Arsip untuk Januari 1st, 2008

– “Estetika Kekerasan”: Satu Periode Kepenulisan Agus Noor

Seseorang datang dengan banyak pertanyaan. Kami memang sudah berjanji, sore itu. Dan percakapan membawaku pada suatu periode kepenulisanku. Aku seperti kembali meniti waktu dan imaji. Harum kopi, uapnya yang hangat, percakapan-percakapan ringan, mendadak berbaur dengan lesatan kengerian yang pernah memenuhi mimpi dan jagaku. Dulu. Pada suatu waktu yang gelisah. Untuk itulah, aku mesti mengucapkan terimakasih pada Arwi, seseorang yang mengajakku bercakap-cakap sore itu. Ia, tiba-tiba, menyodorkan buku lamaku, Memorabilia, yang saya sendiri sudah tak punya copy-nya.

Darinya pula, satu artikel lama yang ditulis oleh Prof. Dr. Bakdi Soemanto, SU., bisa kubaca kembali. Meski aku termasuk orang yang senang menyimpan kenangan, terus terang, aku bukanlah orang yang rapi menyimpan catatan, arsip atau foto-foto lama dan sejenisnya. Karenanya, aku merasa benar-benar beruntung, ketika Arwi memperlihatkan catatan yang ditulis Pak Bakdi – begitu aku biasa memanggil – Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada itu, ketika membahas kumpulan cerpen Memorabilia-ku.

Aku sering menyebut periode ini sebagai periode eksplorasi untuk menghadirkan apa yang sering kusebut sebagai “estetika kekerasan”. Atau suatu konvensi “estetika mual”, seperti dikatakan Bakdi Soemanto dalam tulisannya itu. Estetika kekerasan dan memualkan seperti itu, memang memiliki akar yang cukup lama dalam sastra kita. Sejak Rendra, bahkan Chairil Anwar sebelumnya. Seperti yang ditulis Bakdi Soemanto ini: “…hal-hal yang ‘memualkan’ sesungguhnya punya sejarah yang cukup panjang daam sastra Indonesia. Akan tetapi, pada cerpen-cerpen Agus Noor ini, barang-barang yang menjijikkan itu didudukkan sebagai foreground, bahkan sebagai pusat perhatian!”

memo2-wp.jpgItulah periode kepenulisanku yang sering ditandai dengan pergulatan tema absurdisme dan surealisme, dengan pemerian narasi yang dipenuhi imaji kekerasan dan kekejaman. Itu memang sebuah zaman yang penuh kengerian, sesuatu yang sesungguhnya terus menyelusup dalam alam bawah sadarku, dan juga alam sadarku. Seperti sore itu, ketika menikmati kopi dengan Arwi, saat menguar aroma kopi yang lembut: aku seperti mencium aroma daging manusia terbakar yang legit dan gurih. Sore menjadi lebih indah, dan ganjil. Arwi, lelaki yang andai saja aku perempuan pasti akan membuatku jatuh cinta, seperti hantu gosong yang muncul dari masa lalu. Mengingatkanku pada cerita-cerita dalam Memorabilia. Sebuah periode kepenulisanku yang dengan bagus telah dipaparkan oleh Bakdi Soemanto dalam tulisannya berikut ini… Lanjutkan membaca ‘– “Estetika Kekerasan”: Satu Periode Kepenulisan Agus Noor’


Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Januari 2008
S S R K J S M
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Archives Files

Catagories of Files