Posts Tagged 'Kunang-kunang dalam Bir'

– KUNANG-KUNANG DALAM BIR

Ini adalah versi awal (original version) atau bisa juga disebut versi sebelum diedit, dari cerpen Kunang-kunang dalam Bir yang muncul di Kompas, 10 Oktober 2010. Tak banyak editing yang terjadi, sebenarnya, kecuali penggunaan beberapa kata yang disesuaikan untuk pembaca umum koran.

Cerpen ini, saya tulis bersama sohib saya, Djenar Maesa Ayu. Banyak yang kemudian bertanya, bagaimana kami menulis cerita itu? Sebagai catatan, ada beberapa cerpen yang telah berhasil kami simpan.

Begini. Kami menulis tanpa gagasan apa-apa atau merancang tema dan cerita, sebelumnya. Bagi saya pribadi, ini proses menulis yang lumayan unik. Kami sepakat ketemu. Membuka laptop. Kemudian mulai menulis. Tak ada diskusi: kita mau nulis apa, ceritanya apa, dan nanti bagaimana. Tidak ada. Kami langsung menulis. Terserah, siapa yang memulai membuat kata pertama. Pada cerpen Kunang-kunang dalam Bir, Djenar yang memulai kata pertama. Kemudian saya melanjutkan. Begitu seterusnya. Begitulah kalimat demi kalimat mengalir. Cerita mengalir. Kami tak merancangnya.

Proses menulis seperti itu, saya rasakan ibarat “permainan tinju”. Dimana kami saling melemparkan pukulan, jab, bahkan pukulan telak, dan yang lain mencoba menangkis, menghindari atau balik menyerang. Kami jadi saling memahami: setelah ini dia mau apa? Kalau saya memukul begini, bagaimana dia akan menghindari? Akan bergerak ke mana? Kalau saya bawa kesini, apa yang akan dilakukannya. Begitulah. Saya merasakan, hal itu juga sebagai proses yang saling memahami, menjengguk imajinasi masing-masing, menduga, dan memberi umpan, mengembangkan apa yang disodorkan. Hingga Kadang-kadang, sering, kami terkejut dengan cerita yang kami tulis: lho kok jadi gini?

Tapi kami tak boleh saling bantah. Tak boleh saling debat. Biarlah cerita itu berdebat sendiri. Tugas kami hanya menulis, menulis, mengembangkan imajinasi, merenung, sembari tentu saja menikmati rokok dan bir.

Proses itu bisa juga seperti proses orang pacaran yang tengah melakukan saling pemahaman. Seakan saya menjenguk dan memahami gaya menulis Djenar. Dan begitu juga sebaliknya. Saya membiarkan Djenar mengembangkan gaya dan imajinasinya, begitu juga sebaliknya. Dengan begitu kami mencoba meleburkan diri, tetapi tidak meninggalkan apa yang menjadi kecenderungan dari masing-masing kami. Atau, seperti pernah dikatakan Djenar di Twiter: karya itu menjadi seperti anak, yang di wajahnya orang akan mengenali raut wajah ayah ibunya.

Bagi saya, proses itu membuat saya (kembali) mememukan kegembiraan menulis. Sebagai sesuatu yang menyenangkan. Dan inilah  versi asli cerpen Kunang-kunang dalam Bir itu:

 

Lanjutkan membaca ‘– KUNANG-KUNANG DALAM BIR’


Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Oktober 2021
S S R K J S M
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Archives Files

Catagories of Files