Posts Tagged 'cerpen Agus Noor'

– ULAT BULU & SYEKH DAUN JATI

samadi

ADA kisah yang selalu diingat dengan gemetar oleh orang-orang kampung Jatilawang setiap menjelang Ramadhan. Bukan kisah tentang nabi-nabi. Tapi wabah ulat bulu.  Malapetaka bertahun lalu yang terjadi setelah pembantaian orang-orang yang dituduh komunis di kampung itu. Mereka mati dengan cara paling mengerikan. Ditangkap dan diseret ke pinggiran hutan jati, sebagian ditembak, digorok atau dihajar kepalanya hingga remuk dengan batang kayu jati. Tak ada anak yang tak menjadi yatim atau piatu setelah pembantaian itu. Kekejian memang tak pernah bisa dilupakan. Lanjutkan membaca ‘– ULAT BULU & SYEKH DAUN JATI’

– KURMA KIAI KARNAWI

KURMA KIAI KARNAWI

Cerpen Agus Noor

TUBUH orang itu menghitam — nyaris gosong — sementara kulitnya kisut penuh sisik kasar dengan borok kering. Mulutnya perot, seakan ada yang mencengkeram rahang dan lehernya. Ia terbelalak seolah melihat maut yang begitu mengerikan. Sudah lebih delapan jam ia mengerang meregang berkelojotan. Orang-orang yakin: dia terkena teluh, dan hanya kematian yang bisa menyelamatkan.

Kiai Karnawi, yang dipanggil seorang tetangga, muncul. Beliau menatap penuh kelembutan pada orang yang tergeletak di kasur itu. Kesunyian yang mencemaskan membuat udara dalam kamar yang sudah pengap dan berbau amis terasa semakin berat. Beberapa orang yang tak tahan segera beranjak keluar dengan menahan mual. Kiai Karnawi mengeluarkan sebutir kurma, dan menyuapkan ke mulut orang itu. Para saksi mata menceritakan: sesaat setelah kurma tertelan, tubuh orang itu terguncang hebat, seperti dikejutkan oleh badai listrik. Lalu cairan hitam kental meleleh dari mulutnya, berbau busuk, penuh belatung dan lintah. Dari bawah tubuhnya merembes serupa kencing kuning pekat, seolah bercampur nanah. Seekor ular keluar dari duburnya, dan — astagfirullah — puluhan paku berkarat menyembul dari pori-pori orang itu. Lalu berjatuhan pula puluhan mur dan baut, potongan kawat berduri, biji-biji gotri dan silet yang masih terlihat berkilat. Orang itu mengerang panjang. Kiai Karnawi mengangguk ke arah yang menyaksikan, “Biarkan dia istirahat.”

Keesokan harinya, orang itu sudah bugar. Lanjutkan membaca ‘– KURMA KIAI KARNAWI’

– KELEPAK SAYAP JIBRIL

AKU tengah duduk di kafe di sebuah mall membunuh kejenuhan dengan secangkir cappuccino ketika sayup-sayup berdesir bunyi kelepak, lembut di telinga. Aku mendongak, melihat bayangan langit pada kubah kaca yang dipenuhi pohon-pohon kurma dan unta dengan kafilah di punggungnya, bergelantungan di besi-besi konstruksi yang dicat warna-warni. Kulihat unta-unta itu bergoyangan, bagai ada tangan yang menyentuhnya.

Kelepak itu! Jelas mendesir di sela keriuhan celoteh gadis-gadis, alunan lagu yang bersliweran dari tiap counter, jerit anak-anak minta mainan dan kemerosak HT satpam. Kelepak itu, kelepak itu, mengingatkanku pada Kakek, ketika suatu malam tergesa-gesa membangunkanku. Lanjutkan membaca ‘– KELEPAK SAYAP JIBRIL’

– BAYI BERSAYAP JELITA

Selamat beribadah puasa, bagi yang menjalankan. Cerpen ini, mungkin cocok dengan suasana Ramadan. Muncul di Jawa Pos, Minggu 15 Agustus 2010 ini. Saya menuliskannya dengan perasaan khidmat pada sastrawan Danarto. Teringat, saat saya menjenguknya, takala ia jatuh sakit kena serangan jantung. Saat melihatnya terbaring di rumah sakit, saya seperti menjenguk ke kedalaman kolam cerita yang bening dan hening. Dari sanalah inspirasi datang…

Lanjutkan membaca ‘– BAYI BERSAYAP JELITA’

– CERITA TENTANG OTOK

Ini prosa lama saya, yang terhimpun dalam buku Memorabilia. Saya postingkan di sini, karena buku itu sudah sulit didapat. Prosa ini setidaknya bisa memberi sedikit gambaran “seperti apa orientasi estetis kepenulisan saya” pada periode Memorabilia itu. Salam, Agus Noor

GERIMIS megiris kesunyian. Tiris. Otok rebahan di amben, mencoba menikmati keletik atap seng, seperti musik gaib yang membuatnya ditangkup rasa kantuk. Sementara dari kejauhan suara kucing kedinginan sayup mengeram, membuatnya membayangkan seseorang yang penat dan gelisah ingin bersetebuh. Situasi seperti ini —  sore dengan gerimis riwis-riwis sementara hawa panas masih menguar berkitaran dalam kamar — memang gampang membuat orang berpikiran mesum. Otok jadi ingat Atun. Alangkah enaknya kalau ada Atun. Ia bisa kelon. Mengirup bau keringatnya yang apak, tapi selalu membuatnya terangsang. Belakangan ini Atun memang sudah jarang mampir. Otok dengar, dia mulai gandeng bareng Solihan. Hubungannya dengan Atun memang mulai dipenuhi pertengkaran. Atun kerap mendesaknya untuk segera menikah, padahal ia masih merasa belum siap. Apakah orang pacaran memang mesti menikah? Ah, sebodo amat dengan Atun! Mau kawin, kawinlah sono. Bikin anak sebanyak-banyaknya kayak marmut. Nggak perlu mikir mau jadi apa mereka kelak. Lanjutkan membaca ‘– CERITA TENTANG OTOK’

– BUKU BARU AGUS NOOR + TANDA TANGAN PENULISNYA

Buku terbaru Agus Noor, Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (Bentang Pustaka, 2010) sudah terbit. Pingin dapat buku itu yang bertanda tangan penulisnya? Lanjutkan membaca ‘– BUKU BARU AGUS NOOR + TANDA TANGAN PENULISNYA’

– Cerpen Agus Noor di Pena Kencana 2010

Panitia Pena Kencana mengirim email, memberitahukan kalau cerpen saya “Mawar di Tiang Gantungan” terpilih masuk dalam Cerpen Indonesia Terbaik Pena Kencana 2010. Ini tahun ke-3, cerpen saya berturut-turut masuk. Lanjutkan membaca ‘– Cerpen Agus Noor di Pena Kencana 2010’

– BUKU BARU AGUS NOOR

SEPOTONG BIBIR PALING INDAH DI DUNIA, kumpulan prosa Agus Noor, sebentar lagi menampakkan diri. Menghimpun puncak-puncak pencapain estetis dan eksplorasinya dalam bercerita, hingga kisah-kisahnya terasa penuh pukau. Cinta dan perselingkuhan, sensualitas dan kepedihan, sampai memori kekejaman politik dan religiositas, terasa subtil dalam bahasanya yang puitik dan seringkali mengejutkan. Buku ini diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Berikut ini beberapa komentar tentang buku tersebut… Lanjutkan membaca ‘– BUKU BARU AGUS NOOR’

– RELASI KUASA DALAM CERITA

Ini tulisan karya Devy Kurnia Alamsyah, yang atas kebaikannya dikirimkan pada saya. Tulisan ini merupakan pembahasan cerpen saya “Tiga Cerita Satu Tema” yang merupakan salah satu cerpen yang termuat dalam kumpulan cerpen berjudul “Potongan Cerita di Kartu Pos”. Cerpen ini menjadi pintu masuk untuk pembahasaan mengenai  relasi kekuasaan melalui analisis wacana yang didasarkan kepada relasi pengetahuan/kekuasaan Michel Foucault. Atas kebaikan Devy, saya diijinkan untuk mengunggahnya di blog ini. Saya hanya melakukan sedikit pengeditan, agar pada bagian awal tak terlalu panjang. Selebihnya, saya membiarkannya utuh. Bagi yang ingin kenal Devy Kurnia Alamsyah dan berdiskusi lebih lanjut, mungkin bisa menghubunginya melalui jejaring facebook, darimana saya juga mengenalnya. Sekali lagi, terimakasih untuk Devy, dan selamat membaca.

Relasi Kekuasaan dalam “Tiga Cerita Satu Tema”

Oleh: Devy Kurnia Alamsyah

“Bila orang menelusuri sejarah umat manusia yang panjang dan kelabu, orang akan menemukan bahwa lebih banyak kejahatan yang menjijikkan yang dilakukan atas nama kepatuhan daripada atas nama pembangkangan.”

–          C.P. Snow

Lanjutkan membaca ‘– RELASI KUASA DALAM CERITA’

– Sebutir Nasi untuk Pencuri

Sebutir Nasi untuk Pencuri

INI hari baik buat mencuri. Ia sudah menghitung tanggal, membaca sifat dan watak hari pasaran serta weton-nya. Menambah, mengalikan dan membagi tanggal-tanggal itu, hingga sebagaimana dalam primbon, ketemu angka yang memperlihatkan hari keberuntungannya. Sebagai pencuri, ia memang percaya hari baik seperti itu. Hari yang akan memberinya keselamatan dan ketenangan ketika mencuri. Setidaknya, dengan memercayai perhitungan hari baik seperti itu, ia menjadi berhati-hati ketika memutuskan kapan ia mesti mencuri. Hingga bertahun-tahun menjadi pencuri, syukur alhamdulillah, semuanya lancar-lancar dan baik-baik saja saja. Lanjutkan membaca ‘– Sebutir Nasi untuk Pencuri’


Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Oktober 2021
S S R K J S M
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Archives Files

Catagories of Files