Posts Tagged 'Esai'

– RAKYAT YANG WARAS

Ini esai saya, yang terbit di Harian KOMPAS, Selasa 24 Juni 2014. Selamat jadi rakyat yang waras…

gambar25

 

 

RAKYAT YANG WARAS

 

 

Beruntunglah negara ini memiliki rakyat yang waras. Bahkan, bila diungkapkan dengan hiperbolis, rakyat yang waras itulah satu-satunya keberuntungan yang masih dimiliki negara kita, karena sumber daya alam yang melimpah, keanekaragaman hayati dan kekayaan kebudayaan sudah lama diabaikan negara.

Telah sekian lama negara tidak mampu melindungi potensi-potensi yang sesungguhnya sangat berharga itu. Bila Indonesia tidak benar-benar menjadi negara gagal (failed states) dengan situasi seperti yang terjadi di Somalia, Chad, Zimbabwe atau Kongo, maka itu bukanlah karena negara telah bekerja efektif mengatasi indikasi bermacam kegagalannya, tetapi lebih karena rakyat yang waras itu terus memberdayakan dirinya, tanpa merasa perlu tergantung pada negara. Sampai-sampai ada ungkapan yang diekspresikan melalui mural tembok kota: “teruslah bekerja, jangan berharap pada negara”. Karena negara tak hanya seringkali absen saat rakyat membutuhkan perannya, tetapi negara memang terlalu direpoti oleh urusan-urusan politik, birokrasi yang tak efisien, sampai kasus-kasus korupsi yang tak berkesudahan. Ada anekdot tiap kali terjadi bencana: yang pertama kali sampai ke tempat bencana bukanlah pemererintah (sebagai representasi negara) tetapi mie instans. Lanjutkan membaca ‘– RAKYAT YANG WARAS’

– Cerita yang Bergelut dengan Bahasa

Bila penyair menemukan bahasa, maka pengarang menciptakan sebuah dunia melalui bahasa. Dunia itu ialah dunia fiktif, dunia yang penuh dan utuh sebagai sebah fiksi. Maka, pengarang sesungguhnya bekerja dan bergelut dengan bahasa. Cara bercerita seorang pengarang pada akhirnya memang memperlihatkan cara pengarang itu memperlakukan bahasa dan bagaimana ia, secara “idiologis”, meyakini “bahasa cerita”-nya. Inilah yang akhirnya memperlihatkan orientasi estetis seorang pengarang. Apa yang diperlihatkan para cerpenis mutakhir Indonesia dalam memperlakukan bahasa, sesungguhnya bisa memberi tahu: ke mana sesungguhnya arah pertumbuhan cerpen kita. Bahwa cerita, pada akhirnya, mesti menjadi ekspresi naratif sekaligus juga menjadi wacana yang menyediakan keterlimpahan makna

agus-noor-blog-2.jpg
Pikiran-pikiran itu, menandai kajian Agus Noor tentang cerpen-cerpen Indonesia paling mutakhir, yang disampaikannya pada Konggres Cerpen Indonesia di Balikpapan, Oktober 2007 lalu. Agus Noor kemudian menyusun dan menuliskan kembali pikiran-pikirannya itu, sebagaimana selengkapnya berikut ini… Lanjutkan membaca ‘– Cerita yang Bergelut dengan Bahasa’

– Esai Tentang “Potongan Cerita di Kartu Pos”

Potongan Cerita di Kartu Pos ialah prosa Agus Noor yang berkisah perihal banyak peristiwa. Sejumlah cerita yang ditulisnya terasa menawarkan imaji yang lebih menyayat ketimbang para pendahulunya, semacam Hamsad Rangkuti, Seno Gumira Ajidarma, Putu Wijaya. Kebanyakan cerita yang ditulis Agus Noor lebih bersimbiosis pada kehidupan yang kejam, penuh dengan kekejian, dendam maupun petaka berbalut jadi satu. Setidaknya, itulah yang rasakan oleh Alex R Nainggolan, seorang penulis yang sempat mengenyam pendidikan di Fakultas Ekonomi UNILA. Sebagai penulis Alex sudah banyak menghasilkan karya berupa cerpen, puisi, esai dan tinjauan buku yang termaktub dalam majalah sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Jawa Pos, Suara Pembaruan, dll. Benerapa karyanya juga termuat dalam antologi Ini Sirkus Senyum… (Bumi Manusia, 2002); Eelegi gerimis Pagi (KSI, 2002); Grafitti Imaji (YMS, 2002); Puisi Tak Pernah Pergi (KOMPAS, 2003); La Runduna (CWI & Menpora RI, 2005), dll. Bagaimanakah pencapaian-pencapaian kreatif Agus Noor dalam kumpulan prosanya ini, simak selengkapnya…. Lanjutkan membaca ‘– Esai Tentang “Potongan Cerita di Kartu Pos”’

– Membaca Cerpen-cerpen Agus Noor

Ini satu esai yang ditulis oleh kritikus sastra Sudarmoko, alumnus Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang. Ia kemudian melanjutkan sekolah di Department of Languages and Cultures of Southeast Asia and Oceania, Leiden University, atas beasiswa dari The International Fellowship Program – Ford Foundation. Koko, begitu biasa ia dipanggil, mempublikasikanbanyak tulisannya ke media massa lokal dan nasional. Selain itu juga menempuh proses kreatif sebagai pekerja teater. Barangkali, tulisan ini bisa memberikan satu gambaran seputar proses kreatif Agus Noor dan juga kecenderungan estetis yang dikembangkan dalam cerpen-cerpennya… Lanjutkan membaca ‘– Membaca Cerpen-cerpen Agus Noor’


Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Agustus 2017
S S R K J S M
« Feb    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Archives Files

Catagories of Files