– “Estetika Kekerasan”: Satu Periode Kepenulisan Agus Noor

Seseorang datang dengan banyak pertanyaan. Kami memang sudah berjanji, sore itu. Dan percakapan membawaku pada suatu periode kepenulisanku. Aku seperti kembali meniti waktu dan imaji. Harum kopi, uapnya yang hangat, percakapan-percakapan ringan, mendadak berbaur dengan lesatan kengerian yang pernah memenuhi mimpi dan jagaku. Dulu. Pada suatu waktu yang gelisah. Untuk itulah, aku mesti mengucapkan terimakasih pada Arwi, seseorang yang mengajakku bercakap-cakap sore itu. Ia, tiba-tiba, menyodorkan buku lamaku, Memorabilia, yang saya sendiri sudah tak punya copy-nya.

Darinya pula, satu artikel lama yang ditulis oleh Prof. Dr. Bakdi Soemanto, SU., bisa kubaca kembali. Meski aku termasuk orang yang senang menyimpan kenangan, terus terang, aku bukanlah orang yang rapi menyimpan catatan, arsip atau foto-foto lama dan sejenisnya. Karenanya, aku merasa benar-benar beruntung, ketika Arwi memperlihatkan catatan yang ditulis Pak Bakdi – begitu aku biasa memanggil – Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada itu, ketika membahas kumpulan cerpen Memorabilia-ku.

Aku sering menyebut periode ini sebagai periode eksplorasi untuk menghadirkan apa yang sering kusebut sebagai “estetika kekerasan”. Atau suatu konvensi “estetika mual”, seperti dikatakan Bakdi Soemanto dalam tulisannya itu. Estetika kekerasan dan memualkan seperti itu, memang memiliki akar yang cukup lama dalam sastra kita. Sejak Rendra, bahkan Chairil Anwar sebelumnya. Seperti yang ditulis Bakdi Soemanto ini: “…hal-hal yang ‘memualkan’ sesungguhnya punya sejarah yang cukup panjang daam sastra Indonesia. Akan tetapi, pada cerpen-cerpen Agus Noor ini, barang-barang yang menjijikkan itu didudukkan sebagai foreground, bahkan sebagai pusat perhatian!”

memo2-wp.jpgItulah periode kepenulisanku yang sering ditandai dengan pergulatan tema absurdisme dan surealisme, dengan pemerian narasi yang dipenuhi imaji kekerasan dan kekejaman. Itu memang sebuah zaman yang penuh kengerian, sesuatu yang sesungguhnya terus menyelusup dalam alam bawah sadarku, dan juga alam sadarku. Seperti sore itu, ketika menikmati kopi dengan Arwi, saat menguar aroma kopi yang lembut: aku seperti mencium aroma daging manusia terbakar yang legit dan gurih. Sore menjadi lebih indah, dan ganjil. Arwi, lelaki yang andai saja aku perempuan pasti akan membuatku jatuh cinta, seperti hantu gosong yang muncul dari masa lalu. Mengingatkanku pada cerita-cerita dalam Memorabilia. Sebuah periode kepenulisanku yang dengan bagus telah dipaparkan oleh Bakdi Soemanto dalam tulisannya berikut ini…

Catatan Kucil untuk Menghantar:
Tulisan ini pertama kali disampaikan ketika berlangsung diskusi buku Memorabilia, di Lembaga Indonesia Perancis, Yogyakarta, 29 November 1999. Untuk keperluan blog ini, tulisan tersebut disunting kembali, tanpa mengubah substansi pikiran atau pandangan-pandangan di dalamnya.

“… PERHAPS ONLY THOSE HORRIBLE THING
WOULD BE OF MEMORABILIA”i
Oleh Prof. Dr. Bakdi Soemanto, SU.

KUMPULAN cerpen Memorabilia karya Agus Noor, memuat 15 cerita. Cerpen “Dongeng buat Pussy (Atawa: Nightmare Blues)”, langsung menarik perhatian saya. Pada cerpen ini dikisahkan seorang Nenek diminta mendongeng kepada Pussy. Lalu, mendongenglah Nenek itu. Dalam dongengnya, Nenek menyebut ada seorang Putri yang memelihara kucing, yang namanya juga Pussy. Dongeng yang diminta Pussy berjudul Gracchus Sang Pemburu. Ternyata, dongeng ini adalah sebuah cerita pendek karangan Frans Kafka. Mengapa tidak dipilih dongeng lain, misalnya The Nightingale and The Rose karya Oscar Wilde yang lebih mirip cerita untuk anak-anak?

Barangkali, pilihan pada cerita pendek karangan Kafka itu bukanlah suatu kebetulan. Karena cerpen-cerpen dalam Memorabilia ini memang mirip dengan cerpen-cerpen Kafka, yakni tak hanya bergaya surealistik, tetapi yang lebih penting lagi: horrible, menakutkan. Oleh karena itu, untuk sementara saya melihat bahwa komentar tentang Kafka tampaknya bisa digunakan modelnya untuk mengomentari cerpen-cerpen dalam kumpulan ini.

Karena saya kurang terbiasa membaca cerpen-cerpen Kafka, kecuali untuk kepentingan penelitian lakon-lakon absurd, maka tatkala saya menikmati cerpen-cerpen dalam Memorabilia ini, saya merasakan mual. Akan tetapi timbul gagasan dalam benak saya: jangan-jangan, “mual” dan mau “muntah” yang saya rasakan itu adalah aspek pragmatikii cerpen-cerpen ini, yang (justru!) harus mendapat perhatian.

Jika dugaan itu benar, dapatlah dikatakan bahwa cerpen-cerpen Agus Noor ini ditulis dengan konvensi estetika yang merebak dalam banyak karya seni pada akhir-akhir ini, seperti: teater, seni rupa, fiksi, puisi, bahkan beberapa lirik dalam nyanyian. Pada pentas Teater Mandiri, orang menikmati teror mental melalui lakon-lakon Putu Wijaya. Lukisan Djoko Pekik, sketsa-sketsa Semsar Siahaan, patung-patung keramik Girindra (anjing kurus), juga merangsang kemualan. Begitu pula puisi-puisi sosial Rendra. Bahkan jauh sebelum konvensi “estetika mual” itu merebak di Indonesia, ada satu puisi Rendra, yang berjudul Nyanyian Angsa, yang ditulis di Amerika pada akhir 1960-an, sudah menunjukkan hal itu: bagaimana borok sipilis berada di kelek dan di kelangkangan, dan bagaimana pula nanahnya meleleh. Barang-barang yang menjijikkan seperti ini juga sudah disebut-sebut Chairil Anwar pada tahun 1940. Dengan kata lain, sesungguhnya hal-hal yang “memualkan” sesungguhnya punya sejarah yang cukup panjang dalam sastra Indonesia.

Akan tetapi, pada cerpen-cerpen Agus Noor ini, barang-barang yang menjijikkan itu didudukkan sebagai foreground, bahkan sebagai pusat perhatian! Yang lebih menarik, kumpulan cerpen ini diberi judul Memorabilia (sebuah istilah bahasa Inggris tingkat post-advanced), yang artinya hal-hal yang berharga untuk dikenang. Jika secara statistik lebih dari 95% cerpen dalam kumpulan ini “bermain-main” dengan hal-hal yang memualkan perut, tidakkah judul itu memberi sasmita, setidaknya kepada saya, bahwa hal-hal yang memualkan dan menjijikkan itulah yang sekarang ini pantas dikenang sebagai sesuatu yang berharga.

Memang, fiksi dengan sajian-sajian yang memualkan ini bukanlah yang pertama. Akan tetapi, eksplisitas penegasan bahwa yang menjijikkan itu sesuatu yang pantas dinikmati, mungkin baru Agus Noor yang melakukan. Oleh karena itu, jika cerpen dalam Memorabilia ini tidak bisa disebut sebagai pelopor dalam hal “estetika muntah-muntah”, maka sulit dielakkan untuk tidak menyebut bahwa cerpen-cerpen Agus Noor ini adalah perumus estetika gaya muntah-muntah itu.

HAMPIR semua cerpen dalam kumpulan ini menyentuh soal mayat, penggorokkan, pembunuhan, darah, dan sebangsa kekerasan. Bahkan, cerpen “Kupu-kupu di Bawah Sepatu” yang dimulai dengan cerita indah tentang orang yang menjilma kupu-kupu, akhirnya ketemu juga dengan bakar-bakaran. Cerpen “Keluarga Bahagia” berkisah tentang ‘kebahagiaan’ dengan ukuran yang sama sekali tidak biasa, ukuran kekerasan juga. Apalagi cerpen “Anak Ayah”, yang dengan sangat eksplisit mengisahkan seorang ayah yang mengidamkan anaknya menjadi…: bajingan. Tampaknya, hanya profesi itulah yang berharga untuk suatu zaman ketika harapan adalah sebuah dosa, seperti disebut dalam nyanyian, “to wait for love will be a sin”. Pada akhir cerpen “Anak Ayah”, bahkan dikisahkan si anak memenggal kepala bapaknya sebagai manifestasi kebesaran:

Bagaimana pun, sebagai anak ayah, aku ingin mengenang Ayah bukan sebagai binatang hina, yang melata untuk kehormatannya. Aku ingin menyimpan kenangan tentang Ayah sebagai raksasa. Hingga, kelak, bila aku punya anak, aku bisa dengan bangga bercerita pada mereka: “Kakekmu adalah raksasa perkasa, yang mati terhormat dipenggal anaknya….

Sebagai pecinta sastra, kita pasti ingat sajak naratif Ballada Atmo Karpo, karya Rendra, yang kurang lebih berakhir mirip seperti itu. Dilihat secara intertekstualitas, ballada ini dan cerpen Agus Noor menunjukkan gayutan. Berada dalam jagat pikir yang sama, suatu collective mind yang mempertemukan berbagai karya bahkan yang tidak sejaman. Namun masing-masing dengan semangat sendiri-sendiri. Ballada jelas berangkat dari folklore, yang oleh Rendra disebut sebagai salah satu sumber ilhamnya.iii

Sedangkan cerpen-cerpen Agus Noor lahir dari zaman yang menghalalkan kekerasan. Bahkan, ketika kekerasan menjadi komoditi perdagangan, yang dijual melalui film-film laga dan lewat aplikasi tingkat bawah oleh permainan politik elit, sebagaimana yang terjadi di banyak kota sejak awal krismon hingga sekarang. Ini sangat tampak pada cerpen “Mawar, Batu, Kaca yang Pecah, Badak-Badak…” Pada cerpen ini, dilukiskan kekerasan yang dilakukan terhadap saudara-saudara kita Tionghoa, dengan cara memecah kaca toko, membakari mobil, menjarah barang-barang, hingga mereka mengungsi.

Jelaslah, cerpen-cerpen dalam Memorabilia adalah potret zaman ini, suatu zaman yang oleh Walter Benjamin disebut sebagai era yang melihat “kekerasan sebagai seni”.iv Dan kita, yang menyaksikannya, akan menggumam bahwa ternyata idiom-idiom seni apa pun senantiasa diambil dari yang sudah tersedia dalam hidup sehari-hari. Dan itu bisa berupa kekerasan dan kekejaman.

Kekerasan yang Agus Noor sajikan pada cerpen-cerpennya, hampir semuanya bergaya reflektif dan bukan sembarang narasi. Gaya reflektif itu, terkadang tampak sangat berhasil. Seperti yang ini:

Pagi menerobos jendela, menebar kehangatan. Mata Pitaya perlahan membuka, silau oleh cahaya pagi, seperti rekah sekuntum melati. Menggeliat, jengah mendapati selapis hari terbaring di piring roti. Sunyi itu masih tercium juga, membuat ujung-ujung jarinya menggigil penuh kecemasan. Gorden yang terbuka, tergantung dingin seperti kulit binatang buruan tengah dikeringkan. Ia lupa menutupnya semalam. Dari ruang sebelah, seseorang bernyanyi dengan suara angsa digorok: my days are just an endless deram of emptiness… Seakan muncul dari kegelapan yang jauh. Kraakkk!!! Berhentilah memekik – Pitaya ingin berteriak, tapi tak ada suara. Lambungnya eneg. Usia tua yang celaka.

Ketika berkisah tentang aksi kekerasan terhadap saudara-saudara Tionghoa kita, Agus Noor menunjukkan kepiawaiannya sebagai cerpenis, juga mampu menyentuh ‘kesadalan dalam’ secara lembut tetapi menggigit:

Kuceritakan ketakutanmu, tetapi tak ada kenalan mau membuka pintu untukmu. Apakah kamu memang telah benar-benar menjadi sebuah ancaman? Rasa bersalah tak cukup untuk sebuah persahabatan. Sebagaimana dulu kita ditolak oleh masjid dan gereja, karena warna kulit dan keyakinan kita.

Walaupun yang diungkapkan sangat fisik dan aktual, yakni masalah rasialisme, namun gaya yang digunakannya sangat puitis, sehingga masalahnya bukan lagi sekedar persoalan ras, tetapi martabat manusia. Gaya puitis seperti itu, dalam satu cerita, tidak dipertahankan konsisten. Gaya itu bisa berubah menjadi sangat langsung, lugas dan brutal.

Tiadanya konsistensi ini, secara keutuhan karya, bisa dipandang sebagai kelemahan, akan tetapi juga sebagai kekuatan. Saya memilih yang kedua, walau pun juga terganggu oleh yang pertama. Kekuatannya bisa lebih mengaduk-aduk perasaan mual pembaca. Karena cerita-cerita Agus Noor dalam buku ini mencoba melihat dunia secara jungkir balik, sebab kenyataan yang kita hadapi memang sedang jurkir balik. Logika biasa tidak mungkin bisa memahami “fenomena jungkir balik” ini. Hanya apabila kita juga menjungkirkan diri, barulah jelas.

Tetapi, kita toh tak mungkin menjungkirkan diri. Kita masih ingin wajar-wajar saja. Tatkala pikiran wajar kita berhadapan dengan logika jungkir balik, dalam relasi kita dengan lingkungan yang jungkir balik itulah, tercipta the logic of absurdum. Melalui cerpen-cerpennya, Agus Noor telah mengkonstruksi suatu jagat yang jungkir balik, yang norma-normanya lain dari yang selama ini kita kenal. Berbeda dengan Vladimir dan Estradon (dalam Menunggu Godod Beckett) serta Hamm dan Clov (dalam Endgame Beckett) yang tertindih oleh waktu yang berheni serta dikepung bahaya yang menindih dan menjepit, tokoh-tokoh dalam cerpen Agus Noor justru aktif ikut menciptakan logika absurd itu.

Pitaya, dalam cerpen “Akuarium”, misalnya, mengawetkan jenazah istrinya dalam rendaman air raksa dalam akuarium. Itu pun atas anjuran seorang dokter. Winarti, dalam cerpen “Sepotong Bibir di Jalan Raya”, berinisiatif menyimpan bibir yang ditemukannya di jalan, lalu, walau pun mencoba menolak masuk ke dalam bibir yang membesar itu, Winarti akhirnya lenyap untuk selama-lamanya. Seorang ayah dengan semangat tinggi mendidik anaknya menjadi bajingan. Dan dalam “Keluarga Bahagia”, Si Campa sengaja menikahi tengkorak dan tulang belulang yang ditemukannya di antara sampah-sampah.

Kebanyakan tokoh-tokoh dalam cerpen-cerpen itu, paling sedikit, bukan gambaran manusia pasif. Akan tetapi, dibalik inisiatif yang dimiliki tokoh-tokoh itu, terkadang juga tampak bahwa sebenarnya mereka tidak berdaya. Misalnya contoh pada cerpen “Mawar, Batu, Kaca yang Pecah, Badak-Badak…” berikut ini:

Malam di jendela. Kubiarkan kamu menyimpan tubuhmu dalam selimut, mengubur ketakutanmu dalam tidur. Waktu seperti balok-balok es, membeku, membuatku jadi ragu apakah aku benar-benar bisa menolongmu dari ketakutan ini? Tentu, aku masih mencintaimu, kekasihku. Meski impian itu sudah aku damaikan. Mungkin benar seperti katamu, aku seorang peragu. Tak pernah bisa dengan tegas memutuskan sesuatu. Tak sepertimu, yang bisa dengan yakin menolak mengganti namamu. Bukan karena kamu menolak pembauran, tetapi karena mengganti nama tidaklah segampang seperti ganti baju: mengganti model lama dengan yang baru.

Kutipan itu menunjukkan bahwa si perempuan memiliki ketegaran untuk tetap mempertahankan nama aslinya. Akan tetapi, ia juga ketakutan. Si ‘aku’ kemudian juga semakin ketakutan tatkala muncul badak-badak, yang mengingatkan orang akan sebuah lakon absurd karya Ionesco, Rhenoceros. Ini menunjukkan bahwa situasi absurd dalam cerpen ini muncul pertama-tama karena keadaan yang menindih. Logika si perempuan sipit-kuning dan si ‘aku’ yang masih jernih, dipaksa untuk memahami keadaan yang tidak logis. Keadaan atau situasi ketertindihan inilah yang secara keseluruhan mewarnai kebanyakan cerpen-cerpen dalam buku ini. Jelasnya, ketika tokoh-tokoh itu tidak berdaya menghadapi tekanan keadaan, satu-satunya pilihan adalah ikut menjadi gila.

BAGI saya, membaca karya sastra tak hanya menikmati cerita dan merekonstruksi konsep-konsep estetiknya. Akan tetapi, yang barangkali jauh lebih penting adalah menikmati suasananya, yang oleh para ahli sastra biasanya disebut tone dan atmosphere. Dua hal itulah yang juga bisa menunjukkan kepiawaian seorang penulis: apakah ia sudah mampu mengolah bahasa kata menjadi medium yang melampaui nalurinya sebagai bahasa verbal, yang kekuatan pokoknya menerangjelaskan. Sebab, tatkala penulis fiksi sudah bisa menyuguhkan suasana, seperti keberhasilan Hemingway dalam novelnya yang legendaris The Old Man and The Sea, Saul Bellow dalam Herzog, Marques dalam One Hundred Year of Silitude, Kawabata dalam Thousand Cranes, Pramudya Ananta Toer dalam Bumi Manusia, Umar Kayam dalam Secangkir Kopi dan Sepotong Donat, Andre Gide dalam La symphonie pastoral, maka objek yang dikisahkan bukan lagi cerita tentang sesuatu, tetapi sesuatu atau peristiwanya itu sendiri bergerak dan hidup sendiri.

Cerpen-cerpen Agus Noor dalam Memorabilia ini menunjukkan potensi itu. Tapi belum sepenuhnya. Terutama tatkala ia membicarakan mayat dan adegan-adegan lain yang mengerikan. Barangkali ini memang proses kepenulisan Agus Noor yang saya kira memang masih panjang, dan masih memiliki kesempatan untuk berlatih terus dengan pilihan gayanya, di samping proses pengendapan dan kematangannya sebagai seorang pengarang, pengendapan pengalaman dan bacaan. Ini contoh kecil dari cerpen “Keluarga Bahagia”:

Selamat Tuan Campa,” bidan Nemea berkemas. “Kalian telah melahirkan sekawanan mahkluk paling menjijikkan di dunia. Sekali lagi, selamat…”

Tatkala kata “menjijikkan” ini diucapkan, diverbalkan, maka secara pragmatik, yang menjijikkan itu tinggal hal yang diceritakan, dan bukan hadir sendiri. Di samping itu, sajiannya menjadi prosais. Padahal, Agus Noor memiliki kekuatan luar biasa untuk menyajikan gambaran keserakahan, kerakusan, tanpa menyebut kata rakus atau serakah sekalipun. Di bawah ini sebuah contoh:

Kubopong isteriku ke puncak piramida. Sambil menyelonjorkan kaki, kami amati seratus anak kami yang terus berlolongan, berhamburan menyerbu kota bagai segerombolan serigala. Dengan cepat mereka tumbuh sebesar gajah. Mereka rebut semua mainan anak-anak yang tengah bercengkerama di taman kota, menyerobot makanan dan minuman anak-anak itu, memukuli penjual es krim dan merebut tongkat para lansia atau mendorong kursi roda orang-orang jompo sampai erguling masuk selokan. Mereka serang gadis-gadis berkaki indah merangsang yang lalu-lalang di mall, mereka gasak dan mereka hisap tetek perempuan hingga kering dan gosong…

Mungkin, inilah tantangan penulis fiksi tatkala ia melihat bahwa sekedar bercerita atau mendongeng saja tidak cukup, tanpa menghadirkan suasana. Tuntutan akan ‘suasana’ semakin penting tampaknya, terutama ketika fiksi (yang merupakan perkembangan dari epik) harus menghadirkan (bukan menceritakan) peristiwa itu sendiri, suatu hal yang hanya dengan gampang dilakukan kalau memanfaatkan medium non-verbal.

Tuntutan akan hadirnya peristiwa (bukan menceritakan peristiwa) menjadi mendesak karena cerpen-cerpen Agus Noor memerlukan jalan pikiran yang tidak linear, tetapi loncatan-loncatan dai jagat inderawi ke jagat refleksi, dan sebaliknya. Alurnya pun butuh tak linear, untuk mengakomodasi loncatan kesadaran antara masa lalu, kini dan nanti. Sebab dunia yang dihadapi Agus Noor adalah jagat baru, yang dengan gampang orang bisa melanglang buana tanpa kemana-mana, yakni dengan fasilitas telepon, televise, radio atau internet. Dengan ringkas bisa dikatakan, dengan satu hentakan orang bisa di mana-mana secara sekaligus. Cerpen-cerpen dalam kumpulan ini, antara lain, telah menjawab tantangan itu.

Saya ingin mengakhiri tulisan sederhana ini dengan satu kutipan, sekadar untuk juga memberi gambaran, betapa fiksi dengan gaya surealistik sesungguhnya sudah cukup lama dikenal, dan sesungguhnya masih memiliki banyak peluang untuk dikembangkan, sebagaimana mini-story karangan Daniil Ivanovich Kharms, yang biasa dipanggil Yuvachev, ini:

Blue Notebook No. 10

There once was a red-haired man who had no eyes and no ears. He also had no hair, so he was called read-haired only in a manner of speaking. He wasn’t able to talk, because he didn’t have a mouth. He had no nose either. He didn’t even have any arms or legs. He also didn’t have a stomach, and didn’t have a back, and he didn’t have a spine, and he also didn’t have any other insides. He didn’y have anything. So it is hard to understand whom we’re talking about. So we’d better not talk about him anymore? v

Cerpen mini itu berhasil memanfaatkan bahasa verbal untuk menerjelankan sesuatu dalam rangka tidak bercerita apa-apa. Keadaan depressing yang terjadi di Rusia di bawah Stalin tampaknya yang mendorong lahirnya fiksi-fiksi absurd gaya Rusia. vi Adakah situasi depressing yang terjadi di Indonesia juga akan memunculkan fiksi serupa itu?

Catatan:

i Frasa ini pada mulanya sebuah frasa yang diambil dari makalah, “Franz Kafka and The Modern World”, tulisan Vladimir Makanin yang beredar secara tidak resmi di kalangan peserta seminar British Writers yang diselenggarakan di Cambridge, (Juli, 1995)
ii Aspek pragmatik di sini dimaksudkan hubungan karya dan pembaca. Untuk jelasnya, bisa diperiksa diagram yang ditawarkan oleh M.H. Abrams dalam bukunya The Mirror and The Lamp (New York: The Grove Press) hlm. 6.
iii “Rendra: Seni Tak Pernah Basi” dalam Gamma, No. 39 Th. I.21 Nopember 1999, hlm. 78-79.
iv Bakdi Soemanto, “Pandangan Walter Benjamin tentang Karya Seni pada Abad Reproduksi Mekanik” dalam gagasan-gagasan Teater Garda Depan (Yogyakarta: FKY-Taman Budaya) 1999, hlm. 1-15.
v Dick Penner (ed), Fiction of the Absurd: Pratfall in the Void, (Broadway, Signet Classics) 1980, hlm. 63.
vi Periksa juga cerpen-cerpen “Before The Law” Kafka; “The Visit to The Museum” Vladimir Nabkov; juga “The Nose” Nikolai Gogol; dan “The Old Woman” Daniil Kharms. Sebuah cerpen berbahasa Belanda yang juga absurd antara lain berjudul “Mevrouw Vochtig Okselen” karya Irine van Delden.

3 Responses to “– “Estetika Kekerasan”: Satu Periode Kepenulisan Agus Noor”


  1. 1 nadealdeol November 7, 2011 pukul 3:13 pm

    amazing sekali (woot)

  2. 2 Rena November 15, 2012 pukul 2:47 am

    Hi there! This post could not be written much better!

    Reading through this article reminds me of my previous roommate!
    He continually kept preaching about this.
    I most certainly will forward this article to him.
    Pretty sure he’ll have a good read. Many thanks for sharing!


  1. 1 HIKAYAT ANJING « Agus Noor_files Lacak balik pada Mei 14, 2008 pukul 6:35 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: