Posts Tagged 'Memorabilia'

– CERITA TENTANG OTOK

Ini prosa lama saya, yang terhimpun dalam buku Memorabilia. Saya postingkan di sini, karena buku itu sudah sulit didapat. Prosa ini setidaknya bisa memberi sedikit gambaran “seperti apa orientasi estetis kepenulisan saya” pada periode Memorabilia itu. Salam, Agus Noor

GERIMIS megiris kesunyian. Tiris. Otok rebahan di amben, mencoba menikmati keletik atap seng, seperti musik gaib yang membuatnya ditangkup rasa kantuk. Sementara dari kejauhan suara kucing kedinginan sayup mengeram, membuatnya membayangkan seseorang yang penat dan gelisah ingin bersetebuh. Situasi seperti ini —  sore dengan gerimis riwis-riwis sementara hawa panas masih menguar berkitaran dalam kamar — memang gampang membuat orang berpikiran mesum. Otok jadi ingat Atun. Alangkah enaknya kalau ada Atun. Ia bisa kelon. Mengirup bau keringatnya yang apak, tapi selalu membuatnya terangsang. Belakangan ini Atun memang sudah jarang mampir. Otok dengar, dia mulai gandeng bareng Solihan. Hubungannya dengan Atun memang mulai dipenuhi pertengkaran. Atun kerap mendesaknya untuk segera menikah, padahal ia masih merasa belum siap. Apakah orang pacaran memang mesti menikah? Ah, sebodo amat dengan Atun! Mau kawin, kawinlah sono. Bikin anak sebanyak-banyaknya kayak marmut. Nggak perlu mikir mau jadi apa mereka kelak. Lanjutkan membaca ‘– CERITA TENTANG OTOK’

– DUNIA SERENA

gambar3

GEMERINCING kereta membawa Serena ke Negri Hesperida. Dua belas kuda berbulu putih melesat menembus pilar-pilar cahaya matahari yang menyemburat celah-celah awan, meniti lengkung pelangi. Lalu, dari langit yang gemerlapan dan penuh nyanyian, muncullah peri-peri mungil bersayap bening, membawa keranjang penuh bunga aneka rupa.

“Selamat datang, Serena… Selamat datang….” Lanjutkan membaca ‘– DUNIA SERENA’

– HIKAYAT ANJING

Cerpen Agus Noor

IBU adalah anjing.

Dengarlah, ia selalu mengeram dan menggonggong. “Ambilkan kutang Ibu, anak anjing! Cepat!” Kau dengar, ia memanggilku ‘anak anjing’, selalu, sambil menyemprotkan ludahnya yang kental bacin ke mukaku. Kau pasti tahu, anak anjing dilahirkan anjing. Yeah, setidaknya aku tidak pernah dengar ada manusia beranak anjing. Jadi, kalau aku anjing, Ibu pasti juga anjing.

Pun lihatlah cara Ibu makan: kedua kakinya ngangkang di atas meja, mendengus nanar, kemudian menyorongkan mulutnya ke piring. Dalam sekejap, nasi basi itu tandas dijilat lidah merah panjang Ibu. Dan selalu, setelah itu, Ibu langsung kencing ke piring, dengan satu kaki terangkat nungging. Lantas, glek glek glek, lahap menenggak. Aku selalu terpukau oleh kesopanan itu. Sementara Ibu hanya menyeringai dengan sisa kencing menetes-netes di sela moncongnya.

Ibu memang anjing. Hanya anjing yang berkelamin dengan sembarang laki-laki. Hampir setiap malam Ibu berkelamin dengan puluhan laki-laki, berganti-ganti. Dari tampang yang kucel berjambang dan mesum, semua laki-laki yang datang malam-malam ke kamar Ibu, pastilah anjing juga. Kalau toh mereka manusia, aku yakin, pada dahulu kala — sebelum bereinkarnasi jadi manusia — para laki-laki itu mestilah hidup sebagai anjing. Anjing kawin dengan anjing, kukira memang jamak. Lanjutkan membaca ‘– HIKAYAT ANJING’

– BOUQUET

Cerpen Agus Noor

BESOK Mona ulang tahun. Otok ingin memberinya hadiah istimewa. Sesuatu yang bisa mengungkapkan betapa ia sangat mencintainya. Sudah sepuluh tahun mereka menikah, ditambah enam tahun masa pacaran, tetapi Otok selalu tak peduli pada tetek bengek perkara ulang tahun. Baik ulang tahun Mona, lebih-lebih ulang tahun dirinya. Bila diundang pesta ulang tahun, Otok bahkan mencibir: ngapain pakai pesta segala. Ia selalu tak habis pikir, kenapa orang mesti memperingati hari kelahirannya. Pakai pesta lagi. Bukahkah mestinya kita menyesali kelahiran kita di dunia yang begini celaka?! Lanjutkan membaca ‘– BOUQUET’

– “Estetika Kekerasan”: Satu Periode Kepenulisan Agus Noor

Seseorang datang dengan banyak pertanyaan. Kami memang sudah berjanji, sore itu. Dan percakapan membawaku pada suatu periode kepenulisanku. Aku seperti kembali meniti waktu dan imaji. Harum kopi, uapnya yang hangat, percakapan-percakapan ringan, mendadak berbaur dengan lesatan kengerian yang pernah memenuhi mimpi dan jagaku. Dulu. Pada suatu waktu yang gelisah. Untuk itulah, aku mesti mengucapkan terimakasih pada Arwi, seseorang yang mengajakku bercakap-cakap sore itu. Ia, tiba-tiba, menyodorkan buku lamaku, Memorabilia, yang saya sendiri sudah tak punya copy-nya.

Darinya pula, satu artikel lama yang ditulis oleh Prof. Dr. Bakdi Soemanto, SU., bisa kubaca kembali. Meski aku termasuk orang yang senang menyimpan kenangan, terus terang, aku bukanlah orang yang rapi menyimpan catatan, arsip atau foto-foto lama dan sejenisnya. Karenanya, aku merasa benar-benar beruntung, ketika Arwi memperlihatkan catatan yang ditulis Pak Bakdi – begitu aku biasa memanggil – Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada itu, ketika membahas kumpulan cerpen Memorabilia-ku.

Aku sering menyebut periode ini sebagai periode eksplorasi untuk menghadirkan apa yang sering kusebut sebagai “estetika kekerasan”. Atau suatu konvensi “estetika mual”, seperti dikatakan Bakdi Soemanto dalam tulisannya itu. Estetika kekerasan dan memualkan seperti itu, memang memiliki akar yang cukup lama dalam sastra kita. Sejak Rendra, bahkan Chairil Anwar sebelumnya. Seperti yang ditulis Bakdi Soemanto ini: “…hal-hal yang ‘memualkan’ sesungguhnya punya sejarah yang cukup panjang daam sastra Indonesia. Akan tetapi, pada cerpen-cerpen Agus Noor ini, barang-barang yang menjijikkan itu didudukkan sebagai foreground, bahkan sebagai pusat perhatian!”

memo2-wp.jpgItulah periode kepenulisanku yang sering ditandai dengan pergulatan tema absurdisme dan surealisme, dengan pemerian narasi yang dipenuhi imaji kekerasan dan kekejaman. Itu memang sebuah zaman yang penuh kengerian, sesuatu yang sesungguhnya terus menyelusup dalam alam bawah sadarku, dan juga alam sadarku. Seperti sore itu, ketika menikmati kopi dengan Arwi, saat menguar aroma kopi yang lembut: aku seperti mencium aroma daging manusia terbakar yang legit dan gurih. Sore menjadi lebih indah, dan ganjil. Arwi, lelaki yang andai saja aku perempuan pasti akan membuatku jatuh cinta, seperti hantu gosong yang muncul dari masa lalu. Mengingatkanku pada cerita-cerita dalam Memorabilia. Sebuah periode kepenulisanku yang dengan bagus telah dipaparkan oleh Bakdi Soemanto dalam tulisannya berikut ini… Lanjutkan membaca ‘– “Estetika Kekerasan”: Satu Periode Kepenulisan Agus Noor’

– Membaca Cerpen-cerpen Agus Noor

Ini satu esai yang ditulis oleh kritikus sastra Sudarmoko, alumnus Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang. Ia kemudian melanjutkan sekolah di Department of Languages and Cultures of Southeast Asia and Oceania, Leiden University, atas beasiswa dari The International Fellowship Program – Ford Foundation. Koko, begitu biasa ia dipanggil, mempublikasikanbanyak tulisannya ke media massa lokal dan nasional. Selain itu juga menempuh proses kreatif sebagai pekerja teater. Barangkali, tulisan ini bisa memberikan satu gambaran seputar proses kreatif Agus Noor dan juga kecenderungan estetis yang dikembangkan dalam cerpen-cerpennya… Lanjutkan membaca ‘– Membaca Cerpen-cerpen Agus Noor’


Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Juli 2021
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Archives Files

Catagories of Files