– Pementasan IN/OUT: Catatan (di Dalam/di Luar) Proses

Hartati Publikasi

Pementasan tari IN/OUT koreografer Hartati, akan dipentaskan di Teater Salihara, Jakarta, pada tanggal 16 dan 17 Oktober 2009, pukul 20.00 WIB. Karya ini menghadirkan imaji kotak, yang menjadi titik pijak garapan dan dramaturginya. Kotak itu boleh jadi kotak identitas. Atau kotak ideologis. Atau kotak keyakinan yang tak mudah diruntuhkan. Kotak di mana kita terjebak di dalamnya – mungkin tanpa pernah menyadari. Kita  ingin keluar kotak itu. Tapi kehendak untuk keluar dari kotak bukanlah perkara gampang. Ia akan menjadi pergulatan yang nyaris tanpa akhir. Ia seperti identitas yang ingin kau tanggalkan, tetapi kau, menyadari atau tidak, ada yang terus terperangkap di dalamnya.  Kotak itu serupa keyakinan yang tak mudah kamu lepuh. Ia serupa pikiran yang tak kunjung kau sadari dinding-dinding pembatasnya.

Hartati adalah salah satu koreografer (perempuan) yang cukup penting dalam perkembangan tari kontemporer Indonesia saat ini. Tati, begitu ia biasa dipanggil, telah menghasilkan karya-karya seperti Sayap yang Patah (2001, Gedung Kesenian Jakarta/GKJ), Membaca Meja (2002, GKJ), Ritus Diri (2004, GKJ, dalam perhelatan Arts Summit Indonesia), Hari Ini (2007, Goethe-Institut, dalam rangka Program Empowering Women Artist oleh Kelola), In (Side) Sarong, In (Sight) Sarong (2007, Nasional Museum Singapore, dalam perhelatan Five Pieces New Dance in Indonesia), Cinta Kita (2008, IKJ, program Empowering Women Artists), Dua Kutub (2008, Teater Salihara, dalam rangka Festival Salihara).

Ia juga mengikuti beberapa program tari seperti Asia Pacific Performance Exchange Program (APPEX Program) di UCLA (1996), Grand Asia Culture Council (ACC)  ke New York, untuk program Visiting Artist (2000), Bates Dance Festival (karya The Way of The Women, 2001), Asia Pacific Europe Foundations (ASEF) “Pointe to Point” Beijing China  (2007).

Dalam karya IN/OUT ini, saya, besama Yudi Ahmad Tajudin (Direktur Artistik Teater Garasi), kebetulan ikut berproses bersama sebagai dramaturg. Berikut ini, adalah catatan yang sempat saya bikin seputar proses kreatif IN/OUT itu.

CATATAN (DI DALAM/DI LUAR) PROSES

Oleh Agus Noor

Kami mulai mendiskusikan gagasan pertunjukan ini sekitar bulan April 2009. Saat itu, Hartati tengah terlibat dalam satu produksi pertunjukan teater, tidak sebagai pekerja artistik, tetapi menangani produksi di bagian ticketing. Pengalaman itu, rupanya sangat membekas, mendedahkan kegelisahan  dan menginspirasikannya untuk membuat petunjukan dengan titik jelajah seputar ticket box. Pada saat yang sama, saat itu Hartati memang tengah mencari ide untuk pertunjukan tarinya, terkait dengan program Empowering Women Artists dari Kelola-Hivos. Eksplorasi gagasan seputar ticket box itu akhirnya membawa pada penjelajahan seputar “ticket” dan “box”. Kamu menemukan kontras, kemungkinan dramatik dan konflik dari dua hal itu, yang kami rasa bisa menjadi bahan untuk struktur pertunjukan.

Di sana ada unsur gerak yang ingin membebaskan diri, ada sesuatu yang ingin menjauh, yang muncul dari ide tentang tiket. Seperti ungkapan “tiket kebebasan” atau “tiket kehidupan”, maka tiket membawa kami pada ide tentang kehendak yang terus-menerus untuk bergerak dan berubah. “Ini menginspirasi saya pada gerakan-gerakan yang lepas, meregang, gerakan yang menjangkau titik terjauh,” kata Hartati. Sementara “box”, mengimajikan sesuatu yang tetap, terkurung, dan diam. Sesuatu yang bagai ada yang terus menerus terperam di dalamnya. Seperti kotak yang mengurung kita. Yang di dalam dan di luar box itu bisa saling memandang, berinteraksi, tetapi ada sesuatu yang membatasi. Ide tentang kotak itulah yang membuat Hartati merasa menemukan kontras dari “gerakan yang lepas bebas” itu, yakni gerakan yang tertahan, gerak yang ingin keluar, terbatasi, terhentak dan terantuk batas.

Gagasan tentang kotak juga mulai membawa kami pada “kemungkinan bentuk pertunjukan” yang bertolak dari dan mengolah imaji kotak. Di dalam kotak-kotak itu kami membayangkan tubuh, gerak dan manusia. Tubuh yang terjebak dalam kotak. Tubuh yang bergerak, menabrak batas kotak, tertahan, melawan, menyesuaikan. Gerak yang tak terbebaskan, gerak yang tertunda, gerak di dalam kotak. Kotak-kotak yang membentuk seseorang. Kotak, dari mana pada suatu saat kita ingin meloncat keluar dari dalamnya – yang barangkali justru kian memunculkan kompleksitas – bahwa berada di luar ternyata adalah juga berada di dalam kotak yang lain. Situasi seperti itu terasa makin relevan dengan kekinian kita, ketika kerap terlihat/terdengar ada seseorang atau sekelompok orang membangun suatu ‘kotak’ yang keras dan memaksa orang-orang untuk masuk dan bertindak sesuai batas-batas yang digariskan oleh “kotak” itu.

Sebagai koreografer, Hartati banyak mengangkat isu dan tema seputar “ketertindasan perempuan”. Beberapa karya sebelumnya, seperti Sayap yang Patah, Dua Kutub, Cinta Kita, memperlihatkan pergulatan Hartati atas isu seputar dunia perempuan itu. Tema “tiket” dan “kotak” yang kami diskusikan, menurut saya, membuka peluang bagi Hartati untuk memperluas tema garapannnya, sekaligus tak meninggalkan tema seputar perempuan itu. Tema “kehendak untuk menemukan kebebasan”, sebagaimana melekat dalam imaji tiket, rasanya adalah tema yang tak hanya menyangkut persoalan perempuan. Ia adalah tema kemanusiaan yang lebih luas. Begitu juga “kotak” sebagai sebuah “keterpenjaraan”, adalah persoalan manusia sampai hari ini. Selalu ada kotak-kotak yang membatasi manusia. Kotak itu seperti takdir yang terus melekat. Barangkali kotak itu kutukan. Seperti batu yang mesti dipanggul Sisiphus. Dan Sisiphus itu sampai kini masih terkurung berada dalam sebuah kotak yang mesti dipanggulnya. Kotak yang di panggul itu ternyata tak berada di luar Sisiphus sebagai manusia. Kotak itu ada di dalam diri Sisiphus dan terus dibawanya ke mana-mana. Kotak yang (hendak) ia pecahkan ketika muncul kesadaran akan tiket pembebasan dirinya. Bila konteks itu kembali dilekatkan dengan “persoalan perempuan”, maka itu pun masih relevan dan memiliki keterkaitan benang merah dengan kecenderungan karya-karya Hartati sebelumnya. Pada awal-awal ini, kami membayangkan pertunjukan ini sebagai Ticket(&)Box atau TICKET BOX.

Mungkin ini pun bisa dicatat sebagai pergulatan Hartati sendiri sebagai kreator: ia ingin keluar, tetapi juga tak ingin terlepas dari tradisi kreatif yang sudah dibangunnya.

Bayangan alur tentang pergulatan pembebasan diri dan keterkungkungan itulah yang kemudian mulai banyak dieksplorasi dalam latihan. Bagi Yudi Tajudin, kotak-kotak itu tak cukup hanya dipikirkan. Kotak itu harus menjadi bagian integral pengalaman dalam latihan. Maka para penari tak hanya mengeksploarsi gerak, sebagaimana pada awal-awal dikembangkan Hartati, tetapi langsung bersentuhan dengan kotak. Yudi di sini mulai menekankan pada pengalaman merasakan gerak, bukan semata-mata menemukan gerak. Alur dan struktur pertunjukan mestilah tercipta dari kemungkinan-kemungkinan pergulatan dengan kotak itu. Mula-mula dipilih kotak dari kardus (bekas kardus kulkas ukuran setinggi tubuh penari) untuk dihayati oleh para penari. Pengalaman ini cukup mengagetkan para penari, karena tubuh kemudian tidak hanya mereaksi kotak, tetapi juga mulai berkomunikasi dengan kotak, dan bahkan tubuh itu ditantang memunculkan ekspresi kotak.

“Ini proses yang baru bagi saya, “ tutur Andara Moeis, salah satu penari yang terlibat dalam proses ini. “Kotak itu tiba-tiba menjadi bagian dari tubuh penari.” Andara merasa, betapa kotak itu mempengaruhi materi gerak yang sudah ada sebelumnya, dan merubah penghayaatan dan emosinya ketika kemudian melakukan gerakan di luar kotak. Dalam bahasa Andara, “sensasi gerak dalam kotak itu” akhirnya harus mampu “saya ekspresikan dan visualisasikan di luar kotak”. Atau dalam bahasa Nur Hasanah, “Proses menjadi lebih seru ketika berusaha merasakan ruang gerak di luar kotak tetapi tetap merasa dalam kotak.” Kotak itu kemudian terasa “melekat pada tubuh saya sebagai penari”, dan seperti ditegaskan Andara, ia berupaya menginterpretasikan arti box itu melalui tubuh. “Tubuh dilatih untuk berekspresi,” ujar Andara. Para penari, seperti yang ditekankan dalam proses ini oleh Yudi, memang langsung menceburkan diri pada pengalaman menemukan gerak dan ekspresi itu. Proses seperti itu dikatakan Siti Ajeng Soelaeman sebagai proses “adaptasi tubuh” dengan hal-hal di luar tubuh, dalam hal ini kotak yang berbeda-beda, atau mengeksplorasinya menjadi “sesuatu yang hidup dalam diri kita”.

Dari proses itulah, struktur pertunjukan kemudian mulai dikembangkan. Eksplorasi pada box, pada kotak, membuat adanya pergeseran tekanan ide. Gerak-gerak yang muncul kemudian makin terasa sebagai sebuah upaya untuk keluar dari “sebuah ruang” yang merupakan representasi pertunjukan itu sendiri. Terasa, ada substansi yang kemudian kami sadari dari proses itu, yakni “problem” di luar dan di dalam kotak itu. Di dalam (atau masuk) dan di luar (atau keluar) adalah proses simultan yang muncul dari proses latihan; sebagaimana keluar masuk kotak, berarti merupakan proses berada di luar kotak dan di dalam kotak. Ada ulang-alik yang terus terjadi, dari di “dalam” ke “luar” dan begitu pula sebaliknya. Inilah, yang belakangan cukup menyibukan kami untuk memikirkan ulang judul pertunjukan, sebelum akhirnya kami menyepakati ide dari Yudi, yakni IN/OUT.

Barangkali, semua itu memperlihatkan bagaimana sebuah ide berkembang, dan kami menikmatinya karena kami memang tidak ingin terus berkutat pada satu titik. Sejak awal kami menyadari, gagasan awal Tati menjadi titik berangkat bagi kami untuk mengeksplorasinya, di mana para penari ikut mengalami progres pergeseran ide itu melalui pengalaman mereka dalam latihan.

Tati mengembangkan pengalaman penari itu ke dalam serangkaian tindak koreografis, dan Yudi mencoba secara terus-menerus “menggodanya” dengan serangkaian pertanyaan-pertanyaan seputar “nalar cerita dan koherensi gagasan” yang muncul dalam gerakan, komposisi dan bermacam bentuk pola pemanggungannnya. Upaya ini dilakukan Yudi, agar mereka mulai memikirkan dan mempertimbangkan juga cara mereka berkomunikasi dengan penonton. Inilah yang oleh Tati kemudian dinyatakannya sebagai “mata lain” bagi dirinya untuk melihat apa yang telah dihasilkan selama proses latihan. Posisi Yudi sebagai dramaturg, dinyatakan oleh Tati tidak hanya membantunya dalam membentuk struktur karya, tapi juga menbuatnya terbantu untuk menemukan kemungkinan “bahasa lain” dalam menyampaikan gagasannnya. “Yudi membantu saya ketika saya ingin menemukan ‘bahasa lain’ itu, dan Agus Noor membuka kemungkinan-kemungkinan yang bisa saya kembangkan dalam mengolah gagasan. Ini banyak membantu saya sebagai koreografer, ketika saya mentok dalam proses. Saya jadi seperti memiliki mata lain untuk melihat proses saya sendiri, juga ketika membuat karya ini.”

Ketika kehadiran “kotak” itu menjadi begitu kuat, maka imaji kotak itu kemudian seperti menjadi bagian penting dari bahasa visual. Gerak dan pengalaman dalam kotak, seperti tak bisa dilepaskan dari kotak itu sendiri. Cukup alot juga menjawab pertanyaan: apakah kotak itu akan dihadirkan secara fisik atau ia adalah semata-mata imaji yang bisa dihadirkan melalui gerak dan komposisi? Bersama Clink Sugiarto, yang menata cahaya dan artistik, diskusi itu mulai dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai implikasi teknis dan estetis. Teknis menyangkut bentuk dan bahan dari apa kalau memang “kotak” itu hadir di panggung. Estetis, karena ia kemudian akan menjadi bahasa visual, yang mungkin akan begitu dominan dalam pertunjukan. Penari menjadi tak hanya menaklukkan ruang pertunjukan tetapi juga mesti berebut perhatian dengan kotak itu sendiri. Aspek-aspek visual menjadi begitu kuat dengan kehadiran kotak itu, yang boleh jadi, akan merepotkan dan menenggelamkan penari. Sebuah kecemasan, yang rasanya, terus-menerus menghantui selama proses latihan.

Ketika kemudian sepakat kotak itu menjadi ikon image koreogafi, merancang kotak itu juga menjadi tantangan tersendiri. “Sampai tahap ini, secara artistik, saya membayangkan sebuah kotak yang mempunyai ragam kemungkinan dan fleksibilitas,” begitu yang diinginkan Clink Sugiarto, yang kemudian mendiskusikan rancangan itu bersama Tati dan dramaturg. Sampai tahap ini, sejalan dengan proses latihan, pencarian bentuk visual kotak yang fungsional dan artistik, mengalama tiga perubahan. Baik menyangkut material bahan pembuatan, sampai bentuk. Sampai kemudian dipilih kotak yang lebih kokoh, lebih berat dan lebih menjawab kebutuhan koreografi. Di sana, kekokohan itu membuatnya seperti imaji yang begitu kuat, membayangkan sebuah beban yang terus membayangi selama pertunjukan, atau seperti yang dikatakan Nur Hasanah “mempengaruhi ekspresi penari begitu kuat”, dan menjadi pergulatan yang harus diatasi oleh para penari, tetapi ia juga mesti memberikan kemungkinan-kemungkinan imajinatif.

Ruang pertunjukan juga menjadi kemungkinan lain dari imaji kotak yang dibayangkan oleh Clink, juga kemungkinan pencahayaan. Ruang “box theatre” Salihara menjadi kemungkinan lain yang bisa dieksplorasi melalui elemen lantai (kotak) sebagai ruang dasarnya. Dua kali, kami sempat berlatih secara langsung di tempat pertunjukan (Teater Salihara) ini, sebagai upaya kami mengenali “ruang kotak” yang inheren dalam ruang pementasan IN/OUT ini. Karena kotak itu menegaskan tempat juga, selain batas-batas ruang yang imajinatif maupun konkrit. “Saya menginginkan pencahayaan bisa menghadirkan tempat dan batas itu,” kata Clink, “suatu orkestrasi garis dan ruang dengan penegasan imaji kotak, berkotak-kotak dan terkotak kotak”.

Catatan ini, sudah barang tentu, tak sepenuhnya berhasil mengungkapkan pergulatan yang kami alami seluruhnya. Tapi itu mungkin bisa memberi bayangan bagaimana proses pertemuan dan interaksi gagasan itu berlangsung. Sebagaimana halnya ketika kami menginginkan musik yang digarap oleh Arief Susanto juga bisa menghadirkan kedalaman ruang sekaligus keluasan ruang. Oscar Lawalata, memberikan aksentuasi pada ruang-ruang itu melalui rancangan busana yang dikerjakannnya. Dengan pergantian busana, kami membayangkan ada ruang-ruang yang berbeda, yang pergantiannya bisa menjadi kejutan tersendiri. Sudah barang tentu, semua itu tak berlangsung dengan mulus. Sebagaimana biasa terjadi dalam banyak kolaborasi, tentu saja banyak hal yang menjengkelkan, pertengkaran dan ketidakenakan hati, perbantahan yang menguras energi tersendiri. Bagaimana produksi “menfasilitasi” ketegangan-ketegangan itu dan kemudian mencairkannya, menjadi pengalaman berharga dalam proses ini.

Setidaknya, semua itu, seperti dinyatakan Yudi, membuat setiap pekerja seni mesti menyadari bahwa ia harus menyadari kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan dari proses seperti ini. Atau seperti dalam pengalaman Tati, sebagai koreografer ia jadi makin menyadari bahwa “seorang yang menggeluti seni pertunjukan memang harus selalu terbuka dan tidak perlu khawatir dengan cara atau gaya ungkap selain yang pernah dilakukan sebelumnya”. Itu barangkali juga makin menyadarkan kami, bahwa proses ini membawa kami untuk bisa keluar dari kotak konsepsi kami tentang apa itu seni pertunjukan, apa itu tari dan teater, hingga kami tidak terus menerus merasa nyaman di dalamnya, sementara kenyataan di luar seni yang kami geluti – atau kenyataan-kenyataan di luar panggung pertunjukan, yang kerap dirujuk dan dituju oleh karya pertunjukan – seperti dinyatakan Yudi, semakin kompleks dan bergerak dalam percepatan yang mungkin tak terbayangkan dalam dekade-dekade sebelumnya. Seni pertunjukan, yang hendak bertolak dari dan menuju kenyataan-kenyataan itu, sepertinya mesti berendah hati dan mau lebih membuka diri serta menimbang suara dan pandangan dari luar disiplin dan tradisinya.

Hartati dilahirkan di Jakarta, tapi kemudian dibesarkan dalam tradisi Minangkabau. Ia menempuh pendidikan tari di Sekolah Menengah Kesenian (SMKI) Padang, dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Ia makin menekuni dunia tari dengan banyak koreografer, seperti  Gusmiati Suid, Deddy Luthan, Tom Ibnur, Sardono W Koesumo, Wiwiek Sipala, Sentot S, Retno Maruti, Farida Utoyo, Yulianti Parani, Boi G Sakti, Sukarji Sriman dan lainnya.

Pada produksi In/Out karya Hartati melibatkan Siti Ajeng Soelaeman, Andara ‘Anggie’ Firman Moeis, dan Nur Hasanah sebagai penari; Yudi Ahmad Tajudin dan Agus Noor, dramaturg; Oscar Lawalata, desainer kostum; Skipy Aip, komponis; Ignatius ‘Clink’ Sugiarto, direktur artistik; Eva Tobing, fotografer; serta Zulita Nur sebagai produser.

0 Responses to “– Pementasan IN/OUT: Catatan (di Dalam/di Luar) Proses”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Oktober 2009
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: