar. (*)

6 Responses to ““POTONGAN CERITA DI KARTU POS””


  1. 1 muhamadmuiz Februari 12, 2009 pukul 7:36 pm

    yang puzzle-puzzle itu loh… ngejelimet… bikin resah…

  2. 2 alieeseren Februari 16, 2009 pukul 5:21 pm

    penggambaran dari setiap cerita dalam “potngan cerita di kartu pos” banyak mengisnpirasi saya dalam mengimajinasikan sesustu, rasanya pelukisan meneken yang seolah-olah hidup itu yang terunik

  3. 3 Aditya Nugraha Maret 1, 2012 pukul 5:13 am

    Mas Agus, kan di POTONGAN CERITA KARTU POS INI ada yang diantaranya memuat TIGA JUDUL SATU TEMA, diantara judulnya yaitu IA INGIN MATI DI BULAN RAMADHAN INI, nah kalo dua judulnya lagi itu apa ya ? minta jawabannya dan cerpennya

  4. 4 Aditya Nugraha Maret 1, 2012 pukul 5:15 am

    Mas Agus, kan di POTONGAN CERITA KARTU POS INI ada yang diantaranya memuat TIGA JUDUL SATU TEMA, diantara judulnya yaitu IA INGIN MATI DI BULAN RAMADHAN INI, nah kalo dua judulnya lagi itu apa ya ? minta jawabannya dan cerpennya….


  1. 1 AHMAD DHANI, MAIA, DAN CERPEN AGUS NOOR « Agus Noor_files Lacak balik pada Mei 13, 2008 pukul 12:18 pm
  2. 2 - PROSES KREATIF PENULISAN ‘KARTU POS DARI SURGA’ « Agus Noor_files Lacak balik pada Maret 6, 2009 pukul 3:23 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Desember 2007
S S R K J S M
    Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: