– CERPEN INDONESIA DAN ORDE BARU: UPAYA MENGATASI WACANA PENAKLUKAN

Ini hanya sekedar “catatan kecil” yang berusaha membaca hubungan latar sosial politik dalam satu periode pertumbuhan cerpen kita (cerpen Indonesia), terutama pada kurun waktu 1980-1990an. Pada periode itu, entah kenapa, saya seperti merasakan adanya korelasi yang kuat antara cerpen-cerpen yang ditulis para pengarang Indonesia, dengan situasi zaman yang menaunginya. Paling tidak, hal itulah yang terus-menerus terasakan oleh saya, sebagai salah seorang yang juga ikut menulis cerpen pada periode itu, yang membuat saya tak bisa mengelak untuk tidak mengkaitkan sastra dengan “kekuasaan” yang membayang sebagai setting historisnya. Semacam ada hubungan yang tak bisa diabaikan begitu saja antara sejarah cerpen dan sejarah sebuah rezim, pada kurun 1980-an itu.

Cerpen dan Orde Baru

Mengkaitkan sastra dengan operasionalisasi wacana yang dikembangkan oleh sebuah rezim kekuasaan, dalam banyak hal tak terlalu disukai orang. Meski pengkaitan semacam itu telah lazim dilakukan oleh pengamat dan pekerja sastra kita, terutama ketika berusaha menformulasikan apa yang sering disebut sebagai “Angkatan Sastra”. Tetapi memang terbukti, pengkaitan semacam itu kerap memperlakukan sastra semata-mata sebagai landasan untuk menandai pergantian kekuasaan (politik). Resiko paling buruk dari kerja penandaan semacam itu, sastra tidak dilihat sebagai suatu entitas kompleks yang memiliki karakteristik dan unikumnya sendiri. Ia selalu dikaitkan dengan praktek-praktek wacana yang dikembangkan oleh rezim kekuasaan, baik sebagai prosedur perlawanan maupun ketakberdayaan.

Saya menyadari resiko semacam itu, ketika berusaha menempatkan pertumbuhan cerpen Indonesia pada kurun 1980-1990an dalam kerangka politik yang dikembangkan oleh Orde Baru. Dan ketika saya mencoba menelusuri bayangan itu, muncul resiko lain dari pembacaan yang saya lakukan: saya jadi cenderung lebih mencermati cerpen-cerpen yang “sedikit-banyak” mendukung bayangan setting sosial-politik itu. Bahkan, kemudian, boleh jadi mengkait-kaitkan kode literer di dalamnya dengan realitas psosial politik yang berlangsung atau kira-kira diacunya. Padahal saya menyadari, kalau sebuah karya sastra (mungkin) tidak terutama dan semata-mata ditulis untuk “menanggapi” setting sosial-politik yang melingkupinya. Karya sastra, sering, tak memiliki pretensi semacam itu. Ia justru kerap penuh dan berarti dalam dirinya sendiri. Kebermaknaannya ada pada makna-tekstualnya, tenimbang dengan mereka-reka apa makna-referensial yang diacunya. Karnanya, ketika saya “bersikeras” untuk melakukan resepsi pemaknaan cerpen-cerpen yang tumbuh selama periode itu dengan mengacu pada fase pertumbuhan Orde Baru, saya menjadi sadar juga, betapa ada kemungkinan terjadi rekayasa pemaknaan referensial dari cerpen-cerpen itu ke persoalan-persoalan sosial-politik yang terjadi terkait operasionalisasi  wacana yang dikembangkan Orde Baru. Dan ini, tentu saja, saya akan terasa mengabaikan kecenderungan-kecenderungan lain, varian-varian pertumbuhan lain, yang dikembangkan oleh para penulis cerpen negeri ini. Apa boleh buat, ini juga resiko lain lagi, saya mesti saya tanggung dalam tulisan ini.

Tetapi saya percaya pada argumen elementer yang kerap dikutip ini: karya sastra tidak lahir dari ruang hampa. Selalu ada konstruksi sosial-politik yang ikut mempengaruhi, langsung atau tak langsung, yang sedikit banyak juga mempengaruhi dan membentuk aspek psikologis, bahkan idiologis, seorang sastrawan. Dari sinilah,  saya mencoba “mempertautkan” sebuah cerita dengan kemungkinan makna referensial yang (boleh jadi) ikut membentuk, mempengaruhi proses kreatif penulisannya, atau malah memang (boleh jadi) diacunya. Meski hal itu tak berlangsung pada tingkat tanggapan yang serta-merta atas konteks sosiologis yang terbayangkan dari teks cerita bersangkutan. Sebagai ilustrasi, cerpen Godlob karya Danarto. Cerpen ini muncul akhir tahun 60-an, dan kemudian banyak yang mengkaitkan situasi dan gambaran kelam dalam cerpen itu dengan situasi sosial-politik yang baru saja berlangsung brubuh pada masa-masa itu. Prosedur pemaknaan macam itu, tentu saja, dapat berkesan mengada-ada, othak-athik gatuk. Dan itu malah bisa membunuh kekuatan estetis cerpen itu sendiri.

Hal lain, saya merasakan adanya tendensi dan kecenderungan yang begitu besar dalam cerpen-cerpen kita untuk mengolah tema-tema sosial-politik yang kemudian menjadi mainstream gaya penulisan cerpen-cerpen kita. Ada faktor sosiologis yang bagi saya tak bisa diabaikan begitu saja, yang membayang dalam cerita-cerita itu: cerita-cerita yang seakan berangkat dari kerangka tematis tertentu, yang — mungkin tanpa disadari — diyakini dan seakan begitu saja ngendon dalam batok kepala kebayakan pengarang kita. Sebagaimana nanti terlihat, hampir sebagian besar cerpen-cerpen kita ditulis dengan tendensi sosiologis, dimana dorongan untuk “merumuskan” problem, persoalan dan konflik sosial yang berlangsung dalam masyarakat secara implisit berkelindan dalam struktur cerita. Sebuah tendensi, yang pastilah berasal dari kecenderungan realisme yang memang memiliki pretensi besar untuk menceritakan kembali kenyataan secara akurat. Cerita, kemudian menjadi gambaran-gambaran watak dan konflik yang cenderung tipologis, karena terasakan sebagai personifikasi atas hal-hal tertentu. Tendensi ini bisa juga dilacak dari “tradisi sastra bertendens” yang memang cukup kuat dalam kesusastraan Indonesia, yang oleh Goenawan Mohamad dinyatakan sebagai: kehendak untuk menemukan “keberartian”.

MEMAKAI Orde Baru sebagai batasan kurun, maka menjelang tahun 70-an dapat kita pakai sebagai awal. Fase awal ini, setidaknya ditandai satu ikon yang kemudian akan menjadi penting, yakni terbitnya majalah sastra Horison, dan kegairahan baru dalam dunia kesenian Indonesia yang ditandai berdirinya Taman Ismail Marzuki, yang seperti dinyatakan Goenawan Mohamad “menjadi suatu eksperimen yang menarik, dan tak jarang menegangkan, dalam hubungan antara kegiatan kesenian, kekuasaan dan masyarakat”. Kegairahan eksperimentasi, yang boleh jadi merefleksikan kegairahan akan “kebebasan”, setelah pada tahun-tahun sebelumnya berlangsung perseteruan idiologis yang seram.

Pada fase awal dari “periode Orde Baru”, memang ditandai oleh kegairahan untuk melakukan eksperimentasi dalam dunia kesenian, tak terkecuali sastra. Seakan tumbuh komitmen, bahwa seni hanya “bertanggungjawab” pada pencapaian-pencapaian estetis, atau seperti yang sering dinyatakan sebagai “seni untk seni” (sebagai distingsi dari “seni untuk rakyat” yang begitu kuat pada masa sebelumnya) yang dijadikan semacam orientasi bersama. Hingga kecenderungan untuk lebih menghargai “pembaruan” dalam seni menjadi faktor yang signifikan.

Saat cerpen “Gambar Hati tertusuk Anak Panah” (ya, judul cerpen itu sebenarnya gambar hati tertusuk anak panah dengan tetesan darah di ujungnya) karya Danarto mendapat penghargaan dari Redaksi Horison, antara lain dinyatakan, bahwa terpilihnya cerpen itu sebagai cerpen terbaik karena “cerita ini merupakan suatu bentuk yang baru di Indonesia” (Horison, III (4), April 1969, hal. 101). Bahkan Horison menyatakan, dengan menangnya cerpen itu diharapkan “akan merupakan perangsang bagi pengarang-pengarang lainnya untuk menggarap daerah-daerah baru bagi dunia cerita pendek Indonesia”

Kemenangan cerpen Danarto tersebut, seolah menjadi penghargaan bagi “semangat pembaharuan” dalam sastra. Kita tahu, pada masa itu Horison menjadi kiblat sekaligus pusat legitimasi sastra Indonesia. Sebagai kiblat, nampaknya Horison ingin menciptakan iklim yang lebih kondunsif bagi penulisan sastra, untuk memberi kemungkinan munculnya generasi baru sastra Indonesia. Hingga Subagio Sastrowardoyo pun sempat melakukan pembedaan antara generasi majalah Kisah dan Horison. Melalui argumen-argumen yang dipaparkan, Subagio setidaknya hendak menyatakan ada kecenderungan baru dari generasi penulis yang lebih “intelektualis” melalui pengembaraan bermacam pencarian estetik yang tak berpusat pada satu pola pengisahan sebagaimana menjadi kecenderungan para penulis yang “dibesarkan” majalah Kisah. Daerah-daerah baru penulisan cerita dirambah, memperlihatkan kegairahan eksperimentasi yang begitu kuat dalam sastra pada masa itu. Cerpen-cerpen semacam Sepi, Nol, Maya milik Putu Wijaya, Anak Budi Darma, Abracadabra, Kecubung Pengasihan Danarto, Sebelum yang Terakhir Satyagraha Hoerip, sampai Sukri  Membawa Pisau Hamsad Rangkuti, memperlihatkan itu.

Sebuah gairah “pembaruan” yang dapat kita bawa pada kegairahan akan “kebebasan”. Dengan begitu kita merasa, betapa pada saat itu, ada kegairahan dan kepercayaan pada ruang kebebasan (kreatif) yang dibuka oleh kelahiran Orde Baru. Memang saat-saat awal Orde Baru, kran kebebasan masih dibuka lebar. Euforia kebebasan dirayakan dengan penjelajahan estetis dalam cerpen. Dan ini akan menjadi dorongan kuat dalam “penilaian” kemajuan sastra Indonesia, dimana “pembaruan” begitu dipuja-puja, melebihi usaha untuk menciptakan tradisi sastra yang “mapan-berakar”. Kegairahan dan kepercayaan itu perlahan menyurut, bersamaan kian jelasnya mixed peformance dan  mixed character yang diperlihatkan Orde Baru. Dan ini terjadi pada tahun-tahun 1980an sampai 1990an, yang boleh dibilang menjadi puncak performa politik Orde Baru.

Pada periode tahun-tahun itulah, cerpen-cerpen yang menempatkan tema yang lebih sosiologis, yakni tema dengan referensi sosiaolgis yang lebih kentara, mulai banyak ditulis. Priode ini boleh dibilang periode peralihan dari “euforia pemujaan terhadap pembaharuan” kepada “periode kritisisme terhadap realitas spsial politik”. Pada konteks yang lebih luas, dalam kesusastraan kita, pada saat periode ini, mulai berkembang apa yang sering disebut sebagai “sastra kontekstual”.  Terlepas dari pro kontra soal “sastra kontekstual” itu, pada dasarnya, hal itu menandai adanya pemikiran untuk semakin peka dengan konteks sosial di mana para pengarang hidup, karena sastra tidak semaa-mata merupakan gagasan mengenail keindahan yang bersifatn universal, tepi mengandung konteks sosial yang lebih berkaitan langsung dengan dimana karya sastra itu diproduksi.

Pada cerpen, para “pengarang pembaharu” semacam Danarto, Putu Wijaya, atau Satyagraha Hoerip juga menampakkan pergeseran orientasi estetik dan tematik. Cerpen Putu yang semula bermain pada tataran imaji semata atau permainan pikiran (seperti terihat dalam cerpen Nol), mulai lebih bersifat dan bersemangat anekdotis-politis dan karikatural, dengan gaya yang cenderung mirip esai, dan meski pun mengesankan suatu dunia yang non-empiris dan tidak ostensif, karena tidak ada “suatu konteks” setting sosial khusus yang ditunjukannya, tetapi masih membayangkan makna referensial yang membawa acuan pada pristiwa-peristiwa tertentu. Cerpen Coro misalnya, tidak-bisa tidak mengingatkan kita pada pembredelan majalah Tempo.

Pada Danarto, yang semula suntuk dengan “dunia antah-berantah” mulai menulis cerita-cerita yang memiliki kaitan dengan problem-problem sosiologis yang terjadi akibat pembangunanisme (developmentalisme) yang menjadi agama Orde Baru. Bahkan Danarto tak jarang membangun personifikasi tokoh-tokohnya terhadap figur-figur tertentu, sebagaimana misalnya dalam cerpen Kursi Goyang atau Kolam Merah, meski dalam hal gaya penulisan Danarto tetap mempertahankan dunia mistisismenya sebagai strategi literer yang ditempuhnya untuk mengatasi verbalisme tema sosiologis yang rambahnya. Problem-problem sosial malah dengan “langsung” banyak ditulis oleh Satyagraha Hoerip., yang semula kuat ketika mengolah tema absudirtas manusia. Bahkan Hoerip, dengan secara langsung menyebut dirinya sebagai penulis cerpen yang sangat peduli dengan persoalan-persoalan ketidakadilan sosial, dan lebih khusus lagi soal korupsi yang sudah terstruktur dalam rezim Orde Baru. Karena itulah tema korupsi, kolusi dan manipulasi mendominasi cerpen-cerpen Satyagraha sejak awal tahun 80-an.

Orde yang semula dipercaya dan sempat meletupkan gairah pembaruan, mulai dilihat secara kritis. Maka, cerita-cerita dengan kerangka tematik yang cenderung sosiologis pun menjadi kecenderungan yang kuat: seakan cerita dipakai untuk merekonstruksi dampak dan problem yang dihadapi manusia (tokoh-tokohnya) ketika ia mesti bersikap dalam perubahan sosial yang berlangsung, dari “nilai lama” ke “nilai baru”, dari kenangan lama ke kenyataan baru sebagai “konsekuensi logis” dari pembangunanisme. Sebagai padanan, kita bisa melihat dunia puisi, dimana ketegangan itu berlangsung dengan riuh, dimana seakan-akan berlangsung kekerasan semantik yang dihadapi aku-lirik ketika mencoba mengakomodasi modernisme ke dalam teks-teks yang diproduksinya. Maka seperti dinyatakan Afrizal Malna, kekerasan modernisme pun berlangsung dalam dunia puisi.

Pada cerpen, ketegangan itu muncul melalui konflik yang mesti ditanggung oleh tokoh-tokoh yang diceritakannya, yang rata-rata berujung pada tragisme. Karenanya, membaca cerpen Indonesia pada masa-masa ini, berarti membaca konfigurasi konflik sosial yang berlangsung dalam masyarakat yang tergoncang karena perubahan sebagai konsekuensi yang mesti ditanggung akibat modernisasi yang dijadikan acuan pembangunan; juga akibat operasionalisasi wacana kekuasaan yang mengabaikan hak-hak rakyat untuk membangun “kebudayaannya” sendiri. Sentralisme kekuasaan tak hanya mematikan inisiatif dan partisipasi sosial dalam menangani pembangunan, tetapi juga membunuh ekspresi kebudayaan (rakyat) yang mungkin bisa dikembangkan. Tak heran, apabila terjadi penaklukan wacana kebudayaan rakyat oleh kekuasaan. Situasi yang menimbulkan konflik sosiologis sekaligus juga estetis. Dan cerpen, rupanya menjadi satu jalan untuk keluar dari upaya penaklukan itu, melalui penceritaan yang berkecenderungan untuk membongkar kamuflase pembangunan. Sikap “berfihak” pada wong cilik pun menjadi moralitas yang banyak dipercayai pengarang.

Tentu saja, kecenderungan semacam itu bukannya tanpa resiko. Karena bagaimana pun perubahan sosial toh terus berjalan, menawarkan berbagai kenikmatan dan kemudahan, yang juga dinikmati oleh pengarang. Di sinilah, kemudian, bermunculan “aku-naratif” yang gamang, bahkan berujung pada tragisme psikologis, ketika menghadapi dan mencoba mengatasi upaya-upaya penaklukan modernitas itu. “Aku-naratif” yang hidup dalam cerpen-cerpen Indonesia, kemudian, menjadi tipologi dari “manusia perbatasan” (meminjam ungkapan Subagyo Sastrowardoyo), antara mempertahankan tradisi atau menerima modernitas, dengan segala variannya. Suatu tipologi yang bahkan memperlihatkan adanya usaha manusia mengatasi wacana penaklukkan, baik secara ekonomis maupun politis.

Wacana Kisah yang Menarasikan Perubahan

SEBAGAI upaya mengatasi wacana perubahan sosial yang berlangsung di luar dirinya, cerpen Indonesia mencoba menempuh prosedur penceritaan realisme sebagai basis utamanya. Disini, realisme tak semata-mata berarti cerita-cerita itu realis, tetapi lebih pada wacana pengisahan yang percaya behwa sastra sanggup menghadirkan kembali kenyataan, menghidupkannya dalam cerita, dimanana “fakta-fakta sosial” dalam cerita itu dapat dikenali kembali, sehingga pembaca tidak teralienasi dari lingkungan sosialnya. Karenanya, tak mengherankan, apabila sebuah cerpen yang memakai gaya penceritaan surealis atau pun absurd, menyediakan juga indikasi-indikasi sosiologis yang membuat pembaca akan tetap mengenali “peristiwa sosial” yang tengah berlangsung diseputar mereka — suatu peristiwa yang biasanya telah termediasikan.

Itulah yang ingin saya sebut sebagai “tendensi sosiologis”, yang begitu menggejala dalam cerpen-cerpen kita hari ini. Cerpen menjadi semacam risalah sosial, yang mencoba menuturkan kegetiran dan haru-biru masyarakat yang tengah berbenah, masyarakat yang tengah berubah dari dunia agraris ke modernis, dengan segala resiko dan konsekwensi sosiologis dan psikologis yang mesti ditanggungnya. Cerpen-cerpen Indonesia yang ditulis sepuluh tahun terakhir ini, kian kentara mendedahkan persoalan semacam itu; seakan-akan ada tugas dan tanggung jawab yang tertanam dan mesti ditanggungkan oleh cerpen. Tak terlalu mengherankan, apabila cerpen kemudian hadir dengan sejunlah gambaran mengenai keterpurukan, ketergusuran, kepahitan dan ketakberdayaan manusia menghadapi perubahan.

Cerpen Bre Redana Requiem untuk Mas Mar bisa digunakan sebagai contoh. Tokoh aku (aku-naratif) dalam cerpen itu (seakan-akan) menjadi saksi atas perubahan yang mesti dihadapi Mas Har, yang merasa terasing ketika tempat ia tinggal yang dulu-dulunya sebuah kampung di pinggir kota, mulai dibangun real-estate. Ia tak merasa jadi bagian warga perumahan itu, tetapi “pindah pun saya tak bisa, karena dianggap tidak sama dengan seluruh kampung yang dipindahkan itu” kata Mas Har. Ia memang tak lagi sepenuhnya milik “kampung” karena ia telah berkenalan dengan “dunia luar kampung”, ia misalnya fasih bicara soal privacy, bisa memainkan musik Tchaikovsky, dan punya banyak buku-buku tebal (hal-hal yang pastilah mengacu pada modernisme). Meski begitu, ia pun tak merasa menjadi bagian dari “warga perumahan modern” itu, ia tak merasa bagian dari perubahan yang lebih cenderung snob dan hedonis yang oleh Mas Har dikatakan “yang bagus-bagus itu kan cuma pupur dari kebudayaan yang sontoloyo….”  Situasi keterasingan itu sangat disadari,

“Disana tidak diakui, disini tidak diakui, akhirnya saya memilih menentukan, biar saya tetap di sini saya.”

Ya, pilihan itu adalah dengan berdiam dalam rumah, yakni “rumah imajinasi”, dimana ia bisa merasa betah dan krasan.  Yang menjadi semacam ruang yang dibangun dan dipertahankan untuk meredakan ketegangan dan kegalauan yang dihadapinya. Ia menciptakan “dunia tersendiri”, dunia alternatif, hingga ia memiliki kemungkinan untuk mengambil jarak: menimbang kegelisahannya sendiri. Sebagai konsekuensinya, ia memang sendiri dan kesepian, karena memang “rumah” yang dibangunnya bagaimana pun tak kuasa menghadapi kenyataan perubahan yang tengah berlangsung: Rumah papan yang segera akan sirna, buku-buku yang segera akan lapuk, biola tua yang akan segera rombeng

Cerpen-cerpen dengan nuansa seperti itu, terlalu banyak kita jumpai. Begitu kuatnya tendensi sosiologis dalam cerpen-cerpen Indonesia hari ini, sehingga sebuah cerita seakan-akan ditulis dengan dorongan untuk “merumuskan” problem, persoalan dan konflik sosial yang berlangsung dalam masyarakat secara implisit ke dalam struktur cerita. Seakan ada raison d’etre, yang menjadi kerangka tema dalam cerita, yakni tema seputar perubahan sosial-politik yang tengah berlangsung kini. Hingga rasanya, ada sebuah tema yang dicemaskan bersama, yang kemudian menjadi “tema utama” yang banyak diceritakan: bersitegang antara yang sentripetal dan yang sentrifugal. Inilah  proyek tematik yang terus digarap oleh pengarang kita – dan seakan-akan tak dapat menghindarkan diri darinya. Faruk mengatakan hal sebagai keterperangkapan tak sadar terhadap jaring romantisisme.

Dengan memakai cerpen Bre Redana sebagai kasus dan menerima penilaian Faruk, maka kita bisa membayangkan skema dari proyek tematik itu: dunia sentripetaldunia sentrifugaldunia alternatif. Untuk mengatasi ketegangan antara dunia sentripetal dan dunia sentrifugal, pengarang mencoba membangun dunia alternatif. Karenanya, untuk mengakomodasi “tema utama” itu ke dalam cerita, para pengarang berkecenderungan untuk menciptakan model-model wacana pengkisahan yang tentu saja diharapkan dapat mencerminkan realitas yang hendak direpresentasikan.

Sebelumnya, perlu diperhatikan pula di sini, betapa ketika kecenderungan itu berlangsung, terasakan surutnya peran majalah sastra Horison, dan cerpen mulai menyebar ke media massa umum, macam koran. Banyak yang yakin, kalau itu juga tak lepas dari faktor ekonomi: karena pengarang lebih suka mengirimkan karyanya ke koran lantaran honornya lebih besar. Faktor ekonomis ini, kalau kita percaya, tentu saja tak bisa dilepaskan dari “keberhasilan” ekonomi makro yang dikembangkan Orde Baru, yang kemudian mengesankan paradoks ketika “keberhasilan” itu membuat para pengarang banyak menulis “kisah tragis” akibat keberhasilan itu. Namun kita bisa melihat paradoks ini sebagai adanya dorongan untuk melakukan kritik, melakukan koreksi atas berbagai problem sosial-politik. Dan itulah yang membuat pengarang mencoba membangun (atau mempertahankan?) “dunia alternatif” itu. Hingga,  terasa ada prosedur yang ditempuh: sembari melakukan kritik, dengan menggarap yang berpretensi sosiologis, pengarang mencoba menciptakan “dunia alternatif” sebagai rumah bersama. Dan koran sebagai ruang publik memungkinkan untuk secara efektif melakukan itu.

Kecenderungan menggarap tema-tema berpretensi sosiologis, juga tak dapat dilepaskan dari karakter koran yang sangat mempertimbangkan faktor-faktor seperti aktualitas dan tekanan pada peristiwa sosial, sebagai sesuatu yang signifikan ikut membentuk kecenderungan itu. Tetapi, kita tahu, pers juga dikontrol oleh negara. Fakta-fakta disterilkan, dibekukan, untuk mempertahankan penunggalan politik pemaknaan oleh negara. Ini membuat pengarang kemudian mesti bersiasat juga, melakukan strategi literer untuk menciptakan model wacana pengisahan yang kemudian memperlihatkan kehendak “tema utama” perubahan sosial-politik, sebagi tema besar, melalui cerita-cerita yang partikular: dengan pelukisan setting cerita yang lebih kecil lingkupnya, tetapi mengisyaratkan gagasan besar yang melebihi struktur teks itu sendiri. Misalnya, untuk menggambarkan negara, dipakai model wacana pengisahan dengan setting sebuah desa atau kampung, dengan Lurah atau Kepala Desa, dan sering ditambah kehadiran Hansip untuk menegaskan watak militeristik sekaligus mengkarikaturkannya, menjadi parodi. Cerpen Lurah Kuntowijoyo dan Fitnah Putu Wijaya, bisa dipakai sebagai contoh untuk model pengisahan semacam itu.

Dengan membangun setting desa atau kampung semacam itu, model “dunia alternatif” itu juga mengesankan adanya kerinduan untuk mempertahankan “kebijaksaan-kebijaksaan tradisional” yang harus dan hendak dijaga dari lindasan perubahan. Cerpen Syukuran Sutabawor Ahmad Tohari atau Teki-teki Orang Desa Hamsad Rangkuti memperlihatkan hal itu. Lebih dari itu, ada dorongan untuk memakai sensibilitas lokal yang merujuk pada jejak-jejak tradisi yang menjadi akar dan referen pengarang sebagai model pengisahan lain untuk membangun “dunia alternatif”, sekaligus melakukan “perbandingan moralitas”: dimana kritik dan koreksi memperoleh acuan moral dari kisah-kisah lama. Yanusa Nugroho memakai kisah-kisah pewayangan dan babad, seperti dalam cerpen Segulung Cerita Tua…, atau Purnama dan Ringkik Kuda. Taufik Ikram Jamil merujuk kisah-kisah Melayu-Riau untuk melakukan paralelisasi peristiwa yang menelikung tokoh-tokoh ceritanya, seperti cerpen Salim Terbang dan Sandiwara Hang Tuah. Suatu model acuan moralitas, yang sebenarnya meletupkan kegamangan juga, setidaknya ia mengisyaratkan ambivalensi identitas, yang menciptakan ruang kesunyian dalam diri tokoh-tokoh itu, seperti terasa dalam cerpen Ibu dalam Diri Gus tf Sakai.

Yang menarik, nilai-nilai tradisi itu bisa juga saling “bertentangan”. Semacam terjadi pertarungan politik pemaknaan untuk “membangun” identitas kebudayaan – yang dalam konteks Orde Baru adalah rekayasa apa yang sering dijargonkan sebagai “kebudayaan Nasional”. Saya sangat terkesan dengan cerpen Taufik Ikram Jamil, Ketika Gamelan Berbunyi yang menceritakan perihal We Anom, yang terkena penyakit aneh: selalu meraung-raung kesakitan setiap kali mendengar bunyi gamelan. Suara gamelan dari pemukiman para transmigran (dari Jawa) itu justru (!) mengusik ketenangan pantun dan nyayian We Anom sebagai representasi tradisi Melayu-Riau.

Yang menarik tentulah model pengisahan surealisme dan absurdisme yang juga banyak ditempuh oleh pengarang kita. Menarik, karena pada satu sisi ia seakan-akan “telah menerima” modernitas, dimana dalam konsepsi filosofis Barat, surealisme dan absurdime adalah anak-anak yang lahir dari garba modernisme; spirit untuk melakukan pembaharuan, eksperimentasi dan pencarian bentuk pengceritaan, pun merepresentasikan spirit kemajuan, yang seakan dijadikan acuan dan standar keberhasilan karya sastra.

Tetapi karena surealisme dan absurdisme lebih terasa sebagai sebuah bentuk dan tehnik penulisan, maka makna referensial yang terkandung dari bentuk-bentuk yang “aneh dan nyleneh” terasa lebih kuat. Absurdisme ditempuh tidak untuk abdurdisme itu sendiri, ia adalah strategi literer untu mengatasi “pembatasan-pembatasan politik” yang dihadati seorang penulis ketika hendak melancarkan kritik-kritiknya. Cerpen Meteorit Sony Karsono, bisa diajukan sebagai contoh. Cerpen ini mengisahkan hal yang ganjil: mayat yang hidup kembali setelah terkena pecahan meteor. Dengan pelukisan yang kelam dan futuristik, cerita kemudian bergulir tentang kematian seorang buruh yang dibunuh karena membangkang program yang dikembangkan oleh perusaaan yang dipimpin oleh si mayat yang hidup kembali itu. “Masuknya” pembunuhan buruh itu, serta merta, akan membawa ingatan pada kematian Marsinah. Makna referensial semacam itu, tentu saja tak bisa dilepaskan dari aktualitas peristiwa yang pada saat kemunculan cerpen itu. Artinya, memang, ada unsur pembentuk pemaknaan diluar teks cerpen itu sendiri. Dan ini memang jadi problem cerpen-cerpen kita hari ini, ketika ia ditulis dengan “semangat” untuk dikirim ke koran.

Contoh lain adalah cerpen Telinga Seno Gumira Ajidarma. Kisah seseorang yang memdapat kiriman potongan telinga dari pacarnya di medan pertempuran, menemukan maknanya yang konkrit, justru tidak dari dunia surealisme yang dibangun dalam teks itu sendiri, tetapi ketika ia membayangkan perlawanan (imajinasi) yang sarkastis, atas peristiwa yang terjadi di Dili, Timor Timur. “Kalau lu sadis, gue bisa lebih sadis,” tulis Seno dalam satu esainya, Ketika Jurnalisme Dibungkam sastra harus Bicara. Artinya, Seno sendiri membayangkan ada kenyataan diluar teks yang menjadi acuannya. Ia memang berusaha melawan pembungkaman. Ia berusaha membocorkan fakta-fakta yang hendak dipetieskan oleh Orde Baru.

Inilah yang kemudian menjadi mainstream cerpen-cerpen Indonesia selama hampir satu dekade terakhir ini. Kecenderungan menulis “cerita-berita” begitu kuat: dimana indikasi-indikasi nonfiksional dipakai untuk membangun struktur cerita yang “dengan gampang” akan segera dikenali kembali kenyataan (faktualitas) yang diacunya.

Situasi seperti itu, kemudian akan nampak kuat dalam buku kumpulan cerpen yang dihimpun oleh M Shoim Anwar, Soeharto dalam Cerpen Indonesia. Soeharto sebagai personifikasi paling kuat dari Orde Baru, seperti menjadi baying-bayang yang diacu dalam cerpen-cerpen yang oleh Shoim dianggap memiliki relenvasi tematik dengan perilaku politik Soeharto dengan Orde Barunya. Cerita-cerita yang ditulis pada kurun itu, kemudian menampakkan diri menjadi semacam ‘sindiran simbolik’ dari struktur dan perilaku politik yang terjadi di jaman Orde Baru. Melalui cerita, perlawanan seakan dilangsungkan atau diselundupkan, atau dalam bahasa Seno, coba dibocorkan ke tengah masyarakat (pembaca).

Tentu saja, itu sah dan bukan sesuatu yang salah. Tetapi ada resiko, yang kemudian sepertinya tak terelakkan, betapa cerpen kemudian menjadi tampak generik, hidup dalam spirit komunal, yang dijadikan acuan ketika menulis cerpen. Semacam ada pola struktur penceritaan tertentu, yang kemudian menjadi wacana pengisahan cerpen yang tak terelakkan. Cerita jadi berkehendak untuk mendedahkan tema-tema sosiologis berkaitan dengan tragisme yang dihadapi masyarakat — khususnya wong cilik — ketika berhadapan denga perubahan — lebih-lebih kekuasaan. Inilah tendensi sosiologis yang menjadi mainsteam penulisan cerpen Indonesia akhir-akhir ini, yang mebuat cerpen seakan-akan “terjebak” dalam tema-tema sosiologis dengan faktualitas dan aktualitas sebagai setting peristiwa yang membayang dalam cerita.

Boleh jadi itu sebuah upaya lain untuk menimbang, menilai dan sekaligus merebut tema-tema sosial yang juga dikunyah sehari-hari oleh masyarakat. Dengan begitu ada korelasi kuat antara sastra dan masyarakatnya. Satu upaya untuk menempatkan sastra berada di tengah-tengah denyut hidup masyarakatnya, sebagai bagian dari ekpresi bersama yang mencoba menjeritkan keterhimpitan dan ketakberdayaan sosial. Keterhimpitan dari tirani kekuasaan, dan ketakberdayaan menentukan pilihan tempat berpijak antara masa lalu yang masih terbayang keteduhannya dan masa kini yang riuh tetapi mesti dijalani. Berkait dengan ini, “dunia alternatif” pun diciptakan dengan tiang-tiang moralitas menjadi sandaran utamanya. Tak heran, bila moralitas keberpihakkan menjadi spirit yang terus menerus direproduksi dalam sastra

Tetapi tragisme pun terus berlangsung dalam cerpen-cerpen kita. Moralitas keberpihakan dan spirit perlawanan untuk melakukan gugatan sosial, dalam banyak cerpen justru berujung pada tragisme tokoh-tokohnya. Simak saja nasib Marno dalam cerpen Protes Achmad Munif. Tokoh ini begitu heroik memperjuangkan nasibnya, menuntut keadilan pada atasannya, tetapi kemudian, diakhir cerita kematian tragis menggilasnya. Atau nasib Jawad dalan cerpen Monolog Kesunyian Indra Tranggono, yang mencoba bersikukuh dengan kebesaran masa silamnya, mempertahankan mati-matian identitas dirinya sebagai pemain keoprak, meski ia sudah tergerus perubahan zaman: oleh anak-anak kecil ia diperlakukan sebagai orang gila, dan tak berdaya ketika diciduk oleh petugas ketertiban. Ini seakan sebuah pemberontakan yang sangat menyadari keterbatasannya: bahwa ia pada akhirnya akan kalah. Rasanya tak ada jalan lain untuk menyuarakan perlawanan sekaligus bertegus dengan pilihan.

Barangkali, sastra sebagai “dunia kemungkinan”, memang tak bisa — atau tak boleh? — memberikan  kepastian. Bukan hanya karena sastra memang terikat oleh keterbatasan-keterbatasan yang disandangnya, tetapi lebih-lebih karena kepastian dalam sastra hanya akan membawanya pada tingkat dikdaktif dan dogmatis. Dan itu akan membuat sebuah cerita kehilangan pesona makna yang dimilikinya. Kegentingan semacam itu memang membayang ketika cerpen-cerpen Indonesia seakan tak mampu membebaskan diri dari tendensi sosiologis yang menelikungnya. Tapi itulah, barangkali, sebuah semangat perlawanan yang terjadi di tahun-than 1980-1990an, yang mencoba menarasikan tema politis melalui tataran simbolis.

2 Responses to “– CERPEN INDONESIA DAN ORDE BARU: UPAYA MENGATASI WACANA PENAKLUKAN”


  1. 1 Marsli N.O September 1, 2009 pukul 10:47 am

    Agus: Namamu kubaca dalam kisah pendek di blog Saut.

  2. 2 Odi Shalahuddin September 9, 2013 pukul 11:19 am

    Sekarang, semangat perlawanan macam apa ya?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Agustus 2009
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: