Posts Tagged 'Matinya Toekang Kritik'

– MATINYA TOEKANG KRITIK DI ESPLANADE, SINGAPURA

death_edm

Matinya Toekang Kritik (Death of a Critic), monolog karya Agus Noor, akan dipentaskan oleh Butet Kartaredjasa di Esplanade Theatre Studio, Singapura, pada tanggal 12 Oktober 2009, mulai pukul 8 malam. Lakon satir politik perihal sosok tukang kritik ini akan dipentaskan dengan disertai subtitle bahasa Inggris yang dikerjakan oleh Landung Simatupang dan Jennifer Lindsay. Lakon ini memadukan kepiawaian seni peran Butet Kartaredjasa, kekritisan teks dan permainan multimedia, yang membuatnya menarik dari aspek content pertunjukan sekaligus effect visual. Kedua hal itulah, nampaknya yang membuat lakon monolog itu kemudian cukup relevan untuk merefleksikan realitas Indonesia pada satu sisi, dan memperlihatkan pencapaian artistik pertumbuhan teater pada sisi lain. Lanjutkan membaca ‘– MATINYA TOEKANG KRITIK DI ESPLANADE, SINGAPURA’

– MATINYA TOEKANG KRITIK

Tiga email masuk di akunku. Semua berkait dengan naskah lakon Matinya Toekang Kritik (MTK). Dua email memberitahu perihal niatan untuk melakukan studi telaah naskah, bagi kesarjanaan mereka. Dan satu email, mengabarkan tentang rencana menerjemahkan naskah lakon itu ke bahasa Inggris. Naskah lakon ini, sebenarnya sudah diterbitkan sebagai buku, tetapi (sebagaimana dikatakan dalam satu email itu) sulit untuk didapat. “Bisakah saya minta copy naskah itu?” tanyanya. Naskah MTK sebenarnya sudah di posting oleh Butet Kartaradjasa, dan bisa di lihat di blognya.

Agar sedikit beda, maka naskah lakon itu saya tulis kembali dengan gaya prosa. Dan saya turunkan di sini. Kenapa saya tulis ulang dengan gaya prosa? Agar lebih enak dibacanya. Format penulisan naskah lakon memang punya kaidah-kaidah, yang sebenarnya justru tidak menarik ketika dibaca sebagai teks. Kadang kita mendapati banyak “perkara tekhnis pemanggungan” di dalam naskah itu. Akibatnya, bagi awam, naskah lakon menjadi kurang familiar. Maka, saya tiba-tiba punya bayangan: bagaimana kalau naskah lakon itu saya tulis dengan gaya prosa? Sehingga pembaca bisa akrab karena ia seperti tengah membaca cerita (tetapi tetap juga bisa membayangkan pemanggungannya). Setidaknya, inilah upaya, agar naskah lakon pun bisa dinikmati ketika ia hadir (masih) berupa teks… Lanjutkan membaca ‘– MATINYA TOEKANG KRITIK’


Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Juli 2021
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Archives Files

Catagories of Files