Archive for the 'Esai' Category

– LOKALITAS DAN METROPOLITAS DALAM SASTRA KITA

 

 

IMG_20150120_222922

Menyimak dua buku Cerpen Pilihan Kompas, Laki-laki Pemanggul Goni (2012) dan Klub Solidartas Suami Hilang (2013) kita menemukan beberapa cerita yang memiliki keragaman latar sosial budaya. Rupanya, itu memang menjadi kesadaran Kompas, setidaknya sebagaimana yang disampaikan dalam pengantar buku itu, yang berharap cerpen-cerpen yang muncul “mampu menghadirkan masalah-masalah sosial di wilayah-wilayah Indonesia yang terasa di luar jangkauan, maupun ranah budaya yang kurang dikenal” agar kisah dan tema makin beragam, atau setidaknya, “cukup memberi gambaran yang berbeda, yang menggenapi sosok Indonesia”.

Kita bisa memahami pernyataan di atas, bila membaca karya-karya sastra Indonesia hari ini, yang memang lebih dominan menghadirkan persoalan perkotaan. Ini ditengarai Kompas mengakibatkan ada semacam wabah “myopia”, penyakit rabun jauh. Kita kehilangan cara pandang untuk melihat keberagaman, wilayah-wilayah yang berada di kejauhan, yang hanya samar-samar muncul dalam karya sastra, karena nyaris “cara pandang” sastra kita terfokus pada perkotaan, dengan latar dan lanskapnya: kafe, gedung-gedung menjulang, kemacetan, dan beragam persoalan bawaannya. Lanjutkan membaca ‘– LOKALITAS DAN METROPOLITAS DALAM SASTRA KITA’

Iklan

– KEMENANGAN

Dalam situasi dan kondisi apa “kemenangan” menjadi bernilai dan mermakna? Ini esai opini saya, yang dimuat di KOMPAS, Senin, 21 Juli 2014. Selamat merenungkan…

 

GAMBAR KEMENANGAN

 

Ramadhan, Piala Dunia dan pilpres, terasa saling berkaitan saat ini, untuk merefleksikan makna kemenangan. Ramadhan, disebut “bulan kemenangan” yang ditandai dengan limpahan rahmat. Piala Dunia dan pilpres, tak bisa dilepaskan dari hasrat untuk menjadi pemenang. Dalam politik, tak ada kekuasaan tanpa kemenangan. Hasrat akan kemenangan merupakan sifat dasar manusia yang kompetitif, juga hasrat untuk berkuasa (the will to power) seperti ditegaskan Nietzsche, menjadi “manusia unggul” (Ubermensch). Lanjutkan membaca ‘– KEMENANGAN’

– RAKYAT YANG WARAS

Ini esai saya, yang terbit di Harian KOMPAS, Selasa 24 Juni 2014. Selamat jadi rakyat yang waras…

gambar25

 

 

RAKYAT YANG WARAS

 

 

Beruntunglah negara ini memiliki rakyat yang waras. Bahkan, bila diungkapkan dengan hiperbolis, rakyat yang waras itulah satu-satunya keberuntungan yang masih dimiliki negara kita, karena sumber daya alam yang melimpah, keanekaragaman hayati dan kekayaan kebudayaan sudah lama diabaikan negara.

Telah sekian lama negara tidak mampu melindungi potensi-potensi yang sesungguhnya sangat berharga itu. Bila Indonesia tidak benar-benar menjadi negara gagal (failed states) dengan situasi seperti yang terjadi di Somalia, Chad, Zimbabwe atau Kongo, maka itu bukanlah karena negara telah bekerja efektif mengatasi indikasi bermacam kegagalannya, tetapi lebih karena rakyat yang waras itu terus memberdayakan dirinya, tanpa merasa perlu tergantung pada negara. Sampai-sampai ada ungkapan yang diekspresikan melalui mural tembok kota: “teruslah bekerja, jangan berharap pada negara”. Karena negara tak hanya seringkali absen saat rakyat membutuhkan perannya, tetapi negara memang terlalu direpoti oleh urusan-urusan politik, birokrasi yang tak efisien, sampai kasus-kasus korupsi yang tak berkesudahan. Ada anekdot tiap kali terjadi bencana: yang pertama kali sampai ke tempat bencana bukanlah pemererintah (sebagai representasi negara) tetapi mie instans. Lanjutkan membaca ‘– RAKYAT YANG WARAS’

Mati Ketawa Cara Sepak Bola (Indonesia)

MUMPUNG pertandingan sedang jeda, marilah sejenak kita tertawa.

Kemelut terjadi di depan gawang. Kiper melocat hendak menangkap bola, sementara pemain lawan menyambar mengangkat kaki, apa lacur, kaki itu menghantam wajah kiper. Kontan kiper marah dan memaki-maki. Tak cukup itu, sambil berteriak jengkel ia lalu melemparkan bola yang berhasil ditangkapnya itu ke arah pemain lawan. Blugg! Bola itu tepat menghantam kepala, dan tak diduga malah mental, lantas bergulir masuk ke gawang. Gooolll!!! Kiper itu hanya melongo. Sementara kita hanya nyengir. Lanjutkan membaca ‘Mati Ketawa Cara Sepak Bola (Indonesia)’

– Menyelami Misteri Empat Fiksimini

Mari, saya ajak Anda untuk menyelami misteri dan teka-teki empat fiksimini. Keempat fiksimini ini langsung membuat saya terpikat. Keempatnya memperlihatkan, bagaimana pesona fiksimini terus menghantui dan mengganggu.  Berikut ini, keempat fiksimini yang saya maksud. Judul-judul, adalah dari saya, untuk memudahkan pembacaan.

@AndyTantono
SEHABIS NONTON PERTUNJUKAN SULAP

“Ma, lihat aku bisa menghilangkan kelingkingku seperti pesulap tadi” jawabnya sambil menggenggam pisau.

@dimatanya
ANJING
Ketika orang-orang itu berteriak “Anjing!”, aku jadi teringat akan masa laluku sendiri.

@nanapai:
NASIB SIAL SEORANG PENCURI
Seorang pencuri tertangkap setelah handphone yang dia curi menelpon ke kantor polisi.

@sandiskanok:
UDIN
“Bu, si udin mau dikubur kapan?”
“Setelah UN-nya selesai, Pak Haji”

Fiksimini bukan sekedar menulis cerita dalam kalimat pendek. tetapi ia adalah sebuah pergulatan untuk menemukan plastisitas kisah, yang membuat fiksimini itu memberi kita ruang imajinasi yang luas. Lanjutkan membaca ‘– Menyelami Misteri Empat Fiksimini’

– FIKSI MINI: MENYULING CERITA, MENYULING DUNIA

 

For sale: baby shoes, never worn.

Ernest Hemingway

Saya menyebutnya fiksi mini. Itulah bentuk fiksi mini yang saya himpun dalam antara lain dalam “Anjing & Fiksi Mini Lainnya” atau  “35 Cerita untuk Seorang Wanita”  (Jawa Pos, 1 November 2009). Yakni fiksi, yang hanya terdiri dari secuil kalimat. Mungkin empat sampai sepuluh kata, atau satu paragrap. Tapi di sana kita beroleh  “keluasan dan kedalaman kisah”. Kutipan di awal tulisan, merupakan karya penulis dunia, Hemingway, adalah salah satu contoh “novel terbaik dunia”, yang ditulis hanya dengan beberapa patah kata. Karya itu, ditulis di tahun 1920, karna Hemingway bertaruh dengan rekannya: bahwa ia mampu nenulis novel lengkap dan hebat hanya dengan enam kata. Dan  penulis Amerika itu menyatakan: itulah karya terbaiknya.

Tapi, bila kita mau melihat bentuk-bentuk karya sastra yang sudah ada, fiksi mini sesungguhnya punya jejak sejarah yang panjang. Artinya, tidak dimulai di tahun 1920, ketika Hemingway menulsikan fiksi mininya itu. Kita ingat fabel-fabel pendek yang ditulis Aesop (620-560 SM), adalah sebuah “kisah mini” yang penuh suspens dalam kependekannya. Kita bisa melihat pula kisah-kisah sufi dari Timur tengah, yang turunannyapopuler sampai sekarang dalam bentuk anekdot-anekdot semacam Narsuddin Hoja atau Abunawas. Kisan-kisan kebajikan zen di Tiongkok,  yang bahkan seringkali lebih menggungah ketimbang cerita panjang yang bertele-tele.

Di perancis, fiksi mini dikenal dengan nama nouvelles. Orang Jepang menyebut kisah-kisah mungil itu dengan nama “cerita setelapak tangan”, karena cerita itu akan cukup bila dituliskan di telepak tangan kita.  Ada juga yang mneyebutnya sebagai “cerita kartu pos” (postcard fiction), karena cerita itu juga cukup bila ditulis dalam kartu pos. Di Amerika, ia juga sering disebut fiksi kilat (flash fiction), dan ada yang menyebutnya sebagai sudden fiction atau micro fiction. Bahkan, seperti diperkenalkan Sean Borgstrom, kita bise menyebutnya sebagai nanofiction. Apa pun kita menyebutnya, saya pribadi lebih suka menamainya sebagai fiksi mini. Lanjutkan membaca ‘– FIKSI MINI: MENYULING CERITA, MENYULING DUNIA’

– Ekspresi Demokrasi Cerpen Indonesia

Berikut saya suguhkan tulisan Ratno Fadilah, yang sebelumnya pernah muncul di Kompas, (2 Juni 2007). Terimakasih kepada Ratno, dan semoga menyenangkan bagi semua.

karikatur1.JPEG

Lanjutkan membaca ‘– Ekspresi Demokrasi Cerpen Indonesia’


Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Desember 2017
S S R K J S M
« Feb    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Archives Files

Catagories of Files