– ANUGERAH SASTRA PENA KENCANA: 20 CERPEN TERBAIK INDONESIA 2008

Pada saya datang satu surat, dari Panitia Anugerah Sastra Pena Kencana. Cerpen saya, ujar surat itu, terpilih sebagai 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008. Anugerah Sastra Pena Kencana, sebagaimana dinyatakan dalam surat, ialah penghargaan yang diberikan kepada cerpen-cerpen (dan juga puisi) yang telah dipublikasikan dalam satu kurun waktu lewat. Tahun 2008 merupakan kali pertama anugerah ini dilaksanakan, dan disebutkan rencananya akan diselenggarakan setiap tahun. Pada setiap tahun itulah, akan dipilih 20 cerpen (yang dianggap terbaik), dan 100 puisi (yang juga dianggap terbaik) yang terbit di media masa Indonesia. Pada penjurian kali ini, media masa yang menjadi sumber pemilihan ialah: Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, Republika, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Pontianak Pos, Lampung Pos, Fajar, Bali Pos.

Begitulah, para juri, yang komposisinya adalah Budi Darma (selaku ketua juri), Sapardi Djoko Damono, Apsanti Djokosujatno, Ahmad Tohari, Joko Pinurbo, Jamal D. Rahman, dan Sitok Srengene, memilih cerpen-cerpen dan puisi-puisi yang terbit di koran-koran itu, untuk disuling menjadi 20 Cerpen Terbaik dan 100 Puisi Terbaik.

Baiklah, tiada salah bila saya kutipkan satu frase yang ada dalam surat, untuk menjelaskan kenapa Anugerah Sastra Pena Kencana ini diadakan. “Tujuan penyelenggaraan anugerah ini antara lain untuk memberikan penghargaan… sebagai pengakuan kualitas akan karya cipta sastra”. Tentu, terdengar gagah. Tak apalah. Toh itu niat mulia. Sebagai seorang penulis, sesungguhnya saya tak terlalu antusias dengan hal-hal semacam itu. Bukan penghargaan berupa hadiah yang penting, tetapi penerimaan masyarakat pembaca itulah yang selalu menumbuhkan elan kreatif seorang penulis (setidaknya bagi saya) untuk terus meyakini dunia yang dipilihnya, bahwa apa yang dikerjakannya juga merangsang energi keatif orang lain, dan karena itu tidaklah terlalu merasa sia-sia.

Satu hal yang menarik dari Anugerah Pena Kencana ini, cerpen-cerpen (dan puisi-puisi) yang terpilih itu kemudian dibukukan (oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama), lantas para pembaca diberi kesempatan untuk memilih cerpen yang mereka sukai. Mungkin mirip-mirip Indonesian Idol, gitu lah – minus kirim-kiriman SMS kali. Secara tekhnis saya tak tahu persis, tetapi setelah dibukukan dan diterbitkan, panita akan memberi kesempatan kepada pembaca untuk memilih mana cerpen yang mereka sukai atau mereka anggap baik. Dari 20 cerpen dalam buku itu, akan dipilih 1 cerpen yang dianggap terbaik menurut para pembaca.

Saya menganggap hal itu menarik, karena saya memang percaya pada pembaca sastra kita, sebagaimana saya nyatakan sebelumnya. Karena di haribaan pembacalah, sesungguhnya dinamika sastra kita menemukan relevansinya. Apalagi ketika dunia sastra kita minus kehadiran kritikus sastra.

Apa yang telah dilakukan oleh PT. Kharisma Pena Kencana, sebagai penaja dan penyelenggara Anugerah Sastra Pena Kencana, tentu saja patut kita apresiasi. Apa yang telah dikerjakannya, dan apa yang diupayakannya dengan melibatkan pembaca, semoga akan semakin membuat pertembuhan sastra di negeri yang belum terlalu menghargai sastra ini menjadi lebih menyegarkan.

Selain saya, saya belum tahu, siapa saja penulis yang cerpen (atau puisi)-nya masuk Anugerah Sastra Pena Kencana. Jadi, saya pun belum tahu, karya-karya yang mana saja yang termaktub dalam buku 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008 yang akan terbit Februari 2008 ini.. Tapi saya bisa menyertakan di sini, cerpen saya, “Tentang Seseorang yang Mati Tadi Pagi” (di Koran Tempo Minggu, 8 April 2007), yang terpilih sebagai satu diantara 20 Cerpen Terbaik itu. Anda, bisa membaca selengkapnya cerpen tersebut berikut ini, dan siapa tahu Anda akan tergoda memilih cerpen ini sebagai cerpen terbaik:

TENTANG SESEORANG

YANG MATI TADI PAGI

Cerpen Agus Noor

illegaloperation.multiply.com

1.

SEBAGAIMANA sudah ia yakini sejak lama, ia akan mati hari ini, tepat pukul sembilan pagi. Ia ingin segalanya berlangsung tenang dan nyaman. Ia ingin menikmati detik-detik kematiannya dengan karib. Maka ia pun mandi, merasakan air yang meresap lembut dalam pori-porinya dengan kesegaran yang berbeda dari biasanya. Kulitnya terasa lebih peka. Ia bisa merasakan gesekan yang sangat lembut pelan, ketika sebutir air bergulir di ujung hidungnya. Bahkan ia bisa merasakan dingin yang menggeletarkan bulu-bulu matanya. Betapa waktu yang berdenyut lembut membuat perasaannya terhanyut. Dan ia memejam, mencoba merasakan segala suara dan keretap cahaya yang masuk lewat celah ventilasi kamar mandi.

Ia merasa bersyukur, betapa ia telah lama mengetahui kematiannnya sendiri, hingga bisa mempersiapkan segalanya tanpa tergesa-gesa. Ia memotong kuku, mencukur cambang, dan merapikan kumisnya yang tipis. Ia ingat, teman-temannya selalu bilang kalau ia terlihat lebih ganteng bila berkumis tipis. Ia tersnyum. Ia ingin tampak ganteng saat mati pagi ini. Ia menyisir rambuhnya belah tengah, mengoleskan minyak rambut hingga tampak klimis, mengenakan pakaian terbaik miliknya, kemeja motif batik, dan tentu ia tak lupa menyemprotkan minyak wangi. Sedikit di bawah ketiak, di leher, di lengan dan menggosoknya pelan. Ia tak ingin wangi yang berlebihan.

Ini akan jadi kematian yang menyenangkan, batinnya. Sungguh ia merasa beruntung karena bisa menikmati kematian seperti ini. Ia tak perlu susah-susah beli racun, lalu menenggaknya. Alangkah menyedihkan mati seperti itu. Ia juga tak perlu repot-repot menyiapkan tali, dan menggantung diri. Mati dengan cara seperti itu selalu menimbulkan kerumitan tersendiri. Ia pun tak perlu menabrakkan diri ke laju kereta api. Betapa tidak sedapnya mati dengan tubuh remuk terburai seperti itu: merepotkan dan menjijikkan. Orang-orang mesti memunguti tetelan tubuhnya yang berserakan di tanah dan lengket di bantalan rel kereta. Sungguh beruntung ia tak harus mati dengan cara-cara mengenaskan seperti itu. Ia tak perlu mati menderita lantaran usia tua atau penyakit menahun yang menggerogoti tubuhnya. Ia merasa segar – bahkan jauh merasa lebih segar dari hari-hari biasanya – hingga ia tak perlu merasa cemas kalau-kalau kematian akan membuatnya merasa kesakitan.

Tinggal berbaring tenang di ranjang, dan membiarkan maut bersijengkat mendekatinya perlahan.

Ia merasakan waktu yang beringsut berdenyut, dan cahaya mengusapnya lembut. Lihatlah, cahaya matahari seperti susu segar yang ditumpahkan ke lantai, terasa kental. Cahaya yang terlihat begitu jernih dan bening membuat semua benda lebih memancarkan warnanya. Permukaan meja kayu yang sudah ia bersihkan makin terlihat kecoklatan dan begitu detail alur serat kayunya. Barut tipis bekas paku pada cermin, nampak jelas. Sepasang sandal kulit di pojok terlihat bersih, warnanya yang coklat tampak lebih cerah. Detak jam begitu lembut. Kamarnya jadi terasa hangat dan menenangkan.

Lewat jendela yang ia biarkan terbuka, ia bisa merasakan senyum bunga-bunga. Ia bisa mendengar suara lembut gesekan kelopak-kelopak bunga yang perlahan-lahan rekah. Ia mencium harum kambium meruap di udara yang ranum. Harum yang sebelumnya tak pernah ia cium. Juga bau aroma bawang goreng yang samar-samar mengambang di udara yang bergeletaran pelan, membuat setiap aroma jadi terasa begitu kental dalam penciumannya. Ia dengar suara sayap kupu-kupu yang terbang melintasi pagar. Beginikah rasanya saat kematian makin mendekat? Segala terasa melambat. Segala terasa lebih pekat dan hangat. Seperti ada yang memeluknya. Menyelimutinya dengan kesunyian. Seperti ada yang ingin membisikkan penghiburan di dekat telinganya. Dan ia merasakan ada yang perlahan mendekat, seakan mengingatkan agar ia berkemas, meski tak perlu bergegas. Biarkan segalanya berjalan sebagaimana yang direncanakan. Ia akan mati dengan nyaman, tenang dan membahagiakan. Sungguh, bila saat-saat menjelang kematian ini merupakan saat-saat yang paling syahdu dalam hidupnya, ia ingin menghayati dan merasakan kesyahduan itu dengan sempurna. Mati, barangkali memang tak lebih melankoli, seperti puisi pucat pasi. Tapi ia ingin menghayati. Bukan untuk kenangan yang akan dibikinnya abadi, tapi sekadar ingin mengerti bagaimana rasanya mati.

Ketika ia merasakan segalanya makin mendekat, ia pun segera menemui tukang kebun itu. Seperti yang telah lama ia rencanakan, ia pun pamit untuk penghabisan kali pada tukang kebun yang sudah menunggunya dengan sabar.

“Ini sekadar biaya buat pemakaman. Maaf, bila saya merepotkan…”

Kemudian ia berbaring tenang, hingga detik terakhir kematiannya datang.

2.

TEPAT pukul sembilan pagi, laki-laki itu pun mati. Alangkah menyenangkan bisa mati dengan lembut seperti itu, batin tukang kebun sembari memandangi jenazah yang terbaring tenang. Rasanya baru kali ini ia melihat wajah jenazah yang begitu bahagia. Bahkan dalam mati pun laki-laki itu tampak santun dan menyenangkan.

Lalu tukang kebun itu teringat pada saat laki-laki itu datang hendak mengontrak kamar di rumah yang dijaganya. Laki-laki itu mengatakan, ia akan tinggal di sini untuk menanti kematian. Di sebutnya hari dan jam kapan ia akan mati. Tentu saja, ia – pada saat itu – menganggap laki-laki itu hanya bercanda. Usianya masih muda dan terlihat segar. Kematian memang tak bisa di duga, tetapi tukang kebun itu yakin laki-laki itu masih akan hidup lama. Tidak, katanya, saya akan mati. Dan, sekali lagi, disebutnya hari dan jam kapan persisnya ia akan mati.

Laki-laki tampan yang kesepian, tukang kebun itu membatin, sambil menatap wajah tenang laki-laki itu. Mungkin dia hendak bunuh diri. Entah kenapa, tukang kebun itu tiba-tiba saja merasa kasihan. Semuda dan sebagus itu, tapi sudah putus asa dan memilih mati. Karena itulah, dengan halus dan sopan tukang kebun, yang dipercaya pemilik rumah untuk menjaga kamar-kamar kontrakan itu, menolak menerima laki-laki itu. Di sini bukan tempat yang pantas untuk mati, Nak. Kalau kau ingin bunuh diri, carilah tempat lain. Mati di kamar hotel yang sejuk pasti jauh lebih menyenangkan. Kamu bisa memilih tempat yang paling pantas buat kematianmu. Asal jangan di kontrakan ini.

Tidak, Pak. Saya tak hendak bunuh diri. Sungguh. Saya memang mau mati, tetapi tak hendak bunuh diri. Sudah lama saya tahu, saya akan mati di tempat ini. Di kamar kontrakan yang sederhana dan tenang. Ini kematian yang telah saya pilih. Izinkan saya menentukan kematian saya sendiri, Pak. Karna itulah satu-satunya kebahagiaan yang saya miliki dalam hidup. Bukankah tak ada yang lebih menyenangkan selain kita tahu kapan di mana dan bagaimana kita mati? Kita bisa mempersiapkan segalanya sendiri. Kita bisa menantinya dengan tenang. Menyambutnya dengan cara yang paling karib. Dan saya ingin mati dengan tenang di sini, Pak.

Bila itu lelucon, pastilah itu lelucon yang paling tak lucu. Tapi laki-laki itu tampak tak sedang berkelakar. Matanya yang teduh membuat tukang kebun itu terpesona dan mempercayai kata-katanya. Sepanjang ia menjaga rumah kontrakan ini, ia sudah bertemu banyak orang yang terlihat aneh, tertutup bahkan misterius, yang datang mengontrak kamar sebentar kemudian pergi dan tak pernah kembali. Rasanya laki-laki inilah yang paling aneh dan tak ia mengerti.

Bahkan kini pun ia tak kunjung bisa mengerti, kenapa laki-laki itu bisa tahu dengan persis kapan ia mati. Ada rasa iri yang menyelusup ketika ia pelan-pelan menutup jenazah laki-laki itu dengan selimut yang sudah dipersiapkan. Rasanya memang tak ada yang lebih membahagiakan selain mengetahui kapan kita akan mati. Karna dengan begitu tak ada lagi rahasia yang menakutkan dalam hidup ini. Ah, betapa ia juga ingin mati seperti laki-laki ini. Mati dengan tenang – bahkan terasa riang – dan segalanya berlangsung dengan biasa dan sederhana.

3.

DI warung kopi, sore itu, sahabatmu mendengar tukang kebun itu bercerita tentang seseorang yang baru saja mati dengan tenang dan bahagia, tadi pagi.

“Aku menyaksikannya sendiri, detik-detik ketika ia perlahan-lahan mati,” tukang kebun itu bercerita, dan sahabatmu mendengarkan sembari menyeruput kopi. “Aku merasakan cahaya yang perlahan jadi lanum. Seperti ada yang perlahan mendekat, seperti langkah-langkah ringan yang melompati jendela dan masuk ke dalam kamar di mana laki-laki itu berbaring tenang. Aku bayangkan maut mengecup keningnya pelan, dan ia tersenyum. Pada detik itulah aku merasakan ada cahaya kelabu lembut, yang lebih tipis dari kabut, melayang terbang mengelangut serupa senandung maut…”

Setiap sore, sahabatmu memang suka mampir ke warung kopi di sudut jalan itu. Tak seperti sore-sore biasanya, yang gaduh dengan celoteh dan percakapan, sore itu sahabatmu merasakan kemurungan yang luar biasa. Kemurungan, yang sepertinya terbawa oleh cerita tukang kebun itu.

Betapa aku ingin mati seperti laki-laki itu,” suara tukang kebun itu terdengar gemetar dan hambar. “Aku sudah tua, aku sering membayangkan aku akan mati kesepian. Tapi aku selalu cemas karena tak pernah tahu kapan.”

Sembari terus diam mengetuk-ngetuk tepian cangkir dengan ujung-ujung jari, pura-pura abai pada cerita tukang kebun itu, seketika sahabatmu terkenang pada cerita yang sering kau kisahkan perihal seseorang, yang pernah menjadi karib dalam hidupmu, tetapi kemudian memilih hidup menyendiri untuk menanti mati. Biasanya, sahabatmu begitu betah menghabiskan waktu di warung kopi itu. Tapi cerita kematian yang dituturkan tukang kebun itu membuatnya ingin cepat-cepat bertemu denganmu.

4.

KAU hanya terdiam, saat sabahatmu bercerita.

“Begitulah yang kudengar dari tukang kebun itu, ia sudah mati dengan tenang dan bahagia pagi tadi, tepat jam sembilan pagi.”

Biasanya, menghabiskan waktu berjaga, kau dan sahabatmu akan bertukar kelakar sembari bermain kartu, untuk mengusir kantuk dan jemu. Bertahun-tahun menjadi penjaga malam di kamar mayat rumah sakit, kau sudah teramat tahu, bahwa kematian terasa lebih menakutkan ketika dipercakapkan pelan-pelan. Tapi kau sudah terbiasa dengan ketakutan seperti itu. Ketakutan yang selalu muncul bersama bau yang membeku di udara. Bau yang sepertinya sengaja ditinggalkan maut untuk sekadar menjadi tanda. Kau selalu membayangkan bau itu seperti jejak – atau tapak – kaki kucing yang mungil. Jejak yang melekat di lantai dan tembok dan mengapung di udara. Kau sering melihatnya ada di mana-mana, membuatmu seperti bocah pramuka yang sedang mencari jejak agar tak tersesat. Kau bisa mencium bau kematian itu bergerak pelan, tetapi kau tak pernah tahu pasti kapan kematian akan menjemputmu. Kau hanya merasa. Tapi tak kuasa menduga. Dan itu selalu menakutkan. Mencemaskan. Tapi juga selalu membuatmu penasaran.

Itulah sebabnya kenapa kau melamar – dan akhirnya diterima – jadi penjaga malam di kamar mayat rumah sakit. Kau hanya mau giliran jaga malam, karna kau percaya kematian akan jauh lebih terasa pada malam hari. Seperti tinta hitam yang dituangkan ke kolam. Kau jadi seperti bisa meraba dan menyentuhnya.

Kau suka sekali memandangi mayat yang terbaring beku dan pucat. Memandanginya lama-lama. Menyentuh dan merasakan tilas hangat yang masih tersimpan di bawah kulit. Sering kau merasakan denyut lembut yang masih terasa merayapi otot mayat-mayat itu.

Dan malam ini, kau jadi makin mencintai bau kematian, saat sahabatmu menceritakan kematianku tadi pagi. Kau ingin menangis – entah kenapa. Yang pasti bukan karena kehilangan. Kau hanya merasa betapa menyenangkannya bisa mengetahui kematian sendiri. Karena itu, kau pun dulu tampak iri ketika aku bercerita betapa aku telah mengetahui kapan aku mati. Kau merasa iri, karena aku kau anggap telah mampu memecahkan teka-teki.

“Kau tahu,” ucapmu pelan pada sahabatmu yang bersandar di kursi, “aku selalu menginginkan kematian yang tenang dan bahagia seperti itu.” Dan kau pun mencoba membayangkan kelopak mataku yang tampak rapuh ketika perlahan terkatup. Kau bayangkan sisa redup cahaya terakhir yang melekat di retina mataku.

Kau ingin sekali bisa bertemu denganku. Kau ingin sekali bertanya, bagaimana mengetahui kunci teka-teki kematian sendiri, dan mati dengan begitu tenang. Begitu bahagia.

Ingin sekali kau tanyakan itu kepadaku yang telah mati jam sembilan pagi tadi.

Yogyakarta, 2007

47 Responses to “– ANUGERAH SASTRA PENA KENCANA: 20 CERPEN TERBAIK INDONESIA 2008”


  1. 1 antok Februari 3, 2008 pukul 4:12 am

    wah, dunia sastra bakalan rame. akhirnya ada lagi ajang penghargaan bagi penulis setelah sayembara novel DKJ dan KLA. maju terus penulis indonesia. salam.

    kalo berkenan, silakan kunjungi blog saya http://www.antoksastra.wordpress.com

  2. 2 roslan jomel Februari 5, 2008 pukul 4:47 am

    Salam kenal dari Malaysia.

    Pertama kali saya membaca cerpen Piknik, saya terus tahu, nama Agus Noor adalah antara seniman fiksyen penting di Indonesia.

    Salam.

  3. 3 Armiza Nila Maret 5, 2008 pukul 6:58 am

    Salam sobat dari Kuching

    Saya akan terus menggulati karya anda biar dari maya pada cuma.

  4. 4 raisa Maret 28, 2008 pukul 10:03 am

    halo om Agus Noor.
    aku Resa dan aku suka nulis.
    salam kenal ya, aku baca loh tulisan om Agus.
    bagus deh tulisan si Om. aku jadi sirik.
    hihihik.
    Ok, tengkyu Om.

  5. 5 agusnoorfiles Maret 28, 2008 pukul 10:21 am

    Si Sirik itu kan musuhnya Juwita, kan?

  6. 6 adam April 4, 2008 pukul 4:01 pm

    Cerpen Bang Agus Noor yang terhimpun dalam 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 cukup bagus. Selain teknik kompisisnya yang mantap, cerita yang ditampilkan pun juga bernas. Saya suka. Nanti saya pilih…

  7. 7 agusnoorfiles April 5, 2008 pukul 9:01 am

    Oii, makasih sekalee…

  8. 8 Agus dp April 12, 2008 pukul 7:22 pm

    Td sore saya baca cerpen Bang Agus Noor (Dongeng Hitam Buat Kekasih) di Horison Sept 2001. Sekarang blogwalking ke sini sampe akhirnya penasaran baca cerpen di atas. Ceritanya asik.
    Tulisan2 di blog ini juga saya suka. Ngebuka wawasan. Makasih suguhannya, kapan2 saya mau mampir lagi ke sini

  9. 9 agusnoorfiles April 13, 2008 pukul 7:26 am

    Wah, itu cerpen lama saya. Sebenarnya sya jg pingin nampilin cerpen2 lama saya, tp saya sdh ndak punya file-nya. Soal arsip-arsipan, saya emang kacau banget..

  10. 10 eko susanto Mei 13, 2008 pukul 7:28 am

    Wah, cerpen yang bagus. Jadi, wajar saja jika dewan juri memilih cerpen di atas menjadi salah satu dari 20 yang terbaik se-indonesia. Tapi, mas Agus, sebenarnya memang lebih bagus kalo semua cerpen lama anda juga di tampilkan di sini. Agar bisa menjadi ajang pembelajaran bagi orang seperti saya, yang sedang belajar menulis. Oh, ya, saya dari jogja juga kok hehehe…salam.

  11. 11 agusnoorfiles Mei 13, 2008 pukul 11:33 am

    Ya, memang, rencananya, saya akn tampilkan jg cerpen2 lama saya. Sabar, ya. Ntar, satu persatu. Meski tidak semuanya. Klo ditampilin semua, ntar ndak beli bukunya dong… hehe

  12. 12 akuhayu Oktober 22, 2008 pukul 2:09 am

    wah..wah..tidak sengaja menemu blog ini..
    salam kenal,

    -Hayu-
    penikmat sastra
    (halah)
    ^_^

  13. 13 al-Kurauwi Desember 11, 2008 pukul 3:34 am

    Pak Agus,
    Saya juga meminati karya bapak. Mohon dijadikan bahan kajian ya!

  14. 14 agusnoorfiles Desember 14, 2008 pukul 9:28 am

    Silakan…

  15. 15 mk pramono Maret 12, 2009 pukul 3:19 pm

    mas noor slm kenal. mas, kayanya tema cerpn ni sama kya, pokoknya menceitakn tng sorng yang tahu tntang datngnya kematiannya, duh lupa! em, pnulis lama yang psti, mungkin ms noor tau, tpi endingnya crpn mas ni, mantap!!

  16. 16 agusnoorfiles Maret 12, 2009 pukul 4:16 pm

    maksud kamu? apa ada cerpen yang sama kayak gini gitu? Secara bentuk atau tematik? Klo tema, apa sih tema yang baru sekarang ini? dari dulu, tema ya “itu-itu saja”, yang sudah ditulis para pengarang. tantangan sekarang ini adalah: bagaimana mengolah tema (lama ) itu agar terasa “baru”, lebih punya taste, kata iklan rokok..lebih berasa..berasa lebih. Apa mungkin cerpen yang kamu maksud itu punya Idrus, ya? Judulnya Opel…Iya?

  17. 17 Seshe Maret 13, 2009 pukul 5:02 am

    Weeeh hebat mas noor kuucapin SELAMAT and SEMANGAT untuk terus menulis

  18. 18 agusnoorfiles Maret 13, 2009 pukul 7:01 pm

    Terimakasih…sudah baca buku Pena kencana yang tahun 2009? Bagus-bagus juga lho cerpen di buku itu….

  19. 19 MK Pramono Maret 14, 2009 pukul 1:27 pm

    mas, cerpn yang sya maksud judulnya”seorang calon” tpi lupa pengarangnya, itu sya dptkan pas kuliah kritik sastra tk cri tpi g’ktemu. oh, ya, karya2 mas ni bnyk ngngkat hal2 yg sderhana tpi dng ramuan surealis/absud’aneh’kya cerpen2 budidarma, gimana sih ngolahnya?yg kartu pos dr surga jga legit, pendek tpi kata2nya berharkat,berdyaguna.

  20. 20 agusnoorfiles Maret 15, 2009 pukul 12:40 pm

    nanti saya coba cari cerpen “seorang calon” itu, ya. Soalnya aku juga baru tahu judul itu. Kalau soal absurdisme itu saya kadang memilihnya sebagai gaya saja, bilang ide dan gagasan ceritanya memang membutuhkan tekhnik penulisan bergaya absurd. Bila ide dan gagasan ceritanya realis, ya saya tuliskan dengan konvensi penulisan realis.

  21. 21 seshe Maret 24, 2009 pukul 4:47 am

    mas gmn klo mau tanya tentang tips menulis

  22. 22 agusnoorfiles Maret 24, 2009 pukul 5:29 am

    Coba kamu buka halaman “disscusion” di blogku ini. Di situ banyak obrolan soal proses/tip menulis. Kalo merasa blm puas, boleh tanya apa yg ingin km tanyakan.

  23. 23 afan dinata Agustus 9, 2009 pukul 8:53 am

    bagus dong adanya anugerah sastra, kalau bisa diadakan juga buat penulis-penulis yang giat nulis di internet, karena banyak juga penulis yang tidak pernah mengirim di koran-koran, karyanya bagus-bagus, terima kasih

  24. 24 Nur September 7, 2009 pukul 1:37 am

    cerpen yang bagus sekali. saya nak tanya kalau ‘si mati’ kenal dengan orang yang kerje di kamar mayat rumah mati? Mereka berdua sahabat?

  25. 25 agusnoorfiles September 11, 2009 pukul 9:05 am

    Hmm. Bagaimana dong kmu menginterpretasikannya…

  26. 26 prasetya hutja September 17, 2009 pukul 12:19 pm

    saya membaca karya mas agus “mawar di tiang gantungan”, terkesan dengan kiasan-kiasannya. bagus. membuat saya lebih tertarik untuk mendalami sastra ….

  27. 27 prasetya hutja September 17, 2009 pukul 12:41 pm

    mas agus, bagaiman menurut mas agus agar penulis itu menjadi penulis yang baik dan sukses? mohon masukannya ya mas … terima kasih sebelumnya.

  28. 28 dian ernawati Januari 8, 2010 pukul 2:11 pm

    akhirnya bisa belajar lebih banyak. sukses dan matur nuwun sampun berbagi..

  29. 29 Gemar Baca Book Februari 3, 2010 pukul 1:23 pm

    Cerpen terbaik 2009 sudah terbit atau belum ya?

  30. 30 Gemar Baca Book Februari 3, 2010 pukul 1:26 pm

    Cerpen Terbaik 2009 kapan diumumkan lagi? Kalau bisa diterbitkan jadi sebuah buku kumpulan cerpen terbaik pasti asyik loh

  31. 31 agusnoorfiles Februari 4, 2010 pukul 8:45 am

    Coba kamu tengak: http://www.penakencana.com disana ada informasi yang mungkin kamu butuhkan

  32. 33 shanti Desember 16, 2010 pukul 10:47 am

    baca blog ini jadi pengin nulis2 lagi….hhgghh, mungkin aku kelamaan terlena dengan dapur dan segala pernak perniknya…

  33. 34 Firdiyana Rocker November 22, 2011 pukul 4:28 am

    judul “seseorang yang mati tadi pagi”, dimuat dalam buku ga ya om???

  34. 35 vivi November 23, 2011 pukul 2:05 pm

    “lma jempol utk om agus”om gini-gini ya aku juga penulis,ya masih junior masih banyak belajar

  35. 37 Siti komaria Maret 23, 2012 pukul 2:59 am

    Dari kecil aq sangat suka membaca dan selalu bermimpi utk bisa menulis…dan membaca tulisan anda membuatku ingin segera mewujudkan mimpiku..aq sangat ingin bisa menulis sepertimu..aq sangat suka tulisanmu memberi inspirasi🙂

  36. 38 eva khairul maidani Maret 28, 2012 pukul 5:27 am

    Keren,takjup bacanya,pingin deh mengeluarkan karya yg istimewa seperti itu

  37. 39 rahmifadhilah Mei 18, 2012 pukul 5:51 am

    bagus cerpennya bikin saya terinspirasi…

  38. 41 AnakBaru September 5, 2012 pukul 1:55 pm

    Ada yang mau share interpretasi thd cerpen ini? aku gak nyampe nih, kang Agus, bantu saya..😀

  39. 42 ana Oktober 25, 2012 pukul 3:30 am

    waduh boleh_boleh
    bagus banget kak sastranya
    boleh q di ajari ga’

  40. 43 greatwordblog Maret 1, 2013 pukul 3:02 pm

    Reblogged this on greatwords and commented:
    Bukankah tak ada yang lebih menyenangkan selain kita tahu kapan di mana dan bagaimana kita mati?

  41. 45 edi iskandar Desember 28, 2014 pukul 3:14 am

    Bagi sobat semua yang ingin belajar bisnis online secara gratis silahkan kunjungi http://www.meabisnis.com/?id=edimk
    , Anda akan mendapatkan berbagai panduan dan bimbingan tentang segala macam bisnis online yang ada di internet .Dapatkan bonus pendaftaran Rp.50.000,- baru daftar aja dpt rp.50.000,- makanya buruan…!

  42. 46 ARINAL HAQI Oktober 20, 2016 pukul 11:55 am

    Salam kenal dari generasi masa kini


  1. 1 Klinik Aborsi Jakarta Lacak balik pada September 4, 2015 pukul 3:16 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: