Posts Tagged 'Cerpen'

– BUKU “CERITA BUAT PARA KEKASIH” AGUS NOOR

Seperti dalam 1001 malam, kukisahkan cerita- cerita ini untukmu. Kenangkanlah, ketika pada suatu malam aku menceritakannya dalam hidupmu…

Cover Cerita buat para kekasih-C-R

 

Begitulah, dari satu malam ke malam lainnya, seorang kekasih yang setiap malam selalu merasa dirinya menjelma kunang-kunang, bercerita pada para kekasihnya. Cerita yang seakan mengusir kebosanan dan kesepiannya. Cerita yang berusaha menentramkan kekasihnya. Cerita yang kadang menakjubkan tapi kadang juga membuat gemetar yang mendengarnya. Ia, kekasih yang suka bercerita itu ingat, suatu malam seseorang pernah berkata padanya. ”Di antara para kekasihku, hanya kamu yang suka bercerita. Rasanya belum tercatat di Guinness Book of World Records siapa yang paling banyak bercerita dalam satu malam. Ratu Syahara- zad, hanya menceritakan satu cerita dalam satu malam..”

”Berapa records-ku?”

”Dua belas cerita dalam satu malam….”

Dan ia tertawa.

”Kenapa?”

”Itu melampaui jumlah pacar-pacarku…”

”Tapi pasti jauh lebih sedikit dibanding bualanmu!”

Lanjutkan membaca ‘– BUKU “CERITA BUAT PARA KEKASIH” AGUS NOOR’

Iklan

– KARTU POS DARI SURGA

Saya teringat kembali cerpen ini, ketika membaca berita pesawat Boeing 777 maskapai penerbangan Malaysia Airlines, hilang — yang sampai tulisan ini saya posting, belom jelas kabarnya. Di duga hilang di Samudera HIndia. Ini cerpen lama saya, ada di buku antologi cerpen Pilihan Kompas 2008 dan juga masuk dalam buku cerpen-cerpen terbai Indonesia Penas Kencana tahun 2009. Kemudian saya masukkan dalam buku Sepotong Bibir paling Indah di Dunia. Saya pernah munuliskan pula, bagaimana proses cerpen ini saya selesaikan.

 

Kartu Pos 5

 

KARTU POS DARI SURGA

Mobil jemputan sekolah belum lagi berhenti, Beningnya langsung meloncat menghambur. “Hati-hati!” teriak sopir. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. Seperti capung ia melintas halaman. Ia ingin segera membuka kotak pos itu. Pasti kartu pos dari Mama telah tiba. Di kelas, tadi, ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun. Lanjutkan membaca ‘– KARTU POS DARI SURGA’

– MATA TELANJANG

Cerpen Mata Telanjang adalah cerpen kedua yang saya tulis bareng Djenar Maesa Ayu, setelah cerpen Kunang-kunang dalam Bir.  Cerpen Mata Telanjang ini, muncul di majalah Esquire edisi Maret 2013.

Suatu malam kami bertemu, membuka laptop, dan mulai menulis, tanpa sebelumnya merancang cerita atau alurnya. Mengalir begitu saja. Kali ini gantian, setelah pada Kunang-kunang dalam Bir Djenar menuliskan kalimat pertama, giliran pada Mata Telanjang, saya membuka cerita. Kalimat pertama melintas, dan saya menuliskannya. Mengalir mengikuti kelebatan imajinasi dalam kepala. Seperti sebuah tarikan nafas pertama, dan berhenti ketika harus berhenti. Lalu Djenar melanjutkan.

Begitupun dia, menulis apa yang ada dalam imajinasinya, dan berhenti kalau memang merasa harus berhenti, untuk kemudian diestafetkan kembali ke saya. Begitu seterusnya, kami saling merespon, membiarkan dan mengikuti kemana cerita ini bergerak.  Laptop bolak-balik, kayak setrikaan, ke hadapan saya dan Djenar. Ketika Djenar menulis, saya membiarkannya, dan begitu juga sebaliknya. Kami tak mengarahkan cerita ini dengan saling mendiskusikan atau memperdebatkannya sebelumnya atau selama proses penulisannya. Bahkan ketika menulis kalimat pertama pun, kami tak tahu, akan menulis cerita tentang apa, siapa tokohnya, apa judulnya. Kali ini, kami hanya menyepakati soal sudut pandang penceritaan, agar proses yang kami jalani juga tidak mengulang apa yang kami jalani sebelumnya, dan karna itu menantang bagi bami berdua.

Proses ini jauh lebih menyenangkan, karna kami sering terkejut ketika harus melanjutkan. Misalkan, ketika saya gantian kembali harus melanjutkan cerita, saya kaget membaca apa yang sudah Djenar tulis, karna saya tak menduga sebelumnya. Atau, apa yang ditulis tidak sebagaimana dugaan saya sebelumnya. Dan saya kira, Djenar pun demikian. Cara Djenar mengakhiri cerita pun, membuat saya terkejut. Saya tak menyangkanya.

Nah, selamat menikmati Mata Telanjang.

Gambar 48

Lanjutkan membaca ‘– MATA TELANJANG’

– SETANGKAI SUNYI

gambar16AKU tengah berfikir betapa hidup ini telah menjadi begitu hampa dan sia-sisa untuk dipertahankan ketika kusaksikan setangkai sunyi tumbuh di antara gerimbun bunga-bunga di halaman. Setangkai sunyi yang cemerlang dengan perpaduan warna-warna yang paling rahasia sehingga membuatku tergetar dan bertanya-tanya. Benarkah masih ada keindahan yang begitu menakjubkan di tengah dunia yang telah berubah menjadi tempat pembantaian? Lanjutkan membaca ‘– SETANGKAI SUNYI’

– PEMBURU

Cerpen ini terpilih sebagai cerpen terbaik majalah sastra HORISON, diantara sepuluh cerpen yang terbit di majalah itu sepanjang tahun 1990-2000. Roslan Jomel, kawan penulis di Malaysia, mengabarkan kalau cerpen ini baru saja dimuat di suplemen Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA) di majalah Dewan Sastera (yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia), bulan Agustus 2008 ini.

Lanjutkan membaca ‘– PEMBURU’

– CERITA YANG MENYERAP RUPA

CERPEN dan seni rupa memperoleh ruang pertemuan kreatif yang cukup intens sejak Kompas melibatkan para perupa untuk menggarap ilustrasi cerpen yang dimuatnya. Bahkan Eddy Soetriyono, penyair yang juga pemerhati seni rupa, menegaskan betapa hal itu telah menyebarkan “virus” penciptaan di kalangan para perupa, dimana muncul kegairahan untuk merujuk karya-karya sastra sebagai sumber kreatif penafsiran dan penciptaan lukisan. Sejak mula, sebagaimana diharapkan Bre Redana, pelibatan para perupa untuk menciptakan ilustrasi cerpen memang diharapkan akan menciptakan suatu pertemuan gagasan antara penulis cerpen dengan perupa.

Maka, sejak 2002, kita melihat bagaimana para perupa telah mengeksplorasi ide dan tekhnik perupaan ke dalam ruang cerita pendek. Selama itu pula kita melihat upaya penafsiran atas teks yang dilakukan oleh perupa. Satu hal, yang kemudian dicatat oleh Bambang Bujono (dalam pengantar Pameran Ilustrasi Cerpen Kompas, 2002), menandai pergerakan yang cukup progresif seputar hakekat “ilustrasi”, karena baanyak karya-karya yang dihasilkan oleh para perupa itu memang tidak sekadar berhenti menjadi ilustrasi dari teks cerita. Para perupa, lebih menempatkan cerita sebagai sumber ide kreatif penciptaan, untuk kemudian diwujudkan melalui gagasan-gagasan visual yang sering kali mengejutkan, menjauh dari teks cerita itu, karena gambar-gambar itu sekan-akan “meloncat keluar meninggalkan sastra”, tegas Bujono. Lanjutkan membaca ‘– CERITA YANG MENYERAP RUPA’

– ANUGERAH SASTRA PENA KENCANA: 20 CERPEN TERBAIK INDONESIA 2008

Pada saya datang satu surat, dari Panitia Anugerah Sastra Pena Kencana. Cerpen saya, ujar surat itu, terpilih sebagai 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008. Anugerah Sastra Pena Kencana, sebagaimana dinyatakan dalam surat, ialah penghargaan yang diberikan kepada cerpen-cerpen (dan juga puisi) yang telah dipublikasikan dalam satu kurun waktu lewat. Tahun 2008 merupakan kali pertama anugerah ini dilaksanakan, dan disebutkan rencananya akan diselenggarakan setiap tahun. Pada setiap tahun itulah, akan dipilih 20 cerpen (yang dianggap terbaik), dan 100 puisi (yang juga dianggap terbaik) yang terbit di media masa Indonesia. Pada penjurian kali ini, media masa yang menjadi sumber pemilihan ialah: Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, Republika, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Pontianak Pos, Lampung Pos, Fajar, Bali Pos.

Begitulah, para juri, yang komposisinya adalah Budi Darma (selaku ketua juri), Sapardi Djoko Damono, Apsanti Djokosujatno, Ahmad Tohari, Joko Pinurbo, Jamal D. Rahman, dan Sitok Srengene, memilih cerpen-cerpen dan puisi-puisi yang terbit di koran-koran itu, untuk disuling menjadi 20 Cerpen Terbaik dan 100 Puisi Terbaik.

Baiklah, tiada salah bila saya kutipkan satu frase yang ada dalam surat, untuk menjelaskan kenapa Anugerah Sastra Pena Kencana ini diadakan. “Tujuan penyelenggaraan anugerah ini antara lain untuk memberikan penghargaan… sebagai pengakuan kualitas akan karya cipta sastra”. Tentu, terdengar gagah. Tak apalah. Toh itu niat mulia. Sebagai seorang penulis, sesungguhnya saya tak terlalu antusias dengan hal-hal semacam itu. Bukan penghargaan berupa hadiah yang penting, tetapi penerimaan masyarakat pembaca itulah yang selalu menumbuhkan elan kreatif seorang penulis (setidaknya bagi saya) untuk terus meyakini dunia yang dipilihnya, bahwa apa yang dikerjakannya juga merangsang energi keatif orang lain, dan karena itu tidaklah terlalu merasa sia-sia.

Satu hal yang menarik dari Anugerah Pena Kencana ini, cerpen-cerpen (dan puisi-puisi) yang terpilih itu kemudian dibukukan (oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama), lantas para pembaca diberi kesempatan untuk memilih cerpen yang mereka sukai. Mungkin mirip-mirip Indonesian Idol, gitu lah – minus kirim-kiriman SMS kali. Secara tekhnis saya tak tahu persis, tetapi setelah dibukukan dan diterbitkan, panita akan memberi kesempatan kepada pembaca untuk memilih mana cerpen yang mereka sukai atau mereka anggap baik. Dari 20 cerpen dalam buku itu, akan dipilih 1 cerpen yang dianggap terbaik menurut para pembaca.

Saya menganggap hal itu menarik, karena saya memang percaya pada pembaca sastra kita, sebagaimana saya nyatakan sebelumnya. Karena di haribaan pembacalah, sesungguhnya dinamika sastra kita menemukan relevansinya. Apalagi ketika dunia sastra kita minus kehadiran kritikus sastra.

Apa yang telah dilakukan oleh PT. Kharisma Pena Kencana, sebagai penaja dan penyelenggara Anugerah Sastra Pena Kencana, tentu saja patut kita apresiasi. Apa yang telah dikerjakannya, dan apa yang diupayakannya dengan melibatkan pembaca, semoga akan semakin membuat pertembuhan sastra di negeri yang belum terlalu menghargai sastra ini menjadi lebih menyegarkan.

Selain saya, saya belum tahu, siapa saja penulis yang cerpen (atau puisi)-nya masuk Anugerah Sastra Pena Kencana. Jadi, saya pun belum tahu, karya-karya yang mana saja yang termaktub dalam buku 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008 yang akan terbit Februari 2008 ini.. Tapi saya bisa menyertakan di sini, cerpen saya, “Tentang Seseorang yang Mati Tadi Pagi” (di Koran Tempo Minggu, 8 April 2007), yang terpilih sebagai satu diantara 20 Cerpen Terbaik itu. Anda, bisa membaca selengkapnya cerpen tersebut berikut ini, dan siapa tahu Anda akan tergoda memilih cerpen ini sebagai cerpen terbaik: Lanjutkan membaca ‘– ANUGERAH SASTRA PENA KENCANA: 20 CERPEN TERBAIK INDONESIA 2008’


Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Desember 2017
S S R K J S M
« Feb    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Archives Files

Catagories of Files