Mati Ketawa Cara Sepak Bola (Indonesia)

MUMPUNG pertandingan sedang jeda, marilah sejenak kita tertawa.

Kemelut terjadi di depan gawang. Kiper melocat hendak menangkap bola, sementara pemain lawan menyambar mengangkat kaki, apa lacur, kaki itu menghantam wajah kiper. Kontan kiper marah dan memaki-maki. Tak cukup itu, sambil berteriak jengkel ia lalu melemparkan bola yang berhasil ditangkapnya itu ke arah pemain lawan. Blugg! Bola itu tepat menghantam kepala, dan tak diduga malah mental, lantas bergulir masuk ke gawang. Gooolll!!! Kiper itu hanya melongo. Sementara kita hanya nyengir.

“Peristiwa” itu terjadi di kartun strip “Gembils” karya Abdul Aziz, yang dimuat di Jawa Pos, 19 Juni 2010. Di tengah ketegangan pertandingan pemberitaan seputar Piala Dunia,  kartun seperti itu menjadi “oase tawa” yang benar-benar menyegarkan. Anda, pendukung Perancis dan Inggris, silakan menangis. Pendukung Potugal boleh tersengah-sengal. Pendukung Argentina tak apa merana. Tetapi selalu ada yang membuat kita tertawa dari sepakbola. Cobalah Anda baca rubrik “Ole… Ole…” di Jawa Pos ini, pasti Anda bisa tersenyum dan tertawa membaca komentar-komentar para penggila bola. Percayalah, itu berguna Anda lakukan, untuk meredakan ketegangan dan kesedihan.

Psikolog Katrina Robertson mengungkapkan hasil penelitiannya, bahwa tertawa bisa merangsang pertambahan jumlah zat endhorpihne, sejenis morfin alami dalam tubuh dan juga metanonin, yang baik buat otak. Dan seperti ditegaskan Marianne Dolau, kedua “hormon kegembiraan dalam tubuh” itu mampu meningkatkan kebugaran tubuh dan stabilitas emosi. Bila tubuh kita berhasil merangsang prosuksi zat itu, kita akan menjadi merasa tenang. Bila Anda tertawa terbahak antara 5-10 menit, itu berarti “menentramkan kembali jiwa” Anda. Terbahak-bahak 20 detik saja, ibaratnya Anda telah melakukan jogging selama 3 menit. Tertawa terbahak 1 menit, sama seperti Anda mengeluarkan keringat saat berolahraga selama 45 menit. Efek 20 menit tertawa bahkan setara mendayung tiga menit, yang bagus untuk kerja jantung. Dan ingat, ada kira-kira 80 otok serempak bergerak saat kita tertawa sampai terpingkal-pingkal.

Sepakbola menjadi lebih mengasyikkan sebagai sebuah tontonan, ketika ia juga menghibur dan selalu menyediakan moment-moment yang membuat kita bisa tertawa. Di tengah ketegangan, selalu ada jeda lega, ketika kamera menyorot ekspresi para suporter: ketika mereka bergoyang menari, ketika mereka meringis, bahkan ketika mereka kecewa dan sedih. Ada sisi-sisi “komikal”, yang menumbuhkan empati kita, yang menyempurnakan kemanusiaan kita. Belum lagi ekspresi dan tingkah para pemain: ketika mereka gagal mencetak gol, atau melakukan penyelamatan. Lihatlah bagaimana Iker Casillas, kiper utama Spanyol, “menggetar-getarkan mulutnya” hingga mulutnya mirip terbuat dari karet yang elastis, saat gawangnya selamat dari ancaman akibat keteledoran barisan belakang. Kita tersenyum, dan saat itulah “jiwa kita kembali stabil”. Kalau tidak, setelah Piala Dunia, pasti akan meningkat jumlah pasien di Rumah Sakit Jiwa! Salah satunya, barangkali Anda. Hehehe

Piala Dunia 1938. Inilah satu “babak komedi” sempat terjadi di “panggung” stadion Velodrome, Perancis. Saat itu semifinal, Italia vs Brazil. Silvio Piola menggiring bola memasuki kotak pinalti, begitu gesit, hingga pemain Brazil Domingos da Guia bertindak cepat dengan melakukan tekel, dan priit, wasit langsung menunjut titik pinalti. Sontak suasana semakin panas. Ketegangan menyelimuti seluruh stadion. Italia bersatatus juara bertahan, dan pada event ini mereka “diwajibkan” untuk kembali merebut supremasi. Ingat, Mussolini dengan partai politik dan “gagasan fasisme”-nya  masih berkuasa: kemenangan kesebelasan Italia akan semakin menegaskan supremasi politiknya. Ada desas desus, para pemain Italia tak berani pulang kampung bila tak juara, karena Mussolini akan “menghabisinya”.

Giuseppe Mezza, sang aktor, bersiap mengambil tendangan pinalti. Barangkali saking tegangnya, tiba-tiba saja, celananya melorot. “Tali kolornya” putus! Kontan seluruh stadion bergemuruh tertawa. Juga kiper Brasil Walter de Sauza: terpingkal tak mampu menahan geli. Sementara Mezza buru-buru menarik celananya yang melorot. Sambil satu tangannya memegangi agar celananya tak kembali melorot, Mezza menendang bola ke arah gawang Sauza yang “masih menahan tawa”, dan goolll!! Kiper Samba itu melongo. Sementara Mezza, yang saking gembiranya, langsung mengangkat kedua tangannya tinggi-tingi: lupa pada celananya yang putus tali kolornya. Akibatnya, celana itu pun kembali melorot!

Kita tak hanya tertawa pada hal-hal konyol. Karena tertawa sesungguhnya refleksi kesadaran kita, bahwa ada “sesuatu yang tak biasa” pada realitas hidup kita. Ketika ada yang tertawa,  ujar Schopenhauer, filsuf Jerman, itu isyarat bahwa ada realitas yang harus kita teliti ulang, kita koreksi kembali: ada yang tak benar di sana Maka, bila kita selalu tertawa setiap menyinggung soal PSSI, misalnya, maka itu adalah bentuk kesadaran kita: bahwa ada yang perlu dibenahi di sana, karena ada “the ludicrous”, ketidaksesuain persepi pada apa yang seharusnya terjadi. Lelucon soal PSSI, yang sampai kini masih relevan adalah lelucon dari Warkop DKI (padahal lelucon ini sudah ada sejak tahun 70an). “Apa yang akan dilakukan PSSI” tanya wartawan. Pengurus PSSI menjawab, “Dalam 25 tahun kedepan, kita akan membuat Tim Nasional kita maju seperti Brazil”. Lah, bukankah dalam 25 tahun ke depan, kesebelasan Brazill juga akan jauuuh lebih maju? Berarti PSSI terus ketinggalan 25 tahun dong?!

Joke yang masih relevan, bukan?

Mungkin Anda tak tahu, kalau sesungguhnya Tim Nasional kita punya kesempatan tampil di Piala Dunia 2010 ini! Baiklah, saya bocorkan satu top secret: Presiden FIFA Sepp Blatter, sesungguhnya telah mengirim undangan khusus kepada Ketua Umum PSSI Nurdin Halid. Intinya memberi kehormatan agar PSSI ikut Piala Dunia tanpa harus susah payah ikut kualifikasi. Nurdin, yang begitu gembira segera menyusun tim secepatnya. Tak ingin bocor, ia merahasiakan pembentukan kesebelasan itu. Ia ingin memberi suprise pada seluruh rakyat Indonesia, bahwa akhirnya PSSI bisa ikut Piala Dunia. Ketika tim terbentuk, latihan pun dilakukan setiap hari. Bahkan ketika dalam pesawat khusus yang menuju Afrika, Nurdin menyuruh semua pemain agar terus berlatih dan berlatih! Karena berisik dengan para pemain yang terus berlatih dalam pesawat, Pilot pun marah, “Jangan berlatih bola di pesawat dong!” Situasi pun tenang. Tapi setengah jam kemudian,  pilot heran, karena pesawat sepi. Dan ia mengecek ke kabin, ternyata tinggal 6 orang pemain yang masih duduk. “Yang lain kemana?” tanya pilot.

“Pak Ketum Nurdin Halid menyuruh semua terus berlatih, karena nggak boleh berlatih di dalam pesawat, semua official dan pemain pun berlatih di luar sana…”

“Lho kenapa kalian masih di dalam sini?”

“Kami kan pemain cadangan…”

Itulah sebabnya, PSSI urung tampil di Piala Dunia kali ini. Ssttt, jangan bilang-bilang Nurdin Halid ya, kalau saya membocorkan rahasia “mati ketawa cara sepak bola Indonesia” ini…

7 Responses to “Mati Ketawa Cara Sepak Bola (Indonesia)”


  1. 1 Mochammad Juli 7, 2010 pukul 9:58 pm

    😀😀😀😀😀😀😀

    PSSI…PSSI… Saking miskinnya prestasi sampai dijadikan bahan “guyonan”.

    Apik…Apik… Tulisane.
    🙂 Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com/

  2. 2 romi zarman Juli 10, 2010 pukul 12:33 pm

    Ttg cerita latihan bola di atas pesawat pernah awak dengar dari seorang pelawak. Agak mirip!

  3. 3 Mbah Jiwo Juli 12, 2010 pukul 9:52 am

    🙂 menertawakan teman sendiri…

  4. 4 Gibb Juli 16, 2010 pukul 8:48 pm

    hahahahaha.. dudulz…

  5. 5 gus malkan Juli 23, 2010 pukul 11:08 am

    kasihan sepakbola Indonesia

  6. 6 KKPP Agustus 12, 2010 pukul 5:42 am

    mas, sungguh bukan saya bila NH kemudian tahu. gara-gara si NH, tak pernah aku menengok lagi stadion-stadion di Indonesia. terpenjara nadzar.

  7. 7 bambang haryanto Januari 5, 2011 pukul 3:23 pm

    Mau nambah dikit, Mas Agus.

    (1) Indonesia gagal mencalonkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022, karena FIFA menuntut dilampirkannya dokumen Surat Perintah Sebelas Maret yang asli.

    (2)Buku tentang sepakbola yang paling indah ditulis, menurut saya, adalah karya Eduardo Galeano, Football in Sun and Shadow (2003). Ini buku hadiah dari Andibachtiar Yusuf.

    Sukses selalu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Juli 2010
S S R K J S M
« Mei   Agu »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: