Arsip untuk Agustus, 2009

– IA INGIN MATI DI BULAN RAMADHAN INI

gambar

BETAPA menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. Ia tak ingin kecewa lagi. Ramadhan berlalu, tapi ia masih saja hidup. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa karena ditolak permintaannya saat lebaran. Ramadhan kali ini, ia berharap maut benar-benar akan datang. Saat ia berbaring di ranjang, hingga ia bisa mati tenang…

Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah. Atau erang kesakitan leher digorok. Ia memejam, mengusir bayangan buruk itu. Bayangan kematian penuh darah. Ah, ia bisa mencium bau amis darah itu, seperti lengket di hidungnya. Lanjutkan membaca ‘– IA INGIN MATI DI BULAN RAMADHAN INI’

– CERPEN INDONESIA DAN ORDE BARU: UPAYA MENGATASI WACANA PENAKLUKAN

Ini hanya sekedar “catatan kecil” yang berusaha membaca hubungan latar sosial politik dalam satu periode pertumbuhan cerpen kita (cerpen Indonesia), terutama pada kurun waktu 1980-1990an. Pada periode itu, entah kenapa, saya seperti merasakan adanya korelasi yang kuat antara cerpen-cerpen yang ditulis para pengarang Indonesia, dengan situasi zaman yang menaunginya. Paling tidak, hal itulah yang terus-menerus terasakan oleh saya, sebagai salah seorang yang juga ikut menulis cerpen pada periode itu, yang membuat saya tak bisa mengelak untuk tidak mengkaitkan sastra dengan “kekuasaan” yang membayang sebagai setting historisnya. Semacam ada hubungan yang tak bisa diabaikan begitu saja antara sejarah cerpen dan sejarah sebuah rezim, pada kurun 1980-an itu.

Cerpen dan Orde Baru

Lanjutkan membaca ‘– CERPEN INDONESIA DAN ORDE BARU: UPAYA MENGATASI WACANA PENAKLUKAN’

– ASMARADANA

Asmarandana

INILAH malam paling keparat yang akan selalu ibu ingat. Malam ketika ibu disergap dan diseret ke dalam gelap. Di antara tumpukan kayu pecahan peti, onggokan kardus apak dan lembab, ibu dilempar hingga terjerembab. Ia mencoba menjerit, tapi seketika mulutnya terbekap. Lima laki-laki itu menyeringai, mengepung, dan mulai menggagahinya. Sekuat tenaga ibu merentak menolak. Ia mencakar. Menendang. Kelima laki-laki itu malah terkekeh dengan liur meleleh. Cahaya yang samar berpendaran dari ujung lorong, membuat wajah lima laki-laki itu timbul tenggelam diaduk-aduk kengerian.

Ibu mengejan, meronta, ketika kedua kakinya direntang, dan ia merasakan sesuatu yang runcing, melebihi mata lembing, menghunjam selangkang. Ibu hanya memerih merintih. Dan seperti ada yang mendidih, ketika ia merasakan cairan sekental dadih, mulai menggenangi rahimnya yang perih. Ia merasakan gatal yang begitu luar biasa di liang selangkangnya, seakan dipenuhi getah nira yang membuat kulitnya seketika terasa panas. Seluruh tubuh serasa abuh melepuh…

Itulah malam paling keparat, sejak ibu merasakan ada benih serigala mendekam dalam rahimnya. Lanjutkan membaca ‘– ASMARADANA’


Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Agustus 2009
S S R K J S M
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Archives Files

Catagories of Files