Posts Tagged 'Budi Darma'

– Perihal Cerpen-cerpen Terbaik KOMPAS

Tradisi pemilihan cerpen terbaik Kompas yang sudah berlangsung sejak 1992 telah menghasilkan 16 cerpen terbaik, mulai dari Kado Istimewa (Jujur Prananto) hingga Cinta di Atas Perahu Cadik (Seno Gumira Ajidarma). Dan paling mutakhir, di tahun 2009 ini, terpilih cerpen Nukila Amal, Smokol. Hingga tahun 2004, pemilihan cerpen terbaik itu dilakukan oleh ”orang dalam Kompas”, yakni para redaktur yang dianggap punya kompetensi dengan dunia sastra. Mulai 2005, Kompas mencoba mengubah dengan memberikan otoritas pemilihan itu kepada ”orang luar”, yakni mereka yang dianggap memiliki kredibilitas dalam sastra sebagai juri untuk melakukan pemilihan cerpen terbaik. Gambar 14

Membaca cerpen-cerpen terbaik itu, kita bisa menemukan ”benang merah” yang seolah menandai orientasi estetis dari cerpen-cerpen pilihan Kompas. Ada kecenderungan pada pilihan realisme sebagai gaya bercerita. Bahkan, Derabat dan Mata yang Indah (keduanya karya Budi Darma) yang terpilh sebagai cerpen terbaik Kompas 1999 dan 2001, yang memiliki kecenderungan sebagai cerita yang surealis pun dituturkan dengan teknik penceritaan yang realis bila ditilik dari penggunaan dan pengolahan gaya bahasanya. Begitu pula Jejak Tanah (Danarto), cerpen terbaik 2002, memakai pola penceritaan realis meski kisah yang diusungnya adalah kisah yang berbau magis. Lanjutkan membaca ‘– Perihal Cerpen-cerpen Terbaik KOMPAS’

– CERPEN KOMPAS PILIHAN: CINTA DI ATAS PERAHU CADIK

Ayo kirim komentar, dan aku akan kasih 2 buku sebagai hadiah buat kalian?

Penganugerahan Cerpen Kompas Pilihan tahun 2008 ini telah berlangsung, dan sebagaimana aku kira, cerpen Cinta di Atas Perahu Cadik milik Seno Gumira Ajidarma, terpilih sebagai yang terbaik. Selamat. Aku, akhirnya bisa datang ke acara itu, sambil diam-diam merayakan ulangtahunku, dan lalu malamnya… (hhmmm, rame dech).

Dua juri, yang tahun ini adalah Sapardi Djoko Damono dan Ayu Utami, memilih 15 cerpen. Lampu Ibu (Adek Alwi), Kisah Pilot Bejo (Budi Darma), Koh Su (Puthut EA), Serdadu Tua dan Jipnya (Wilson Nadeak), Gerhana Mata (Djenar Maesa Ayu), Sinai (F. Dewi Ria Utari), Belenggu Salju (Triyanto Triwikromo), Bigau (Damhuri Muhammad), Lak-uk Kam (Gus tf Sakai), Candik Ala (GM Sudarta), Tukang Jahit (Agus Noor), Sepatu Tuhan (Ugoran Prasad), Hari Terakhir Mei Lan (Soeprijadi Tomodihardjo), Gerimis yang Sederhana (Eka Kurniawan), dan tentu cerpennya Seno itu.

Apayang menarik dari buku itu? Lanjutkan membaca ‘– CERPEN KOMPAS PILIHAN: CINTA DI ATAS PERAHU CADIK’

– EKSPERIMENTASI DALAM CERPEN INDONESIA

Oleh Agus Noor

Pertumbuhan sastra berada dalam tegangan antara melakukan inovasi dan melanjutkan tradisi (literer) yang sudah tersedia. Begitu pun yang terjadi dalam pertumbuhan cerpen kita, yang ditandai dengan upaya pencarian atau ‘eksperimentasi’ untuk melakukan inovasi bentuk dan cara bercerita yang sudah ada, tetapi juga memiliki watak untuk ‘mempertahankan’ sekaligus melanjutkan bentuk dan cara bercerita yang sudah tersedia. Karena itulah, pertumbuhan cerpen kita memiliki benang merah pertumbuhan yang cukup kentara, simultan, sekaligus muncul pula upaya-upaya untuk melakukan inovasi atau eksperimentasi tema, bentuk, sampai gaya bercerita. Kita bisa menengok kecenderungan itu melalui kerangka periodisasi sastra yang kita kenal (dimana kita bisa melihat kecenderungan yang terjadi dalam cerpen kita pada periode waktu tertentu) untuk mengidentifikasi inovasi atau “eksperimentasi” apa saja yang dilakukan oleh para cerpenis kita. Lanjutkan membaca ‘– EKSPERIMENTASI DALAM CERPEN INDONESIA’

– ANUGERAH SASTRA PENA KENCANA: 20 CERPEN TERBAIK INDONESIA 2008

Pada saya datang satu surat, dari Panitia Anugerah Sastra Pena Kencana. Cerpen saya, ujar surat itu, terpilih sebagai 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008. Anugerah Sastra Pena Kencana, sebagaimana dinyatakan dalam surat, ialah penghargaan yang diberikan kepada cerpen-cerpen (dan juga puisi) yang telah dipublikasikan dalam satu kurun waktu lewat. Tahun 2008 merupakan kali pertama anugerah ini dilaksanakan, dan disebutkan rencananya akan diselenggarakan setiap tahun. Pada setiap tahun itulah, akan dipilih 20 cerpen (yang dianggap terbaik), dan 100 puisi (yang juga dianggap terbaik) yang terbit di media masa Indonesia. Pada penjurian kali ini, media masa yang menjadi sumber pemilihan ialah: Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, Republika, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Pontianak Pos, Lampung Pos, Fajar, Bali Pos.

Begitulah, para juri, yang komposisinya adalah Budi Darma (selaku ketua juri), Sapardi Djoko Damono, Apsanti Djokosujatno, Ahmad Tohari, Joko Pinurbo, Jamal D. Rahman, dan Sitok Srengene, memilih cerpen-cerpen dan puisi-puisi yang terbit di koran-koran itu, untuk disuling menjadi 20 Cerpen Terbaik dan 100 Puisi Terbaik.

Baiklah, tiada salah bila saya kutipkan satu frase yang ada dalam surat, untuk menjelaskan kenapa Anugerah Sastra Pena Kencana ini diadakan. “Tujuan penyelenggaraan anugerah ini antara lain untuk memberikan penghargaan… sebagai pengakuan kualitas akan karya cipta sastra”. Tentu, terdengar gagah. Tak apalah. Toh itu niat mulia. Sebagai seorang penulis, sesungguhnya saya tak terlalu antusias dengan hal-hal semacam itu. Bukan penghargaan berupa hadiah yang penting, tetapi penerimaan masyarakat pembaca itulah yang selalu menumbuhkan elan kreatif seorang penulis (setidaknya bagi saya) untuk terus meyakini dunia yang dipilihnya, bahwa apa yang dikerjakannya juga merangsang energi keatif orang lain, dan karena itu tidaklah terlalu merasa sia-sia.

Satu hal yang menarik dari Anugerah Pena Kencana ini, cerpen-cerpen (dan puisi-puisi) yang terpilih itu kemudian dibukukan (oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama), lantas para pembaca diberi kesempatan untuk memilih cerpen yang mereka sukai. Mungkin mirip-mirip Indonesian Idol, gitu lah – minus kirim-kiriman SMS kali. Secara tekhnis saya tak tahu persis, tetapi setelah dibukukan dan diterbitkan, panita akan memberi kesempatan kepada pembaca untuk memilih mana cerpen yang mereka sukai atau mereka anggap baik. Dari 20 cerpen dalam buku itu, akan dipilih 1 cerpen yang dianggap terbaik menurut para pembaca.

Saya menganggap hal itu menarik, karena saya memang percaya pada pembaca sastra kita, sebagaimana saya nyatakan sebelumnya. Karena di haribaan pembacalah, sesungguhnya dinamika sastra kita menemukan relevansinya. Apalagi ketika dunia sastra kita minus kehadiran kritikus sastra.

Apa yang telah dilakukan oleh PT. Kharisma Pena Kencana, sebagai penaja dan penyelenggara Anugerah Sastra Pena Kencana, tentu saja patut kita apresiasi. Apa yang telah dikerjakannya, dan apa yang diupayakannya dengan melibatkan pembaca, semoga akan semakin membuat pertembuhan sastra di negeri yang belum terlalu menghargai sastra ini menjadi lebih menyegarkan.

Selain saya, saya belum tahu, siapa saja penulis yang cerpen (atau puisi)-nya masuk Anugerah Sastra Pena Kencana. Jadi, saya pun belum tahu, karya-karya yang mana saja yang termaktub dalam buku 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008 yang akan terbit Februari 2008 ini.. Tapi saya bisa menyertakan di sini, cerpen saya, “Tentang Seseorang yang Mati Tadi Pagi” (di Koran Tempo Minggu, 8 April 2007), yang terpilih sebagai satu diantara 20 Cerpen Terbaik itu. Anda, bisa membaca selengkapnya cerpen tersebut berikut ini, dan siapa tahu Anda akan tergoda memilih cerpen ini sebagai cerpen terbaik: Lanjutkan membaca ‘– ANUGERAH SASTRA PENA KENCANA: 20 CERPEN TERBAIK INDONESIA 2008’

– Cerita yang Bergelut dengan Bahasa

Bila penyair menemukan bahasa, maka pengarang menciptakan sebuah dunia melalui bahasa. Dunia itu ialah dunia fiktif, dunia yang penuh dan utuh sebagai sebah fiksi. Maka, pengarang sesungguhnya bekerja dan bergelut dengan bahasa. Cara bercerita seorang pengarang pada akhirnya memang memperlihatkan cara pengarang itu memperlakukan bahasa dan bagaimana ia, secara “idiologis”, meyakini “bahasa cerita”-nya. Inilah yang akhirnya memperlihatkan orientasi estetis seorang pengarang. Apa yang diperlihatkan para cerpenis mutakhir Indonesia dalam memperlakukan bahasa, sesungguhnya bisa memberi tahu: ke mana sesungguhnya arah pertumbuhan cerpen kita. Bahwa cerita, pada akhirnya, mesti menjadi ekspresi naratif sekaligus juga menjadi wacana yang menyediakan keterlimpahan makna

agus-noor-blog-2.jpg
Pikiran-pikiran itu, menandai kajian Agus Noor tentang cerpen-cerpen Indonesia paling mutakhir, yang disampaikannya pada Konggres Cerpen Indonesia di Balikpapan, Oktober 2007 lalu. Agus Noor kemudian menyusun dan menuliskan kembali pikiran-pikirannya itu, sebagaimana selengkapnya berikut ini… Lanjutkan membaca ‘– Cerita yang Bergelut dengan Bahasa’


Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Oktober 2021
S S R K J S M
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Archives Files

Catagories of Files