– Cerita yang Bergelut dengan Bahasa

Bila penyair menemukan bahasa, maka pengarang menciptakan sebuah dunia melalui bahasa. Dunia itu ialah dunia fiktif, dunia yang penuh dan utuh sebagai sebah fiksi. Maka, pengarang sesungguhnya bekerja dan bergelut dengan bahasa. Cara bercerita seorang pengarang pada akhirnya memang memperlihatkan cara pengarang itu memperlakukan bahasa dan bagaimana ia, secara “idiologis”, meyakini “bahasa cerita”-nya. Inilah yang akhirnya memperlihatkan orientasi estetis seorang pengarang. Apa yang diperlihatkan para cerpenis mutakhir Indonesia dalam memperlakukan bahasa, sesungguhnya bisa memberi tahu: ke mana sesungguhnya arah pertumbuhan cerpen kita. Bahwa cerita, pada akhirnya, mesti menjadi ekspresi naratif sekaligus juga menjadi wacana yang menyediakan keterlimpahan makna

agus-noor-blog-2.jpg
Pikiran-pikiran itu, menandai kajian Agus Noor tentang cerpen-cerpen Indonesia paling mutakhir, yang disampaikannya pada Konggres Cerpen Indonesia di Balikpapan, Oktober 2007 lalu. Agus Noor kemudian menyusun dan menuliskan kembali pikiran-pikirannya itu, sebagaimana selengkapnya berikut ini…

Cerita yang Bergelut dengan Bahasa

Oleh Agus Noor

MEMBACA cerpen Indonesia mutakhir, yakni cerpen yang banyak dipublikasikan hari-hari ini, kita (maaf dengan penggunaan istilah “kita” ini) akan merasakan kegelisahan pengarang mutakhir kita, yakni para pengarang muda (juga maaf dengan istilah “muda” ini) yang hari-hari ini aktif memproduksi karya sastra dan mempublikasikannya lewat media koran, majalah dan juga buku. Kegelisahan itu menyangkut dua hal. Pertama, kegelisahan untuk mengatasi bahasa. Dan kedua, kegelisahan untuk menemukan cara bercerita. Bila kita membaca cerpen-cerpen Radhar Panca Dahana, AS. Laksana, Gus tf Sakai, Hudan Hidayat, Triyanto Triwikromo, hingga Puthut EA, Eka Kurniawan, Raudal Tanjung Banua, Gunawan Maryanto, Ucu Agustin, Yetti AKA, Azhari (untuk menyebut beberapa nama) kita akan segera merasakan hal itu.

Upaya mengatasi bahasa itu, bisa kita tengok latar historisnya: yakni ketika sinyalemen “sastra koran” begitu kuat dalam sastra kita. Hal yang (pada paruh tahun 90-an) paling sering dikemukakan soal kecenderungan “sastra koran” ialah kecenderungannya yang begitu besar pada wawasan realisme dalam menghadirkan cerita-ceritanya. Realisme di situ berkembang tidak hanya sebagai gaya, tetapi juga menjadi menjadi sebuah implikasi idiologis dari keyakinan bahwa sastra mampu merepresentasi realitas. Inilah kecendenrungan “realisme bertenden” yang kemudian membawa konsekuensi pada bangunan cerita, dimana kecenderungan umum yang kentara dalam cerpen-cerpen kita akhirnya menjadi sangat bersandar pada “cerita yang ingin merepresentasikan realitas secara langsung”.

Terhadap kecenderungan itu, “kritik keras” sempat dinyatakan Nirwan Dewanto, dimana dikatakannya, yang terjadi kemudian ialah cerita yang menenggelamkan bahasa, karena “bahasa hanyalah kendaraan cerita”. Pernyataan lain datang dari Budi Darma yang menganggap kebanyakan cerpen hanya bergerak dipermukaan, kurang pendalaman, sementara sering “isi dan cara pengungkapan isinya banyak dikondisikan media massa”. Sementara Sapardi Djoko Darmono menengarai keterikatan antara cerita dan berita pada cerpen-cerpen yang muncul di koran. Sedang Budiarto Danujaya, yang sempat berpengharapan pada tumbuhnya genre “satra koran” belakangan menjadi sangat cemas dengan begitu meluahnya cerpen-cerpen yang bersifat sangat “aktual” dan yang mengutamakan plot secara agak berlebihan serta terjebak pada “realitas koran”. Inilah satu gejala yang oleh Goenawan Mohamad dikatakan sebagai reduksi “realitas” yang menyebabkan cerita pendek menjadi “tipis tokoh”. Akibat lain ialah, cerpen menjadi sangat “topikal”: ditulis dengan niat untuk ikut bicara dalam soal-soal sosial yang sedang hangat, didorong “oleh kehendak mengemukakan satu atau dua ‘topik’, tak berikhtiar untuk jadi kisah yang punya kehidupan sendiri”.

Kecenderungan itu memperlihatkan gejala umum: dimana cerpen bukanlah sebuah dunia prosa yang bertumpu pada bahasa. Menulis cerita tidak terlalu dianggap sebagai sebuah pencarian dan pengembangan kemampuan mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan bahasa.

Para pengarang yang kemudian bergelut menulis cerpen pada tahun-tahun setelah itu, yakni selepas tahun 90an, pada akhirnya hidup dalam “bayang-bayang kutukan” seperti itu. Pembocoran fakta yang banyak dilakukan pada masa sebelumnya, pada akhirnya mengalami otokritiknya dari dalam, yakni munculnya sebuah upaya untuk bertarung dengan bahasa. Cerita, pada akhirnya disadari, tiada lain ialah suatu upaya untuk memperlihatkan kemampuan estetis seorang pengarang menghidupkan bahasa, tidak sekadar menggunakan bahasa untuk menyampaikan ceritanya. Bahasa ialah untuk menciptakan sebuah dunia (makna) bukan semata alat untuk menceritakan kembali dunia. Dalam upaya menciptakan dunia itulah, bahasa, mula-mula, dipakai sebagai “perangkat estetik utama bercerita”. Inilah kecenderungan paling mutakhir dalam cerpen yang ditulis tahun 2000an ini.

Nampak kecenderungan yang kuat untuk mencari efek puitis dalam cerita. Fenomena “puitisasi bahasa dalam cerita”, dengan pendayaan frase dan rima, kemudian menjadi terlalu kentara. Di sinilah sesungguhnya bahaya dari pemujaan terhadap bahasa, juga tak bisa terhindarkan. Pemerian diskripsi dengan memperhitungkan frasa dan rima, terkadang membunuh alur cerita, konflik dan perwatakan – yakni elemen-elemen cerita yang saya kira tidak bisa kita abaikan begitu saja! Gaya bahasa menjadi (terlalu!) penting dalam cerita. Cerita kemudian menjadi bertumpu pada style berbahasa. Bukan bagaimana menyampaikan cerita itu yang penting, tetapi bagaimana membahasakan cerita itu.

Padahal, bila ingin mengembalikan cerita pada kekuatan bahasa, semestinya bahasa juga jangan sampai meniadakan cerita. Karena itu berarti memasuki wilayah puisi, pukan sekedar “cerita yang puitis”. Prosa dan puisi, memang, tak lagi penting untuk dipisah-pisahkan. Tetapi sebuah cerpen, sebagai sebuah prosa, bagaimana pun tetapp membutuhkan alur kisah, konflik dan perwatakan yang tak bisa ditinggalkan begitu saja. Bila itu tak tertangani, maka cerita menjadi semacam “impresi bahasa” yang tidak menghadirkan “dunia kisah”. Tidak mengherankan apabila I Nyoman Darma Putra menemukan kecenderungan pada cerpen-cerpen kita sebagai cerita yang menghindari konflik.

Konsekuensi lain dari kecenderungan untuk mengekplorasi bahasa ialah terabaikannya perwatakan. Disinilah, sinyalemen tentang “tokoh yang menghilang” dalam cerpen-cerpen Indonesia mutakhir bisa dicarikan “jawabannya”. Kecenderungan mengekplorasi bahasa memang membuat para penulis cerpen kita tidak terlalu memperdulikan soal watak tokoh. Ambisi untuk menciptakan tokoh sebagai variant dari genus manusia” sebagaimana pernah digagas oleh Iwan Simatupang, bukan lagi menjadi obsesi para pengarang yang mementingkan pesona bahasa itu. Kita akhirnya bisa memahami kekecewaan orang macam Goenawan Mohamad, yang merasa tak lagi menemukan tokoh yang kuat dalam cerpen kita, yakni “tokoh yang mampu untuk tersisa dalam kenangan setelah kita selesai membacanya”. Tak ada lgi tempat bagi Open (Jalan Lain ke Roma, Idrus) Inem ( Inem, Pramudya Ananta Toer), Bawuk (Bawuk, Umar Kayam), Orez (Orez, Budi Darma), Kakek penjaga surau (Robohnya Surau Kami, AA. Navis) Rintrik yang buta, (“Jantung Tertusuk Panah”, Danarto).

Penulis-penulis lama”, penulis-penulis old style semacam Kuntowijoyo, yang terus menulis cerpen (dan karenanya terasa “ganjil” bila kita mempersandingkan cerpennya dengan cerpen-cerpen yang ditulis oleh para cerpenis mutakhir kita) barangkali masih tetap memercayai akan pentingnya “tokoh” dalam cerita. Bahwa sebuah cerita pada dasarnya ialah kisah tentang tokoh, masih begitu diyakini oleh Kuntowijoyo. Cerpen-cerpen Kuntowijyo dari “Anjing-anjing Menyerbu Kuburan” sampai “Rt 03 Rw 22: Jalan Belimbing atau Jalan Asmaradana” memperlihatkan hal itu: bahwa cerita adalah pertentangan atarwatak tokoh-tokohnya. Kuntowijoyo seakan mengamini penegasan Edward Jones, bahwa sebuah cerita yang berhasil tampak pada caranya yang meyakinkan ketika melukiskan tokoh-(tokoh)-nya.

Tetapi, pemahaman seperti itu mungkin sudah dianggap klasik, sudah katrok, karena kini perhatian cerita ada pada bahasa. Lihatlah cara Puthut EA, Gunawan Maryanto atau Ucu Agustin menuliskan cerita-ceritanya. Yang mereka pertaruhkan adalah bahasa: bagaimana segala pukau dan daya bahasa dimaksimalkan untuk membangun efek estetis ceria. Puthut melihat peluang betapa bahasa Indonesia bisa dipakai untuk membangun efek puitis dari kenangan dan ingatan. Dengan cara seperti itu, cerpen-cerpen Puthut kemudian menjadi terkesan “sayup dan melayang”, cerita bergerak pada kelebatan kenangan dan pikiran tokoh-tokohnya.

Pada Ucu Agustin, bahasa menjadi pertautan antara dunia sehari-hari yang dihadapi tokohnya dengan dunia dongeng. Dunia dongeng itu, tidak sekadar dunia yang menjadi bagian masa silam tokoh-tokoh itu, tetapi memang sebuah dunia tersendiri yang menjadi khasanah rujukan penceritaan, atau pada tingkat tertentu menjadi pola dasar cerita dan penceritaannya. Referen kisah-kisah dari khasanah dongeng, yang dirujuk oleh Ucu, adalah sebuah cara untuk memberi ruang fantasi yang sudah tak mendapat tempat dalam kehidupan sehari-hari yang makin pragmatis. Dalam bangunan cerita Ucu, bahasa lebih mengacu pada makna referensial ketimbang peristiwa sosial secara langsung. Dalam kisah-kisah Ucu, cinta atau kepedihan adalah sesuatu yang bisa dicari relevansinya dalam dunia peri, mambang dan seluruh makhluk fantantis (sekaligus romantis) yang hidup dalam ingatan dongeng – bukan membawa kita pada yang sosial faktual, tetapi referensial dan tekstual.

Dua penulis itu, hanyalah satu contoh. Gunawan Maryanto, Triyanto Triwikromo, Eka Kurniawan, Hudan Hidayat, Joni Ariadinata, adalah sebarisan penulis yang juga gigih “menghidupkan” bahasa, melaui bermacam tekhnik penceritaan.

Tetapi, pada akhirnya, sebuah cerita yang berhasil memang tidak berhenti hanya pada “memperlakukan bahasa sebagai sebuah gaya bahasa”. Bahasa pada akhirnya adalah sebuah cara untuk menciptakan dunia (makna). Mungkin bila penyair menemukan bahasa, maka pengarang menciptakan sebuah dunia melalui bahasa. Dunia itu ialah dunia fiktif, dunia yang penuh dan utuh sebagai sebah fiksi.

Cerpen Gus tf Sakai, “Jejak yang Kekal”, ialah sebuah upaya yang bisa dipakai sebagai contoh. Dalam pengantar kumpulan cerpen Ripin, Nirwan Dewanto menyebut cerpen itu sebagai sebuah upaya sastra untuk mengatasi nalar ilmiah. Karena cenderung menempatkan “Jejak yang Kekal” sebagai sebuah anti-tesis kebenaran ilmiah itulah, maka tidak terlalu mengherankan kalau Nirwan memandang teks sastra itu, “Jejak yang Kekal”, sebagai tampak inferior dihadapan ranah ilmiah. Padahal, menurut saya, “Jejak yang Kekal” bukanlah sebuah upaya untuk menentang nalar ilmiah atau menghancur fakta-fakta ilmia yang diacunya, tetapi lebih dari sebuah upaya untuk menghadirkan dunia (makna) yang lain. “jJejak yang Kekal” bukan sebuah proyek untuk menyalahkan fakta historis tentang penemuan jejak fosil purba, tetapi lebih ingin menghadirkan kemungkinan lain, dunia lain tentang kemungkinan jejak pada fosil itu.

Dengan cara itu sastra menjadi memiliki kemampuan untuk mereinterpretasi realitas (atau apa yang kita anggap sebagai realitas). Bukankah kaum post modernis sudah menelanjangi mitos-mitos ilmiah ilmu pengetahuan, dan karenanya semua teks (yang ilmiah sekali pun) sesungguhnya adalah sebuah dunia fiksi. Ilmu pengetahuan ialah fiksi, sebagai mana juga sastra adalah fiksi. Bila ilmu pengetahuan itu fiksi, maka sastra adalah bentuk fiksi yang lain, yang memungkinkan untuk bermain-main: menciptakan sebuah “dunia fiksi yang lain” — seperti diperlihatkan oleh cerpen “Jejak yang Kekal” itu. Dengan kata lain, pada tingkat itu, sastra yang mengekplorasi bahasa pada kahirnya adalah sebuah upaya untuk menciptakan sebuah metafora – metafora tentang dunia atau semesta, sebagaimana pernah dinyatakan oleh Gus tf Sakai.

Begitu pun upaya Triyanto Triwikromo, pada “Sayap Kabut Sultan Ngamid”, misalnya. Montase cerita yang disusunnya, adalah sebuah cara untuk menata dunia secara berbeda. Sebuah dunia adalah cara kita menyusunnya. Atau dunia itu tersusun lebih karena bagaimana kita menyusunnya. Dan salah satu cara untuk menyusun dunia itu ialah melalui bahasa. Karena itu ketika kita memilih dan menyusun sebuah sebuah cerita dengan bahasa, maka kita (sesungguhnya!) sedang menyusun dunia dengan cara kita.

Seperti Triyanto, Radhar Panca Dahana pun berupaya untuk menyusun peristiwa untuk mendapatkan kemungkinan cara pandang, seperti pada cerpen “Sepi pun Menari di Tepi Hari” atau “Senja Buram, Daging di Mulutnya”. Dari cara penyusunan itulah, dunia tersusun, peristiwa menjadi memiliki kemungkinan lain untuk didekati dan dilihat. Semacam sebuah upaya untuk meneksplorasi kemungkinan berbahasa sekaligus kemungkinan cara bercerita. Agar terhampar sebuah dunia (yang berbeda).

Di sinilah kita sampai pada kecenderngan kedua yang terjadi dalam cerpen-cerpen Indonesia mutakhir, yakni upaya-upaya untuk menemukan cara bercerita yang banyak dilakukan oleh para pengarang kita. Gejala ini pun seperti menjadi negasi atas realisme yang banyak dikatakan menjadi mainstream bercerita cerpen-cerpen kita. Barangkali itu semangat untuk keluar dari rutin, sebagaimana rutin yang diperlihatkan oleh cerpen-cerpen kita yang seakan-akan harus selalu hadir setiap hari Minggu.

Cara bercerita seorang pengarang pada akhirnya memang memperlihatkan cara pengarang itu memperlakukan bahasa dan bagaimana ia, secara “idiologis”, meyakini “bahasa cerita”-nya. Inilah yang akhirnya memperlihatkan orientsi estetis sang pengarang. Dan orientasi estetis pada bahasa dan cara bercerita yang diperlihatkan para pengarang kita sekarang ini, tahun 2000an ini, seperti hendak memberi isyarat: ke mana sesungguhnya arah pertumbuhan cerpen kita. Bahwa cerita, pada akhirnya, mesti menjadi ekspresi naratif sekaligus juga menjadi wacana yang menyediakan keterlimpahan makna.

Seperti saya pernah menuliskan pada sebuah artikel di Kompas, kalau boleh dirumuskan, maka periode cerpen Indonesia mutakhir ini adalah sebuah periode “eksperimentasi” dan eksplorasi tekhnik-tekhnik penceritaan dalam sastra, sebagai satu upaya untuk membangun, menciptakan, menyusun menghasilkan “sebuah metafora tentang dunia”. Ini sesungguhnya sebuah gairah yang luar biasa.

Sayang sekali, gairah seperti itu tidak dilihat oleh para kritikus sastra kita dengan cukup jeli, hingga melahirkan kemungkinan-kemungkinan kajian estetis. Tetapi, sastra kita, apa boleh buat, memang mesti terbiasa tanpa kehadiran kritikus sastra. Dan tanpa kritukus sastra seperti itulah, upaya-upaya estetis penulis – semacam semangat eksperimentasi – terus dikerjakan oleh banyak penulis cerpen kita.

Eksperimentasi” itu, memang tidak terkesan gegap gempita seperti para periode tahun 60-an satu 70-an, yang ditandai oleh bentuk-bentuk tipologi penceritaan yang inkonvensional. Generasi terkini cerpenis kita lebih lmengarahkan perhatiannya pada kemungkinan-kemungkinan cara berbahasa dan bercerita yang lebih bersifat deep structure, bukan pada surface structure, atau bentuk visual karya. Dilihat dari hal tersebut, pertumbuhan cerpen pada periode mutakhir ini sesunggunya memperlihatkan pencapaian inovatif yang jauh lebih matang ketimbang bermacam “eksperimentasi bentuk visual’ yang terjadi tahun 70an. Yang terjadi pada periode mutakhir ini, pencapaian estetis lebih memberikan peluang penafsiran melalui cara berbahasa dan bercerita yang dikembangkannya.

9 Responses to “– Cerita yang Bergelut dengan Bahasa”


  1. 1 si pemimpi Maret 11, 2008 pukul 5:24 am

    ya…mungkin lbh matang urusan eksperimentasi, tp lebih buruk dlm hal 1. logika cerita 2. kedalaman perenungan & sublimasi cerita & terlalu mengejar ‘keanehan’ 3. terlalu terbelenggu budaya cerpen koran. begitu menurut sy mas.

  2. 2 harie insani putra Agustus 16, 2008 pukul 2:12 pm

    mampir di sini…jabat tangan….

  3. 3 agusnoorfiles Agustus 17, 2008 pukul 10:30 am

    Duh, ko mampirnya sebentar, jd nggak sempet ketemu. Hehehe. Semoga kamu makin tekun menulis…

  4. 4 langitjiwa Agustus 21, 2008 pukul 10:05 am

    ajari aku,mas noor. pada samudera ilmumu.
    dan salam kenal selalu dariku langitjiwa

    salam

  5. 5 agusnoorfiles Agustus 22, 2008 pukul 1:43 pm

    langitjiwa,salam kenal. aku pun ingin menyelam dalam pengetahuanmu, pengetahuan siapa saja, dari mana saja…

  6. 6 novitasridewi Maret 13, 2009 pukul 6:29 am

    salam kenal ms agus,

    menurut saya, masyarakat pada umumnya lebih membutuhkan hiburan dari cerita yang ditawarkan.

    bagaimana pengarang dapat memahami situasi ini?

    mengingat peran penting yang (seharusnya) diemban pengarang yakni menghadirkan pesan bermutu melalui suguhan cerita yang menarik -dapat dimengerti tanpa harus mengerutkan kening terlebih dahulu-.seringkali ketika saya membaca suatu karya, dengan ‘nyambi’ membuka kamus istilah dari beragam disiplin ilmu (sebagai referensi/alat bantu pemahaman).namun saat saya menemukan maknanya, saya jadi kecewa, ternyata pengungkapan tersebut sebenarnya dapat digunakan cara yang lebih sederhana.bayangkan, jika kebanyakan pembaca harus membuang sekian waktunya untuk mengejar sesuatu yang (maaf)sebenarnya tidak terlalu penting?

    terimakasih, maju terus pengarang Indonesia . . . .

  7. 7 agusnoorfiles Maret 13, 2009 pukul 7:00 pm

    “kebanyakan” masyarakat kita, saat ini, memang lebih membutuhkan hiburan ketika membaca (sastra). Barangali ini karena faktor tradisi membaca masyarakat kita. Orang yang hanya membutuhkan hiburan saat membaca, pasti mencari bacaan-bacaan yg menghibur juga. Tapi saya percaya, ada pembaca yang tidak semata membutuhkan hiburan. Atda pembaca yang membutuhkan tantangan atas bacaan yang dihadapinya…
    Dalam menghadapi itu, setiap pengarang akan mengambil jalannya sendiri-sendiri. Bila ingin memenuhi kebanyakan selera pembaca, penuhilan kebutuhan itu. Bila tidak, ia akan mengambil pembaca yang “sedikit” itu.
    Ada memang, pengarang yang ingin “berumit-rumit”, meski ada peluang untuk menyampaikannya dengan sederhana. tetapi ini menyangkut gaya dan jalan yang dipilih oleh penulis. Setiap penulis ingin membangun “rumahnya”, “identitasnya”. Ini memang jargon modernisme, yang mengunggulkan otentisitas dalam diri manusia (pengarang). Sebagai penulis, saya sendiri ingin selalu menemukan “bahasa ungkap” atau metafora yang segar, yang mungkin menggugah dan menginspirasi pembaca.
    Pada tulisan saya ini, memang ada kecenerungan besar dari penulis kita yang sibuk dengan gaya, sibuk menemukan strukur penceritaan (yang barangkali teresan ruwet), tetapi, itu mungkin pilihan estetiknya. terhadap ini, sebenranya sikap kita gampang: tinggal hentikan saja membacanya, dan pilih bacaan yang menurut kita lebih bagus. Kalau setiap penulis “berhak” mengembangkan gaya tulisannya, maka pembaca pun “berhak” memilih bacaan yg disukainya.

  8. 8 kucing senja Agustus 25, 2012 pukul 9:47 am

    Terima kasih esainya, Mas.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Desember 2007
S S R K J S M
    Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: