Posts Tagged 'Butet Kartaredjasa'

– MONOLOG KUCING MULAI KELILING

Sebagaimana yang direncanakan, monolog Kucing yang dimainkan oleh Butet Kartaredjasa akan mulai pentas keliling. Saat keliling itulah, selain pentas, Butet Kartaredjasa dan tim yang dibawanya akan mengadakan workshop tentang seni peran,  terutama berkaitan dengan permaian monolog. Juga beberapa materi workshop seperti penataan musik, penyutradaraan dan penulisan lakon. “Kebetulan dalam tim monolog Kucing ini ada Djaduk Ferianto, yang menata musik, Whani Darmawan yang dikenal juga sebagai aktor dan sutradara teater, lalu ada Agus Noor yang banyak menulis lakon monolog. Jadi, di samping berpentas, kami juga ingin berbagi pengalaman. Ini memang niat yang sudah lama saya pingin,” ujar Butet Kartaredajsa.

Monolog Kucing adalah karya Putu Wijaya, yang kemudian ditulis ulang oleh Agus Noor untuk kebutuhan pementasan Butet kali ini. Sebelumnya monolog ini sudah dipentaskan di Taman ismail Marzuki Jakarta dan Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Pentas keliling monolog Kucing akan dimulai di Bandung, kemudian Cirebon dan Tasikmalaya.

Lanjutkan membaca ‘– MONOLOG KUCING MULAI KELILING’

– BUKU BARU DJENAR MAESA AYU: 1 PEREMPUAN 14 LAKI-LAKI

Buku terbaru Djenar Maesa Ayu, 1 Perempuan 14 Laki-laki akan di-launching pada 14 Januari 2011 besok, bertepatan dengan ulangtahun penulis yang juga sutradara film itu. Tapi, buku itu sendiri sudah bisa di dapat di toko buku pada: 11-1-11 (baca: tanggal selas bulan satu tahun duaribu sebelas). Sebelum buku ini, buku terakhir Djenar adalah Cerita Pendek tentang Cerita Cinta Pendek, hampir lima tahun lalu. Sudah pasti, terbitnya buku baru Djenar ini, bisa menjawab rasa penasaran pembaca yang menyukai karya-karyanya: seperti apa buku ini? Adakah yang baru atau berubah?

Satu point yang menarik adalah: dalam buku 1 Perempuan 14 Laki-laki ini, Djenar berkolaborasi dengan 14 orang laki-laki, dengan latar profesi yang beragam. Saya, kebetulan ada di antara ke 14 “laki-laki yang beruntung” itu. Eghmmm. Saya dan Djenar bisa menyelesaikan satu cerpen: Kunang-kunang dalam Bir. Cerpen ini, sempat muncul di Kompas.

Cerpen-cerpen lain ditulis Djenar bersama Enrico Soekarno (Cat Hitam Berjari Enam), Indra Herlambang (Menyeruput Kopi di Wajah Tampan), Sardono W Kusumo (Rama Raib), Totot Indrarto (Kupunyakupu), Jerinx JRX (Kulkas. Dari. Langit.), Arya Yudistira Syuman (Matahari di Klab Malam), Sudjiwo Tedjo (Rembulan Ungu Kuru Setra), Richard Oh ( Nafas dalam Balon Karet), Nugroho Sukmanto (Bukumuka), Lukman Sardi (Ra Kuadrat), Robertus Robet (Dijerat Saklar), Romo Mudji Sutrisno (Polos), Butet Kartaredjasa (Balsem Lavender). Hmm, melihat latar belakang nama-nama itu, apa yang langsung Anda bayangkan, bukan tentang Djenar-nya tentu saja, tapi tentang bukunya!

Kita kenal Lukman Sardi seorang aktor film, Jerinx JRK adalah salah satu pentolan band Superman is Dead, Sudjiwo Tedjo seniman dan intelektual serba komplit, Sardono W. Kusumo adalah penari dan koreografer tari yang banyak mempengaruhi sejarah dan pertumbuhan tari Indonesia kontemporer saat ini.

Apa kata Djenar, perihal bukunya ini, baiklah, saya bocorkan sedikit pengantar yang ditulisnya untuk buku 1 Perempuan 14 Laki-laki: Lanjutkan membaca ‘– BUKU BARU DJENAR MAESA AYU: 1 PEREMPUAN 14 LAKI-LAKI’

– Panggung Launching Buku

Pada hari Kamis, 25 Maret 2010, berlangsung pergelaran launching buku Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia karya Agus Noor, yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka (2010), bertempat di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki. Acara launching itu dikemas dalam satu rangkaian pertunjukan, yang mencoba menafsir cerpen-cerpen yang ditulis Agus Noor ke dalam beragam bentuk pemanggungan. Lanjutkan membaca ‘– Panggung Launching Buku’

– MATINYA TOEKANG KRITIK DI ESPLANADE, SINGAPURA

death_edm

Matinya Toekang Kritik (Death of a Critic), monolog karya Agus Noor, akan dipentaskan oleh Butet Kartaredjasa di Esplanade Theatre Studio, Singapura, pada tanggal 12 Oktober 2009, mulai pukul 8 malam. Lakon satir politik perihal sosok tukang kritik ini akan dipentaskan dengan disertai subtitle bahasa Inggris yang dikerjakan oleh Landung Simatupang dan Jennifer Lindsay. Lakon ini memadukan kepiawaian seni peran Butet Kartaredjasa, kekritisan teks dan permainan multimedia, yang membuatnya menarik dari aspek content pertunjukan sekaligus effect visual. Kedua hal itulah, nampaknya yang membuat lakon monolog itu kemudian cukup relevan untuk merefleksikan realitas Indonesia pada satu sisi, dan memperlihatkan pencapaian artistik pertumbuhan teater pada sisi lain. Lanjutkan membaca ‘– MATINYA TOEKANG KRITIK DI ESPLANADE, SINGAPURA’

– “KELUARGA TOT” TEATER GANDRIK

Teater Gandrik akan mementaskan lakon Keluarga Tot di Taman Ismail Marzuki Jakarta, pada tanggal 17-20 April 2009. Lakon ini kemudian akan dipentaskan pula di Yogyakarta pada tanggal 29-30 April 2009 di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Konon, kota-kota lain mungkin disambanginya juga, bila memungkinkan.

keluarga-tot


…… lakon ini disebut sebagai alegori politik yang cerdas. Lakon ini bisa menjadi satir sosial, tentang masyarakat yang nyaris tanpa pilihan, dan terpaksa menerima keadaan. Lebih-lebih, “kelucuan-kelucuan” dalam lakon Keluarga Tot ini memberi peluang bagi Gandrik untuk mengeksplorasi kekayaan guyon parikeno-nya, gaya sampakannya. Lanjutkan membaca ‘– “KELUARGA TOT” TEATER GANDRIK’

– TEATER GANDRIK KEMBALI PENTASKAN “SIDANG SUSILA”

Photo Sidang Susila Show

Pada tanggal 15, 16, 17 Januari 2009, Teater Gandrik akan kembali mementaskan lakon Sidang Susila di Teater Salihara, Jakarta. Naskah besutan Ayu Utami dan Agus Noor itu, sebelumnya memang telah dipertunjukan di Jakarta dan Yogyakarta. Pementasan itu bisa dianggap sebagai “energi baru Gandrik” yang menandai geliat kreatif kelompok teater yang dikenal dengan “estetika sampakan”-nya. Lakon Sidang Susila, dipentaskan kembali lantaran dianggap (masih) memiliki relevansi dengan tema seputar Undang-undang Pornografi yang baru disahkan itu. “Setidaknya lakon ini akan menjadi pengingat bagi kita akan agenda-agenda tersembunyi yang akan mencederai pluralisme, kemajemukan serta pentingnya ruang untuk mengekspresikan setiap pikiran,” jelas Butet Kartaredjasa. “Makanya, ketika Komunitas Salihara memberi kesempatan tampil, kami sangat antusias. Bagaimana pun Komunitas Salihara merupakan representasi tempat dan ruang bagi kreatifitas di Republik ini. Klop-lah dengan Gandrik.” Selain Butet Kartaredjasa, para dedengkot Gandrik seperti Susilo Nugroho, Heru Kesawa Murti, Djaduk Ferianto, Whani Darmawan pun konsisten mendukung lakon ini. Lanjutkan membaca ‘– TEATER GANDRIK KEMBALI PENTASKAN “SIDANG SUSILA”’


Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Juli 2021
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Archives Files

Catagories of Files