– DUNIA SERENA

gambar3

GEMERINCING kereta membawa Serena ke Negri Hesperida. Dua belas kuda berbulu putih melesat menembus pilar-pilar cahaya matahari yang menyemburat celah-celah awan, meniti lengkung pelangi. Lalu, dari langit yang gemerlapan dan penuh nyanyian, muncullah peri-peri mungil bersayap bening, membawa keranjang penuh bunga aneka rupa.

“Selamat datang, Serena… Selamat datang….”

Angin bau kesturi. Bunga-bunga berhamburan, membuat langit keemasan. Serena tertawa bahagia. Inilah tempat yang selalu ia kunjungi setiap kali merasa kesepian. Ia suka pada peri-peri mungil bersayap bening, yang sayapnya selalu berdengung mirip capung. Di sini ia bisa berlarian menyusuri padang rumput yang membentang hijau sampai ke ujung bumi. Ia bisa bermain dengan puluhan kelinci atau bernyanyi bersama tujuh kurcaci. Beterbangan bersama kupu-kupu dan lebah, dari satu bunga ke bunga lainnya. Di sini ia selalu merasa lepas dan menemukan banyak teman. Tidak seperti di rumah, yang meskipun banyak boneka pemberian Mama, juga puluhan mainan aneka rupa, tapi selalu saja Serena merasa tak menemukan siapa-siapa. Semua mainan di rumah hanyalah benta-benda, yang tak bisa membuat hatinya gembira. Ia ingin kawan yang bisa membuatnya selalu merasa nyaman dengan berbagi cerita dan tawa. Karena itulah ia selalu pergi ke Negri Hesperida, berkelana bersama Dewi-dewi Waktu yang menjaga keceriaan musim dengan lentik jarinya.

“Lama kamu tak kemari, Serena?” tanya kelinci yang matanya menyimpan bulan.

“Mama sakit, saya mesti menjaganya.”

“Kamu memang anak baik, Serena…”

Ya, ya, ya, ia ingin jadi anak baik. Hanya anak baik yang disukai orang tua. Tapi Serena selalu heran, kenapa Mama dan Papa selalu saja membentak-bentak dan memarahinya, meski ia sudah nurut pada apa saja yang dikatakan mereka? Mama seperti tak pernah mau mendengar cerita-ceritanya. Selalu menganggapnya hanya berkhayal bila ia bercerita tentang Negri Hesperida. Sedang Papa tertalu sibuk dengan entah apa. Serena tak pernah bisa mengerti, kenapa Papa selalu pergi. Nyaris sepanjang hari Papa pergi. Pulang malam-malam, terkadang sempoyongan, kemudian meledak pertengkaran. Atau kalau di rumah, Papa selalu mendengkur dalam kamar, sementara Mama sepanjang hari membenamkan diri di depan televisi.

Ya, ya, ya itulah sebabnya Serena lebih suka mengembara ke Negri Hesperida, memetik keceriaan musim, merangkai waktu menjadi kelopak-kelopak bunga. Di sini ia bisa tertawa sepuasnya. Di sini ia tak merasa ketakutan oleh bentakan Mama. Di sini Serena menemukan kawan bermain yang selalu mengerti dirinya. Kawan-kawan yang selalu memberinya bulan dan bintang, hingga ia tak takut pada malam. Bersama peri-peri mungil bersayap bening Serena sematkan bulan dan bintang-bintang, seperti ketelusan seorang ibu memasangkan kembali kancing baju anaknya yang lepas, membuat jubah malam jadi berkilauan. Lalu Serena bergelantungan sulur cahaya bulan, seperti dulu ia suka main ayunan di belakang rumah.

“Hati-hati, Serena!”

Serena bergelayut manja. Sementara peri-peri mungil bersayap bening terbang berputaran mengitarinya sembari memainkan harpa, menyayikan lagu paling merdu yang pernah didengar Serena. Membuatnya terbuai, hangat. Serena menjelma bayi yang pulas dalam peraduan. Matanya yang bulat menyimpan kenangan, memejam, mencari ruang yang akan selalu membuatnya menjadi kanak-kanak abadi. Ia ingin menyimpan matahari dalam lemari, agar ia bisa terus pulas dan nyaman di sini. Tapi peri-peri mungil bersayap bening itu terus bernyanyi, dan gemanya pecah menjadi pagi.

“Bangun Serena!” Mama menarik selimut. “Dasar pemalas! Ayo bangun, mandi, dan bikinkan Mama kopi!”

Di pinggir ranjang, Mama berkacak pinggang. Peri-peri mungil bersayap bening menghilang. Selimut terburai di lantai. Serena bersijengkat menghindari tatapan Mama. Ia tak ngantuk, tapi ia malas beranjak dari ranjang, karena berarti bertemu dengan mata Mama yang tak pernah ramah padanya. Seperti hendak membersihkan semua kesedihan, Serena mandi sembari bernyanyi. Membayangkan diri menjadi seorang Putri.

“Serena! Ayo, cepetan mandinya!” Teriakan Mama membuat Serena tergesa. “Sudah berapa kali Mama bilang, Serena, dilarang bernyanyi di kamar mandi. Apa kamu pingin menjadi seorang biduan?! Tidak, Mama tak akan mengijinkan!”

Serena merunduk. Mama memang tak pernah mengijinkan apa pun yang disukainya. Sepertinya, segala yang disukai Serena, selalu dibenci Mama.

“Sekarang buatkan Mama kopi!”

Serena menyeret kesedihan. Peri-peri mungil bersayap bening bergelantungan di ranting pepohonan. Saat itu Serena melihat Nirmala muncul membawa tongkat ajaibnya.

“Jangan bersedih Serena. Terimalah tongkat ini, biar kamu bisa membuat kopi yang paling enak buat Mama.”

Dengan gembira Serena menerima. Ia memang paling suka pada Nirmala. Ia selalu berharap, pada suatu hari Nirmala akan meminjamkan tongkat ajaib kepadanya, biar ia bisa menyulap apa saja yang diinginkannya. Ia bisa menyulap batu menjadi roti, ia bisa menyulap kertas menjadi merpati. Simsalabim, dan ia pun bisa menciptakan sepatu kaca untuk pergi ke pesta. Mama pasti akan suka padanya, karena dengan tongkat ajaib ia akan bisa mengerjakan apa pun yang diperintahkan Mama dengan sekejap mata. Dengan tongkat ajaib Nirmala, simsalabim, Serena menyulap segelas kopi untuk Mama.

“Ini kopinya, Mama.”

Mama mencicipinya, tapi tersedak seketika, dan melotot pada Serena, “Ya, ampun, Serena! Apa yang kamu berikan pada Mama?!”

“Bukankah Mama minta kopi?”

“Tapi ini tanah liat, Serena!” Mama langsung menyiramkannya ke muka Serena. “Kamu benar-benar tak berguna, Serena!”

Serena menghambur, sesungukan. Kenapa Mama selalu menyalahkannya? Apakah karena ia sesungguhnya bukan anak Mama, seperti yang sering dibisik-bisikkan tetangga ? Ia hanya anak yang dipungut dari jalanan…

Serena tak percaya. Ia yakin ia anak Mama. Tapi kenepa Mama begitu membencinya? Mungkin Mama memang tak pernah menginginkannya. Kerena Serena sering mendengar omelan Mama bila bertengkar dengan Papa. Pertengkaran yang selalu membuat Serena gemetar. Di puncak kemarahan, Mama akan selalu berteriak, “Coba kamu urus anak itu! Bukankah dulu aku sudah bilang, kalau aku tak ingin punya anak. Anak hanya akan bikin kacau dan merepotkan. Membuat rumah ini berantakan dan tak nyaman. Tahu begini, sudah aku bunuh dia waktu masih dalam kandungan!”

Mengingat itu, Serena kian sesungukan. Di bening kali Serena membuka diri, “Bisa jadi aku hanya merasa sepi karena tak dicintai….” Katanya, sambil memandangi pantulan wajahnya di bening air, seakan tengah melayat mayat sendiri yang terpahat di dasar kali. Rasanya ia ingin menjadi batu di dasar kali, bebas dari pukulan angin dan keruntuhan.[1] Alangkah bahagianya berbaring di dasar kali, abadi.

Saat itulah, muncul seekor ikan, menyapa Serena. Membuatnya terpana.

“Jangan takut, Serena…”

Lalu ikan itu pun bercerita, siapa ia sesungguhnya. Ia seorang Pangeran tanpan yang dikutuk menjadi ikan oleh Nenek Sihir, karena tak mau dinikahkan dengan anak gadisnya.

Mendengar itu, Serena teringat pada buku cerita yang pernah dibacanya. Ia lupa, siapa nama pengarangnya. Tapi ia masih ingat betapa ia pernah bertemu Pangeran itu dalam mimpi. Serena juga ingat, ia pernah menceritakan Pangeran tanpan itu pada Mama, tapi Mama malah menuduhnya berpikiran kotor, “Kamu masih kecil Serena, kenapa sudah mikir soal laki-laki tampan? Jangan-jangan kamu sudah tahu soal kondom segala!” Jadi Pangeran itu benar-benar telah dikutuk menjadi ikan? Alangkah jahatnya Nenek Sihir itu! Tiba-tiba saja Serenga ingat Mama: apakah Mama juga jahat seperti Nenek Sihir? Serena memang sering mendengar kisah soal Nenek Sihir yang jahat, tetapi ia tahu tidak semua Nenek Sihir jahat, seperti ia juga tahu tidak setiap Mama jahat. Tapi kenapa Nenek Sihir itu tega mengutuk Pangeran itu?

“Sudah kukatakan, Serena, karena aku menolak dijodohkan dengan anak gadisnya. Kamu tahu, Serena, aku menolak pertunangan itu bukan karena lamaran tersebut datang dari Nenek Sihir yang jahat. Tetapi karena aku telah jatuh cinta kepadamu, Serena…”

Serena tersipu. Ia lihat ikan itu menatapnya penuh kesungguhan. Uh, bahkan dalam wujud seekor ikan pun, ketampanan Pengeran itu tak berkurang. Sungguh seekor ikan yang rupawan. Kejahatan dan kebencian tak mampu menghapus ketampanan Pangeran. Ya, ya, ya, seorang yang tampan memang akan tetap saja tampan dalam wujud apa pun.

“Telah seribu tahun aku menunggumu, Serena….”

Sebagaimana telah dinujumkan, Pangeran itu akan kembali menjadi manusia, apabila bertemu dengan gadis yang dicintainya. Cinta membuka kutukan. Dan ketika Serena menepuk air kali tiga kali, seketika ikan itu menjelma Pangeran tanpan, berjubah merah, begitu gagah, dengan pedang melintang di pinggang. Dengan takzim Pangeran itu bersimpuh di hadapan Serena, mengulurkan tangan dan meraih jari Serena — mencium lembut. Dibimbingnya Serena menyusuri jalan setapak hutan pinus. Peri-peri mngil bersayap bening muncul dari balik belukar, bernyanyi dan memainkan harpa, hingga bunga-bunga membuka kelopaknya.

“Maukan kau menikah denganku, Serena?” mesra suara Pangeran di telinga Serena. Kemudian Pangeran itu menyematkan cincin di jari Serena, juga memberinya seuntai kalung mutiara. Serena lihat langit kuning emas, seperti warna hatinya. Siapa yang tak gembira dicintai seorang Pangeran rupawan? Serena menyimpan cincin dan kalung pemberian Pangeran itu di bawah bantal, agar setiap kali tidur ia bisa selalu bertemu Pangeran tampan itu dalam mimpinya. Serena menyimpan cincin dan kalung itu seperti ia menyimpan impian dan harapannya. Karena itu Serena tak habis mengerti ketika suatu hari Mama begitu marah saat menemukan cincin dan kalung yang ia simpan di bawah bantal itu.

“Hampir senewen Mama mencarinya, Serena! Kenapa kamu tak bilang Mama, kalau mau pakai kalung ini?”

“Itu kalung Serena!”

“Tentu saja, punya Mama juga kepunyaan Serena. Tapi alangkah baiknya kalau kamu bilang terlebih dulu apabila hendak mengambil sesuatu. Biar Mama tak kelabakan mencarinya. Atau jangan-jangan kamu sudah mulai belajar mencuri? Iya?!”

“Kalung itu pemberian seorang Pangeran….”

“Pangeran lagi! Pangeran lagi! Apa pangeranmu itu yang mengajari kamu mencuri? Kamu terlalu banyak berkhayal, Se.rena. Sudah berapa kali Mama bilang, kamu masih kecil, tak baik kamu mikir soal pacaran. Belajar saja yang rajin. Sekolah yang bener. Kalau kamu sudah jadi orang, Mama tak peduli apa pun yang kamu lakukan, meski sehari kamu tidur dengan tigapuluh laki-laki. Saat ini taik kucing dengan pangeranmu. Sudah! Cepat belajar! Jangan bikin rumah berantakan. Sekarang Mama pergi pesta, tuh sudah ditunggu Papa…”

Kenapa, kenapa Mama menuduhnya mencuri? Mama selalu tak percaya padanya. Apakah ia anak yang menjengkelkan? Ia ingin manja pada Mama. Berlendotan, sembari bercerita apa saja. Ia juga ingin mendengar Mama mendongengkan tentang kancil, tentang Lana dan Simba, tentang nenek tua yang memintal benang di bulan, tentang bidadari-bidadari berselendang jelita. Alangkah bahagianya Serena bila Mama mau mendongengkan itu semua, sampai ia tidur pulas di pangkuan Mama. Tapi bila Serena mulai bersandar di lengan Mama, langsung saja Mama menepiskannya, “Jangan ganggu Mama, Serena. Ayo, kenapa kamu tak main saja dengan teman-temanmu, Serena. Pergilah ke mall, makan burger, donat, ayam goreng atau pizza.”

Bulan ungu muncul dari balik bukit. Serena termangu di jendela. Angin sepoi. Di ruang tengah Mama lelap di depan televisi yang masih menyala. Tak ada bunga tumbuh dari televisi. Kesepian memanjang. Serena jadi ingat, betapa ia pernah ingin memberi Mama bunga. Bunga, ya, bunga. Saya kira Mama akan gembira bila aku memberinya bunga, batin Serena. Ya, kenapa ia tidak memberi Mama bunga? Segera Serena berlari ke hutan, memetik sekuntum bunga wijaya kusuma. Di bawah bulan, bunga itu anggun luar biasa. Mama pasti suka. Aku akan memberi Mama bunga, biar Mama tahu betapa aku mencintainya. Mama pasti akan menciumnya mesra, memujinya sebagai anak baik.

Dipetiknya bunga itu, kemudian Serena membangunkan Mama.

“Lihat Mama, ini bunga buat Mama,” sodor Serena.

Mama terbelalak, melomapt menjauhi Serena, panik.

“Ular! Ular! Ulaarr!!”

“Ini bunga, Mama…”

“Ular! Ular! Ulaarr!!”

SEJAK peristiwa itu, Papa mengurung Serena dalam kamar. “Anak macam apa kamu, Serena. Mama sendiri hendak kamu bikin celaka!” Sejak itu pula, Mama tak pernah mau mengajak bicara Serena. Mama akan melolong bila tampak Serena, seperti melihat raksasa berkepala lima. Karenanya Papa melarang Serena keluar kamar. Bila butuh apa-apa, Bik Ijah yang akan mengambilkannya.

Serena duka, kemudian menutup diri dari segala. Dianggapnya Mama dan Papa sudah tak lagi menghendakinya. Maka dikuncinya pintu kamar. Tak ia pedulikan ketukan Bik Ijah mengantar makanan. Serena begitu kecewa, membuat seisi hutan ikut merana. Semua binatang sahabat Serena cemas, melihat Serena yang kian pucat, tergolek di ranjang. Tak ada denting harpa dari peri-peri mungil bersayap bening. Tujuh kurcaci dengan setia menjaga Serena. Embun kehilangan cahaya.

Bertahun-tahun pintu itu terkunci, membuat Papa bersedih hati. Papa tak pernah menyangka Serena akan mengunci diri begitu rupa Ia sering marah dan jengkel pada Serena, tapi bagaimana pun ia anaknya. Baru Papa sadari, betapa ia mencintai Serena. Papa telah menghiba, minta Serena membuka pintu, tapi sia-sia. Papa telah memanggil tukang kayu dan ahli kunci untuk membuka, mencongkel, menggergaji dan mendobrak pintu, tapi juga sia-sia. Pintu itu rapat terkunci. Tak bisa dibuka. Papa hanya bisa mendengar lenguh kesedihan dari dalam kamar. Bilakah Serena masih hidup?

Papa telah renta, memendam penyesalan, duduk di kursi goyang di depan pintu kamar Serena, mengharap suatu kali pintu itu akan terbuka dan Serena menghambur ke pelukannya. Sementara Mama telah lama meninggal dunia — menghibur diri sampai mati di depan televisi. Kesedihan membuat mata Papa berkabut. Di sofa, mayat Mama mulai membusuk, seperti bangkai sapi yang tengah nonton televisi. Papa tak pernah mau menguburkan Mama, karena ia takut hidup sendiri. Papa masih membuatkan Mama kopi, menyiapkan air hangat, merawat kuku Mama, mengganti pakaian Mama, mengajaknya bicara dan menyuntingkan bunga kamboja di telinga Mama, hingga di mata Papa mayat Mama masih saja berguna. Setidaknya mayat Mama membuat Papa punya kesibukan. Begitulah Papa menghabiskan hari-hari tuanya, sembari mengenang wajah Serena.

SAMPAI suatu sore, datang seorang Pangeran berjubah merah, mengendarai kuda, memasuki halaman rumah.

Spada!”

Papa terkejut oleh teriakan itu, dan terseok-seok membuka pintu.

“Siapa?”

“Saya Pangeran dari Negeri Langit,” jawab anak muda itu, sambil turun dari kuda, dan langsung sujud mencium kaki Papa. Membuat orang tua itu bertanya-tanya, siapakah gerangan anak muda ini? Apakah anak seorang kenalannya? Keponakannya? Kerabat yang selama ini tak pernah dikenalnya? Ataukah pegawainya dulu? Ataukah teman Serena? Ah, selama ini Papa tak pernah tahu kalau Serena punya kawan begini tampan.

“Bertahun-tahun saya mengembara, menjelajah semua benua, mencari Serena. Ia telah membebaskan saya dari kutukan Nenek Sihir.”

“Nenek Sihir?”

“Ya. Saya datang untuk melamarnya. Ijinkan saya, Papa. Akan kumahkotai Serena dengan kemuliaan dan kebahagiaan…”

Papa geleng-geleng, beringsut mundur dan tak lagi peduli pada anak muda itu. Papa yakin, anak muda itu orang gila yang tersesat. Lagi pula, Papa benci pada semua yang diucapkan tadi, karena mengingatkan pada omong kosong yang dulu sering diucapkan Serena. Papa benci pada bualan itu! Bualan yang membuatnya tak pernah memahami Serena. Karena itu, Papa buru-buru menutup pintu, dan kembali duduk di samping mayat Mama, nonton televisi.

Terkantuk-kantuk, Papa menyaksikan Pemuda tampan berjubah merah tadi di televisi, masuk kamar Serena. Pemuda itu bersimpuh di sisi ranjang Serena, membelai pelan kening Serena, kemudian memercikan air bunga. “Bangunlah kekasihku,” Pemuda itu menggenggam tangan Serena. Maka ribuan serangga berdengung riang ketika Serena membuka mata, ribuan kupu-kupu membuat langit penuh warna. Selusin bidadari turun, membawa hidangan aneka rupa. Semua berpesta, menyambut pernikahan Pangeran dan Serena. Diiringi tujuh kurcaci, Pangeran membimbing Serena, berjalan menuju altar, untuk dikawinkan. Pesta tujuh hari-tujuh malam, membuat dunia penuh cinta. Sepanjang hari televisi menyanyikan lagu cinta, membuat Papa terheran-heran. Berkali-kali ia ganti chanel, tetapi selalu saja ia temui kemeriahan pesta penuh cinta — tak ada tembak-tembakan, tak ada perkelahian, tak ada gedung meledak, tak ada mobil terbakar. Karena itulah, Papa merasa ganjil, bagaimana mungkin semua saluran televisi menyiarkan kemeriahan pesta? “Mungkin Laporan Khusus,” batin Papa. Meski ia tetap saja heran, karena biasanya Laporan Khusus cuma berisi omongan yang menjemukan.

Dan Papa kian heran ketika Serena bersama Pemuda berjubah merah itu muncul dari tabung televisi, kemudian bersimpuh mohon restu dihadapannya. Papa merasakan ciuman lembut pada jari kakinya, hangat. “Berkati pernikahan kami, Papa,” suara Serena membuat mata Papa berkaca-kaca.

BERTAHUN-TAHUN setelah itu, rumah Serena menjelma belukar sunyi. Ilalang dan perdu merimbun. Sulur-sulur akar berjuntaian. Tembok-temboknya berlumut dan dirambati cendawan, halaman penuh pepohonan, rumput menjalar dan bunga-bunga liar mekar. Di tengah rumah-rumah megah dan gedung menjulang, rumah Serena jadi mirip hutan lindung kecil yang tak terawat.

Tak ada yang peduli dengan rumah itu, kecuali anak-anak yang biasanya main petak umpet di situ, mengejar kupu-kupu atau mencari belalang. Anak-anak itu membuat ayunan dan rumah pohon di sana, bernyanyi bersama peri-peri mungil bersayap jelita, berlarian bersama kelinci yang menyimpan bulan di matanya, seakan anak-anak itu tengah memasuki dunia mimpi, dunia yang membuat masa kanak-kanak mereka begitu terasa menyenangkan. Membuat mereka pingin berdiam selamanya di sana.

Lalu ketika pulang, anak-anak itu bercerita pada orang tua mereka, tentang semua yang dilihatnya.

“Kalian pasti bermimpi.”

“Tidak, kami tidak bermimpi,” kata anak-anak itu. Kemudian mereka bercerita, betapa mereka baru saja bertemu dengan seorang gadis bernama Serena yang mengajak mereka naik kereta kencana menuju Negri Hesperida.

“Pernahkah Mama ke sana? Kami naik kereta bersama Serena?”

“Serena?”

“Ya, Serena. Ia putri yang jelita…”

Ah, sudalah, sudah, jangan berisik! Jangan ganggu Mama nonton televisi! Ayo, duduk yang manis dan diam. Atau nanti Mama kurung dalam kamar, he?!”

Seperti Serena, anak-anak itu kemudian merasa tak diperhatikan, kemudian membangun impian. Mengembara di dunianya sendiri…

Yogyakarta, 1996-1997

(Dari Kumpulan Cerpen “MEMORABILIA”)


[1] Dikutip dari sajak Aku Ingin Menjadi Batu di Dasar Kali, karya Kriapur.

5 Responses to “– DUNIA SERENA”


  1. 1 morning dew November 4, 2008 pukul 11:17 am

    Suka banget ama cerita dongeng begini, Pak🙂
    Keren.keren.keren.keren.keren.keren.keren.

    Terimakasih sudah menaruhnya di blog.🙂

  2. 2 eleanor rose November 4, 2008 pukul 11:20 am

    I LIKE THIS STORY😀 VERY NICE😀

  3. 3 jenny November 8, 2008 pukul 2:11 am

    Suka banget dengan gambar ilustrasinya.
    Tapi rasanya aku pernah liat di mana, ya?

  4. 4 agusnoorfiles November 9, 2008 pukul 7:39 am

    Lihat di laptopku kali… HAHAHAHA

  5. 5 wahyu November 16, 2014 pukul 9:43 am

    lihat di mimpi kalii..haha


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
November 2008
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: