Banyak hal yang bisa kita diskusikan. Selama ini, saya pun kerap mendapat pertanyaan atau semacamnya, seputar sastra dan proses kreatif. Saya kemudian berfikir, kenapa tidak membuka “ruang diskusi” di blog ini? Setidaknya agar pertukaran pikiran lebih terbuka. Nah, laman ini, saya maksudkan untuk itu. Bila ada pertanyaan atau apa pun yang ingin diungkapkan, lebih baik disampaikan di box coment, kemudian siapa pun yang ingin menanggapi, bisa ikut bertukar pikiran dan gagasan. Tapi saya mengharap, apa yang kita diskusikan berkaitan dengan seni dan satra, setidaknya karena memang itulah yang saya inginkan dari ruang ini. maka kita bisa berbincang soal seperti apakah sesungguhnya cerpen yang baik? Apakah itu puisi? bagaimanakah wajah kritik sastra kita atau hal-hal semacam itulah. Kalau itu relevan, maka saya akan mencoba menanggapinya. Dan siapa pun boleh menanggapinya. Tuan dan Puan, ayo, marilah kita berdiskusi..

70 Responses to “Discussion”


  1. 1 menyut Agustus 27, 2008 pukul 5:26 pm

    ger…., mbok aku dibikinke naskah tuk kelompokku

    buka aja kelompokrelska@blokspot.com

  2. 2 agusnoorfiles Agustus 28, 2008 pukul 12:27 pm

    Hai, apa kabar? Masih berteater juga, ya. Wah, asyik lah. Oke, nanti aku buka blogmu itu. Tentu aku senang hati pula bila bisa membuatkan naskah untuk kelompokmu. Sekarang, aku masih agak suntuk re-write naskah PRESIDEN KITA TERCINTA. Ini lakon, yang bila gayung bersambut, akan dimainkan Gandrik, dalam waktu dekat. nanti, setelah aku rampungkan ini, semoga bisa berdiskusi untuk naskah lakon selanjutnya. Salam ya, buat konco-konco dan sedulur kabeh… Kangen aku!

  3. 3 gunadi September 2, 2008 pukul 6:17 am

    Mau tanya, Mas..
    Sebenarnya apa ada, batasan2 atau apalah, yang mengotakkan sebuah tulisan fiksi itu menjadi ‘sastra’? Apa sih yang membuat sebuah karya tulis menjadi ‘nyastra’?

    saya sedang membaca buku ‘kumpuan cerpen pilihan kompas’ seorang kawan nyelutuk, “Wahh.. bacaan sastra, nih.”
    Lalu saya balas tanya, “Kenapa ini disebut sastra? Lalu apa kalo saya baca novelnya Fredy S, novel misterinya S Mara GD itu bukan sastra, atau iya juga?” Tidak ada bisa njawab.

    Apakah untuk menjadi ‘sastra’, sebuah tulisan harus sarat muatan? Entah muatan politik, sosial, satir, atau yang absurd, surealis, realis? Atau yang penuh dengan kata-kata puitis, indah dan sebagainya yang bisa membuat pembacanya mengerutkan kening?

    Gimana, mas?

  4. 4 agusnoorfiles September 2, 2008 pukul 10:11 am

    Ini memang persoalan lama, klasik, etapi juga tetap menyisakan banyak pertanyaan: apa itu sastra? Tepatnya, apa yang membuat sebuah tulisan/teks bisa dianggap sastra?
    Kita bisa merujuk pada banyak teori, tetapi saya ingin menyampaikan hal yang sederhana: bahwa di barat, apa yang disebut sastra (literature) adalah tulisan. Jadi, setiap bentuk teks, disebut literatur. Kalau sastra dipahami sebagai pengertian literature, maka semua tulisan adalah sastra.
    Tapi, kita juga sering memahami sastra dalam pengertisan “susastra”, atau kesusastraan. Susastra, mengandung makna tulisan yang indah, yang bagus. Apa itu bagus, tentu saja relatif. tetapi, apabila tulisan itu bagus (dan dalam konsep Jawa maka adalah halus, menghaluskan budi pekerti atau sikap dan pandangan hidup kita) maka itu disebut sebagai tulisan yang “mengandung nilai sastra”. Kira-kira begitu. Itulah sebabnya, tulisan semacam karya Umar Kayam, Pramudya Ananta Toer, kerap dianggap bernilai sastra: karena kita bisa menyerap pengalaman hidup yang reflektif dari sana, pengalaman hidup yang tidak hanya memperkaya pemahaman dan pengetahuan kita, tetapi juga makin meneguhkan nilai-nilai (moralitas) dalam diri kia. Itu barangkali, yang membedakannya ketika kita membaca Anne Arrow, misalnya, atau Fresy S. tentu saja, membaca Fredy S, kita jadi menyerap pengalaman dari sana. tetapi apakah pengalaman itu makin “memperkaya pandangan hidup kita” atau tidak, itulah soalnya.
    Nah, biasanya, nilai sastra, ada pada bagaimana caranya mengolah tema itu, agar ia memberi kita pengalaman yang menggugah. Nah, pengalaman yang menggugah itulah yang sering disebut sebagai “pengalaman estetik” saat kita membaca sastra. Misal, kita bisa merasa duka Bawuk, ketika suaminya dikabarkan mati. Empati duka kita, membuat kita bisa menghargai nilai kemanusiaan. Kita tergugah, merasa tercerahkan, atau merasa gemetar, merasa begitu merinding atau apa… itulah pengalaman yang membuat kita menikmati sastra.
    Kalau membaca Nick Carter, atau cerita porno di situs, misalnya, kita juga punya pengalaman, merasa terangsang, merasa merinding dst… tetapi pengalaman itu bukanlah pengalaman yang mencerahkan, yang tidak membuat kita berefleksi tentang hidup dan pengalaman kita.
    Itu yang membedakannya.
    Jadi, menurut saya, setiap tulisan memang karya sastra, apabila ia masuk dalam kategori apa yang disebut fiksi: cerpen, novel, drama, puisi, roman, skenario, dan sejenissnya. Apa yang ditulis Fredi S sebenarnya ya masuk kategori sastra. Atau bisa disebut teks sastra. cerpen Seno Gumira Ajidarma juga teks sastra. Novel Marga T ya teks sastra. Novel Eka Kurniawan ya teks sastra. Cerpen di majalah Anida yang islami itu juga teks sastra. Cerpen yang muncul di Kompas atau Jawa Pos juga teks sastra. Yang membedakannya adalah nilai dan kedalamannya..
    Itulah sebabnya, secara teoritik, oleh para pengamat atau kritikus sering dibedakan dalam kategori-kategori: ada sastra pop, ada sastra serius, ada sastra anak-anak dst…
    Oke, ada yang lain yang main ikus diskusi dan memperkaya pandangan ini?

  5. 5 gunadi September 4, 2008 pukul 12:30 am

    Oo…jadi agak terang deh..

    JAdi sastra yang kita pahami sekarang bisa jadi adalah susastra, ya? (su=bagus/indah, sastra=teks)
    Apa itu juga yang disebut sebagai sastra serius?

    Lalu kalo ada pembagian sastra berdasarkan pembacanya, spt disebut mas di atas, sastra pop (pop=populer=populasi=orang kebanyakan) sastra anak-anak (pembacanya anak-anak), apa bisa sastra dikategorikan berdasarkan masanya? Misalnya karya2 Charles dickens, Ernest Hemingway, Edgar Allan Poe dikategorikan sebagai sastra klasik (sesuatu yang lampau tapi masih bertahan hingga sekarang), lalu macam Pramudya, Seno, Ayu Utami, termasuk anda, bisa dikategorikan sebagai sastra kontemporer (masa sekarang)?

  6. 6 agusnoorfiles September 5, 2008 pukul 1:47 pm

    Benar sekali, ada jg pembagian atau kategorisasi sastra berdasarkan era/zaman. Hal itu kadang memang diperlukan untuk studi sejarah sastra.
    Tapi bila kita perhatikan, karya-karya yg disebut klasik itu biasanya memang “punya nilai artistik yang bagus” dan tentu saja kita bisa menangkap semacam moralitas yang membuat kita penghayatan kita terhadap hidup makin kaya. Nah, itulah nilai sastra, nilai yang membuat karya sastra menjadi “serius” atau tidak. Sastra yang serius, penuh kedalaman dan bagus secara literer, pasti akan melampaui zaman. Itulah sebabnya, di zaman kita ini, kita masih bisa membaca dan menyukai Dickens atau Shakespheare, atau bahkan Sophocles dari zaman Yunani. Sastra yang ringan, yang hanya mengungkap permukaan, pasti akan ditinggalkan zaman.
    Berdasarkan pertumbuhan zaman, pada akhirnya, nanti, seratus tahun mendatang, karya-karya yang ditulis hari ini, yang dianggap kontemporer hari ini, boleh jadi juga akan menjadi klasik…

  7. 7 Hilman September 9, 2008 pukul 5:36 pm

    Pa kabar mas ?
    Saya lagi gandrung membaca cerpen nih mas, namum kadang saya bingung menilai suatu cerpen itu bagus apa enggak, misal ketika juri memilih cerpen terbaik dalam suatu ajang pemilihan yang baru lalu, penilaian mereka tidak sesuai dengan apa yang saya pilih. Tentunya saya sendiri percaya terhadap hasil pemilihan juri tersebut, karena tentunya mereka para suhu di bidang sastra, namun tetap saja saya penasaran. Nah, saya mau tanya nih mas, menurut mas Agus cerpen yang bagus itu kriterianya seperti apa ya?

  8. 8 agusnoorfiles September 12, 2008 pukul 5:10 pm

    Maaf, bila saya agak lama membalasnya. Pertanyaan apa ukuran cerpen bagus, akan saya analogikan dengan pertanyaan ‘apa yang membuat seseorang cantik?’ Tentu, kita punya ukuran atau selera pribadi soal kecantikan. Begitu pula dengan cerpen, ada selera pribadi, subjektif, yang membuat seseorang menyukai cerpen ini atau cerpen itu.
    Tapi, sesungguhnya, kita juga bisa menemukan “standar nilai” untuk menentukan apakah seorang itu cantik atau tidak. Begitu pun ada parameter yang bisa kita gunakan ketika menilai apakah cerpen itu baik.
    Misalkan kita menilai kecantikan dari wajah. maka di sana ada hidung, mata, bibir, pipi, atau kening dst. nah, itu semua, dalam cerpen boleh diibarkat karakter, plot, setting, cara bercerita dst. Itu semua dalam sastra sering disebut “unsur intrinstik”, atau unsur-unsur di dalam karya sastra.
    mata, pipi, hidup, menjadi bagus secara keluruhan, bila ia tampak serasi. Pada cerpen, unsur-unsur intrinstik itu menjadi kuat dan bagus kalau membangun kesatuan juga, harmoni, atau bisa disebut sebagai “keutuhan cerpen”. Nah, menurut saya, secara teoritis, cerpen yang bagua adalah cerpen yanng secara tekhnis terjada semua unur-unsur intrinstiknya itu, hingga ia tampak utuh, kokoh dalam struktur.
    Itu adalah dasar teoritik menilai cerpen.
    Tapi, secara pribadi, saya selalu menilai cerpen dengan cara menikmati saja cerpen itu. Artinya, ketika membaca, saya menghilangkan pretensi teoritik. Saya lebih mengedepankan aspek intuitif atau perasaan saya. Ini penting, karena saya ingin membuang selera sastra saya ketika membaca kaya sastra (orang lain). Saya takut, kalau saya tak bisa melepaskan selera estetik saya, penikmatan pembacaan saya jadi terganggu.
    Begitu saya merasa cerpen itu bagus, baru saya membacanya kembali secara kritis: apa yang membuat cerpen itu “menggetarkan saya”, yang “menggoda saya”…
    Dari situ, saya mencoba menganalisis unsur-unsur itu (plot alur dan seterusnya). Tapi yang paling saya perhatikan biasanya adalah: bagaimana cerita itu dihadirkan. bagaimana cerita itu diolah, lewat medium bahasa, hingga memberi persfektif yang segar pada saya.
    Dari pembacaan kritis itu, mungkin saya menemukan: cerpen ini bagus suasananya, tetapi abai dalam penokohan. Kemudian saya bertanya, apakah pengabaian penokohan itu disengaja atau karena ketidakmampuan pengarangnya? Bila memang disengaja, karena pengarang lebih menekankan pada suasana, maka saya bisa menerima, dan menyebutnya sebagai cerpen suasana. Ada cerpen yang kuat pada karakter, tetapi kedodoran dalam setting atau alur. barangkali memang tidak ada cerpen yang sempurna.
    Tetapi ketidaksempurnaan itu tidak berarti membuat cerpen itu buruk. Karena pasti ada yang dituju atau lebih ditekankan dalam cerpen itu. bagaimana pun cerpen adalah cerita yang beformat pendek: kependekan itu harus mengisyaratkan keluasan cerita. nah, biasanya, saya selalu memakai penilaian itu. Bila cerita itu “membiaskan” atau memberi inspirasi yang luas (dibanding cerita itu sendiri) maka saya merasa atau mengganggap itu cerpen yang berhasil. Contoh, kisah tentang seekor lalat, bisa jadi tidak sekedar kisah tentang lalat. tetapi ia bisa membawa kita pada kisah ketidakberdayaan, kekalahan, atau kesepian yang tak mudah difahami. nah, meski bercerita tentang lalat, maka cerita itu menjadi dalam, karena ia “menginspirasikan” kita sesuatu. Atau ia mungkin memberi pengalaman estetis yang berkesan ketika kita membacanya.
    Pendeknya, ketika kamu membaca cepen, cobalat nikmati saja. kalau intusimu mengatakan itu bagus, maka berarti kamu suka (tak peduli ahli sastra mengatakan itu jelek atau lainnya). karena seperti kecantikan, apa yang kamu anggap sebagai cantik, belum tentu diamini orang lain. begitu juga ketika ahli sastra bilang orang itu cantik, belum tentu juga itu sesuai selera kamu, kan?
    membaca sastra, pada dasarnya adalah pertarungan untuk menemukan makna. kalau kamu menemukan makna, meerasakan seseuatu yang indah atau menggetarkan atau apalah namanya, ya berarti kamu sudah berupanya memperoleh sesuatu dari karya itu.
    Oke, mngkin itu dulu. Ntar kepanjangan. Kita bisa diskusikan ini lebih lanjut, nanti…

  9. 9 gunadi September 15, 2008 pukul 12:54 am

    Duh, ribet amat penjelasannya mas Agus.

    Kalo bagi saya, sebuah cerpen dikatakan bagus, apabila ia mampu meninggalkan kesan buat saya. Beberapa hal dalam sebuah cerpen yang mampu membuat saya terkesan a.l:

    1. Ide cerita.
    Bisa hal2 yang sederhana banget, saking sederhananya saya bisa merasakan kalo cerita itu sebenarnya terjadi di sekitar saya saja. Atau yang absurd sekalian, bisa sejauh mana imajinasi penulisnya.

    2.Alur cerita, yang mampu membuat saya bertahan dan penasaran untuk tetap membacanya sampai habis. Jadi tidak ditinggalkan di tengah2 karena bosan atau tidak mengerti.

    3.Pemilihan kata2
    Bagaimana seorang cerpenis memilih kata2, itu seperti bagaimana seorang pelukis memilih warna untuk kanvasnya. Bisa penuh kata2 indah merayu memuja mengharu biru melambungkan, atau menghujam mencekik menusuk menohok, atau yang sopan berkelit menyindir menertawakan. Tanpa kekuatan magis kata2 ini, membaca cerpen tak ubahnya membaca tabloid gosip atau laporan perusahaan. Hahaha

    4.Setting.
    Saya bisa terpesona akan suatu kota, desa, cafe nun jauh di belahan dunia sana, atau tempat yang sesungguhnya tidak ada, namun mampu membuat saua berpikir “tempat ini ada ga, sih?” lalu mencoba mengimajinasikan sendiri.

    5. Emosi. Wah, dahsyat deh kalo sebuah cerpen mampu menggugah emosi saya.

    6. Mengandung makna tersirat.
    Macam2 deh, mulai politik, sosial, satir, parodi, seks, genderis.

    7. Judul, paragraf pertama dan ending yang passss..
    Ada judul yang sanggup menyokong sebuah cerpen menjadi begitu menarik, ada yang ga ada hubungannya (atau saya yang ga sanggup menlihat hubungannya, ya?) PAragraf pertama yang sanggup menyeret pembaca untuk penasaran dan membaca lebih lanjut. Dan ending yang begitu berkesan dan penuh surprise. Tapi pernah saya baca cerpen yang saya bahkan tak sadar kalo ceritanya sudah habis. Begitu halaman dibalik, ternyata sudah judul lain. Payah. (Bisa juga saya yang payah) Hehehe

    Sekali lagi, ini subjektif. Menurut saya, buat saya. Tapi juga tidak mutlak. Namanya juga seni. Saya juga masih belajar. Biasanya dari kumpulan cerpen pengarang top, cerpen Kompas Minggu, lalu mencoba menarik kesimpulan sendiri, apa sih kekuatan cerpen ini? Atau kalo ketemu cerpen yang buruk, ya juga coba berpikir, apa sih yang membuat cerpen ini tidak menarik?

    Atau kalo ga mau pusing, ya dinikmati sajalah. Kan saya cuma konsumen cerpen, belum berniat jadi produsen cerpen. Sayur asem plus ikan asin kalo enak ya disikat aja, ga usah bingung mikirin bumbunya, kecuali mau masak sendiri, atau mau buka warung. Hahaha

    Gimana mas Agus? Ada yang keliru dari pandangan saya?

  10. 10 Hilman September 15, 2008 pukul 2:13 pm

    Saya cukup puas atas jawabannya mas Agus dan juga tambahan dari mas Gun, terutama sayur asemnya. he3…

  11. 11 agusnoorfiles September 15, 2008 pukul 6:29 pm

    Saya, sudah pasti berterimakasih atas tambahan dr Sdr. Gunadi. Saya tak bermaksud menjawab “njelimet”. Saya hanya mencoba objektif. Sudah pasti, objektifitas itu bisa menyesatkan juga, dalam artian: menjadi terlalu ingin tampak bijak, tak memihak. Maksud saya memang ingin menghindari dari “kemutlatan pendapat” ketika menilai cerpen baik atau buruk.
    Tapi, karena Sdr Gunadi atau Bung (biar akrab ya, hehe) sudah “menegaskan” sikap dan pilihannya, saya elaborasi saja deh. dari semua poin yang Bung sampaikan, saya secara pribadi selalu menempatklan bahasa sebaga prioritas ketika menila. Saya selalu percaya: pengarang yang baik adalah pengarang yang bergelut dengan bahasa. Seorang pengarang mesti menemukan bahasa puitiknya, yakni bahasa yang akan membuat karnyata punya kekhasan sebagai teks sastra. Jadi, hal pertama yang membedakan teks sastra dan tek bukan sastra, adalah bagaimana bahasa itu hadir pada kita. Nilai “sastrawi” ada pada bahasa. Itu sikap kepengarangan saya. Nah, setelah pengarang “menemukan bahasa estetisnya” maka ia akan menyusunnya dalam struktur cerita: yakni bagaimana sebuah kisah disampaikan, dihadirkan, dibangun dalam struktur cerita itu. Di situlah alur, penokohan, setting dan segalanya menjadi punya koheresi atau tidak, yakni tampak dalam struktur dan caranya menyusun cerita. Ini disebut tekhnik bercerita.
    Oh ya, coba deh baca tulisan saya “cerita yang bergelut dengan bahasa” dalam blog ini juga.
    Jadi, sebenarnya saya tipe ngarang yang pemuja bahasa. Yang terpukau pada para penyihir bahasa, hehehe..
    Tapi, sekali lagi tapi, itu sikap saya. Sebagai pengarang saya juga bisa menerima cerita yang bahasa sederhana, ceritanya sederhana, strukturnya sederhana, cara berceritanya sederhana. cerpen2 Kuntowijoyo dan Chekov saya suka karena struktur dan bahasanya sederhana, tetapi ia bisa menghadirkan renungan dan pengalaman estetis pada saya. Saya membaca cerpen Kuntowijoyo Anjing-anjing Menyerbu Kuburan, rasanya sudah lebih dari 30 kali, dan tak pernah bosan. cerpen Chekov, Terdakwa, saya baca juga lebih dari 20 kali, dan saya tetap tergetar setiap kali membacanya.

  12. 13 gunadi September 17, 2008 pukul 9:02 am

    Setuju banget.
    Itulah maksud poin ke 3 dari saya. Pemilihan kata-kata, alias bahasanya. Itulah sebabnya sebuah cerpen yang bagus tak bisa dibaca hanya sekali. Setiap membaca ulang, saya selalu menemukan hal-hal yang tak kutemui dari pembacaan sebelumnya. Saya percaya ada penyihir bahasa di antara kita. Dia berpakaian biasa, makan makanan manusia, membutuhkan mandi juga, tapi dia adalah penyihir. Penyihir bahasa. Dan saya sudah sering tersihir. Hehehe.

    MAs Agus, tanya…
    Menurut mas, apakah seorang penulis (kita persempit penulis cerpen saja, biar tidak ribet) sebaiknya mampu menulis segala genre/gaya menulis? Ibaratnya seperti penyanyi cafe yang mampu menyanyikan lagu apa saja.

    Atau sebaiknya dia hanya mampu menulis dengan SATU gaya khas dia, namun dahsyat punya, sehingga tanpa mencantumkan namanya pun, orang yang membaca tulisannya tau, ‘oh..ini pasti tulisannya si A.’ Dan apa yang terjadi bila lama kelamaan pembaca/penulis itu sendiri jenuh dengan gayanya yang SATU itu?
    Gimana, mas?

  13. 14 agusnoorfiles September 21, 2008 pukul 4:36 pm

    Menurut saya, seorang penulis mesti berkembang. Biarkan ia menyuntuki satu gaya, gaya itu mesti berkembang. Style atau gaya, juga pengolahan tema, yang tidak berkembang, membuat ia, penulisnya, bisa terjebak pada rutine, dan pada pembaca bisa menumbuhkan kebosanan.
    Saya sendiri punya pilihan: sebagai penulis, saya mesti terus menjelajah. saya selalu punya prinsip: setiap tema,setiap cerita, selalu membutuhkan pendekatan dan pengolahan berbeda.
    Sekarang saya akan beri contoh pengalaman saya membaca. Dulu, saya sangat terpesona dengan cerpen2 Putu Wijaya. Sejak SMP, saya begitu tergila-gila dengan cerpen-cerpennya. Kekuatan Putu ada pada permaian logika dan suprise endingnya. tetapi, lama-kelamaan, setelah aku “bisa menebak caranya mempermainkan logika”, daya sudah bisa menduga endingnya. Nah begitu ending sudah bisa ditebak, maka tidak suprise lagi. maka kekuatannya, permainan logika yang “wit”, cerdas, menjadi biasa, dan endingnya tidak membuat saya terpana lagi. membaca cerpen-cerpen Putu, kemudian menjadi membosankan. Saya kadang heran, kenapa Putu tak mengubah gayanya?
    Apa ia sudah cukup puas? Mungkin ia tak merasa jenuh.
    Pengalaman saya, ketika saya “dianggap sebagai penulis surealis”, maka saya menulis realis. Atau mencoba mempermainkan dunia yang realis dan surealis. Artinya, sebagai pengarang, saya ingin saya tidak mengalami kejenuhan, dan pengulangan kalao bisa.
    Itu pilihan saya. saya ingat, dulu ada pengarang Indonesia yang senang sekali dengan “pencapan”, misalkan ada yang disebut pengarang lapar, karena menulis tema-tema lapar dalam karyanya: dan ia jadi seakan menikmati julukan itu. Ada yang bangga disebut sebagai penulis protes, karena menulis karya2 yang bersifat protes.. Mereka seperti terpenjara dalam labelisasi itu. Tetapi juga kayaknya menikmati “statusnya” itu, hehehe

  14. 15 Minutia September 24, 2008 pukul 4:10 am

    Dear mas Agus,
    Sy mau menanggapi cerpen Mas (semoga bukan mas Agus Noor yg lain) di Kompas Minggu, 21 Sep 08, yg berjudul KARTU POS DARI SURGA. Pada kolom 3, tertulis:
    “Rasanya, ia kini mulai dapat memahami, kenapa seorang pengarang bisa begitu terobsesi pada senja dan ingin memotongnya menjadi kartu pos buat pacarnya.”
    Pikiran sy langsung terbang ke seseorang yg mengirimkan Kartu Pos untuk pacarnya, Alina. Dan ternyata kartu pos itu adl keratan senja -nya Seno Gumiro Ajidarmo (SEPOTONG SENJA UNTUK PACARKU).
    Mungkin mas lupa mencantumkan footnote ya…
    Ato sebenernya sah-sah aja menuliskan sesuatu yg mrp inspirasi dari karya penulis lain yg dipublikasikan. Sepotong Senja ini masuk kategori cerpen terbaik Kompas th. 2003.
    Gitu aja Mas… maaf klo ada salah kata.
    Matur nuwun

  15. 16 agusnoorfiles September 25, 2008 pukul 12:25 pm

    Hai, Minutia..
    Yap, terimakasih sudah membaca cerpen KARTU POS DARI SURGA, yg muncul di Kompas. Anda rupanya pembaca cerpen yang akurat, dan teliti. Benar, kalimat yang kau kutip dari cerpen saya itu, yakni kalimat “Rasanya, ia kini mulai dapat memahami, kenapa seorang pengarang bisa begitu terobsesi pada senja dan ingin memotongnya menjadi kartu pos buat pacarnya.” mengacu pada sebuah cerpen Seno, yang kau sebut ini. Si tokoh, dalam cerpen saya itu, memang teringat pada pengarang yang terobsesi pada senja. Dan pembaca yang mengenal konteks wacananya, pasti langsung terbayang pada Seno.
    Saya memang tidak memberi footnote, karena memang tidak ada kutipan langsung. Footnote, atau catatan, diperlukan bila saya memang mengutip frase atau kalimat atau teks dari sebuah karta. Pada KARTU POS DARI SURGA, tak ada kutipan langsung itu, jadi saya merasa tidak perlu untuk menyertakan footnote.
    Saya justru sedang “bermain-main” dengan menguji “imajinasi” atau “ingatan” pembaca. Dan ternyata, pembaca seperti kamu “bisa memahami” kode tekstual itu.
    Inspirasi dari karya lain, tentu saja sah. Sejauh itu memang tidak “membajak” atau dalam artian “menduplikasi mentah-mentah”. Inspirasi seperti itu, malah bisa menjadi sebuah permaian tekstual yang mengesankan. Ada satu cerpen saya, yang belum saya publikasikan, judulnya SEPOTONG BIBIR PALING INDAH DI DUNIA”, ini adalah cerpen yang mmengacu pada karya2 Seno Gumira Ajidarma. Tunggu saja, aku merencanakannya mempublikasikannya tahun depan…

  16. 17 gunadi September 26, 2008 pukul 10:05 am

    Mas, saya lagi… Hehehe

    Mas, tanya masalah tata bahasa boleh? Maaf kalau pertanyaan saya agak konyol.

    Dalam bahasa sastra, bagaimana memilih menggunakan kata ganti orang ketiga: ‘dia’ atau ‘ia’? Apa bedanya ‘dia’ dan ‘ia’? atau sama saja?

    Makasih..atas jawabannya..

  17. 18 agusnoorfiles September 27, 2008 pukul 3:06 pm

    Sebenarnya tidak ada perbedaan “makna” dari kedua kata itu: dia/ia. Jadi tidak soal, sebenarnya, memilih dia atau ia.
    Tetapi dalam bahasa memang ada “rasa bahasa” dan juga “rima bahasa”. Pada “rasa bahasa”, maka bahasa akan dirasakan, apakah ia pas atau sesuai atau belum. Ini biasanya dilakukan oleh para penyair: memilih kata yang tepat dan pas untuk menyampaikan “perasaannya”. Sementara “rima bahasa” akan menempatkan sebuah kata dalam keseluruhan kalimat: ia pas atau tidak.
    Sekarang saya akan berbagi pengalaman saya dalam menulis. Pada beberapa cerpen, saya lebih suka memilih menggunakan kata “ia”. Secara rasa bahasa, ia lebih dekat: ia, mengesankan kita akrab dan dekat dengan tokoh itu. Misalnya, kita cenderung menggunakan keta “ia” untuk kekasih atau kawan-kawan dekat. Sementara “dia”, secara rasa bahasa, mengesankan berjarak. Misalkan untuk orang yang tidak terlalu kita kenal, kita cenderung memakai “dia”. Misal, Saya nggak tahu dia tinggal di mana…
    Anda bisa melihat cerpen saya “Tentang Seseorang yang mati Hari Ini”, di blog ini juga ada. Saya memakai kata ganti “ia”, karena saya ingin memakai tekhnik penceritaan dekat: seakan saya kenal betul dengan tokoh ini. Makanya saya tidak memakai kata ganti “dia”.
    Tapi bisa saja dalam satu konteks kalimat, secara rima, dia bisa lebih terasa enak. Saya kasih contoh:
    1. Dia akhirnya tahu, kemataian hanya semacam kabut.
    2. Ia tahu, kematian hanyalah kabut.
    Kamu bisa rasankan bagaimana “rima” dalam kedua kalimat itu. Rima di sini bukan hanya persamaan bunyi, tetapi juga intonasi, tekanan dan irama kalimat itu ketika kita baca: mana yang terasa pas.
    Itulah sebabnya, menulis itu menuangkan emasi kita, perasaan kita. ketika kita menuliskan bahasa, kalimat-kalimat, rasanya seperti ada yang mengalir, keluar dari pikiran dan tubuh kita>.Dan begitu selesai: kita seperti merasa lega…

  18. 19 Qinimain Zain September 28, 2008 pukul 7:14 am

    (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

    Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
    (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

    JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

    Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

    Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

    Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

    Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

    SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

    Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

    Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

    Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

    SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

    Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

    Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

    Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

    SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

  19. 20 apito lahire September 28, 2008 pukul 12:49 pm

    ente kayakh pelayan kegelisahan ya…tapi bereslah, adong ente manggrog neng margasari terus ta bakale anyep. aku bae sing neng umah kudu kerjakeras sakuate.
    selamat berdiskusi…

  20. 21 gunadi Oktober 17, 2008 pukul 1:42 am

    MAs,

    Kalo sinopsis untuk sebuah cerpen itu, apakah sudah harus mewakili semua rangkaian cerita dalam cerpen itu? Atau boleh sedikit saja, tapi sengaja dibuat nggantung, untuk membuat penasaran orang agar mau membaca saja?
    Makasih…sebelumnya

  21. 22 agusnoorfiles Oktober 17, 2008 pukul 6:39 pm

    Sinopsis, tentu saja, upaya menyederhanakan dan meringkas isi cerita. Jadi memang hanya “mengisyaratkan” apa isi (alur atau persoalan) dari cerpen itu. Tidak perlu menyampaikan semua detail cerita. Mungkin bisa diambil pada bagian yang menarik saja, tentang konfliknya atau temanya. Akan lebih baik, bila ketika membaca sinopsis itu, kita, pembaca sudah mulai tergoda atau tertarik untuk membaca keseluruhan ceritanya.

  22. 23 lily November 27, 2008 pukul 3:48 am

    Mas Agus Noor,
    Mau tanya. Dalam hal menulis resensi novel, point-point apa saja yang harus dicermati?

    Dan apa saja yang membuat sebuah resensi itu menjadi bagus dan menarik?

    Terima kasih.

  23. 24 agusnoorfiles November 27, 2008 pukul 8:03 am

    Pertama, kamu harus baca habis tuh novel, hehehe. Soalnya, banyak peresensi yg ga habis baca bukunya, tapi cuman baca pengantar atau sebagian. Nah, yang ini serius. Kamu bisa “menceritakan isi ulang novel itu”, kira-kira: novel itu berkisah tentang apa. Siapa tokohnya. Latar, konflik, tema dan sebagainya. Tapi, kalau saya pribadi akan mencoba mencari tahu: apa yang paling menarik dari novel itu? caranya mengolah tema, gaya berceritanya, karakter-karakternya atau gagasannya?
    Bagaimana mengukur “itu menarik atau tidak”? Kita harus punya wawasan sastra: kita bisa meletakkan novel itu dalam sejarah penulisan novel yang ada, membandingkan dengan novel (bertema dan bergaya) sejenis. Lalu mencoba memberi “apresiasi”, penilaian atau pandangan, atas novel itu.
    Nah, kalau kamu mau gampangannya: ya cukup tuliskan isi novel itu secukupnya, mengenalkan sosok pengarangnya, lalu memberi penilaian: novel itu menarik atau tidak.

  24. 25 dyahhana Desember 9, 2008 pukul 3:19 am

    Mas Agus Noor,
    Saya seorang peminat sastra yang tidak sempat masuk dan bergelut dalam dunia sastra secara akademik,saya suka sastra dan mencari bekal sendiri tentang sastra dari buku maupun diskusi di sebuah komunitas astra yang saya ikuti.Saya ingin tanya,sebatasmana sebuah pementasan peran dikatakan sebagai pementasan teater?mungkin dilihat dari segi bahasa dan kuantitas dialog

  25. 26 agusnoorfiles Desember 9, 2008 pukul 3:33 am

    Pada dasarnya, apa yang “dipanggungkan” adalah pementasan. Jadi, bila sebuah peristiwa berlangsung di atas panggung, dan ditonton, maka itulah terjadi apa yang disebut “peristiwa teater, atau pementasan. Dalam pentas itu, mungkin tak ada dialog, hanya gerak seperti dalam patomime atau tari. Dan banyak pula jenis pementasan teater yang meminimalisasi bahasa verbal. Ingat “teater mini kata”-nya Rendra. Ingat teater Arthud, yang lebih percaha pada bahasa purba yang ada pada tubuh manusia.

  26. 27 Ahmad Kekal Hamdani Desember 24, 2008 pukul 2:42 pm

    Salam kenal mas,

    saya tertarik dengan gagasan mas tentang naskah yang akan di grafiskan, kemarin saya pernah juga memiliki ide kayak gitu – hampir serupa- hanya saja saat itu saya berfikir bagaimana jika puisi dan komik dikawinkan, mungkin sebuah eksperimen dimana penyair dan komikus memiliki ruang baru dalam mencitrakan karyanya.

    gambar saya mungkin tak terlalu bagus, tapi saya cukup bersedia jika mas agus mempercayakan kepada saya untuk mengkomikkan karya mas

    saya harap ada diskusi lanjutan: ?

    terima kasih

  27. 28 agusnoorfiles Desember 24, 2008 pukul 3:39 pm

    Ide menarik juga — puisi dan komik atau grafis — pasti akan menjadi ruang dialog kreatif yang bisa membuka kemungkinan mengekspresikan pikiran secara estetis. Komik drama, sekarang sudah dalam tahap pengerjaan. Aku akhirnya kerja bareng dengan komikus Blankon, yg tinggal di Jogja. Kedekatan geografis ini memudahkan aku bisa intens dalam proser “memecahkan teks ke dalam gambar” bersama sang komikus. Ayo, mungkin ada hal menarik lain yang bisa kita kerjakan bareng? kamu juga suka nggambar, ya?

  28. 29 edwin85 Januari 27, 2009 pukul 4:16 pm

    yo’a mas, aku suka gambar, wah syukur deh jika akhirnya itu bisa terlaksana, aku tunggu hasilnya ya. aku pasti jadi pengapresiasi yang antusias ntar.

    selain itu, sebenarnya saya juga menyukai sastra. hanya saja karya mungkin belum sebagus kaya’ mas, hehehe. lah, ntah kenapa dalam pikiran saya tercipta citraan bahwasanya, sastra di pandang sebagai sesuatu yang terlalu di agungkan, mungkin. itu bagi saya!

    sangat ironis sekali,ketika pembaca awam membaca puisi, kemudian merasa tidak mengerti lantas mereka bilang ” wah, karya ini terlalu tinggi, saya gak nyampe” pendapat kayak ini sering membuat risih, kenapa ya?

    sedangkan komik, malah sebaliknya. terlalu diremehkan! saya harap diskusi ini akan meggugah para penyair dan komikus andal untuk dapat mengkawinkan keduanya, sebagai sesuatu yang baru, yah semacam realitas ke 3 yang lahir dari persetubuhan puisi dan komik. menarik menurut saya. semoga hal ini satu saat akan ada yang mengejewantahkannya.

    sebab bagi saya, sastra dan dunia rupa itu gak ada bedanya.

    kerja sama apa ya, kira-kira? hehe …

  29. 30 Marsli N.O Februari 27, 2009 pukul 3:42 am

    Sdr Agus: Bisa aku dapat alamat pos Sdr? Bisa emailkan ke emailku. Gimana aku bisa membeli buku terbaru mu…

    Marsli N.O

  30. 31 agusnoorfiles Februari 27, 2009 pukul 9:02 am

    Oke, nanti aku beri alamat pos aku, lewat email, ya…

  31. 32 Badrul Munir Chair Maret 13, 2009 pukul 8:51 am

    salam…

    mas, saya mau sedikit curhat…boleh?

    2 hari yg lalu seorang teman saya yang penggemar sastra menyindir saya karena (katanya) tulisan saya yang sekarang agak “berat”, berbeda dengan tulisan2 saya beberapa bulan yg lalu yg (katanya lg) tulisan “ringan”. dulu saya memang sering menulis tetapi mengusung tema pop pesantren, sedangkan tulisan saya yg sekarang cenderung jorok dan bising.

    pertanyaan saya: apakah yg menentukan “berat-ringannya” sebuah tulisan itu berdasarkan genre atau berdasarkan isi?

    terima kasih …

  32. 33 agusnoorfiles Maret 13, 2009 pukul 6:51 pm

    Saya sebenarnya akan lebih enak menjawb, kalau kamu sertakan conton tulisan kamu yang dulu (yg dianggap ringan itu) dan yg paling akhir (yang dianggap berat dan bising itu). kamu boleh mengirimkannya ke email saya. Tapi kalo boleh menduga, kamu mungkin memang ingin melakukan pendalaman, ingin lebih serius dalam menulis. Sebenarnya, yg serius (dalam tanda kutip) blm tenu lebih bagus dari yang tampaknya ringan. Ada tulisan yg secara bentuk dan gaya tampak berat, aneh, eksperimentatif atau dalam bahasamu “bising”, tetapi gagal dalam mengolah tema. Ada karya-karya, yang tampaknya sederhana, ringan, biasa dalam bentuk dan gaya, tetapi memiliki kedalaman.
    berat ringannya karya, biasanya ada pada “pendalamannya”, bagaimana ia mengolah sebuah tema dengan lebih dalam, lebih subtil…dan semua itu tidak mesti dengan bahasa yang ruwet. Bagi saya, sebuah karya yg baik mencerminkan kemampuan tekhnis seoang pengarang dalam “mengkomunikasikan tema yang ditulisnya dengan cara yang estetis”. Estetis di situ, tenu relatif. Tapi bagi saya, estetis itu bisa difahami “memiliki kemampuan untuk menyentuh atau menggugah perasaan atau imaji kita sebagai pembaca”. dan biasanya, karya semacam itu tidak bersifat langsung (yang mengangap pembaca tak bisa faham hingga kemudian menggurui), ia menyediakan ruang bagi pembaca untuk ikut mengembangkan imajinasinya

  33. 34 Badrul Munir Chair Maret 15, 2009 pukul 10:14 am

    terima kasih mas…ntar karya2 tak kirim lewat email.

  34. 35 MK Pramono Maret 19, 2009 pukul 2:50 pm

    mas Nor, menurut mas cerpen karya danarto yang Asmarandana itu bergenre apa? trus gimana biasanya mas mengawali sebuah karya, maksudnya dari awal pemkilihan tema trus pengolahannya hingga jadi sebuah cerpen, kan gaya pengarang satu dng yang lainnya berbeda, makasih mas, salam buat pengunjung blog yang lain, salam kenal

  35. 36 agusnoorfiles Maret 22, 2009 pukul 2:52 pm

    Ada yang bilang, cerpen-cerpen Danarto itu cerpen religius. Ada yang menyebutnya mistis fantastis, semacam perpaduan cerita fantasi dan khasanah mistis yang bersumber dari pengalaman sufistik.
    Dalam mengawali karya, biasanya saya sudah menemukan sebuah ide cerita dulu: ceritanya tentang apa dan bagaimana nanti menceritakannya. cerita menjadi penting bagi saya, agar sebisa mungkin saya menemukan cerita yang berbeda dari lainnya, baik dari pengarang lain mau pun karya-karya yang sudah saya tulis. Kemudian bagaimana menceritakannya juga saya pertimbangkan, karena biasanya, gaya bercerita itulah yang akan membedakan sebuah cerita dengan cerita lainnya.
    Kalau secara tekhnis: saya biasanya membikin point-point (pointer) dari cerita itu: apa kejadiaaan, di mulai dddari apa nanti cerita itu, menulis kalimat-kalimat yang saya anggap pas dan bagus…. semacam kerangka cerita kalau dalam teori penulisan. Nah, kalau saya merasa sudah yakin: saya mulai menuliskannya.
    Di flasdish saya, banyak sekali “kerangka cerita” seperti itu, semacam sketsa-sketsa cerpen yang belum saya tulis. Itu biasanya akan sangat membantu ketika tiba-tiba saya lagi pingin nulis, tinggal buka file di flashdish itu.

  36. 37 fairy2785 Agustus 13, 2009 pukul 7:54 am

    Mas Nor, sudilah kiranya memberis aran dan kritik dalam proses pengembangan diri saya yg masih bingung apakah berbakat dalam tulis-menulis. saya cuma tahus uka menulis dan berhasil membuat beberapa cerpen dan puisi.
    setidaknya komen2 dan koreksi mas Nor bisa membuka wawasan saya.
    Jujur saja, saya otodidak habis. tak tahu dengan segala aturand alam tulis menulis. karena itu sangat butuh bantuaN.
    Mohon konfirmasi. terima kasih

  37. 38 agusnoorfiles Agustus 19, 2009 pukul 4:49 pm

    fairy, tentu saja saya akan dengan senang hati membantu, bila memang ada yang bisa saya bantu. Soal bakat menulis, kalau memang ada semangat belajar, pasti bisa berkembang. Nah apa yang bisa saya bantu?

  38. 39 fairy2785 September 8, 2009 pukul 8:52 am

    wah, saya bingung mau mulai dari mana. kalo berkenan silahkan berkunjung di blog saya di http://lamhotsusanti.blogspot.com/
    jangan lupa memberi beberapa komentar terhadap tulisan saya.

    Ohya, mas…ada 2 calon cerpen saya (yg sepertinya takkan pernah lepas dari label “calon”) yang terbentur masalah logika. Saya sudah observ dan ternyata “karakter tokoh” tsb tak ada dalam referensi manapun (dah minta bantuan om gugel malah). sementara temanya masalah kehidupan nyata. Ada masukan ga, mas?

  39. 40 agusnoorfiles September 11, 2009 pukul 9:03 am

    Maaf (juga untuk semuanya yg udah kasih komentar) krn baru menanggapi koment-koment yang masuk. Aku akn berkunjung ke blogmu. Mana calon cerpenmu? gmana aku bisa kasih masukan klo aku tak tahu apa yng menjadi persoalanmu?

  40. 41 M Kuat Pramono Desember 8, 2009 pukul 1:20 pm

    salam,
    Bang Noor, ketika sya membaca ASMARANDANA versi Bang noor, dalam pikiran sya muncul keinginan menulis cerita-tentang seorang yg sakit karena keadaan-dng mengadaptasi/meneruskannya (endingnya asmarandana kan gantung).sekarang cerita itu dalam taraf pengeditan ejaan. kalo dah jadi, Boleh saya kirim terus mas Noor komentari???

  41. 42 desi nurul anggraini Januari 4, 2010 pukul 4:48 am

    Salam kenal mas saya kuliah di FKIP Bahasa Indonesia Unila Lampung, skripsi saya berjudul “Kritik sosial dalam kumpulan cerpen “Bapak Presiden Yang Terhormat karya Agus Noor dan Kelayaknnya sebagai bahan pembelajaran sastra di SMA.” Jadi dalam rangka menyelesaikan skripsi tersebut saya mohon bantuan mas..
    1.saya ingin tahu semua hal yang berhubungan dengan mas mulai dari biodata lengkap, prestasi, karya, pandangan ttg politik, dll,dimana persisnya saya bisa mendapatkan info yg lengkap ttg mas?
    2. kumcer bapak presiden yg terhormat pernah dicetak ulang ga? terakhir tahun brapa? yg ad di tangan sy tahun 2002
    3.Kumcer mas yg terakhir terbit potongan cerita di kartu pos itu msh btema kritik sosial?
    itu aj dulu mas..maksih sebelumnya..

  42. 43 agusnoorfiles Januari 4, 2010 pukul 7:46 am

    Desi, salam kenal. Makasih. bagaimana kalau kamu kirimkan pertanyaan-pertanyaan dan kebutuhanmu itu ke emailku saja? Ini emailku: agus2noor@yahoo.co.id

  43. 44 dian ernawati Januari 8, 2010 pukul 2:20 pm

    bos, pak agusnoor ini sama dengan yg facebook pake BB yg lagi rusak itu kan..? yg kebanyakan nggosipin politikus gitu. yg dua minggu nggak online. kayanya si sama, habisnya takut salah euy..

  44. 45 agusnoorfiles Januari 9, 2010 pukul 1:46 pm

    dian: bentoeeeeel sekaleeee…

  45. 46 NDAWON Januari 27, 2010 pukul 4:35 pm

    PAK saya bisa minta analisis tokoh monolog matinya toekang kritik!soalnya saya sekarang lagi skripsi dengan judul karakter tokoh dalam nasakah itu!tolong pak!

  46. 47 Dedek April 4, 2010 pukul 4:03 pm

    Maaf, mas, boleh tidak saya minta komentar mas tentang cerpen saya. Setelah membaca antologi cerpen, mas, saya jadi semangat buat cerpen absurt juga hehe. makanya saya ingin pendapat, mas. terima kasih

  47. 48 agusnoorfiles April 4, 2010 pukul 5:05 pm

    kirim ajah coba tulisanmu itu ke emailku…

  48. 49 budi April 19, 2010 pukul 2:57 am

    salam kenal, mas Agus.
    saya budi, penikmat sastra..saya mau nanya nich.
    bagaimana sich cara untuk memahami cerpen2 yang sifatnya absurd. sebagai contoh saja cerpennya Danarto yang berjudul godlob..setelah membaca cerpen tersebut saya tidak begitu mengerti apa yang diceritakan dalam cerpen tersebut…
    itu saja mungkin pertanyaan saya. terima kasih…

  49. 50 rigaar Mei 27, 2010 pukul 1:00 pm

    mas, kalo nyari cerpen Chekov yang terdakwa itu dimana sih? saya mau baca dong

  50. 51 indra Juli 22, 2010 pukul 8:46 am

    kak,,, boleh minta tolong gak kak? sebenarnya saya suka menulis seperti cerpen, saya udah nulis beberapa cerpen sih, tapi masih belum percaya. nah, boleh gak minta komentar dan juga usulan dari kakak, bagaimana cerpen yang bagus itu….. makasih ka…

  51. 52 salwa yousef Agustus 12, 2010 pukul 6:33 am

    salam
    ada beberapa hal yg ingin saya tanya:
    1. saya mau mencoba menulis novel, tapi belum pernah siap. karena kepanjangan (dari cerpen). saya sudah membuat kerangka,point-poin penting, sinopsis bahkan. tapi tetap saja novel itu tak terselesaikan. gimana ya mas kira-kira solusinya? sedangkan cerpen saya sudah membuat beberapa. dan terselesaikan.
    2. bagaimana memulai hubungan yg penuh kesan dengan media? agar karya kita bisa dimuat?
    3. dari komen tg saya baca, katanya mas kayak ngikutin karya SGA gitu, atao lebih kurang mirip. so, apa itu benar mas banyak terinspirasi darinya dan sedikit agak mengikuti karyanya?
    tak ada niat menyinggung, tapi hanya ingin dikonfirmasi agar tak selalu salah kaprah terhadap mas, layaknya layang-layang putus. hehe…

  52. 53 Abdul Hadi September 19, 2010 pukul 4:31 am

    semua cerpen Mas Agus terasa sejuk bagiku… seperti memberi sugesti begitu..
    oya mas, aku pengen nanya: terkadang dalam pembuatan cerita pendek kita sulit memilah kata yang dapat menimbulkan rasa berkesan di hati pembaca..
    mas agus triknya bagaimana supaya cerpannya dapat sebagus dan mensugesti begitu!

    @ mas gunadi, novel karangan fredi s. bagus tho. aku nggak berselara membaca buku seperti itu meski aku belum pernah membacanya. sebab aku sering ketemu novel fredi s. dijual di pasar buku loak. selain itu mas Joni A. berpendapat bahwa novel fredi s. sekelas sampah (maaf mas fredi, mungkin ini agak menyakitkan, tapi semoga ini menjadikan kritik yang membangun meski aku pun belum bisa menjadi seperti yang mas fredi capai..)

    teman-teman semuslim, do’ain aku yaa.. biar cepet+bisa jadi penulis yang diakui sebagai penulis. penulis yang memperjuangkan ideology dan bukan penulis yang hanya memenuhi kehendak pasar.
    AAammmmmiiiiiiiiiiinn…….

    mampir di bligku..
    penaseni.blogspot.com

  53. 54 kynan November 16, 2010 pukul 7:03 am

    bagi mas agus sendiri, perbedaan mutlak antara ” si penjiplak ” dan ” si yang terinspirasi ” itu apa? karena saya lihat, setiap orang bisa saja memnipulasi sebuah bentuk tulisan yang mereka buat menjadi sebuah ” hal yang maklum ” dan menganggap tulisan ini hanya sebuah inspirasi, padahal dia seorang penjiplak.

  54. 55 aivic November 21, 2010 pukul 3:17 pm

    asskum ..
    mas, saya mau nanya, bagaimana proses kreatif yang efektif menurut mas, untuk menjadi seorang penulis?
    terima kasih

  55. 56 naomi Februari 2, 2011 pukul 12:32 pm

    mas,mungkin pertanyaan saya ini lucu,naif,atau apalah,hehe..smg berkenan menjawab.

    sejak saya masih gadis hingga kini sdh beranak satu,berkali2 saya kirim cerpen,msh srg kali tdk dimuat.entah mghibur diri,entah membela diri,entah ego saya yg tll tinggi,dalam hati saya berkata:cerpen saya tdk dimuat belum tentu berarti cerpen saya tdk bagus,hanya kebetulan saja saya dan redaksi media tersebut berbeda selera.sekali lagi entah mghibur diri,entah membela diri,entah ego saya yg tll tinggi, saya berpikiran bagus tidaknya suatu karya hanyalah masalah selera.

    saya juga punya mimpi,suatu kali saya bisa jadi penulis terkenal dan mendapat uang banyak dari profesi menulis itu.pdhl kan orang menulis idealnya karena panggilan hati,ideologi,dan sebangsanya,bukan seperti yg jd obsesi saya yang materialistis,duniawi ini.

    mohon pencerahan dari mas agus🙂

    terima kasih banyak …

  56. 57 akbar kasmiati Maret 7, 2011 pukul 9:23 am

    salam kenal mas agus noor.
    Sudah sering saya mengunjungi blog anda, tapi saya baru membuka bagian dikusi ini. Ternyata bisa berkomunikasi “langsung” dengan mas agus.
    saya paling suka dengan cerpen anda ‘ada yg menangis sepanjang hari’ dan ‘pemburu’. Utamanya cerpen ‘ada yg menangis sepanjang hari’, hingga kini, tiap kali saya membaca cerpen itu, saya masih ‘tergetar’.
    Saya juga pernah membaca tulisan mas ‘cerita yg bergelut dg bahasa’, sy ingin bertanya: bahasa seperti apa maksud anda itu? bisa berikan contohnya?
    Bisa menuliskan proses kreatif seputar penciptaan ‘ada yg menangis sepanjang hari’ dan ‘pemburu’?
    Terima kasih sebelumnya bila berkenan menjawabnya.

  57. 58 supianoor,s.pd Maret 20, 2011 pukul 7:21 am

    Dengan hormat,
    Kami selaku kepala SMPN 2 Kusan Hulu enyampaikan bahwa sekolah kami mempunyai kegiatan ekstakurikuler berupa apressiasi seni sastra, dengan kegiatan pembacaan puisi, cerpen, drama dan perbincangan buku-buku sastra. Dalam kegiatan ini kami menemukan kendala karena terbatasnya informasi dan buku-buku yang dapat dijadikan bahan diskusi. Maka dalam kesempatan ini kami dan seluruh warga SMPN 2 Kusan Hulu sangat mengharapkan bantuan Bapak untuk dapat menyumbangkan buku-buku sastra, terutama karya Bapaak sendiri untuk bahan kegiataan dan sekaaligus untuk mengisi perpustakaan sekolah kami.
    Demikian, atas bantuannya sebelumnya kami ucapkan terima kasih
    Wass.
    Supianoor,S.Pd
    SMP Negeri 2 Kusan Hulu
    Jl. Valgosons 57 Teluk Kepayang, Kec. Kusan Hulu, Kaab. Tanah Bumbu 72272 Kalimantan Selatan

  58. 59 Sari Novita Maret 30, 2011 pukul 2:40 pm

    Hello Mas

    Apa kabar? semoga kabarnya baik2 saja yah..

    Saya dan ke tujuh teman saya ingin meluncurkan buku kumcer di bulan may nanti (Insya Allah..)..dan merupakan suatu kebanggaan dan kebahagian bagi kami, bila Mas Agus bersedia menuliskan endorsement buat buku kita…

    Kalau saya pribadi saya mengharapkan sekali Mas bisa memeberikan muatan/masukan/kesimpulan/endorsement tentang buku kami..Dan ini saya memaksa…ahhahahahaha…Saya bercanda koq Mas…

    Saya penganggum tulisan2 Mas Agus, wajar bukan, bila buku saya nanti terdapat nama Agus Noor mengisi endorsement atau bahkan sebagai pembukaannya, karena saya menilai Mas Agus jauh mengenal sastra dari pada kami semua…

    Terima Kasih Banyak Mas….dan Maaf saya merepotkan…jika ingin membaca karya2 kami di blog, mas bisa buka link-nya..www.kampungfiksi.blogspot.com

    Salam Hangat

    Sari Novita

  59. 60 Dani Sherren Desember 23, 2011 pukul 3:10 pm

    Incredible points. Solid arguments. Keep up the amazing spirit.

  60. 61 Agus Riwanda Februari 10, 2012 pukul 3:24 am

    assalamualakum…
    Bang, saya suka membaca kumcer sepotong bibir plng indah d dunia. saya juga baca berulang kali 20 cerpen terbaik indonesia; 2009 2010. saya mulai menulis cerpen; bukan terobsesi karena cerpen-cerpen “sihir” yang saya baca itu, tapi karena pertanyaan2, kemelut2 yang ingin saya nyatakan dalam kata. namun saya merasa hilang dalam pencarian ini; bagaimana agar karya saya bisa dikatakan karya sastra yang baik…
    masalah ekslorasi tema, gaya penceritaan dan penokohan dll yg mmpngaruhi kulaitas cerpen masih buram bagi saya. salah satu cerpen saya memang pernah dimuat di horison (pertama kali ngirim), namun cerpen-cerpen saya setelahnya seperti kehilangan taste. saya bingung jadinya.
    mohon pencerahan dari abang….
    atau mungkin bs d replay di email saya.
    cerpen saya bisa dilihat di blog saya, atau jendela sastra; http://www.jendelasastra.com › Agus Riwanda
    syukran katsir, jazakallah khairan

  61. 62 sandi tramiaji junior Mei 15, 2012 pukul 12:35 am

    Bapak . saya kagum melihat naskah bapak yang ‘ pidato terakhir seorang jendral!’

    saya sangat inggin memainkan naskah monolog bapak tersebut… semoga sukses dan Lancar ya Bapak

  62. 63 Nurfadhilah September 19, 2012 pukul 5:03 am

    Sejauh yang aku amati, ciri khas bercerita mas Agus adalah sebuah dongeng yang dibuat seolah berdasarkan kenyataan, terlepas dari itu suatu perumpamaan atau sindiran terhadap keadaan suatu masa. Yah, setiap seniman punya jalan inspirasi sendiri dalam mengungkapkan ekspresinya. Aku tunggu cerita-cerita atau puisi-puisi mas yang lainnya.. Semangat!!🙂

  63. 64 Ainur Rakhmania Afifah Yaqin September 28, 2012 pukul 10:22 am

    bapak agus noor saya mauw bertanya tentang kecenderungan bapak dalam menulis cerpen-cerpen dalam buku Sepotong bibir paling indah di dunia. bagaimana kecenderungan bapak dalam menulis cerpen-cerpen tersebut?? mohon di jawab karena saya tertarik dengan cerpen bapak tersebit untuk saya jadikan bahan tugas kuliah, terima kasih

  64. 65 nonotrinto November 5, 2012 pukul 4:00 pm

    Siang ini panas sekali,
    perbukitan gersang kemarau ini,
    gubuk dibalik bukit, harus kujangkau sebelum senja.

    jangankan pepohonan,
    daun kering saja tak ada..

    Digubuk ada tanda2 kehidupan,
    tapi,
    bau busuk menyengat.

    Kunyalakan api, samar tampak.

    Hanya laki2 terpasung kakinya…

    PERBUKITAN GERSANG

    SITUA lupa tgl.. hehe.

  65. 66 Uri September 10, 2013 pukul 5:56 pm

    Halo Mas Agus,
    Saya Uri. Saya tidak tau blog ini masih aktif atau tidak (semoga saja masih).
    Kalau boleh, saya ingin tau bagaimana cara Mas Agus menentukan judul untuk cerpen yang dibuat.
    Judul yang saya pilih untuk cerpen yang saya buat cenderung terbatas pada satu atau dua kata dan maknanya terlalu eksplisit akan tema cerpen tsb. Istilahnya, kurang ‘nendang’ begitu. Misalnya, saya memberi judul “KALAH” untuk cerita tentang seseorang yang memutuskan untuk meluluhkan hatinya setelah selama beberapa waktu bertahan dalam kekerasan hati akan suatu situasi. Saya merasa judul itu seperti hambar, dan tidak ada sensasi ketika membacanya.

  66. 67 mayang sari September 21, 2013 pukul 1:07 am

    seandainya, tulisan saya bisa seindah tulisan mas agus noor, alangkah bahagianya saya…

  67. 68 bagus3handoko April 24, 2014 pukul 1:25 pm

    Mas Agus, dalam sastra memang ketika karya itu dilempar ke pembaca terserah pembca mau menginterpretasikan karya itu, hanya kemudian rasa ingin tahu saya, tentang alasan mas Agus memilih ending yang seperti itu dalam naskah drama Matinya Toekang Kritik? Dan apakah kemudian cerpen matinya seorang demonstran juga terinsporasi dari naskah ini?

  68. 69 ilmipakarti April 22, 2015 pukul 1:11 pm

    Selamat malam Om,,,,, saya Ilmi, seorang pelajar SMA. Awalnya saya tak tahu siapa itu Agus Noor, karena wawasan saya memang kurang luas. Namun, setelah saya membaca cerpen karya Om Agus di buku pelajaran saya, rasanya saya jadi sangat menggemari Om. Saya ingin bisa menjadi seperti Om, selama ini saya menulis, tapi tidak pernah bisa maksimal Om. Jika Om Agus tidak keberatan, silahkan mengunjungi blog saya, dan memberikan komentar untuk saya. Komentar seorang penulis hebat seperti Om akan sangat berharga untuk saya. Dan komentar Om, selalu saya tunggu. Salam budaya Om.

  69. 70 baqir Mei 20, 2016 pukul 8:06 am

    Assalamualaykum wr wb
    Bang Agus Noor, bisa ngajarin bantu ajarin nulis cerpen yang bagus? Bisakah bantu lewat kritik dan sarannya, setelah saya tunjukkan cerpen saya?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Desember 2016
S S R K J S M
« Feb    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: