– ASMARADANA

Asmarandana

INILAH malam paling keparat yang akan selalu ibu ingat. Malam ketika ibu disergap dan diseret ke dalam gelap. Di antara tumpukan kayu pecahan peti, onggokan kardus apak dan lembab, ibu dilempar hingga terjerembab. Ia mencoba menjerit, tapi seketika mulutnya terbekap. Lima laki-laki itu menyeringai, mengepung, dan mulai menggagahinya. Sekuat tenaga ibu merentak menolak. Ia mencakar. Menendang. Kelima laki-laki itu malah terkekeh dengan liur meleleh. Cahaya yang samar berpendaran dari ujung lorong, membuat wajah lima laki-laki itu timbul tenggelam diaduk-aduk kengerian.

Ibu mengejan, meronta, ketika kedua kakinya direntang, dan ia merasakan sesuatu yang runcing, melebihi mata lembing, menghunjam selangkang. Ibu hanya memerih merintih. Dan seperti ada yang mendidih, ketika ia merasakan cairan sekental dadih, mulai menggenangi rahimnya yang perih. Ia merasakan gatal yang begitu luar biasa di liang selangkangnya, seakan dipenuhi getah nira yang membuat kulitnya seketika terasa panas. Seluruh tubuh serasa abuh melepuh…

Itulah malam paling keparat, sejak ibu merasakan ada benih serigala mendekam dalam rahimnya.

Sejak itu, ibu begitu jijik dengan tubuhnya sendiri. Sepanjang hari ibu selalu mengeram marah menggaruki selangkangnya hingga berdarah-darah. Sepanjang hari ibu melolong dan menjerit mencakari seluruh tubuhnya yang ia rasakan ditumbuhi bulu-bulu hitam gatal menjijikkan. Berkali-kali ibu menenggak bermacam pestisida, agar serigala dalam rahimnya segera binasa. Tetapi perut ibu malah kian tambah membengkak. Dan ibu terus-menerus menjerit dan berteriak mengutuki malam paling keparat itu.

Sampai suatu malam, perut ibu seperti meledak, ketika petir berlecutan, dan ia hanya terkapar menyaksikan jabang bayi itu merangkak keluar dari rahimnya. Bayi itu melolong keras, seakan hendak mengatasi suara yang menggemuruh di puncak malam. Masih pucat, lemas, telinga berdengung dan pandangan berkunang-kunang, ibu memandangi jabang bayi itu, kemudian melenguh, “Benar, aku melahirkan serigala…”

Ibu melihat bayi itu perlahan-lahan merangkak mencari gelap.

AKULAH serigala itu.

Sambil bersandar di dinding, kupandangi bayangan di cermin: makhluk bermata merah, dengan garis dan bentuk mulut menyerupai moncong, dengan lidah berjelijih merah terjulur. Aku bisa mengerti, kenapa seluruh keluarga begitu membenciku. Kakek segera melemparkan bakiak yang dipakainya begitu melihat aku mulai merangkak mendekatinya, “Pergi! Pergi! Menjijikkan!” Dan aku hanya mengeram, mengkerut, memandangi nenek yang duduk mematung di kursi goyang. Begitu melihatku, nenek segera membuang pandang sembari merutuk, “Kenapa aku punya keturunan begini menyedihkan…” Suara itu seakan keluar dari dadanya yang keropos oleh kedukaan.

Pada saat-saat seperti itu, yang kuinginkan adalah belaian ibu. Aku ingin meringkuk di pangkuan ibu. Tapi setiap kali aku dekati, ibu langsung menjeri-jerit. Ibu akan memukul kepalaku setiap kali aku merengek minta susu. “Tak akan pernah kubiarkan susuku dihisap serigala busuk macam kamu,” ibu mengejang, nanar menatapku. “Minumlah air comberan. Pergilah kau ke jalan, karena dari sana kamu berasal!”

Sembab menahan isak, aku segera menyeret kesedihan. Dengan perasaan asing dan sunyi, aku pun segera berkeliaran di jalan. Aku menyukai rimbun belukar, gudang-gudang tua, gerbong kereta, gorong-gorong. Itulah tempat-tempat yang membuatku bisa sedikit merasa nyaman. Hingga mataku terbiasa dengan gelap. Dalam gelap, aku bisa melihat sayap kecoa yang tipis kecoklatan ketika binatang ia bekeredap merayap keluar selokan. Aku bisa melihat kaki-kaki tikus yang penuh kotoran merah kehitaman, bulu-bulunya yang kelabu, juga cericitnya yang menghilang ke dalam lubang. Dalam kegelapam aku menjadi peka terhadap suara-suara: desir angin, dengung serangga, batang-batang rumput yang bergesekan, juga desis ular di belukar.

Saat-saat seperti itulah, aku merasa begitu nyaman. Tidak seperti di rumah yang penuh makian. Aku bisa mendekam bermalam-malam, menikmati hasil buruan, sambil membayangkan wajah ibu yang membenciku. Kegelapan ini seakan-akan selimut yang membuatku selalu merasa hangat, hingga aku bisa membayangkan wajah ibu dengan penuh kerinduan. Aku suka raut ibu yang pucat. Bibirnya yang selalu gemetar. Aku merindukan puting susunya untuk kuhisap dan kujilat. Ibu, tidakkah kamu rindu menyusui anakmu? Kemudian aku mulai menyusun bayangan ibu. Aku membayangkan lengannya yang terkulai. Aku membayangkan pinggangnya yan mengkerut. Aku membayangkan rambutnya yang kelabu, telinganya yang meruncing dan gigi-giginya yang bertaring. Bila aku semakin rindu pada ibu, aku pun segera keluyuran ke tempat pembuangan sampah, memunguti plastik-plastik dan kaleng susu, remukan kardus dan kawat berkarat. Kususun kaleng-kaleng susu itu menjadi patung ibu. Kumahkotai rambutnya dengan plastik dan kertas. Kutandai puting susunya dengan arang. Itulah saat-saat yang membuatku bisa merasa nyaman dalam bayangan ibu. Kupeluk dan kubawa patung ibu dari kaleng-kaleng susu itu ke tempat persembunyianku. Dalam gelap kami jadi akrab. Ibu yang tersenyum kepadaku, memeluk dan mulai menjilati bulu-buluku. Lalu aku pun menggosok-gosokkan tubuhku ke tubuh ibu. Aku mulai menyurukkan moncongku ke ketiak ibu. Dan ibu menggelinjang senang ketika aku mulai membalas menjilatinya. Kami saling gosok dan saling jilat berbagi hangat. Hingga aku bisa merasakan kehadiran ibu yang mendekap semua kerisauanku.

Dengan cara seperti itulah aku mencintai ibu, dan perlahan-lahan mulai memahami ibu. Sungguh ibu, aku mencintaimu, merindukanmu. Tidakkah engkau bangga punya anak yang begitu mencintaimu seperti aku?

KADANG-KADANG, bila aku sembunyi dalam gerbong kereta, aku suka membuka celana kolorku, lalu bergerak merangkak sambil menggoyang-goyangkan pinggul, membayangkan ada ekor yang pelan-pelan tumbuh memanjang di sela pantatku. Ekor itu lembut, dengan bulu-bulu surai kemerahan, menjuntai bergoyang-goyang setiap kali aku melenggang.

Tapi aku selalu kecewa, karena tak juga tumbuh ekor di sela pantatku. Yang tumbuh malah bulu-bulu halus di seputar kelaminku. Membuatku terkikik, setiap kali aku merasa geli ketika memain-mainkan kelaminku. Juga merasa lucu, membayangkan ibu akan terpekik senang menyaksikan bulu-bulu lembut di seputar kelaminku itu. Ya, kubayangkan: ibu pasti akan begitu girang menyaksikan serigala kecilnya kini sudah mulai dewasa.

Karena itulah, sambil bernyanyi-nyanyi riang, aku segera berlari pulang. Sudah begitu lama aku tak pulang, aku berharap ibu mulai merindukanku, seperti selama ini aku merindukan ibu. Rumah sepi. Segera aku berteriak-teriak, “Ibu, ibu…, ini aku pulang!”

Dan kulihat ibu sudah berdiri di muka pintu. Lihatlah, ia melotot, tapi siap menyambutku. Maka segera kepelorotkan celana, dengan bangga kupamerkan kelaminku pada ibu. “Lihatlah ibu…, kelaminku mulai tumbuh bulu!”

“Serigala busuk! Minggat kamu!!” Ibu melemparkan sapu ke arahku. “Cepat minggat, bangsat!!”

Kupandangi ibu. Masih kutunjukan kelaminku pada ibu. Dan ibu segera melempariku dengan batu.

DAN aku kembali sembunyi dalam kegelapan. Kupandangi patung kaleng susuku, dan ia tersenyum dengan wajah ibu yang meneduhkanku. Aku percaya ibu mencintaiku. Ibu hanya tak tahu bagaimana meski bersikap kepadaku. Bagaimana pun aku anakku, meski aku sering mendengar gunjingan tetangga tentang kelahiranku. Tentang malam keparat itu. Aku pasti akan membalaskan dendammu, ibu. Bila aku sudah besar, dan cakar serta taringkku kian kuat dan runcing, pasti, pasti, akan kucabik-cabik mereka yang menyakitimu, ibu!

Aku tumbuh dalam kelam, dalam bayang-bayang yang kian panjang. Aku menghabiskan malam demi malam dalam gudang, bermain-main dengan bayang-bayang yang bergerak-gerak di tembok. Permainan bayang-bayang itu membuatku merasa mempunyai seorang kawan bermain yang mengasyikkan. Setiap malam aku dan bayang-bayang itu selalu bermain-main, meloncat dan berkejaran. Kadang kami saling terkam, saling mengeram. Di antara semua permainan bayang-bayang, aku paling suka permainan seperti ini: aku membuka kolor, berjalan melenggang berkitaran menyaksikan bayang-bayangku yang tampak ramping dengan kelamin menyerupai ekor yang bergoyang-goyang. Aku menyukai permainan itu, karena aku bisa membayangkan kelamin itu perlahan-lahan memanjang, seperti ekor yang tumbuh di bagian depan. Hampir tiap malam aku bermain-main seperti itu. Menarik-narik ujung kelaminku agar cepat memanjang.

Dan, suatu malam, saat aku bermain dengan bayang-bayang, kudengar tawa cekikik dari arah pintu gudang, “Ckckckck…” Lalu kulihat seorang perempuan, pucat tirus, tersenyum memandangku, merasa lucu, seakan-akan ia tengah menonton pertunjukan orang cebol di pasar malam.

Aku beringsut, mengeram meraih kolor.

“Jangan takut, serigala kecil yang manis…” Ia melangkah mendekat, kedua tangannya terentang, mengundang. Sejenak, aku hanya berdiri gamang. Aku sering melihat perempuan ini, berkeliaran di antara gerbong-gerbong kereta. Aku sering melihatnya berkelebat dalam gelap.  “Sini, manis, kuajari bagaimana menjadi serigala jantan.” Tangannya menyentuh pundakku, dan saat itu, aku seperti melihat kelebat bayangan ibu yang muncul bagai hantu. Aku memandanginya. Ia mengusap kepalaku. Dan aku, untuk pertama kali, merasakan usapan ibu. “Mari…” katanya, sambil menarik tubuhku, yang masih menggigil kaget dan tak menyangka akan merasakan hangat belaian seorang ibu. Aku gugup, juga tak bisa menyembunyikan malu. Apalagi ketika ia mulai menyentuh kelaminku. Ia remas kantung kelaminku, begitu lembut. Kemudian aku dibopongnya. Sambil terus terkikik, ia membaringkan aku di atas tumpukan peti. Ia terus meremas dan memain-mainkan kelaminku hingga mengeras panas.

“Kamu serigala kecil paling lucu. Kamu bagus buat jamu… Tenanglah, akan kuhisap kemudaanmu…” Dan ia mulai menjulurkan lidah ke ujung kelaminku. Aku terperangah. Aku mendesah. Dan perempuan itu dengan rakus melumat kelamin kecilku, seperti melahap pisang sekali telan.

Saat otot-ototku meregang, melayang, saat itulah, aku aku membayangkan ibu.

SEJAK itu, aku tak lagi hanya bermain-main dengan bayang-bayang. Karena aku jadi lebih sering bermain-main dengan perempuan itu. Ia menjadi ibu yang selama ini aku rindukan. Ia cekikikan senang setiap kali aku menggosok-gosokkan tubuhku ke tubuhnya. Ia bisa merasakan gairah rinduku pada ibu. Aku senang memandangi matanya yang kelabu. Aku merasa tentram bila ia dekap.

“Kamu benar-benar manja…” katanya, sambil mengusap rambutku.

“Aku haus ibu…”

Ia tak menghardikku, seperti ibu dulu.

“Kamu pingin mimik cucu?!”

Lalu ia meraih kepalaku, menyurukkan kepalaku ke susunya yang kendur, dan membiarkan aku menjilat dan menghisap puting susu itu. Baunya apak dan sengak, tapi aku merasa enak.

Dan bila ia terlelap, tengah malam aku sering terbangun, memandanginya dengan sendu. Ibu. Ibu. Betapa aku mencintaimu! Kemudian kuluapkan rinduku. Aku mulai menjilati tubuhnya, hingga ia menggeliat bangun. Ia tersenyum senang ketika melihat aku tengah menjilati tubuhnya.

“Kamu memang serigala yang pintar…” suaranya terdengar gemetar. Dan aku terus menjilati tubuhnya. Seperti menjilati harum kebahagiaanku. Ketika ia menyadari aku suka menjilati tubuhnya, ia pun selalu mengoleskan mentega ke selangkangnya. “Jilatlah, bila kau suka…”

Bau langur dan gurih itu membuat lidahku tak bosan-bosan menjilati selangkangnya. Sementara ia hanya bersandar, mengelus-elus tengkukku dengan lembut, sambil sesekali menggumamkan tembang di antara erang yang mengambang. Itulah malam-malam paling damai, setelah segalanya usai, dan aku akan tertidur lelap dalam pelukannya.

BAYANG-BAYANG ibu tak lagi menakutkanku. Aku seperti menemukan cara untuk bedamai dengan bayangan ibu, yang masih saja selalu mengusirku. Hanya sesekali aku pulang ke rumah, itu pun mengendap-endap tengah malam. Biasanya karena aku hendak mencuri sisa makanan. Akan aku embat sisa makanan di lemari dan meja, aku bungkus bergegas, kemudian kembali kabur. Aku akan menuju gerbong kereta, di mana perempuan itu menunggu. Setengah melompat aku menjejak bantalan rel kereta, riang bercanda dengan bayang-bayang tubuhku yang memanjang meliuk-liuk mendahului langkahku. Aku berlari, berkejaran dengan bayang-bayangku: siapa paling dulu ketemu ibu! Aku segera ketemu perempuan itu. Aku segera ketemu ibu. Kubawakan makanan untukmu, ibu.

Tapi aku terpana sebelum meloncat ke dalam gerbong. Cahaya bulan yang menerobos ke dalam gerbong membuat aku bisa melihat seorang laki-laki yang tengah menindih perempuan itu. Aku berdiri, gamang, gemetar. Kudengar lengking kereta, menggemuruh lewat, tetapi gemuruh dalam dadaku jauh lebih kuat. Desah nafas perempuan itu, juga lenguhnya yang tertahan, lebih bergema merasuki telinga. Lelaki itu terus menindih.

Aku teringat cerita malam paling keparat yang membuat ibu membenciku. Dan aku langsung meraung, meloncat dan menyerang dengan kalap. Laki-laki itu kaget. Ia kebingungan ketika aku berkali-kali menggigit dan mencakar tubuhnya.

“Bedebah!” Ditangkapnya tanganku, dipiting, kemudian ia lemparkan tubuhku ke dinding gerbong.

Sementara perempuan itu terbelalak menatapku, mendengus kesal.

“Ibu!” pekikku, mengeram menahan sakit, berharap ia segera melindungiku.

Tapi ia malah meludah, memakai kembali gaunnya yang melorot, lantas memaki, “Brengsek!” Kemudian bergegas pergi.

“Ibu” teriakku, hendak mengejar. Tapi laki-laki itu sudah mencengkal lenganku. Aku hendak menggigit, tapi kepalaku keburu dihantamnya hingga berdengung. Laki-laki itu nanar menatapku. Kucium keringatnya yang kecut, bau tuak menghembus dari hidungnya. “Ah, serigala kecil…” ia menyeringai.

Telingaku tegak berdiri, merasa sesuatu bakal terjadi.

“Kamu telah menggangu kesenanganku, serigala kecil… Hehehe…, tak apalah…karena aku pun suka serigala kecil macam kamu…” Dan dengan tangkas ia meringkusku. Aku meronta, mencakar, menggigit – tapi ia begitu kuat. Tubuhku ia lipat. Ia renggut celana kolorku. Aku menjerit, melolong panjang. Aku merasakan sesuatu seperti kaktus, dilesakkan ke dalam anus…

Aku ingat ibu. Aku akan mengingat malam ini, seperti ibu mengingat malam paling keparat dalam hidupnya.

BERHARI-HARI bokongku merasa nyeri.  Aku selalu bergidik, membayangkan kaktus tumbuh dalam anusku. Membuatku selalu merasa gatal. Aku jadi mengerti, kenapa ibu – dulu – begitu jijik dan selalu menggaruki liang selangkangnya. Setiap kali aku mengingat malam keparat itu, aku selalu tersiksa dengan bayangan ibu, yang kadang menumbuhkan kebencian pada ibu. Kenapa ibu mengusirku ke jalan? Bukankah ibu merasakan sendiri, bagaimana jalanan menyimpan banyak kengerian? Di jalanan iblis-iblis gentayangan. Muncul dari balik lorong-lorong kelam, menyergap seseorang, menyeretnya ke rimbun kegelapan. Bagaimana pun aku anak ibu. Dan tak semestinya ibu membiarkan aku begitu saja berkeliaran di jalanan.

Ibu, ibu… Tiadakah kau tahu, betapa aku merindukanmu?

Sesekali aku pulang rumah, mendapati suasana yang kian murung. Kakek sudah lama mati, tersiksa rasa malu. Sedang nenek telah lumpuh, tergolek di ranjang, menunggu maut mencekik lehernya. Ibu tetap saja membuang pandang, setiap kali melihatku pulang. Ibu tak lagi memukuliki dengan sapu atau melempariku dengan batu, hanya karena tubuhku kini lebih kuat dan sanggup melahapnya sekali terkam. Tak pernah ibu bicara denganku.

“Apakah ibu jijik pada anak ibu sendiri?” kutentang mata ibu.

Ibu membisu. Hanya membisu. Terus membisu.

Karena itulah, aku selalu kembali ke jalan, menyuruk-nyuruk malam. Aku mencari ketentraman, dengan dahaga kanak-kanak yang merindukan puting susu ibu. Kusihap puluhan susu perempuan yang kutemui di jalan-jalan. Merajuk seperti kanak-kanak yang ingin damai dalam pelukan ibu. Mendengus menghempaskan kerinduanku pada bau ibu. Gairah dan kerisauanku pada ibu, membuatku selalu ingin melolong-lolong memanggili ibu. Aku seperti makhluk terkutuk yang selalu galau dengan kebencian dan kerinduan yang sulit terdamaikan. Kuhisap susu setiap perempuan yang aku temui, agar sejenak reda gemuruh kerisauanku. Aku pemabuk yang sempoyongan mencari jalan pulang.

“Masih sore, Bang… Kok udah mau pulang?” beberapa perempuan terkikik, memandangiku yang sempoyongan.

Aku menyeringai, menjulurkan lidahku yang kasar berbintil-bintil merah. Dan perempuan itu tertawa senang.

“Lihat lidahnya!”

“Begitu merah.”

“Begitu bergairah…”

“Pastilah dia jago jilmek!”

“Jilmek? Apaan tuh jilmek?”

“Jilat memek, tau! Bego amat sih lu!”

“Ha ha ha…”

Aku pun tertawa. Menyeringai menatap mereka.

“Ayo dong, Bang, sini mampir…”

Tapi aku lagi bokek. Aku juga begitu capai. Aku ingin pulang. Mengendap memasuki rumah yang menyebalkan. Bahkan aku harus bersikap seperti maling untuk masuk ke rumahku sendiri.

Di ruang tengah, kulihat ibu tertidur di sofa, mulutnya separo terbuka. Wajahnya begitu lembut tanpa kebencian. Baru kali ini aku melihat wajah ibu begitu lembut. Temaram cahaya lampu, membuat ibu tampak begitu pulas dan penuh kedamaian. Andai wajah ibu selalu begitu setiap kali melihatku. Ada  rindu yang perlahan tumbuh dalam darahku, seperti hawa panas yang menguap dari tungku. Betapa aku selama ini merindukan bisa melihat wajah ibu yang begini tentram. Tak menghadik penuh kebencian kepadaku. Aku menatap lekat, hangat. Mungkin inilah saat terbaik aku bisa berada dekat ibu.

Terus kepandangi ibu. Dan kuingat wajah perempuan yang membiarkan aku menghisap dan menjilat susunya. Bayangan itu kian membuncahkan rinduku pada ibu. Bagaimana pun aku anakmu, ibu, yang berhak menghisap manis ranum puting susumu. Hidungku terasa panas, nafas tersengal, ketika kian lama aku pandangi ibu yang lelap: ibu telentang dengan kaki agak mengangkang. Bayangan betisnya yang pucat kecoklatan tampak padat, mengairahkan. Bertahun-tahun aku terbakar rindu hanya dengan membayangkan ibu.

Nanar kudekati ibu, bersijengkat mengendap-endap, seperti serigala yang siap menyergap….

Yogyakarta, 1999-2003.

7 Responses to “– ASMARADANA”


  1. 2 Mr BU (Berat Ujung) Agustus 19, 2009 pukul 5:36 am

    salam kenal dari Mr. BU

    wahh..asyik nih cerpen…

    bagus juga nih di tampilin di situs dewasa…dunia grasss gitu …

    yang ono..noh tuh mas…tahu kan..meong…meong…kukuruyuuk…

  2. 3 kalasenja Agustus 19, 2009 pukul 6:04 am

    luar biasa, mas.
    aku sampe merinding bacanya.

    salam,
    kalasenja

  3. 4 Peugeot Agustus 29, 2009 pukul 1:55 am

    luar biasa, mas.
    aku sampe merinding bacanya.

    salam,
    kalasenja;. All the best!!

  4. 5 D-46-DO Februari 20, 2010 pukul 3:28 pm

    hiiiiiiiiiiiiiiii serem dan tegang. salam

  5. 6 MK November 12, 2010 pukul 6:26 pm

    Berulang kali sy bca cerpen Bang AN….terasa hidup, laki2 itu menjadi nyata dng kata2 pilihan dan setting yg temaram. Adakah kelanjutan kisah ini?rasa-rasanya aku pernah bertemu srigala itu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Agustus 2009
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: