Archive for the 'Cerpen' Category

– KARTU POS DARI SURGA

Saya teringat kembali cerpen ini, ketika membaca berita pesawat Boeing 777 maskapai penerbangan Malaysia Airlines, hilang — yang sampai tulisan ini saya posting, belom jelas kabarnya. Di duga hilang di Samudera HIndia. Ini cerpen lama saya, ada di buku antologi cerpen Pilihan Kompas 2008 dan juga masuk dalam buku cerpen-cerpen terbai Indonesia Penas Kencana tahun 2009. Kemudian saya masukkan dalam buku Sepotong Bibir paling Indah di Dunia. Saya pernah munuliskan pula, bagaimana proses cerpen ini saya selesaikan.

 

Kartu Pos 5

 

KARTU POS DARI SURGA

Mobil jemputan sekolah belum lagi berhenti, Beningnya langsung meloncat menghambur. “Hati-hati!” teriak sopir. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. Seperti capung ia melintas halaman. Ia ingin segera membuka kotak pos itu. Pasti kartu pos dari Mama telah tiba. Di kelas, tadi, ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun. Lanjutkan membaca ‘– KARTU POS DARI SURGA’

Iklan

– ULAT BULU & SYEKH DAUN JATI

samadi

ADA kisah yang selalu diingat dengan gemetar oleh orang-orang kampung Jatilawang setiap menjelang Ramadhan. Bukan kisah tentang nabi-nabi. Tapi wabah ulat bulu.  Malapetaka bertahun lalu yang terjadi setelah pembantaian orang-orang yang dituduh komunis di kampung itu. Mereka mati dengan cara paling mengerikan. Ditangkap dan diseret ke pinggiran hutan jati, sebagian ditembak, digorok atau dihajar kepalanya hingga remuk dengan batang kayu jati. Tak ada anak yang tak menjadi yatim atau piatu setelah pembantaian itu. Kekejian memang tak pernah bisa dilupakan. Lanjutkan membaca ‘– ULAT BULU & SYEKH DAUN JATI’

– MATA TELANJANG

Cerpen Mata Telanjang adalah cerpen kedua yang saya tulis bareng Djenar Maesa Ayu, setelah cerpen Kunang-kunang dalam Bir.  Cerpen Mata Telanjang ini, muncul di majalah Esquire edisi Maret 2013.

Suatu malam kami bertemu, membuka laptop, dan mulai menulis, tanpa sebelumnya merancang cerita atau alurnya. Mengalir begitu saja. Kali ini gantian, setelah pada Kunang-kunang dalam Bir Djenar menuliskan kalimat pertama, giliran pada Mata Telanjang, saya membuka cerita. Kalimat pertama melintas, dan saya menuliskannya. Mengalir mengikuti kelebatan imajinasi dalam kepala. Seperti sebuah tarikan nafas pertama, dan berhenti ketika harus berhenti. Lalu Djenar melanjutkan.

Begitupun dia, menulis apa yang ada dalam imajinasinya, dan berhenti kalau memang merasa harus berhenti, untuk kemudian diestafetkan kembali ke saya. Begitu seterusnya, kami saling merespon, membiarkan dan mengikuti kemana cerita ini bergerak.  Laptop bolak-balik, kayak setrikaan, ke hadapan saya dan Djenar. Ketika Djenar menulis, saya membiarkannya, dan begitu juga sebaliknya. Kami tak mengarahkan cerita ini dengan saling mendiskusikan atau memperdebatkannya sebelumnya atau selama proses penulisannya. Bahkan ketika menulis kalimat pertama pun, kami tak tahu, akan menulis cerita tentang apa, siapa tokohnya, apa judulnya. Kali ini, kami hanya menyepakati soal sudut pandang penceritaan, agar proses yang kami jalani juga tidak mengulang apa yang kami jalani sebelumnya, dan karna itu menantang bagi bami berdua.

Proses ini jauh lebih menyenangkan, karna kami sering terkejut ketika harus melanjutkan. Misalkan, ketika saya gantian kembali harus melanjutkan cerita, saya kaget membaca apa yang sudah Djenar tulis, karna saya tak menduga sebelumnya. Atau, apa yang ditulis tidak sebagaimana dugaan saya sebelumnya. Dan saya kira, Djenar pun demikian. Cara Djenar mengakhiri cerita pun, membuat saya terkejut. Saya tak menyangkanya.

Nah, selamat menikmati Mata Telanjang.

Gambar 48

Lanjutkan membaca ‘– MATA TELANJANG’

– KURMA KIAI KARNAWI

KURMA KIAI KARNAWI

Cerpen Agus Noor

TUBUH orang itu menghitam — nyaris gosong — sementara kulitnya kisut penuh sisik kasar dengan borok kering. Mulutnya perot, seakan ada yang mencengkeram rahang dan lehernya. Ia terbelalak seolah melihat maut yang begitu mengerikan. Sudah lebih delapan jam ia mengerang meregang berkelojotan. Orang-orang yakin: dia terkena teluh, dan hanya kematian yang bisa menyelamatkan.

Kiai Karnawi, yang dipanggil seorang tetangga, muncul. Beliau menatap penuh kelembutan pada orang yang tergeletak di kasur itu. Kesunyian yang mencemaskan membuat udara dalam kamar yang sudah pengap dan berbau amis terasa semakin berat. Beberapa orang yang tak tahan segera beranjak keluar dengan menahan mual. Kiai Karnawi mengeluarkan sebutir kurma, dan menyuapkan ke mulut orang itu. Para saksi mata menceritakan: sesaat setelah kurma tertelan, tubuh orang itu terguncang hebat, seperti dikejutkan oleh badai listrik. Lalu cairan hitam kental meleleh dari mulutnya, berbau busuk, penuh belatung dan lintah. Dari bawah tubuhnya merembes serupa kencing kuning pekat, seolah bercampur nanah. Seekor ular keluar dari duburnya, dan — astagfirullah — puluhan paku berkarat menyembul dari pori-pori orang itu. Lalu berjatuhan pula puluhan mur dan baut, potongan kawat berduri, biji-biji gotri dan silet yang masih terlihat berkilat. Orang itu mengerang panjang. Kiai Karnawi mengangguk ke arah yang menyaksikan, “Biarkan dia istirahat.”

Keesokan harinya, orang itu sudah bugar. Lanjutkan membaca ‘– KURMA KIAI KARNAWI’

– REQUIEM KUNANG-KUNANG

Cerpen: Agus Noor

BARANGKALI aku akan menjadi kunang-kunang terakhir di kota ini. Segalanya terasa sebagai kesenduan di kota ini. Gedung-gedung tua dan kelabu, jalanan yang nyaris lengang seharian, deretan warung kelontong dan kafe-kafe sunyi dengan cahaya matahari muram yang mirip kesedihan yang ditumpahkan. Kota ini seperti dosa yang pelan-pelan ingin dihapuskan.

Bila suatu kali kau berkunjung ke kota yang terletak di lekuk teluk yang bagai mata yang mengantuk ini, kau sesekali hanya akan bertemu dengan satu dua orang tua, yang berjalan malas atau pemabuk yang meringkuk mendengkur di bangku-bangku taman. Bila kau perhatikan dengan cermat, setiap perempuan yang kau temui di kota ini selalu berjubah dan kerudung hitam, seolah-olah mereka terus berkabung sepanjang hidupnya, seolah-oleh mereka semua adalah rahib kesedihan. Dan bila kau memperhatikan lebih cermat lagi, lebih teliti, maka kau akan segera tahu: hampir dari mereka semua, buta! Lanjutkan membaca ‘– REQUIEM KUNANG-KUNANG’

– KELEPAK SAYAP JIBRIL

AKU tengah duduk di kafe di sebuah mall membunuh kejenuhan dengan secangkir cappuccino ketika sayup-sayup berdesir bunyi kelepak, lembut di telinga. Aku mendongak, melihat bayangan langit pada kubah kaca yang dipenuhi pohon-pohon kurma dan unta dengan kafilah di punggungnya, bergelantungan di besi-besi konstruksi yang dicat warna-warni. Kulihat unta-unta itu bergoyangan, bagai ada tangan yang menyentuhnya.

Kelepak itu! Jelas mendesir di sela keriuhan celoteh gadis-gadis, alunan lagu yang bersliweran dari tiap counter, jerit anak-anak minta mainan dan kemerosak HT satpam. Kelepak itu, kelepak itu, mengingatkanku pada Kakek, ketika suatu malam tergesa-gesa membangunkanku. Lanjutkan membaca ‘– KELEPAK SAYAP JIBRIL’

– KUNANG-KUNANG DALAM BIR

Ini adalah versi awal (original version) atau bisa juga disebut versi sebelum diedit, dari cerpen Kunang-kunang dalam Bir yang muncul di Kompas, 10 Oktober 2010. Tak banyak editing yang terjadi, sebenarnya, kecuali penggunaan beberapa kata yang disesuaikan untuk pembaca umum koran.

Cerpen ini, saya tulis bersama sohib saya, Djenar Maesa Ayu. Banyak yang kemudian bertanya, bagaimana kami menulis cerita itu? Sebagai catatan, ada beberapa cerpen yang telah berhasil kami simpan.

Begini. Kami menulis tanpa gagasan apa-apa atau merancang tema dan cerita, sebelumnya. Bagi saya pribadi, ini proses menulis yang lumayan unik. Kami sepakat ketemu. Membuka laptop. Kemudian mulai menulis. Tak ada diskusi: kita mau nulis apa, ceritanya apa, dan nanti bagaimana. Tidak ada. Kami langsung menulis. Terserah, siapa yang memulai membuat kata pertama. Pada cerpen Kunang-kunang dalam Bir, Djenar yang memulai kata pertama. Kemudian saya melanjutkan. Begitu seterusnya. Begitulah kalimat demi kalimat mengalir. Cerita mengalir. Kami tak merancangnya.

Proses menulis seperti itu, saya rasakan ibarat “permainan tinju”. Dimana kami saling melemparkan pukulan, jab, bahkan pukulan telak, dan yang lain mencoba menangkis, menghindari atau balik menyerang. Kami jadi saling memahami: setelah ini dia mau apa? Kalau saya memukul begini, bagaimana dia akan menghindari? Akan bergerak ke mana? Kalau saya bawa kesini, apa yang akan dilakukannya. Begitulah. Saya merasakan, hal itu juga sebagai proses yang saling memahami, menjengguk imajinasi masing-masing, menduga, dan memberi umpan, mengembangkan apa yang disodorkan. Hingga Kadang-kadang, sering, kami terkejut dengan cerita yang kami tulis: lho kok jadi gini?

Tapi kami tak boleh saling bantah. Tak boleh saling debat. Biarlah cerita itu berdebat sendiri. Tugas kami hanya menulis, menulis, mengembangkan imajinasi, merenung, sembari tentu saja menikmati rokok dan bir.

Proses itu bisa juga seperti proses orang pacaran yang tengah melakukan saling pemahaman. Seakan saya menjenguk dan memahami gaya menulis Djenar. Dan begitu juga sebaliknya. Saya membiarkan Djenar mengembangkan gaya dan imajinasinya, begitu juga sebaliknya. Dengan begitu kami mencoba meleburkan diri, tetapi tidak meninggalkan apa yang menjadi kecenderungan dari masing-masing kami. Atau, seperti pernah dikatakan Djenar di Twiter: karya itu menjadi seperti anak, yang di wajahnya orang akan mengenali raut wajah ayah ibunya.

Bagi saya, proses itu membuat saya (kembali) mememukan kegembiraan menulis. Sebagai sesuatu yang menyenangkan. Dan inilah  versi asli cerpen Kunang-kunang dalam Bir itu:

 

Lanjutkan membaca ‘– KUNANG-KUNANG DALAM BIR’


Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Oktober 2017
S S R K J S M
« Feb    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Archives Files

Catagories of Files