– Membaca Cerpen-cerpen Agus Noor

Ini satu esai yang ditulis oleh kritikus sastra Sudarmoko, alumnus Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang. Ia kemudian melanjutkan sekolah di Department of Languages and Cultures of Southeast Asia and Oceania, Leiden University, atas beasiswa dari The International Fellowship Program – Ford Foundation. Koko, begitu biasa ia dipanggil, mempublikasikanbanyak tulisannya ke media massa lokal dan nasional. Selain itu juga menempuh proses kreatif sebagai pekerja teater. Barangkali, tulisan ini bisa memberikan satu gambaran seputar proses kreatif Agus Noor dan juga kecenderungan estetis yang dikembangkan dalam cerpen-cerpennya…

Realitas Sosial, Kebungkaman Media Massa,

dan Cerita tentang Cinta

Catatan Atas Cerpen-cerpen Agus Noor

Oleh Sudarmoko

MEMILIKI kesadaran untuk bergelut dalam proses panjang kepenulisan memang sebuah pilihan yang penuh rintangan. Apalagi bila pilihan ini kemudian mengerucut dalam sebuah wilayah tematik atau garapan, yang dijalani dengan penuh intensitas. Mengolah dan mengungkap fenomena sosial di sekitar ke dalam karya sastra merupakan pilihan yang ditekuni oleh sejumlah pengarang. Pilihan-pilihan ini sebenarnya penuh risiko, apalagi dalam kaitan antara realitas sosial dan pengolahannya dalam karya sastra.

Realitas sosial memang memberikan banyak bahan dan inspirasi bagi kepenulisan karya sastra. Apalagi bila kita melihat dalam masyarakat yang penuh dengan penindasan dan kesewang-wenangan, yang menimbulkan banyak korban dan masalah. Namun demikian, karya sastra atau pengarang yang memiliki kesadaran untuk mengungkap itu semua membutuhkan perangkat dan disiplin tersendiri. Sebab bila tidak memiliki strategi untuk mengatasinya, realitas sosial yang kemudian bermetamorfosis ke dalam karya sastra hanya akan berhenti pada jargon atau gagal sebagai karya sastra.

Tulisan berikut merupakan ulasan atas cerpen-cerpen yang terangkum dalam ketiga antologi cerpen karya Agus Noor (AN). Persoalan antara realitas sosial dan karya sastra, hubungan antara fakta yang tersendat di media massa, dan pilihan serta pergeseran bentuk ucap yang dijalani oleh pengarang ini. Pilihan pada cerpen-cerpen AN didasarkan pada kesadarannya untuk bertekun dalam pengolahan realitas sosial dan membawa berbagai kemungkinan bentuk narasi dan untuk kemudian dihadirkan ke khalayak. Ia tidak hanya berbicara pada kontradiksi penguasa dan rakyat, pemerintah dan struktur yang menciptakan korban, namun juga, seperti terlihat pada cerpen-cerpen dalam antologi ketiganya, mampu membawa persoalan dalam ranah yang lain, keluarga, dan menciptakan kemungkinan olahan yang lain.

Dalam ketiga antologi cerpennya, AN mengolah persoalan dengan sangat tekun. Persoalan yang dikembangkannya terjadi mulai dari skala yang terkecil, gumam-gumam diri tentang eksistensi, pasangan kekasih, keluarga, hingga negara. Narasi yang dikembangkan oleh AN memungkinkan sebuah peristiwa kecil di tempat yang tidak dikenal berhubungan dengan kejadian besar di sebuah kota atau negara. Perhatian yang besar diberikan oleh AN terhadap berbagai peristiwa sosial yang terjadi. Terlebih pada masalah demonstrasi dan kebrutalan massa. Berbagai bentuk perlawanan yang terjadi terhadap ketidakwajaran dan ketidakadilan disajikan dalam cerpen-cerpennya. Kejadian-kejadian sosial ini berubah menjadi teater jalanan yang paling dramatis yang berulang kali dieksplorasi oleh AN. Situasi dramatis ini dikaitkan dengan berbagai kemungkinan kisah-kisah yang terjadi dalam masyarakat. Dengan cara ini, AN memberikan tawaran bahwa situasi sosial yang berkembang memiliki tautan yang sangat kompleks. Ia mencoba untuk memasukinya, dalam batas-batas tertentu, dengan tema-tema pilihannya yang kadang di luar dugaan.

Hal serupa juga dilakukan dan ditekuni oleh Taufik Ikram Jamil dan Seno Gumira Ajidarma, dan kemudian oleh Raudal Tanjung Banua, sekadar menyebut sejumlah nama. Berbagai peristiwa sosial menjadi referensi penting dalam cerpen-cerpen yang dihasilkan oleh sejumlah pengarang tersebut. Namun demikian, dengan pengolahan artistik yang ditempuh, berbagai fakta dan peristiwa sosial ini kemudian tetap dan terus hidup. Cerita memungkinkan fakta dan peristiwa yang diam menjadi berbicara dan hidup dalam ingatan.

Atau dalam sejarah sastra Indonesia, sastrawan-sastrawan Lekra mencoba untuk merumuskan konsep berkeseniannya yang kemudian dikenal dengan realisme sosialis. Tema sastra ditekankan pada masalah yang terjadi dalam masyarakat dan kemudian diolah dengan bahasa yang dimengerti oleh masyarakat pula. Percobaan bahasa untuk menimbulkan kegemparan dan kecanggihan pada akhirnya tidak begitu diperhatikan, atau setidaknya tidak terolah dengan maksimal. Hal ini menjadi perhatian tersendiri pada cerpen-cerpen AN, terbukti dengan kemungkinan bentuk ucapnya yang mengolah dan menggunakan bahasa secara puitis dan metaforik.

Dalam sejumlah cerpen yang diterbitkan dalam ketiga antologi pertama AN, peristiwa-peristiwa yang sering diolahnya adalah masalah demonstrasi dengan segala sertaannya seperti penculikan, pembakaran, pemerkosaan, atau pembunuhan. Sepertinya, bagi AN peristiwa ini menjadi sebuah peristiwa yang sangat penting, terutama yang terkait pada tahun-tahun selama kekuasaan dan sekitar kejatuhan rezim Soeharto. Dengan pengalamannya melakukan pendampingan berbagai kasus ketidakadilan, AN berhasil merekamnya dalam bentuk narasi, fiksi, yang dengan kelebihan-kelebihan tertentu menjadi begitu penuh daya. Hadir ke depan mata kita. Masuk ke dalam hati dan kepala.

Memorabilia: Menolak Amnesia atas Sejarah dan Peristiwa Sosial

Dalam kumpulan Memorabilia (Yayasan Untuk Indonesia, 1999), cerpen-cerpen AN menunjukkan keterkaitan yang kuat antara peristiwa sosial dengan pengolahannya dalam bentuk narasi. Metafora yang digunakan oleh AN dalam sejumlah cerpennya dalam kumpulan ini terasa segar, meski terkesan
Cerpen “Akuarium”, cerpen pembuka dalam antologi ini, sudah mengantarkan pembaca pada dunia yang kelam. Sebuah keluarga yang hidup dalam masyarakat yang penuh dengan pembantaian dan kebobrokan. Dengan gaya yang tenang, seperti kisah pembunuh berdarah dingin, cerpen ini dipenuhi dengan gambaran tentang sisi gelap masyarakat. Gambaran ini diikuti oleh cerpen kedua, “Sepotong Bibir di Jalan Raya”, yang mampu menampung banyak persoalan dalam sebuah cerita. Jaring persoalan terasa kompleks untuk sebuah cerpen, namun begitu, terlihat bahwa sebuah sequence peristiwa memiliki kaitan dengan peristiwa yang lain. Dalam cerpen ini, usaha untuk mencari tahu pemilik bibir yang ditemukan di tengah jalan oleh Winarti, tokoh dalam cerpen ini, membuka kemungkinan yang luas di belakangnya. Cerita berkaitan dengan peristiwa penculikan dan penghilangan sejumlah aktivis, tentang perselingkuhan, dan tentang politik yang carut marut.

Peristiwa yang sama juga terjadi dalam cerpen “Hujan”, dimana AN berhasil memasukkan kemungkinan peristiwa yang kompleks dalam sebuah cerita. Sebuah peristiwa dieksplorasi sedemikian rupa sehingga kemungkinan untuk menjadi sebuah cerita utuh, dunia yang utuh, selalu diusahakan untuk hadir. Hujan, misalnya, menyimpan banyak kenangan dan rahasia tentang berbagai peristiwa, baik cerita sedih maupun senang. Tentang pembunuhan yang sadis dan kisah cinta yang romantis.

Sementara, ketika berbicara tentang keluarga, AN cenderung untuk mengambil sudut pandang penceritaan dari tokoh anak. Hal ini tampak dalam beberapa cerpen seperti “Anak Ayah”, “Hikayat Anjing”, “Dunia Serena”, “”Masterpiece””, atau juga dalam oposisi antara cucu dan nenek dalam “Dongeng buat Pussy (Atawa: Nightmare Blues)”. Dari sini terlihat bahwa sebagai anak (atau cucu), hubungan yang terjadi adalah hubungan patron-client yang mencirikan hubungan kekuasaan dalam sebuah struktur. Dengan mengambil sudut penceritaan dari bawah (client), AN berusaha memasuki dan memaparkan berbagai logika dan pandangan yang terjadi diantara mereka. Hal ini juga dapat ditarik dalam hubungan yang sama dalam struktur yang mirip, misalkan dalam institusi negara atau yang lebih kecil daripada itu.

Pun demikian dalam menggambarkan situasi yang ada. Dalam “Masterpiece” misalnya, sang anak digambarkan berusaha untuk mengembalikan kekuasaan sang ayah, bekas presiden, dengan segala upaya. Sang anak merasa bahwa dia tak dapat berbuat apa-apa ketika (kekuasaan) sang ayah tak ada lagi. Berbeda, meski tak terlalu jauh, dengan “Anak Ayah” dimana sang anak ingin tetap menjaga image tentang ayah sebagai gambaran yang ideal, dengan cara membangun fantasi dan kenangan atas itu semua, walau harus dengan membunuh sang ayah karena sang ayah yang tak lagi berdaya, untuk dapat menceritakan image sang ayah yang perkasa kepada anak cucunya nanti.

Gambaran yang lain muncul dalam “Hikayat Anjing”. Dalam cerpen ini si anak tak dapat mengenali dan mengetahui ayahnya lagi. Gambaran tentang sang ayah telah hilang. Meski sosok sang ibulah yang membayangi dan melindunginya, namun sesekali bayangan tentang ayah muncul. Seperti terkesan dalam judulnya, sosok ayah menjadi tak penting lagi kemudian, seperti keluarga anjing yang tak jelas posisi masing-masing anggota keluarga.

Bapak Presiden yang Terhormat: Membaca Realitas Sosial dalam Fiksi

Dalam kumpulan keduanya, Bapak Presiden yang Terhormat (Pustaka Pelajar, 2000), cerita-cerita yang dihadirkan lebih berorientasi pada persoalan yang lebih luas. Kumpulan ini mungkin saja memperlihatkan dan membuktikan proses kreatif yang ditempuh AN yang pernah dikemukakan oleh AN dalam proses awal kepenulisannya. Realitas sosial memang menjadi garis jelas dalam karya-karya yang diciptakannya. Namun bagaimanapun, realitas itu sendiri tak dapat begitu saja muncul dalam bentuk fiksi. Ia membutuhkan keberanian dan kekuatan tersendiri dari pengarang untuk memindahkannya dalam fiksi. Tidak sedikit mereka yang mencoba untuk mengolah realitas sosial menjadi karya sastra yang baik pada akhirnya gagal. Semisal tembikar, tanah liat yang bermutu baikpun tidak selamanya berubah menjadi guci yang bermutu tinggi. Ia bisa saja gagal dalam proses yang dilaluinya, sejak dari guratan tangan yang berbeda, mood dan emosi yang tak stabil, proses pembakaran yang tak sempurna, atau bahkan tempat pajang yang tak sesuai. Persoalan antara keindahan fakta (realitas) dan keindahan fiktif ini memang masih dapat terus diperdebatkan.

Namun demikian, dalam tradisi Nusantara, hal ini dapat dilacak jejaknya. Karya-karya sastra yang ditulis sejak dahulu, seperti hikayat atau babad, merupakan juru kabar bagi berbagai peristiwa yang terjadi. Dengan menuliskan apa yang terjadi, bagi sementara pihak, adalah kesempatan untuk menyatakan kekuasaannya. Sejarah Melayu bagi sebagian orang bisa saja dianggap sebagai sejarah kejayaan melayu, namun bagi sebagian yang lain adalah kekalahan yang dialami oleh Melayu atas invasi Majapahit. Tetap saja, ada usaha untuk melakukan pembenaran dan dalih atas peristiwa yang terjadi. Hanya sejarah dan waktu yang mencatat apa yang sebenarnya terjadi. Seperti halnya apa yang dilakukan oleh Amerika dengan mempropagandakan sejarahnya atas penyerangannya ke Vietnam yang hanya mempermalukan dirinya sendiri. Dengan begitu, apa yang diolah dan dijalani oleh AN menemukan jejak historis kepengarangannya di Nusantara.

Sebagian besar realitas sosial yang muncul dalam karya sastra memang hal-hal yang sulit untuk dikemukakan oleh berita di media massa. Apalagi berita-berita di media massa saat ini malah lebih beralih ke hal-hal yang sangat permukaan seperti ditunjukkan oleh acara infotainment. Bagi mereka, media massa yang memanjakan dan membodohi(?) masyarakatnya, berita termasuk juga kegiatan-kegiatan sehari-hari para artis sinetron atau penyanyi idola remaja. Jika dulu media massa berhadapan dengan jaring dan ranjau kekuasaan dalam bentuk SIUPP dan ancaman pembreidelan, kini media massa berhadapan dengan pesona kebebasan yang lebih menawarkan tayangan artifisial dan hiburan. Ternyata kedua kondisi ini sama-sama sulit untuk meletakkan fakta dan realitas sosial dalam sebagai sesuatu yang harus diberitakan dan memiliki arti penting.

Sementara di luar itu semua, masyarakat masih harus bergulat dengan kehidupan yang sulit, bertambah runyamnya masalah ekonomi, perselisihan yang kemudian menjadi amuk massa, anak-anak yang tak dapat bersekolah atau kekurangan gizi, dan lain sebagainya. Dalam cerpen-cerpen AN, persoalan itu semakin jelas seperti pihak keamanan yang asal tangkap, pelarangan mimpi menjadi presiden karena dianggap menimbulkan kegelisahan masyarakat, atau keluarga-keluarga yang kocar-kacir karena menahan hembasan gelombang perubahan.

Pada situasi yang demikian, fakta-fakta sosial berubah dengan cepat karena digantikan oleh peristiwa yang lain dan menghasilkan korban-korban yang tak terkira. Korban-korban inilah yang kemudian menjadi tema garapan AN. Pengarang dengan jelas melihat berbagai ketimpangan, dan sebagian besar tak terungkap oleh media. Sastra, dalam bahasa AN sendiri, memiliki kewajiban untuk mengungkapkan itu semua (komunikasi pribadi via email, 1 Agustus 2005). Pengarang melakukan pembocoran fakta yang terjadi dan dihadapi lewat cerpen-cerpennya, yang diterbitkan oleh media massa. Tak dapat dipungkiri bahwa cerpen-cerpen Indonesia memang merupakan konsumsi media massa yang butuh strategi untuk menghadirkannya. Semacam sastra koran menurut beberapa orang.

Dalam usaha ini, memang, pengarang sebenarnya berhadapan dengan media massa. Disadari atau tidak, melalui tangan pengarang, fakta-fakta itu toh hadir juga akhirnya dalam media massa. Seperti halnya juga berita-berita di media massa, melalui kesaksian atau wawancara, berbagai fakta itu muncul dalam format yang lain, yang mungkin orang atau konsumen berita itu tak menyadarinya. Mereka berhadapan dengan berbagai fakta yang teramu dalam berbagai olahan dan bentuknya. Dengan demikian, berbagai fakta itu toh akhirnya menerobos bilik keingintahuan dan haknya sebagai berita yang harus diketahui dan diberitakan.

Cerpen-cerpen AN, yang terkumpul dalam Bapak Presiden yang Terhormat, menampakkan nada perlawanan pada realitas yang terjadi. Perlawanan ganda ini menempatkan karya-karya AN sebagai karya-karya yang memiliki peran dan arti penting tersendiri. Pada dasarnya, memang, karya sastra diciptakan sebagai bentuk perlawanan. Namun kesadaran ganda untuk sekaligus memecah kebisuan dan kebuntuan arus informasi ini jarang dilakukan sebagai sebuah kesadaran yang melandasi proses kepengarangan.

Pernah, dan sering, juga terjadi bahwa media massa, dan juga penerbit-penerbit dalam bentuk buku, berani memuat karya sastra sebagai upaya dukungan atas perlawanan yang dilakukan terhadap realitas yang mengancam. Namun hal ini memang menunjukkan kesan bahwa terjadi upaya ‘konspirasi’ dari kedua pihak, pengarang dan penerbit, untuk mewujudkan usahanya. Sementara, pengarang seperti AN melakukan usaha ini dalam kaitan kesadarannya untuk sekaligus berjalan mengatasi sejumlah hambatan.

Cerpen-cerpen AN seperti gambaran sebuah negara dengan berbagai peristiwa dan sistem di dalamnya. Dari sini, pandangan pengarang mewakili pandangan dari bawah, yang merasakan langsung segala sesuatunya. Keberhasilan cerpen-cerpennya dalam menyuarakan apa yang terjadi menjadi gambaran paling berhasil dalam menjelaskan bagaimana sebenarnya sebuah negara berjalan. Inilah sebabnya mengapa pembaca tak perlu repot-repot untuk mencari berbagai referensi untuk membentuk gambaran tentang sebuah negara, apa yang sebenarnya tengah terjadi, dan berbagai praktik sosial budaya yang berlangsung di dalamnya.

Di dalam usahanya membangun imaji tentang sebuah kehidupan, AN secara jeli memaparkan berbagai tindak dan akibat dari berbagai kebijakan yang dikembangkan. Misalnya saja, usaha Peang (dalam “Bapak Presiden yang Terhormat”) untuk bertemu dan mengadukan langsung berbagai hal kepada presiden mendapatkan cibiran dari sekelompok orang, dan sekaligus mendapatkan dukungan dari sekelompok yang lain. Dari sini tergambar sebuah kondisi masyarakat yang bersikap apatis dan pada kelompok yang lain optimis. Sejarah pemerintahan di negara ini mencatat bahwa masyarakat (rakyat) tidak seluruhnya bersikap anti pati pada pemerintahan, meski juga tak sedikit yang bersikap seperti itu.

Namun keinginan untuk bertemu dengan presiden ini akhirnya kandas juga. Bahkan, dalam cerpen “Dilarang Bermimpi Jadi Presiden”, untuk sekadar bermimpi pun dinilai oleh berbagai pihak sebagai sebuah tindakan subversif. Hingga pada cerpen terakhir dalam antologi Bapak Presiden yang Terhormat, AN masih bersetia menggambarkan bagian-bagian dari dunia yang dibangunnya. Dengan ketekunan yang dimilikinya, AN berbicara banyak hal dalam cerpen-cerpennya. Berbagai kenyataan dari arus perjalanan hidup menciptakan banyak teror, dari luar dan bahkan dari dalam diri sendiri. Seperti ditunjukkan dalam cerpen “Kecoa”, Otok dan seluruh warga kota telah terbenam pada teror yang dilakukan oleh kecoa. Kecoa-kecoa, yang sebelumnya hanya menjadi bahan ejekan atas apa yang menimpa Otok, telah menguasai kota. Kecoa, gambaran menjijikkan tentang kehidupan dan perilaku binatang, menjadi wabah tak henti-hentinya di kota.

“Pesan Seorang Pembunuh” lebih jauh lagi memaparkan teror dingin yang dilakukan oleh seorang pembunuh bayaran. Peristiwa-peristiwa dan ancaman pembunuhan dipaparkan dengan begitu bersahaja, seolah semua itu telah menjadi sesuatu yang lumrah. Dalam “Musuh”, tergambar peristiwa yang jamak terjadi berkaitan dengan rencana pembangunan atau skenario politik yang mengorbankan rakyat biasa. Tak ada yang aneh dan semua menjadi halal dalam dunia politik dan atas nama pembangunan. Hal yang sama juga muncul dalam cerpen “Kematian Kurta”. Cerpen “Bapak Termangu di Beranda” secara berhasil menggambarkan keadaan psikologi korban paska peristiwa 1965, atau juga “Seorang Pejuang Menenteng Kepala” yang secara satir menceritakan seorang bekas pejuang yang merasa harus tetap mencari kemerdekaan di tengah keriuhan upacara kemerdekaan dengan menenteng kepala anaknya kemana-mana.

Mungkin saja berbagai kejadian itu takkan pernah menjadi perhatian kita. Menjadi hal yang biasa saja, walau sebenarnya ia memberikan nuansa yang berbeda, penting, dan menggoda nilai kemanusiaan kita. Namun kita tengah berada pada situasi yang mengkhawatirkan berkaitan dengan ingatan kita akan sejarah, perasaan akan lingkungan sekitar, walau kadang begitu sibuk membicarakan persoalan internasional.

Dalam teror dan gedoran pelbagai peristiwa horor dan sadisme yang dihadirkan, baik dari tindak dan laku sehari-hari ataupun suguhan media massa, ingatan kita sedikit demi sedikit mulai mencipta timbunan perilaku kekerasan. Pada akhirnya, mungkin saja ungkapan cinta kita pada kekasih atau orang tercinta dapat hadir dalam bentuk bunga yang dirangkai dari koleksi mata orang lain (musuh) yang dikerok dalam peperangan sebagai hiburan para pemegang senjata (cerpen “Bouquet”). Bagaimana mungkin peristiwa kekerasan dapat berubah menjadi ikon dari rasa cinta dan sayang?

Puncak dari berbagai peristiwa tragis akibat struktur atau sistem itu tergambar dalam bentuk perlawanan. Dalam “Kepala di Bawah Purnama” peristiwa penolakan untuk menerima keadaan dan perintah serta permintaan yang sewenang-wenang dari Adipati ditolak oleh Pasulawa dan Roro Sriti. Kedua suami istri ini melakukan penolakan, meski dengan akibat yang mengenaskan. Perlawanan yang lebih jauh muncul dalam cerpen “Celeng” yang menggambarkan para pemburu yang mengejar biang dari penderitaan hingga ke sarangnya, ke jalan Cendana di sebuah kota. Meski pengejaran dan perburuan itu terhenti hingga sarang celeng sumber kekacauan dan penindasan, namun dalam cerpen “Celurit” perlawanan itu tuntas hingga darah menempel dan menetes dari celurit yang dibawa oleh lelaki anonim bekas bajingan. Namun bentuk teror juga mewarnai nada perlawanan ini.

Dalam cerpen “Pepes Bayi buat Baginda Raja”, kiriman pepes-pepes bayi, yang menunjukkan dan menandakan penderitaan dan pengorbanan yang besar dari rakyat, terus berdatangan ke istana Baginda Raja. Tak ada yang dapat menghentikan kiriman itu. Baginda Raja boleh saja beranggapan bahwa ia telah memerintah dengan baik, menerima keberhasilan pembangunan dari para punggawanya, sembari sibuk dengan berbagai pesta dan protokoler di istananya. Namun situasi di luar berkata lain. Rakyat sudah jengah dengan semua penderitaan.

Selingkuh itu Indah: Pergeseran Pilihan Olahan dan Bentuk Ucap

Kecenderungan AN untuk mengolah peristiwa sosial, yang dalam bahasanya disebut “sastra bertendensi sosiologis”, merupakan usaha yang terus menerus menjadi orientasi proses kreatifnya. Dimulai dari Memorabilia, Bapak Presiden yang Terhormat, hingga Selingkuh itu Indah (Galang Press, 2001), menampakkan gejala bagaimana proses itu digarap secara intens. Perkembangan orientasi ini terlihat pada bentuk ucap dan pilihan tema yang muncul dalam cerpen-cerpennya.

Bila pada kedua antologi pertamanya, kekuatan bentuk ucap dan pilihan tematik karya-karyanya berada pada gejala sosial orang-orang biasa, masyarakat kebanyakan, dalam hubungannya dengan negara dengan segala perangkatnya, pada antologi ketiganya AN beralih pada wilayah yang lain, dunia keluarga atau hubungan asmara dengan segala masalahnya. Pada ranah bacaan yang permukaan, terkesan bahwa peralihan ini menunjukkan gejala peralihan fokus perhatian pengarang. Dari wilayah yang sarat dengan persoalan-persoalan sosiologis ke persoalan ‘psikologis’. Persoalan ‘psikologis’ ini dapat diartikan sebagai pengolahan persoalan yang lebih sempit namun mempertanyakan hal-hal yang subtil.

Persoalan yang terkesan populer pada antologi ketiga ini juga menggugat kemapanan pandangan dan rahasia tentang bangunan terkecil dari struktur masyarakat. Pembocoran fakta sosial tidak lagi dilakukan pada level yang besar, namun mengambil miniatur sebuah entitas. Persoalan rumah tangga laiknya sebuah negara. Banyak tipu muslihat dan siasat di sana. Bahkan, dengan peralihan fokus perhatian, AN pada beberapa bagian berhasil menguasai wilayah pengolahannya. Dalam Selingkuh itu Indah, satu per satu AN membeberkan berbagai peristiwa. Dan dengan kecermatannya, AN melihat berbagai gejala yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Perselingkuhan, misalnya, bukan saja akibat dari rutinitas yang menjemukan dalam rumah tangga, namun juga akibat dari pengaruh luar yang masuk ke dalam rumah tangga.

Keluarga, dalam cerpen “Dongeng Hitam Buat Kekasih”, bisa saja secara diam-diam menjadi sebuah korban dari arus yang terjadi di luar. Televisi dapat membunuh karakter-karakter yang berdiam dalam rumah. Keluarga dapat dilihat sebagai institusi yang membangun orang-orang dalam sebuah komunitas, namun juga dapat dilihat sebagai institusi yang mengancam, seperti ditunjukkan dalam cerpen “Episode”, dan “Boneka”. Bahkan, dalam keluarga yang dianggap sebagai tempat teraman dimana manusia bisa berlindung dari segala ancaman luar, ternyata masih menyimpan berbagai bara yang dapat menghanguskan karakter.

Keluarga juga ternyata menyimpan rahasia. Dalam cerpen “Sahabat”, dua keluarga yang penghuninya sejak dulu bersahabat ternyata masih menyimpan rahasia perselingkuhan diantara mereka. Dalam cerpen ini digambarkan bahwa bahkan dengan orang terdekatpun ternyata kita saling menyembunyikan rahasia-rahasia dan kepentingan. Dengan demikian, tidak setiap hal bisa kita ketahui dari orang-orang terdekat, bahkan kita tak tahu kewaspadaan semacam apa yang bisa dan harus digunakan dalam menghadapi berbagai kemungkinan.

Kumpulan cerpen ketiga AN ini memperlihatkan bagaimana bangunan kehidupan kita pada tingkat yang terkecil. Meski benang merah yang terhubung dalam antologi ini adalah masalah keluarga dengan segala persoalannya, namun dapat disimak sebuah dunia dengan nada sindir yang ada di dalamnya. Masalah selingkuh, misalnya, adalah masalah kritis yang bisa menyebabkan keretakan. Pada situasi seperti ini, berbagai kemungkinan bisa hadir. Persoalan perselingkuhan bukan hanya dominasi pelaku yang terlibat dalam keluarga, namun dalam skala yang lebih besar ia bisa terjadi. Dalam batas-batas tertentu, keluarga merefleksikan kehidupan kita. Inilah sebuah entitas yang diliputi oleh berbagai kongkalingkong dan manuver-manuver yang membahayakan. Ketika membaca cerpen-cerpen yang terhimpun dalam Selingkuh itu Indah perhatian pembaca mungkin merujuk pada masalah khas keluarga urban, dengan tingkat kemapanan yang memadai. Namun juga dapat berlaku pada wilayah lain, kelompok atau entitas mana saja yang ternyata menyimpan api dalam sekam.

Dunia dan Pandangan Tokoh

Dari ketiga antologi cerpen yang dihasilkan oleh AN, masalah gaya bahasa dan metafor yang digunakannya terlihat mengalami perkembangan. Keberhasilan AN pada kedua antologi pertamanya adalah kepaduan pilihan tema dan bahasa yang digunakan. Dunia yang dibangun lewat bahasa yang digunakan berhasil menciptakan suasana yang suram dan memprihatinkan. Setidaknya, dari pilihan metafor atau narasi yang digunakan AN, pilihan pada bahasa puitis namun dengan nada muram tetap hadir pada kedua kumpulan pertamanya. Sarkasme dan diksi kekerasan selalu muncul di sana-sini. Seolah hidup ini adalah bangunan dan kelanjutan dari kekerasan demi kekerasan, sebagai bentuk oposisi dari harapan akan kedamaian dan cinta kasih. Namun pada antologi ketiga, AN lebih bermain dengan nada satir dan pertanyaan-pertanyaan segar. Dengan pilihan tema yang juga menggoda.

Pada beberapa bagian, berbagai pandangan tokoh-tokoh dalam sejumlah cerpen terlihat seperti apatis dan menerima kekalahan dan keadaan. Beban berat yang terus mendera, yang dialami oleh sejumlah tokoh, menciptakan gambaran dunia-tak-mungkin dalam masyarakat yang melingkunginya. Namun demikian, sebagian tokoh itu juga, dalam keterbatasannya, melakukan perlawanan, meskipun hanya dalam guman dan impian mereka, sesuatu yang mungkin tak terdengar gemanya.

Dengan cara yang sama, AN mengungkap kedalaman tokoh-tokohnya dari segala sisi, seakan dengan begitu masyarakat yang dibangun dalam dunia fiksi AN adalah gambaran filmis sebuah masyarakat yang berada dalam benak kepala pengarangnya. Masyarakat yang disakiti dan penuh tipu muslihat. Masyarakat yang menyimpan dendam dan perlawanan. Bila disimak dengan baik, dalam bangunan dan pandangan dunia pengarang, terdapat beberapa penokohan yang muncul dengan identitas yang melekat jelas. Mereka adalah simbol-simbol dari masyarakat yang mewakili dunia pengarang.

Dapat dikatakan, mereka adalah penguasa yang terwakili oleh presiden, adipati, dan kepala daerah yang lebih kecil. Selain itu juga muncul perangkat dari kekuasaan berupa militer atau algojo dan preman. Setelah itu adalah rakyat biasa, keluarga-keluarga biasa yang lebih menjelaskan mereka yang menjadi korban dari berbagai tindak kekuasaan. Struktur dunia yang diangankan ini memberikan bahan yang cukup bagi si pengarang untuk mengolah berbagai permasalahan dari interaksi masing-masing pihak.

Sejauh pembacaan dilakukan, hubungan sebab-akibat ini terasa menonjol. Dunia dan segala peristiwanya bukan kebetulan belaka. Satu peristiwa memiliki kaitan dengan peristiwa yang lain. Semacam jaring peristiwa yang tak jelas lagi sumbernya karena begitu kompleks. Bukan tak mungkin untuk mengurainya, namun sebagai sebuah karya sastra, cerpen-cerpen AN tampaknya tidak hendak menyelesaikan berbagai peristiwa. Ia hanya memasuki dan menelusuri peristiwa. Menceritakannya pada pembaca.

Realitas sosial dalam cerpen-cerpen AN diperlakukan sebagai narasi yang menyimpan kepedihan. Tak banyak alasan untuk menikmati keberhasilan dari pembangunan yang dilakukan. Sebagai narasi, cerpen-cerpen AN lebih banyak berbicara tentang akibat, dengan menelusuri berbagai akar permasalahan, dan meninggalkan banyak pertanyaan. Dengan demikian, cerpen-cerpen yang terhimpun dalam ketiga antologi ini lebih berupa penyadaran akan akibat dari perjalanan roda sejarah. Pada titik-titik tertentu, cerita-cerita itu merupakan refleksi yang seharusnya menjadi jeda dari gegap gempita slogan dan jargon yang dicekokkan oleh sebuah struktur kekuasaan.

Suara yang muncul dari sejumlah cerita itu adalah suara kita. Atau setidaknya mewakili pandangan kita yang tak mampu dimuat oleh media massa karena berbagai persoalan. Fakta bisa saja tersimpan dalam file di meja redaksi media massa. Namun dengan berbagai cara fakta itu akan bergema dan keluar dari kungkungannya. Menggeliat dan lalu berbicara pada kita. Dalam bentuk narasi atau fiksi. Dan demikianlah adanya.

1 Response to “– Membaca Cerpen-cerpen Agus Noor”


  1. 1 nadealdeol November 7, 2011 pukul 3:03 pm

    Wow, terima kasih, esainya sangat membantu tugas kuliah saya😉


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Desember 2007
S S R K J S M
    Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: