Posts Tagged 'Michel Foucault'

– RELASI KUASA DALAM CERITA

Ini tulisan karya Devy Kurnia Alamsyah, yang atas kebaikannya dikirimkan pada saya. Tulisan ini merupakan pembahasan cerpen saya “Tiga Cerita Satu Tema” yang merupakan salah satu cerpen yang termuat dalam kumpulan cerpen berjudul “Potongan Cerita di Kartu Pos”. Cerpen ini menjadi pintu masuk untuk pembahasaan mengenai  relasi kekuasaan melalui analisis wacana yang didasarkan kepada relasi pengetahuan/kekuasaan Michel Foucault. Atas kebaikan Devy, saya diijinkan untuk mengunggahnya di blog ini. Saya hanya melakukan sedikit pengeditan, agar pada bagian awal tak terlalu panjang. Selebihnya, saya membiarkannya utuh. Bagi yang ingin kenal Devy Kurnia Alamsyah dan berdiskusi lebih lanjut, mungkin bisa menghubunginya melalui jejaring facebook, darimana saya juga mengenalnya. Sekali lagi, terimakasih untuk Devy, dan selamat membaca.

Relasi Kekuasaan dalam “Tiga Cerita Satu Tema”

Oleh: Devy Kurnia Alamsyah

“Bila orang menelusuri sejarah umat manusia yang panjang dan kelabu, orang akan menemukan bahwa lebih banyak kejahatan yang menjijikkan yang dilakukan atas nama kepatuhan daripada atas nama pembangkangan.”

–          C.P. Snow

Lanjutkan membaca ‘– RELASI KUASA DALAM CERITA’

– Seni yang Menemukan Manusia

Sebuah forum yang kecil dan intim. Aih, betapa meneduhkan suasana obrolan dalam forum semacam itu. Rasanya, itulah yang kini langka dalam dunia seni kita. Diskusi-diskusi yang terjadi dalam dunia seni kita belakangan ini, selalu berlangsung dalam tensi tinggi. Aroma kecurigaan, dan saling silang sengkarut kecurigaan membuat pertukaran pikiran lebih diwarnai nada pertengkaran dengan argumen-argumen yang kadang menggelikan dan penuh kemarahan. Oleh itulah, saya selalu males muncul ke acara-acara diskusi sastra, misalnya. Saya lebih suka sembunyi dalam sunyi. Bila pun saya diminta dateng, saya selalu menginginkan forum diskusi yang ibarat rumah, ia rumah yang bersih terang dan tenang. Diskusi, yang dihadiri sedikit orang yang memang memiiki minat dan intensitas yang sama atas tema yang akan dibicarakan.

Ketika beberapa teman datang dan mengajak saya diskusi, saya pun memprasaratkan itu. Maka berlangsunglah obrolan intim dan intens seputar pertanyaan: apa yang masih bisa dilakukan oleh sastrawan atau seniman di zaman ini? Zaman, di situ, tentu saja mengacu pada situasi kekinian di mana pengarang hidup dan tumbuh. Ah, pertanyaan itu, tiba-tiba mengusik saya: untuk apakah saya menulis ditengah zaman seperti ini? Adakah memang benar zaman ini masih membutuhkan kehadiran seorang penulis? Apa relevansi karya-karya itu bagi masyarakat kita? Esai berikut, yang saya tuturkan dalam obrolan hangat itu, barangkali bisa memperlihatkan kegelisahan saya saat ini, berkaitan dengan sikap kepengarangan saya… Lanjutkan membaca ‘– Seni yang Menemukan Manusia’


Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Oktober 2021
S S R K J S M
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Archives Files

Catagories of Files