Posts Tagged 'Djenar Maesa Ayu'

– ANJING DAN BIR KESEMBILAN

 Image

 

ANJING DAN BIR KESEMBILAN

                                             Djenar Maesa Ayu

 

 

Dari balik kegelapan

mata malam itu nyalang,

menatap seekor anjing

yang hidup dalam sebotol bir. 

 

“Anjing ini,” katamu,

“anak jadah pengkhianatan kita.” 

 

Lalu kita suling arak api,

menjadi keganjilan

yang hanya kita pahami sendiri.

Selebihnya, hanya birahi

taklid pada sepi. Lanjutkan membaca ‘– ANJING DAN BIR KESEMBILAN’

– MATA TELANJANG

Cerpen Mata Telanjang adalah cerpen kedua yang saya tulis bareng Djenar Maesa Ayu, setelah cerpen Kunang-kunang dalam Bir.  Cerpen Mata Telanjang ini, muncul di majalah Esquire edisi Maret 2013.

Suatu malam kami bertemu, membuka laptop, dan mulai menulis, tanpa sebelumnya merancang cerita atau alurnya. Mengalir begitu saja. Kali ini gantian, setelah pada Kunang-kunang dalam Bir Djenar menuliskan kalimat pertama, giliran pada Mata Telanjang, saya membuka cerita. Kalimat pertama melintas, dan saya menuliskannya. Mengalir mengikuti kelebatan imajinasi dalam kepala. Seperti sebuah tarikan nafas pertama, dan berhenti ketika harus berhenti. Lalu Djenar melanjutkan.

Begitupun dia, menulis apa yang ada dalam imajinasinya, dan berhenti kalau memang merasa harus berhenti, untuk kemudian diestafetkan kembali ke saya. Begitu seterusnya, kami saling merespon, membiarkan dan mengikuti kemana cerita ini bergerak.  Laptop bolak-balik, kayak setrikaan, ke hadapan saya dan Djenar. Ketika Djenar menulis, saya membiarkannya, dan begitu juga sebaliknya. Kami tak mengarahkan cerita ini dengan saling mendiskusikan atau memperdebatkannya sebelumnya atau selama proses penulisannya. Bahkan ketika menulis kalimat pertama pun, kami tak tahu, akan menulis cerita tentang apa, siapa tokohnya, apa judulnya. Kali ini, kami hanya menyepakati soal sudut pandang penceritaan, agar proses yang kami jalani juga tidak mengulang apa yang kami jalani sebelumnya, dan karna itu menantang bagi bami berdua.

Proses ini jauh lebih menyenangkan, karna kami sering terkejut ketika harus melanjutkan. Misalkan, ketika saya gantian kembali harus melanjutkan cerita, saya kaget membaca apa yang sudah Djenar tulis, karna saya tak menduga sebelumnya. Atau, apa yang ditulis tidak sebagaimana dugaan saya sebelumnya. Dan saya kira, Djenar pun demikian. Cara Djenar mengakhiri cerita pun, membuat saya terkejut. Saya tak menyangkanya.

Nah, selamat menikmati Mata Telanjang.

Gambar 48

Lanjutkan membaca ‘– MATA TELANJANG’

– BUKU BARU DJENAR MAESA AYU: 1 PEREMPUAN 14 LAKI-LAKI

Buku terbaru Djenar Maesa Ayu, 1 Perempuan 14 Laki-laki akan di-launching pada 14 Januari 2011 besok, bertepatan dengan ulangtahun penulis yang juga sutradara film itu. Tapi, buku itu sendiri sudah bisa di dapat di toko buku pada: 11-1-11 (baca: tanggal selas bulan satu tahun duaribu sebelas). Sebelum buku ini, buku terakhir Djenar adalah Cerita Pendek tentang Cerita Cinta Pendek, hampir lima tahun lalu. Sudah pasti, terbitnya buku baru Djenar ini, bisa menjawab rasa penasaran pembaca yang menyukai karya-karyanya: seperti apa buku ini? Adakah yang baru atau berubah?

Satu point yang menarik adalah: dalam buku 1 Perempuan 14 Laki-laki ini, Djenar berkolaborasi dengan 14 orang laki-laki, dengan latar profesi yang beragam. Saya, kebetulan ada di antara ke 14 “laki-laki yang beruntung” itu. Eghmmm. Saya dan Djenar bisa menyelesaikan satu cerpen: Kunang-kunang dalam Bir. Cerpen ini, sempat muncul di Kompas.

Cerpen-cerpen lain ditulis Djenar bersama Enrico Soekarno (Cat Hitam Berjari Enam), Indra Herlambang (Menyeruput Kopi di Wajah Tampan), Sardono W Kusumo (Rama Raib), Totot Indrarto (Kupunyakupu), Jerinx JRX (Kulkas. Dari. Langit.), Arya Yudistira Syuman (Matahari di Klab Malam), Sudjiwo Tedjo (Rembulan Ungu Kuru Setra), Richard Oh ( Nafas dalam Balon Karet), Nugroho Sukmanto (Bukumuka), Lukman Sardi (Ra Kuadrat), Robertus Robet (Dijerat Saklar), Romo Mudji Sutrisno (Polos), Butet Kartaredjasa (Balsem Lavender). Hmm, melihat latar belakang nama-nama itu, apa yang langsung Anda bayangkan, bukan tentang Djenar-nya tentu saja, tapi tentang bukunya!

Kita kenal Lukman Sardi seorang aktor film, Jerinx JRK adalah salah satu pentolan band Superman is Dead, Sudjiwo Tedjo seniman dan intelektual serba komplit, Sardono W. Kusumo adalah penari dan koreografer tari yang banyak mempengaruhi sejarah dan pertumbuhan tari Indonesia kontemporer saat ini.

Apa kata Djenar, perihal bukunya ini, baiklah, saya bocorkan sedikit pengantar yang ditulisnya untuk buku 1 Perempuan 14 Laki-laki: Lanjutkan membaca ‘– BUKU BARU DJENAR MAESA AYU: 1 PEREMPUAN 14 LAKI-LAKI’

– KUNANG-KUNANG DALAM BIR

Ini adalah versi awal (original version) atau bisa juga disebut versi sebelum diedit, dari cerpen Kunang-kunang dalam Bir yang muncul di Kompas, 10 Oktober 2010. Tak banyak editing yang terjadi, sebenarnya, kecuali penggunaan beberapa kata yang disesuaikan untuk pembaca umum koran.

Cerpen ini, saya tulis bersama sohib saya, Djenar Maesa Ayu. Banyak yang kemudian bertanya, bagaimana kami menulis cerita itu? Sebagai catatan, ada beberapa cerpen yang telah berhasil kami simpan.

Begini. Kami menulis tanpa gagasan apa-apa atau merancang tema dan cerita, sebelumnya. Bagi saya pribadi, ini proses menulis yang lumayan unik. Kami sepakat ketemu. Membuka laptop. Kemudian mulai menulis. Tak ada diskusi: kita mau nulis apa, ceritanya apa, dan nanti bagaimana. Tidak ada. Kami langsung menulis. Terserah, siapa yang memulai membuat kata pertama. Pada cerpen Kunang-kunang dalam Bir, Djenar yang memulai kata pertama. Kemudian saya melanjutkan. Begitu seterusnya. Begitulah kalimat demi kalimat mengalir. Cerita mengalir. Kami tak merancangnya.

Proses menulis seperti itu, saya rasakan ibarat “permainan tinju”. Dimana kami saling melemparkan pukulan, jab, bahkan pukulan telak, dan yang lain mencoba menangkis, menghindari atau balik menyerang. Kami jadi saling memahami: setelah ini dia mau apa? Kalau saya memukul begini, bagaimana dia akan menghindari? Akan bergerak ke mana? Kalau saya bawa kesini, apa yang akan dilakukannya. Begitulah. Saya merasakan, hal itu juga sebagai proses yang saling memahami, menjengguk imajinasi masing-masing, menduga, dan memberi umpan, mengembangkan apa yang disodorkan. Hingga Kadang-kadang, sering, kami terkejut dengan cerita yang kami tulis: lho kok jadi gini?

Tapi kami tak boleh saling bantah. Tak boleh saling debat. Biarlah cerita itu berdebat sendiri. Tugas kami hanya menulis, menulis, mengembangkan imajinasi, merenung, sembari tentu saja menikmati rokok dan bir.

Proses itu bisa juga seperti proses orang pacaran yang tengah melakukan saling pemahaman. Seakan saya menjenguk dan memahami gaya menulis Djenar. Dan begitu juga sebaliknya. Saya membiarkan Djenar mengembangkan gaya dan imajinasinya, begitu juga sebaliknya. Dengan begitu kami mencoba meleburkan diri, tetapi tidak meninggalkan apa yang menjadi kecenderungan dari masing-masing kami. Atau, seperti pernah dikatakan Djenar di Twiter: karya itu menjadi seperti anak, yang di wajahnya orang akan mengenali raut wajah ayah ibunya.

Bagi saya, proses itu membuat saya (kembali) mememukan kegembiraan menulis. Sebagai sesuatu yang menyenangkan. Dan inilah  versi asli cerpen Kunang-kunang dalam Bir itu:

 

Lanjutkan membaca ‘– KUNANG-KUNANG DALAM BIR’

– CERPEN KOMPAS PILIHAN: CINTA DI ATAS PERAHU CADIK

Ayo kirim komentar, dan aku akan kasih 2 buku sebagai hadiah buat kalian?

Penganugerahan Cerpen Kompas Pilihan tahun 2008 ini telah berlangsung, dan sebagaimana aku kira, cerpen Cinta di Atas Perahu Cadik milik Seno Gumira Ajidarma, terpilih sebagai yang terbaik. Selamat. Aku, akhirnya bisa datang ke acara itu, sambil diam-diam merayakan ulangtahunku, dan lalu malamnya… (hhmmm, rame dech).

Dua juri, yang tahun ini adalah Sapardi Djoko Damono dan Ayu Utami, memilih 15 cerpen. Lampu Ibu (Adek Alwi), Kisah Pilot Bejo (Budi Darma), Koh Su (Puthut EA), Serdadu Tua dan Jipnya (Wilson Nadeak), Gerhana Mata (Djenar Maesa Ayu), Sinai (F. Dewi Ria Utari), Belenggu Salju (Triyanto Triwikromo), Bigau (Damhuri Muhammad), Lak-uk Kam (Gus tf Sakai), Candik Ala (GM Sudarta), Tukang Jahit (Agus Noor), Sepatu Tuhan (Ugoran Prasad), Hari Terakhir Mei Lan (Soeprijadi Tomodihardjo), Gerimis yang Sederhana (Eka Kurniawan), dan tentu cerpennya Seno itu.

Apayang menarik dari buku itu? Lanjutkan membaca ‘– CERPEN KOMPAS PILIHAN: CINTA DI ATAS PERAHU CADIK’


Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Oktober 2021
S S R K J S M
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Archives Files

Catagories of Files