– MATA TELANJANG

Cerpen Mata Telanjang adalah cerpen kedua yang saya tulis bareng Djenar Maesa Ayu, setelah cerpen Kunang-kunang dalam Bir.  Cerpen Mata Telanjang ini, muncul di majalah Esquire edisi Maret 2013.

Suatu malam kami bertemu, membuka laptop, dan mulai menulis, tanpa sebelumnya merancang cerita atau alurnya. Mengalir begitu saja. Kali ini gantian, setelah pada Kunang-kunang dalam Bir Djenar menuliskan kalimat pertama, giliran pada Mata Telanjang, saya membuka cerita. Kalimat pertama melintas, dan saya menuliskannya. Mengalir mengikuti kelebatan imajinasi dalam kepala. Seperti sebuah tarikan nafas pertama, dan berhenti ketika harus berhenti. Lalu Djenar melanjutkan.

Begitupun dia, menulis apa yang ada dalam imajinasinya, dan berhenti kalau memang merasa harus berhenti, untuk kemudian diestafetkan kembali ke saya. Begitu seterusnya, kami saling merespon, membiarkan dan mengikuti kemana cerita ini bergerak.  Laptop bolak-balik, kayak setrikaan, ke hadapan saya dan Djenar. Ketika Djenar menulis, saya membiarkannya, dan begitu juga sebaliknya. Kami tak mengarahkan cerita ini dengan saling mendiskusikan atau memperdebatkannya sebelumnya atau selama proses penulisannya. Bahkan ketika menulis kalimat pertama pun, kami tak tahu, akan menulis cerita tentang apa, siapa tokohnya, apa judulnya. Kali ini, kami hanya menyepakati soal sudut pandang penceritaan, agar proses yang kami jalani juga tidak mengulang apa yang kami jalani sebelumnya, dan karna itu menantang bagi bami berdua.

Proses ini jauh lebih menyenangkan, karna kami sering terkejut ketika harus melanjutkan. Misalkan, ketika saya gantian kembali harus melanjutkan cerita, saya kaget membaca apa yang sudah Djenar tulis, karna saya tak menduga sebelumnya. Atau, apa yang ditulis tidak sebagaimana dugaan saya sebelumnya. Dan saya kira, Djenar pun demikian. Cara Djenar mengakhiri cerita pun, membuat saya terkejut. Saya tak menyangkanya.

Nah, selamat menikmati Mata Telanjang.

Gambar 48

MATA TELANJANG

Cerpen Djenar Maesa Ayu & Agus Noor

Aku terpesona pada sepasang matanya. Tak pernah sebelumnya kutemukan mata yang begini mendebarkan. Sepasang mata yang terlihat begitu jernih dalam kegelapan. Saat ia memandang ke arahku yang duduk di dekat meja bar, aku merasa begitu berdebar. Tatapannya seperti menelanjangi. Rasanya, akulah yang pelan-pelan telanjang di ruangan ini. Bukan dia yang sedang menari telanjang.

Aku melirik beberapa kawanku yang sudah bersandar di sofa setengah mabuk. Semuanya bengong disesah birahi menatap liuk tubuhnya yang sudah setengah telanjang. Aku sengaja duduk agak menjauh, menghindari tatapan matanya.  Ia menaikkan satu kakinya di atas meja. Semua menahan napas dan menelan ludah, ketika ia melepas lilitan kain terakhir di tubuhnya. Saat itulah kami bertatapan. Rasanya aka tak akan pernah mungkin melupakan tatapan mata itu. Bukan tatapan mata yang menghiba atau penuh kesedihan. Tapi tatapan yang meledek sinis.  Apa yang diledeknya? Nasibnya, atau kami para lelaki yang memandangnya penuh birahi?

Ah, bagaimana bisa mata seorang penari telanjang membuatku begini berdebar?

***

Kulihat lampu yang sebentar lagi akan menimpa panggung. Warna-warni yang masih kerap membuatku canggung. Bagiku, kegelapan adalah tempat terbaik bagi seorang penari telanjang. Tempat nyaman untuk menyimpan kesedihan hidup yang memang harus disembunyikan dari terang. Dan dalam kegelapan, aku hapal mata-mata itu. Mata penuh napsu. Mata yang merasa berkuasa karena punya banyak uang!

Aku perlahan naik ke panggung dengan gerak kaki tenang, tapi mengundang. Daya pikat seorang penari telanjang dimulai dari kemunculannya. Begitu aku mampu membuat puluhan pasang mata itu terpesona pada liukanku, selanjutnya tinggal memainkan rasa penasaran mereka. Menggoda imajinasi mereka. Saat itulah mereka menjadi sekawanan serigala dengan mata tak sabar ingin menyerang. Setiap liukan menjadi pemandangan yang tak akan pernah dibiarkan lewat begitu saja oleh mata jalang.

Tak rela sebenarnya tubuh ini digelar. Mereka seperti para rahib suci yang dengan gembira mempersembahkan seorang perawan sebagai korban di atas altar. Setiap kegembiraan selalu memerlukan korban! batinku dengan jantung berdebar. Di mata mereka, tubuhku barangkali serupa mawar yang dalam kegelapan perlahan mekar. Kemolekannya membuat mata mereka nanar. Atau mungkin bagi mereka aku tak lebih ular penggoda Adam untuk menikmati sesuatu yang tak boleh dilanggar.

Aku melucuti satu demi satu kain di tubuh. Kubiarkan mereka menikmati punggungku. Pada saat itulah, aku melihat sepasang mata itu. Sepasang mata yang membuatku berdebar.

 ***

Dari luar, tempat ini tak terlalu menarik perhatian. Sebuah gedung lama yang direnovasi menjadi restoran.  Tapi bila masuk melewati sebuah pintu – yang tertutup dan selalu dijaga security – segalanya akan membuatmu terpesona: puluhan perempuan cantik duduk berderet dan hilir-mudik dengan dandanan sexy. Hanya tamu VVIP bisa masuk melewati pintu itu. Pada jam-jam tertentu akan ada pertunjukan tari telanjang.

Urusan bisnis yang rumit, selesaikan saja dengan perempuan. Itu yang membuat aku selalu ke mari, menjamu para pejabat yang sering dengan bermacam alasan menunda proyek yang sebenarnya bisa cepat beres . Aku kenal baik Manajer tempat ini, bahkan dengan pemilik dan beberapa Jenderal yang menjadi backing-nya.  Aku juga dekat dengan para penari. Kepada merekalah aku percaya, segala urusan bisnis akan menjadi lancar setelahnya.

Ketika aku melihatnya naik ke panggung – sebuah meja panjang sebenarnya – aku tahu ia penari baru. Mungkin baru datang dari desa. Masih kelihatan canggung. Gerakannya menahan malu, melawan perasaan menolak. Di bawah sorot lampu wajahnya seperti tak ingin diingat dan dikenali. Hanya sepasang matanya memandang tajam. Kubayangkan matanya seperti sepasang kunang-kunang melayang, sekaligus senter yang menyorot dalam kegelapan. Aku mendekati bartender.

“Siapa namanya?”

“Nay…” ia menyebut nama.

Aku yakin, itu bukan nama sebenarnya.

 ***

“Namaku?”

Tak pernah ada yang menanyakan nama kepadaku selain nomor booking-an. Di tempat ini orang-orang hanya mengenal angka. Mulai dari harga minuman hingga tubuh yang ingin dinikmatinya. Di sini perempuan hanyalah angka. Bukan nama. Aku baru saja masuk ruang ganti ketika bartender memberi isyarat agar aku mendekat dan menunjuk lelaki yang tadi duduk dekat meja bar. Dan saat itulah aku merasakan sesuatu yang mendebarkan.

Dalam kegelapan kita bisa membedakan seseorang dari matanya. Aku terbiasa menemukan mata yang menatapku penuh birahi. Tak peduli mereka memakai seragam safari, berjas atau berdasi. Mata mereka selalu memandangku sebagai perempuan murahan yang bisa dibeli. Tapi tidak demikian halnya dengan mata laki-laki itu. Mata yang menatapku dengan lembut dan sayu.

Aku tak pernah tahu, betapa hidup bisa berubah hanya karna sepasang mata.

***

Di tempat seperti ini, cinta hanyalah omong kosong.  Aku selalu membatasi hubunganku dengan perempuan-perempuan di sini sebatas urusan memperlancar pekerjaan. Terkadang aku memang tidur dengan mereka, tapi tak terlalu melibatkan perasaan. Tapi, inilah yang berbahaya dari cinta: kita tak pernah  bisa merencanakan dan memilih kepada siapa akan jatuh cinta.

Manajer Klub mengantar aku ke ruang ganti di belakang panggung dan langsung bilang padanya, “Nay, kamu jangan pulang dulu. Nanti kamu temenin Mas Agus.”

Ia menatapku. Mata itu. Seperti ada yang runtuh dalam jiwaku ketika mereka menghujam tajam. Ia mengangguk dan diam.  Diam yang panjang dan tak terduga, bahkan ketika kami sudah di kamar hotel. Ketika aku meremangkan lampu dan beranjak naik ke tempat tidur, ia masih saja duduk terdiam dan hanya menatapku. Tatapan mata itu membuatku tahu, ia tak sama dengan perempuan-perempuan yang pernah aku tiduri sebelumnya.

Ya, setelahnya aku tahu. Kita memang tak pernah bisa memilih pada siapa kita jatuh cinta.

***

Aku sengaja diam sejak dari Klub. Lewat ekor mata, bisa kulihat ia menyetir mobilnya dengan tenang sambil sesekali melirikku.

“Jadi benar, namamu Nay?”

Pasti ia hanya basa-basi agar tak terlalu jengah karena tak ada percakapan. Maka aku membalasnya hanya dengan anggukan. Selanjutnya, sama sekali tak ada percakapan bahkan ketika kami sudah di kamar.  Aku hanya berbaring diam ketika ia memijit saklar lampu sehingga suasana semakin samar. Akupun lega karena segalanya akan menjadi lebih menenteramkan dalam kegelapan. Kita tak memerlukan banyak kata-kata dalam kegelapan, selain dekapan. Dalam kegelapan yang membutakan, seluruh panca inderaku justru hidup dan jauh menyelam. Seperti tubuh kami yang sudah semakin erat dan dalam. Aku pun semakin menekan tubuhnya hingga tubuh kami seolah sama-sama saling tenggelam. Sesaat terlupakan kenyataan hidup yang kejam.

***

Pernah seorang kawan berkelakar: cinta bukan dari mata turun ke hati, tapi dari ranjang meresap ke hati. Aku teringat kelakar itu saat menandanginya yang tertidur dengan punggung terbuka.  Tak pernah aku merasa begini nyaman ketika seranjang dengan perempuan.

Tumpukan pekerjaan tak membuatku melupakannya. Sesekali aku meneleponnya, mengajaknya keluar, atau menunggunya pulang. Sampai-sampai Manajer Klub meledek, “Cinta membuatmu kelihatan lebih sabar dan segar,” katanya menepuk pundakku ketika sedang menunggu Nay di bar.  Manager Klub bercerita tentang Nay yang masih bersuamikan seorang juragan beras di Trenggalek yang sedang ditahan karena terlibat judi. Anaknya satu. Ibunya terkena kanker dan Nay mesti menanggung biaya pengobatannya. “Berhubungan dengan perempuan yang punya latar belakang seperti itu hanya akan menimbulkan kerepotan dalam hidupmu,” katanya. “Kenapa kamu tak pacaran saja Widya, Lucia atau lainnya?”

Aku tersenyum. Kisah-kisah kemiskinan dan penderitaan memang sering menjadi bumbu penyedap dalam kehidupan malam. Nay sendiri tak pernah bercerita banyak setiap kali kami bertemu.  Ia hanya menjawab apa yang dirasanya perlu, selebihnya ia lebih sering menatapku. Ia seperti tak ingin dipahami hanya karena hidupnya menderita. Penderitaan bukanlah alasan untuk dimaafkan.

 ***

Kegelapan telah mengajariku untuk selalu memaafkan orang-orang di sekitarku. Tak terkecuali, diriku. Sejak kanak-kanak aku memilih sembunyi dalam kegelapan. Ketika ibu diseret ayah ke kamar dan dipukuli atau dibenturkan kepalanya ke meja, aku hanya terisak dalam kegelapan. Ketika suamiku pulang mabuk, aku pura-pura memejam memasuki kegelapan. Ketika seorang laki-laki meletakkan segepok uang sembari menyeringai, aku belajar sabar dalam kegelapan. Maka, aku memaafkan diriku, ketika tubuhku dipertontonkan. Aku memaafkan diriku, yang rela dicumbu demi mendapat bayaran. Aku memaafkan diriku, atas tubuh yang kulacurkan demi menanggung hidup orang-orang yang kucintai dan menggantungkan sepenuhnya harapan.

Dan kini aku memaafkan diriku, untuk sebuah hal yang tak pernah kutahu. Untuk sebuah hal yang baru. Aku yang luluh oleh tatapan mata itu.

 ***

“Aku ingin menikahimu…”

Nay yang sedang menikmati anggur merah agak tersedak, lalu lama menatapku.

“Tapi ada satu hal yang ingin kuminta darimu. Dan aku mohon, kamu mengerti jika ini terpaksa kuminta demi kebaikan kita berdua.”

Nay menatap kedua mataku dengan pandangan penuh tanya. Namun kedua mata itu pun seolah memberitahuku, jika ia siap mendengarkan apa yang kuminta. Aku menelan ludah sebelum melanjutkan bicara.

“Rekan bisnisku yang kemarin datang, suka sama kamu. Ia mau ajak kencan kamu besok. Hatiku berat, Nay. Tapi jika proyekku yang satu ini berhasil, hidup kita akan stabil, dan kamu tak perlu bekerja lagi di Klub itu.”

Lama ia menatapku. Riak kemarahan bergejolak dalam kedua mata itu. Kemudian, anggur merah di dalam gelasnya ia tumpahkan ke mukaku.

Tak kusangka reaksinya segeram itu. Kupikir ini saat terbaik menyampaikan padanya: makan malam di Restoran mahal, dengan nyala lilin yang romatis, meja di pojok dengan pemandangan ke langit malam yang gemerlapan, juga musik lembut dan harum wine yang menghangatkan.

“Dengar, Nay,” aku menyentuh tangannya lembut mencoba  menenangkan. “Aku mencintaimu.”

“Beginikah cara seorang laki-laki memperlakukan perempuan yang dicintainya?!” katanya dengan geram. Kemudian bergegas pergi.

 ***

Kakiku lekas melangkah keluar dari restoran. Dapat kurasakan, tubuhku menjauh darinya, dari kenangan. Rasanya ada yang tak bisa lagi mampu kutahan. Ada kemarahan dan kekecewaan. Apa yang barusan diucapkan seakan menjauhkanku dari hal yang paling kubenci: terang, dan mendekatkanku ke hal yang paling kucintai: kegelapan.  Ia melambungkan sekaligus menghempaskan. Ia memberiku harapan sekaligus kesakitan.

Semua perempuan yang kukenal di Klub, punya impian nyaris sama. Hidup tenang bersama seorang suami yang menyanyangi mereka. Merawat dan membesarkan anak lalu diakui dan dihargai. Tanpa sembunyi-sembunyi. Tapi aku hanya perlu laki-laki yang mencintai dan laki-laki yang kucintai. Cinta yang tak kudapat dari suamiku sendiri. Suami pengangguran dan pemabuk yang rela menjajakan istri demi materi. Hal yang jauh hari sudah kuikhlaskan demi hidup putri tunggal kami. Aku tak butuh status dan gengsi. Maka apa yang diungkapkannya tadi membuat kekecewaanku tak terperi. Bertemu lagi pun kutak lagi sudi.

 ***

Aku tak bisa melupakan tatapan mata itu. Sepasang mata yang menyimpan kemarahan juga kesedihan tak terbahasakan. Aku mencoba bersikap biasa ketika bertemu kembali di Klub. Sebenarnya aku tak ingin ke mari. Tapi aku sudah terlanjur berjanji untuk mempertemukan Nay dengan seorang politisi muda yang sedang meroket namanya. Ia banyak disebut sebagai tokoh muda penuh harapan. Pemimpin masa depan. Dikenal bersih dan selalu menyuarakan pentingnya moralitas dalam berbangsa dan bernegara. Pada setiap pidato politiknya, ia begitu fasih mengutip ayat-ayat. Meski banyak juga yang meledek kalau ia hanya tokoh muda yang sukses jualan agama. Dalam politik, agama memang jualan yang paling laris.

Kini, politikus muda yang selalu bicara soal moral itu duduk dengan mata penuh birahi memandangi para penari telanjang meliuk-liuk di atas panggung. Aku duduk diam di sampingnya, yang matanya tak lepas dari Nay.

“Sudah kamu atur semua kan?” tanyanya. Aku sedapat mungkin tersenyum. Apalagi yang bisa aku lakukan? Ia memegang kunci yang akan memperlancar proyek yang kini masih dibahas Badan Anggaran.  Dalam situasi begini aku sudah terbiasa untuk bersikap realistis. Perasaan dan cinta hanyalah urusan nomor sekian.

“Bagaimana? Sudah beres kan?” tanyanya lagi, sambil matanya terus menatap tubuh telanjang Nay.

Aku menelan ludah.

 ***

Aku menelan puncak napsu laki-laki itu di penghabisan. Tanpa persenggamaan. Sungguh, aku tak sudi memberikan sepenuhnya badan. Itu pun kulakukan dengan mata terpejam dalam kegelapan. Lalu, ia tersungkur. Sementara aku seperti terperosok jauh ke dalam sumur. Meluncur terkubur bersama indahnya kenangan, akan sepasang mata yang mendebarkan. Yang pada akhirnya rela menyerahkan tubuhku hanya untuk urusan pekerjaan.

Persetan!

 *** 

Ia tak mau lagi bertemu denganku. Ia menghindar setiap melihatku. Aku menangkap kebencian dalam sorot matanya. Aku mencoba mengabaikan. Apalagi ketika politisi muda itu memintaku membereskan sesuatu yang bisa mengganggu karier politiknya. Padaku ia bercerita: lawan-lawan politiknya sudah bisa mengendus hubungannya dengan Nay. “Ini terlalu beresiko,” katanya. Ia memintaku untuk mengkoordinasi gerakan razia ke tempat-tempat maksiat. Ia sudah menghubungi beberapa organisasi yang siap bergerak, asal bayarannya cocok.

Politisi muda itu mulai lagi getol bicara soal moralitas di koran dan televisi.  “Tempat-tempat hiburan maksiat sudah selayaknya ditertibkan dengan cara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya!” sesumbarnya.

Apakah ini berkaitan hubungannya dengan Nay atau hanya jualan politiknya menjelang pemilihan? Dua bulan lagi ia memang akan mencalonkan diri jadi Gubernur. Seperti aku bilang, dalam politik, jualan agama selalu menguntungkan agar memperoleh banyak dukungan. Barangkali ia memang ingin melenyapkan Nay. Seminggu kemudian aku mendengar Klub itu diserang serombongan orang. Tempat itu diobrak-abrik. Puluhan pegawai dipukuli. Sejak penyerbuan itu, Klub ditutup. Apa yang terjadi dengan Nay? Aku sama sekali tak tahu menahu.

Tapi aku selalu teringat pada sepasang matanya.

 ***

Sepasang mataku tertutup. Bisa kubayangkan matanya menatapku tajam, saat popor senapan menggempur kepalaku sebagai saksi yang tak boleh dibiarkan hidup.

Beergasm, 8/7/12 12:56 AM

17 Responses to “– MATA TELANJANG”


  1. 1 synthia Maret 29, 2013 pukul 6:20 pm

    I really really amazed by it😀 dua penulisan berbeda, yang di awal agak kelihatan kalau ditulis bergantian, tapi bisa melebur menjadi satu sampai di akhir cerita😉 very honest story from two point of view.

  2. 2 damar Maret 30, 2013 pukul 3:54 am

    Iya cerita yang sangat bagus, sastra yg dibumbui dengan fakta politisi korup. Indah, membingungkan, namun keji! Sukses!J

  3. 3 rahdika Maret 30, 2013 pukul 4:06 am

    saya bisa merasakan “hawa panasnya” cerpen ini hidup. incredible !🙂

  4. 4 Rian Maret 30, 2013 pukul 5:19 am

    Terima kasih kepada seseorang yg telah membawaku ke artikel + cerpen ini. Menyenangkan bisa menikmati susunan kalimat yg tidak biasa.

  5. 5 Hesi Maret 30, 2013 pukul 6:19 am

    KEREN! Satu kata buat cerpen ini. Mikir sih tp luar biasa endingnya SUKA!

  6. 6 lulu Maret 30, 2013 pukul 11:49 am

    Ijin copy ya. mas agus. buat tugas kuliah hehe

  7. 7 Djatie Maret 31, 2013 pukul 4:03 am

    Tidak seindah kunang-kunang dalam bir.

  8. 8 naning April 1, 2013 pukul 7:57 am

    Kalau tahu ada di blog aku g akan maksa beli majalahnya…benar-benar penasaran saat lihat di TL.majalah langsung aku lempar selesai baca cerpennya.cuma butuh ceritanya…

  9. 9 syammyalmauty April 13, 2013 pukul 6:37 am

    aku sukaaaaaa….seperti biasa,tanteDjenar lugas dan atraktif,dan pakdheAgus penuh pengembaran imagi..mantavfb… menunggu yang laiin 🙂

  10. 10 anita cassiopeia yjs April 13, 2013 pukul 11:58 pm

    T.T udah lemot nieh otak,g pernah baca cerita penuh diksi… Brb ngembaliin otak kececeran

  11. 11 dwie88 Mei 2, 2013 pukul 5:45 am

    Mata ku d buat telanjang….
    Ditulis oleh 2 org berbeda,tanpa prosesi diskusi,tulisan mengalir menjadi satu cerita
    Menakjubkan..

  12. 12 anny Mei 6, 2013 pukul 3:19 pm

    ide nulis barengnya oke banget…gak terasa n terlihat spt ditulis oleh 2 orang
    cuma ide ceritanya kurang greget…biasa..endingnya mudah ketebak…hehehe maaf mas, mba..ini menurut pndapat saya loh…

  13. 13 saddam Mei 19, 2013 pukul 10:16 pm

    klo boleh komen,
    ini cerpen teraneh dan terindah selama yg aku baca, alangkah bahagianya jika aku bisa kenal sama dua penulis yg bener2 gila ini.

  14. 14 siti Juni 13, 2013 pukul 12:05 pm

    Kereen..awalnya bingung tokoh utama pembawa ceritanya laki. Or perempuan??ternyata 2 orang🙂 dialognya bergantian antara nay n pak agus..endingnya menakjubkan🙂

  15. 15 Rendi November 12, 2013 pukul 2:21 pm

    bohong kalo kalian gak bercinta selesai menulis ceritanya🙂
    ceritanya sangat romantis dan tragis🙂

  16. 16 Rajif Gilolo Mei 31, 2014 pukul 4:58 pm

    Di halmahera tak ada bar. Melihat Bar di Tv juga masih bingung. Tapi jujur, cerpen ini membuat saya mengerti dunia bar. Di bar, di sana, selalu ada mata yg telanjang, tdk saja tubuh.

  17. 17 ginanjaroky Juni 21, 2014 pukul 2:15 am

    karakteristik penulisan bersinergi,kombinasi yang harmoni,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Maret 2013
S S R K J S M
« Okt   Mei »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: