– TUKANG JAHIT

lukisan2.jpg

Cerpen Agus Noor

Tukang jahit itu selalu muncul setiap kali menjelang Lebaran. Seolah muncul begitu saja ke kota ini. Kata orang, ia tak hanya bisa menjahit pakaian. Ia juga bisa menjahit kebahagiaan. Tukang jahit itu punya jarum dan benang ajaib yang bisa menjahit hatimu yang sakit. Jarum dan benang, yang konon, diberikan Nabi Khidir dalam mimpinya.

Ibu pernah bercerita, betapa dulu, setiap menjelang Lebaran, kota ini selalu didatangi banyak sekali tukang jahit. Kemunculan mereka selalu menjadi pemandangan yang menakjubkan, Nak. Ketika cahaya matahari pagi yang masih lembut kekuningan menyepuh perbukitan dan halimun perlahan-lahan menyingkap, kau bisa menyaksikan serombongan tukang jahit yang masing-masing memikul dua kotak kayu berbaris muncul dari balik lekuk bukit. Kanak-kanak akan berlarian senang menyambut kemunculan mereka, “Tukang jahit datang! Asyiik! Lebaran jadi datang!” Seakan-akan bila para tukang para jahit itu tak muncul maka Lebaran tidak jadi datang ke kota ini.

Di hari-hari menjelang Lebaran itulah, Nak, kota akan terlihat penuh tukang jahit yang berkeliling menawarkan menjahitkan pakaian. Mereka menggelar dasaran di trotoar, di pojokan jalan, di keteduhan pepohonan, di emper pertokoan. Mereka mengeluarkan mesin jahit lipat dari dalam kotak yang dibawanya; menata bundelan-bundelan benang, jarum dondom dan jarum pentul, gunting, silet, mangkuk-mangkuk berisi kancing warna-warni, meletakkannya di atas kotak kayu yang digunakan sebagai meja. Para penduduk antri menjahitkan pakaian dan hiruk dalam keramaian menyambut Lebaran. Anak-anak berceloteh riang tentang baju baru yang akan mereka kenakan.

Selalu menyenangkan memperhatikan tukang jahit itu bekerja, Nak. Seperti menyaksikan tukang sulap, yang mampu mengubah kain-kain warna-warni menjadi baju-baju indah dalam sekejap. Mereka duduk bersila menggerakkan engkol mesin jahit dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya lincah dan cepat mengarahkan pola potongan kain yang dijahit. Kau akan mendengar gema mesin jahit yang terus bergemeretak hingga larut malam. Serasa ada gema burung pelatuk di mana-mana. Karena para tukang jahit itu mesti menyelesaikan semua jahitan sebelum hari Lebaran. Dan di malam takbiran, para tukang jahit itu tampak bergegas keluar kota. Seperti kemunculannya yang entah dari mana, para tukang jahit itu pun menghilang entah ke mana. Begitulah, Nak, selalu, dari tahun ke tahun, para tukang jahit itu muncut setiap kali menjelang Lebaran, dan menghilang di malam takbiran.

Tapi semakin lama kian menyusut tukang jahit yang muncul ke kota ini. Entahlah, Nak. Mungkin banyak dari tukang jahit itu yang mati. Mungkin juga mereka memilih berhenti jadi tukang jahit. Atau mereka tak mau lagi datang, karena makin lama makin banyak warga yang malas menjahitkan pakaian pada tukang jahit-tukang jahit itu. Sejak banyak toko fashion, vactory outlet, butik dan pusat perbelanjaan di kota ini, orang-orang lebih suka membeli pakaian jadi. Tak ada lagi keriuhan suara mesin jahit di kota ini setiap menjelang lebaran. Zaman, barangkali, memang mengubah selera, Nak. Maka, para tukang jahit yang masih muncul pun lebih banyak menghabiskan waktu mereka dengan melinting dan mengisap tembakau. Mereka hanya duduk-duduk tanpa mengerjakan jahitan, memandangi orang-orang yang lalu lalang keluar masuk pusat perbelanjaan menenteng tas-tas belanjaan berisi pakaian. Mungkin para tukang jahit itu merasa betapa kota ini tak lagi membutuhkan mereka, lalu mereka memilih mendatangi kota-kota lain yang masih mau menerima kedatangannya. Entahlah, Nak. Yang jelas sudah sejak lama, setiap menjelang Lebaran, tak ada lagi pemandangan menakjubkan arak-arakan serombongan tukang jahit yang muncul di kota ini.

Tinggal tukang jahit itu, satu-satunya tukang jahit, yang masih muncul di kota ini. Ia seperti laskar terakhir prajurit yang terusir. Berjalan keliling kota menawarkan jahitan. Tapi ia lebih sering terlihat di sudut dekat gang kecil agak di pinggiran kota. Menisik dan menjahit. Perawakannya kurus, kulitnya seperti kulit mahoni yang menua, tak banyak bicara, dan wajahnya seperti rahasia yang tak mau dibuka. Memang tak banyak lagi orang yang mau menjahitkan pakaian padanya, Nak, tapi kau lihat, selalu saja ada orang yang datang padanya. Dan itu karena ia tak hanya pintar menjahit pakaian, tetapi juga kebahagiaan. Orang tak hanya menginginkan baju baru saat Lebaran, Nak. Tapi juga ingin bahagia di saat Lebaran. Bila ada orang sedih yang datang padanya, maka tukang jahit itu akan menjahit hati orang yang lagi sedih itu. Kau tahu, Nak, di tangan tukang jahit itu, kebahagiaan yang robek dan koyak menjadi seperti selembar kain lembut yang bisa dijahit kembali. Ia menjahitnya dengan rapi, halus, dan membuat orang-orang itu merasa tentram.

Ibu pernah menggendongmu datang ke tukang jahit itu, Nak. Delapan lebaran lampau. Kau masih empat tahun saat itu. Mungkin kau tak ingat. Saat itu Ayahmu baru meninggal, tiga bulan sebelum Lebaran. Ibu merasa kesepian dan sedih membayangkan Lebaran tanpa Ayahmu. Lalu diantar Pamanmu, Ibu mendatangi tukang jahit itu. Ia sempat mengelus rambutmu. Ia menjahit luka hati ibu, Nak. Di dada sebelah sini. Rabalah, begitu halus. Tak bertilas. Tak berbekas.

Lalu Ibu bercerita tentang jarum dan benang yang dimiliki tukang jahit itu. Kau tahu, Nak, Nabi Khidir muncul dalam mipinya suatu kali. Memberi tukang jahit itu segulung benang dan jarum. Benang itu tipis dan bening, seperti senar, tetapi lebih lembut dan halus. Kau bisa melihatnya, tetapi tak bisa menyentuhnya. Benang yang tak akan habis bila dipakai untuk menjahit seluruh pakaian yang ada di dunia ini. Dan jarum itu, Nak, kadang tampak memancarkan cahaya lembut ketika dipegangi tukang jahit itu. Dengan jarum dan benang itulah tukang jahit itu menjahit kembali kebahagiaan orang-orang…

***

Begitulah, dari tahun ke tahun, selalu kulihat tukang jahit itu muncul di kota ini setiap kali menjelang Lebaran. Cerita Ibu hanyalah salah satu cerita dari banyak cerita yang kudengar tentang tukang jahit itu. Ada yang mengatakan, ia sebenarnya tinggal di balik bukit itu. Tapi cerita lain membantahnya. Kisah tentang kampung para penjahit juga pernah aku dengar. Sebuah kampung, yang seluruh penghuninya adalah tukang jahit. Di kampung itulah ia tinggal. Namun sudah berpuluh tahun lalu kampung itu lenyap. Seluruh tukang jahit yang tinggal di kampung itu mati oleh wabah yang tak pernah diketahui apa. Hanya ia, tukang jahit itu, satu-satunya yang selamat. Itulah sebabnya, kini ia satu-satunya tukang jahit yang masih muncul ke kota ini. Yang lain bilang kalau ia memang sempat bertemu Nabi Khidir, dan menjadi muridnya. Ia tingal di sebalik cakrawala, di sebuah perbatasan antara hidup dan kematian. Ia tinggal di sana, sepanjang hari memintal benang kesabaran. Benang yang dipintal dari bulu-bulu sayap malaikat. Dengan benang itulah ia ditugaskan oleh Nabi Khidir untuk menjahit hati orang-orang yang sedih menjelang Lebaran.

Semua cerita itu sesungguhnya tak pernah menjelaskan tentang tukang jahit itu, malah makin menyelimutinya dengan misteri. Ia sendiri tak pernah mau bercerita tentang dirinya. Kemunculannya selalu dalam diam. Nyaris tanpa suara berkeliling memikul dua kotak kayu yang membuat jalanya jadi agak membungkuk. Aku ingat, sewaktu kanak, aku dan kawan-kawan sepermainan kerap mengikuti di belakangnya sambil berteriak-teriak, seakan meledek tukang topeng monyet keliling. Dan tukang jahit itu tetap saja diam.

Agak di pinggiran kota ada gang buntu kecil yang letaknya di tikungan jalan. Gang yang rindang dan lengang meski ada juga beberapa lapak penjual barang loakan. Di pojokan gang itulah tukang jahit itu selalu menggelar dasaran dan istirahat. Menjahit dan tidur di situ selama hari-hari menjelang Lebaran. Tak pernah bercakap ia dengan para penjual loakan disitu. Tak banyak juga orang yang mendatanginya.

Tapi dari Lebaran ke Lebaran semakin banyak saja orang-orang yang datang ke tukang jahit itu. Cerita tentang jarum dan benang ajaib itu mungkin membuat banyak orang penasaran. Tapi barangkali pula karena dari Lebaran ke Lebaran memang semakin banyak orang yang kian tenggelam dalam kekecewaan. Mereka ingin menjahitkan kekecewaan mereka pada tukang jahit itu. Mereka antri agar bisa menikmati kebahagiaan Lebaran.

***

Menjelang Lebaran ini, kulihat antrian itu sudah sedemikian mengular panjang memacetkan jalanan. Rasanya, inilah antrian terpanjang yang pernah kulihat di kota ini. Padahal tukang jahit itu belum lagi muncul! Mereka tampak sudah tak sabar menunggu kemunculan tukang jahit itu. Mereka sudah menunggu sejak dini hari, bahkan ada yang sudah menunggu berhari-hari.

Saat melintas sepulang belanja kue penganan dan pakaian buat Lebaran, anakku memandang heran antrian itu. Karena banyaknya antrian yang meluber hingga ke tengah jalan, aku menjalankan mobil pelan-pelan. Dari radio terdengar nyanyian riang: Lebaran sebentar lagi…

Sedang antri apakah orang-orang itu, Ayah?”

Mau menjahitkan…”

Menjahitkan pakaian?”

Bukan. Menjahitkan kebahagiaan.”

Kok kayak mau ngantri minyak tanah?”

Barangkali, sekarang ini kebahagiaan memang seperti minyak tanah. Tidak semua orang dengan gampang mendapatkannya. Bahkan untuk sekadar bisa menikmati kebahagiaan di hari lebaran pun kini orang mesti antri berdesak-desakan.

Kenapa menjelang Lebaran begini mereka kok tidak bahagia, Ayah?”

Mungkin mereka tak punya uang buat pulang kampung. Tak bisa membelikan baju baru. Bingung karena masih nganggur. Pusing karena semuanya makin mahal. Mungkin juga mereka hanya merasa makin sedih saja…”

Lalu kuceritakan apa yang dulu pernah diceritakan Ibu padaku. Kuceritakan tentang tukang jahit itu. Tentang jarum dan benang yang bisa menjahit kesedihan.

Jadi mereka menunggu tukang jahit itu, Ayah?”

Ya.”

Bagaimana kalau tukang jahit itu tak muncul, Ayah?”

Aku menatap matanya yang menunggu jawaban, kemudian memandang gamang ke arah orang-orang yang antri itu. Kulihat antrian itu sudah sedemikian panjangnya, hingga menyentuh ujung terjauh cakrawala yang mulai menggelap.

Brisbane-Yogyakarta, 2007

8 Responses to “– TUKANG JAHIT”


  1. 1 veta April 5, 2008 pukul 5:21 am

    kayaknya udah pernah baca, kalau bukan di kr apa di kompas ya? pokoknya edisi minggu

  2. 2 agusnoorfiles April 5, 2008 pukul 8:36 am

    Benar sekali, cerpen ini pernah dimuat di Kompas, edisi Minggu. Pada blog ini, memang kadang akan saya munculkan artikel atau tulisan-tulisan saya, yang pernah muncul di media lain, sepanjang itu memang saya anggap perlu.

  3. 3 Asef April 8, 2008 pukul 1:59 pm

    Saya juga sudah pernah baca cerpen ini di Kompas. Bagus sekali dan saya suka sekali cerpennya. Setelah saya baca cerpen ini, saya teringat akan ayah saya yang pekerjaannya juga sebagai tukang jahit. Memang, setiap akan lebaran orderan melimpah bahkan sampai mengantri dari bulan-bulan sebelumnya. Ada rasa senang juga sih mendapat order banyak, tapi juga sedih karena tenaga ayah saya akan terporsir apalagi mendekatihari H, para pelanggan pasti minta dipercepat.

    Mas Agus, saya ingin nanya, cerpen ini awalnya bagaimana (prosesnya)? apakah mas mengamati si tukang jahit ataukah bagaimana? Makasih

  4. 4 agusnoorfiles April 10, 2008 pukul 10:40 am

    Ada tiga latar ide yang menggerakkan penulisan cerpen Tukang Jahit ini. Pertama, saya melihat orang-orang yang susah justru ketika lebaran tiba, karena harga sembako mahal. Kedua, tradisi untuk selalu memakai baju baru di setiap lebaran. Bukankah dua hal itu kontradiktif (ada ironi) dan karenanya menarik bila dipersandingkan menjadi satir sosial? Pada satu sisi ada orang yang susah di saat menjelang lebaran, tapi ada juga yang gembira karena bisa pakai baju baru. Ketiga, saya pernah membaca dongeng tentang orang yang bisa menjahit hati yang luka.
    Nah, saya lalu membayangkan, bagaimana kalau ada seorang yang bisa menjahit hati orang-orang yang lagi sedih menjelang lebaran itu? Andaikan ada, pastilah orang itu penjahit yang punya jarum ajaib. Nah, disinilah sebenarnya proses kreatif seorang pengarang bekerja. Ia “mentransendensikan peristiwa atau fakta sosial ke dalam imajinasinya”. Maka saya bayangkan tukang jahit itu. Saya amati tukang jahit di pasar, yang mulai terpinggirkan (karena orang sekarang lebih senang pake baju konveksi yang sudah langsung jadi). Saya bayangkan suatu masa, tukang jahit itu berjaya, tapi kini dilupakan. Kota makin maju. Makin praktis. Tapi justru di saat itulah, kota makin banyak dipenuhi orang yang sedih hidupnya. Bagaimanakah caranya orang-orang sedih itu menikmati lebaran? Mereka pasti tak bisa menikmati lebaran bila hatinya tak bahagia. Ah, andaisaja ada tukang jahit yang bisa menjahit hati mereka yang sedih dan tak bahagia itu…
    Begitulah, maka saya pun menulis kisah Tukang Jahit itu…

  5. 5 Abi Ardianda (@abi_ardianda) Agustus 13, 2012 pukul 6:52 am

    Mas, saya terkecohkan, nih. Pertama diceritakan kpd sang anak bahwa ibunya mendatangi tukang jahit sepeninggal ayah mereka, namun di akhir cerita dibuat adegan dimana ia justru melintasi antrian tukang jahit itu bersama ayahnya. Iki piye? Hehe, mohon penjelasannya, Mas. Makasih.

  6. 6 agusnoorfiles Agustus 17, 2012 pukul 9:44 am

    Apakah Anda tidak melihat bahwa itu menandakan “rentang waktu penceritaan” dalam cerpen itu? Sejak ia masih anak (dianter ibunya ke tukang jahit itu) sampai ia kemudian punya anan (bersama anaknya melihat tukang jahit itu).

  7. 7 konveksi seragam Oktober 30, 2015 pukul 1:38 am

    Ulasan keren soal atribut Parpol ini keren banget.
    Bagus banget & penting. Tiap mereka yg pakai maupun lagi cari atribut parpol seperti baju kaos di Indonesia
    harus baca ulasan ini. Mampir juga situs ane yagan, banyak tulisan bagus yang pasti bermanfaat bagi siapa
    aja pengguna atribut dari konveksi Jaket. Regards.


  1. 1 CERPEN KOMPAS PILIHAN: CINTA DI ATAS PERAHU CADIK « Agus Noor_files Lacak balik pada Juni 27, 2008 pukul 11:09 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Maret 2008
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: