– Lima Alasan Kenapa Mesti Nonton “Keluarga Tot” Teater Gandrik

Teater Gandrik akan mementaskan lakon komedi Keluarga Tot di Jakarta (TIM, 17-20 April 2009) dan Yogyakarta (Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, 29-30 April 2009). Inilah wawancara dengan Butet Kartaredjasa seputar lakon dan pementasan itu, dan lima alasan kenapa kita harus menonton pertunjukan ini.

keluga-tot-fb

Gandrik sepertinya memang “hidup lagi”, maksudnya ada energi yang membuat Gandrik jadi produktif setelah pementasan Sidang Susila kemarin. Ini bila dibandingkan periode sebelumnya, dimana setelah pentas Gandrik butuh jeda yang panjang untuk pentas kembali. Kira-kira apa yang menyebabkan?

Butet: Saya selalu mengharapkan pementasan Gandrik harus diawali adanya dorongan “kebutuhan bersama”. Bukan kebutuhan orang per orang. Bahwa nyatanya, teman-teman Gandrik — yang tua dan yg muda — menunjukkan gairah untuk berproduksi after “Sidang Susila”, harus saya yakini bahwa semuanya itu disebabkan adanya “kebutuhan bersama” itu. Entah apa itu. Mungkin macem-macem motifnya. Mungkin ada yang motifnya menemukan kembali kegembiraan kreatif ala Gandrik, ada yang memaknai sebagai terapi kesehatan, ada yang meyakini teater sebagai ikhtiar mengartikulasikan pikiran, ada yang bermaksud melakukan pengembaraan artistik, ada yg berniat mengenal dan mempelajari estetika Gandrik, ada yang ingin menguji kemampuan keaktoran, juga barangkali ada yang ingin berbagi pengalaman untuk sebuah proses regenerasi. Yang pasti, kesemuanya itu bisa diartikan sebagai “kebutuhan bersama”, sehingga semua bisa memberikan dedikasi secara iklhas terhadap proses penciptaan. Penciptaan kolektif dimana semuanya berlomba untuk memberikan kontribusi kreativitas.

Bisa diceritakan sedikit tentang lakon “Keluarga Tot” ini? Setidaknya kenapa Gandrik merasa tertarik untuk mementaskannya.

Butet: Salah satu kritik yang kerap dilontarkan kepada Gandrik adalah dominasi pada guyonan verbalnya, sehingga terkadang cenderung mengabaikan sastra lakon. Padahal ada kekuatan dalam sastra lakon yang juga menarik untuk dieksplorasi secara serius, dan itu ditemui dalam Keluarga Tot. Setidaknya, dengan mementaskan lakon ini, akan menjadi semacam tantangan bagi Gandrik, untuk mendapatkan pengalaman baru dalam penjelajahan penciptaan tontonan komedi sebagaimana selama ini digumuli. Pasti akan unik jika Gandrik menjajal berjenaka-ria dengan disiplin yang berbeda. Menurut saya, pertemuan antara tradisi teater realis yang musti cermat dengan sastra lakon yg juga kuat, dengan tradisi gojekan Gandrik yang selalu ber-“guyon parikeno” — akan menghasilkan sesuatu yang menarik. Baik bagi penontonnya, dan terutama bagi para pelakonnya.

– Mengingat ini adalah lakon “asing”, lakon yang ditulis oleh orang di luar komunitas Gandrik, apa yang menarik dari proses ini. Setidaknya apakah proses itu kemudian juga memperkaya dramaturgi Gandrik?

Butet: Bener banget. Dengan bahan baku (naskah) yang tak lazim dalam tradisi Gandrik, dan komitmen untuk “bersetia” pada sastra lakonnya, — pastilah akan memperkaya pengalaman Gandrik. Minimalnya, para aktornya akan mencicipi model guyonan yang lain. Dan semakin menyadari bahwa pertunjukan teater bukan sekadar bentuk pemanggungan kritik verbal, bukan hanya untuk memanen tawa, bukan cuma pameran keindahan seni peran — tapi juga penghormatan terhadap teks sastra dan pencermatan kepada karakter yang dilakonkan. Kalau pun ada tawa atau kelucuan, itu adalah karena situasi dan karakter-karakternya. Mudah-mudahan ini juga menjadi kesadaran atas “kebutuhan bersama” untuk terus membuat Gandrik dinamis itu.

– Anda menyebut soal adanya “kebutuhan bersama” setiap Gandrik manggung, tapi pada sisi lain juga ada penghayatan yang berda dalam prosesnya. Ini memperlihatkan bahwa Gandrik sesungguhnya tidak homogen, tapi ada banyak personil dengan orientasi yang tak sama. Mungkin ini yang menarik untuk diketahui publik; bagaimana gandrik mengelola heterogenitas di dalamnya, terutama saat proses…

Butet: Perbedaan orientasi dan motivasi dari para personelnya bukannya tak disadari. Justru karena disadari, maka berproses di Gandrik akhirnya bukan semata-mata belajar hal-hal yang bersifat artistik, tetapi juga belajar kesabaran…hua ha ha… Kerennya, belajar berdemokrasi, meskipun itu terkadang melelahkan dan menjadi tidak efisien. Kesadaran menghilangkan otoritas “sutradara” atau “penguasa tunggal”, dan menggantinya dengan partisipasi banyak orang serta memperkuat fungsi trafick, mungkin merupakan salah upaya untuk menjaga heterogenitas itu. Ini dalam konteks proses kreatif. Hal lain, di sektor organisasi, barangkali adanya kesadaran berkesenian secara lebih rileks, tidak mbentoyong, transparansi dalam semua hal, dan tetap menjadikan guyonan sebagai semangat pergaulan.

Mungkin yang perlu diketahui, sekarang ini pimpinan Gandrik bukan saya lagi. Tapi Heru Kesawa Murti. Ini keputusan rapat awal tahun 2009. Jadi kekuasaan diupayakan beredar. Meskipun ganti pimpinan, harapannya, hal ini tidak mengganggu proses kreatif. Karena kepemimpinan itu lebih disebabkan kebutuhkan sebuah organisasi.

– Mumpung sekarang lagi anget soal Pemilu yang katanya adalah proses demokrasi. Mungkinkah, apa yang terjadi dalam Gandrik itu bisa dijadikan semacam model pembelajaran bagi proses demokrasi?

Butet: Jelas, sangat mungkin diadopsi. Terutama kesadaran untuk selalu menertawakan setiap kecenderungan megalomania. Jika dalam Pemilu kita melihat banyak caleg yg ge-er merasa dirinya penting, megaloman abis, dalam tradisi Gandrik yang begituan pasti akan jadi obyek guyonan. Berdemokrasi bukanlah ngotot dan ambisi untuk jadi penguasa, melainkan kesediaan untuk bersabar, belajar mendengar, dan bekerja keras dalam kolektivitas secara ikhlas.

– Lumayan sedikit kelompok teater yang berumur panjang. bagaimana kemampuan Gandrik dalam mengupayakan memperpanjang umurnya?

Butet: Merawat atmosfer kreatif dalam semangat kejenakaan, dan melakukan kegiatan secara produktif. Dan itu tak harus berupa pementasan. Heru Kesawa, misalnya, mulai menggagas bikin kelas pelatihan seni peran untuk publik, semacam jual jasa pelatihan. Melihat perkembangan terakhir interaksi Gandrik-tua dengan Gandrik-muda, saya optimis transformasi “roh” Gandrik bisa berlangsung dengan baik. Soalnya, berteater di Gandrik bukan sekadar akting dan pencapaian artistik, tetapi juga dihidupi oleh “roh” itu. Aku nggak tahu apa rumusan tentang “roh” itu. Mungkin semacam spirit teater rakyat: penuh spontanitas dan harus tangkas dalam situasi apa pun. Baik untuk perkara panggung maupun organisasi.

– Nah, sekarang langsung ke pementasan Keluarga Tot. Tolong sebutkan, minimal 3 saja alasan, kenapa pementasan ini menarik untuk ditonton?

Butet: Pertama, ini lakon realis yang kuat dan kocak, dimainkan oleh Gandrik yang juga rombongan orang-orang kocak. Ini sebuah model guyonan baru bagi Gandrik. Kedua, penonton bakal melihat keunikan bagaimana Gandrik mencoba membenturkan dua kultur: Jawa dan Hongaria. Ketiga, ini penting untuk penonton, supaya mereka tetap waspada terhadap ancaman pemaksaan hegemoni dari kekuatan-kekuatan tertentu yang selalu berulang. Kalau boleh menambahkan, keempat: pertunjukan ini bisa menjadi terapi yang menyehatkan pikiran bagi para caleg yang gagal, agar tidak menjadi penghuni permanen Rumas Sakit Jiwa. Kelima, bagi caleg yang yakin kepilih, menonton pertunjukan ini akan memberikan keseimbangan jiwa pula, agar tetap bisa menjaga akal sehat ketika mengemban amanah rakyat. Nah, cukup lima saja, biar klop kayak Pancasila.

17 Responses to “– Lima Alasan Kenapa Mesti Nonton “Keluarga Tot” Teater Gandrik”


  1. 1 Harina April 15, 2009 pukul 6:06 am

    Saya ingin nonton.. beli tiketnya dimana/ No telp berapa? Harganya berapa? Trims
    Salam Harina

  2. 2 santoso April 15, 2009 pukul 7:19 am

    1. sadar akan pentingnya hiburan yang dibuat oleh tokoh budayawan merupakan bagian dari proses pembentukan jati diri bangsa yang bermartabat, karena tidak ada budayawan yang bermaksud membodohi masyarakat (kecuali politikus-red)
    2. menghargai jerih payah mereka agar kesenian tetap eksis dan terus berkarya, karena tidak ada kesenian yang lahir dari budayawan yang sakit (apalagi kurang waras-red)
    3. cerminan persoalan yang dihadapi bangsa dengan berharap mendapatkan pencerahan guna mencari alternatif solusinya, karena kita mau bercermin menunjukan kesadaran untuk interopeksi
    4. salah satu wujud partisipasi membangun negeri dengan meningkatkan kesadaran akan berbangsa & bernegara RI, karena masa perjuangan terhadap penindasan bangsa lain telah lewat, sekarang tinggal perjuangan terhadap penindasan bangsa sendiri.
    5. tontonan yang menarik dan perlu.

    PS: alasan No. 5 hanya sekedarnya untuk melengkapi persyaratan kenapa perlu menonton “keluarga tot” teater gandrik.

  3. 3 agusnoorfiles April 16, 2009 pukul 6:07 pm

    jam 20.00 WIB

  4. 4 are_ma_niak April 20, 2009 pukul 5:44 am

    SueGEEEEERRR… nonton 3 jam 15″ Keluarga Tot, pertunjukan pertama… Jum’at… letih, lesu, stress langsung amblas… pas pulang malah senyum2 sendiri mulai di taksi sampai tempat tidur…

  5. 5 Agustian April 21, 2009 pukul 5:56 pm

    Salam,

    ga tangung2 sy boyong satu keluarga nonton keluarga TOT, walau anak saya yg umur 3 thn cukup puas dengan observasi sekelilingnya yg penuh ha.ha..hi…hi.., setidaknya sentilan kritik gandrik yg penuh kreatif membawa “insiden” rasionalitas pakem agama aliran dipaksa harus terima pada alam realitas.

    Selamat dan sukses atas pementasan keluarga TOT ; sebuah pertunjukan tontonan yang dasyat! Asu…! he..he..he..

  6. 6 hendro plered April 25, 2009 pukul 3:54 pm

    kalo aku alasannya kaya gini :
    1.Ini pementasan lakon Langka, artinya Gandrik biasanya mementaskan lakon karya kroni kroninya : Heru K, Agus Noor, Dll
    2.Yang Maen pentolan pentolan Gandrik.
    3.kata Calo Karcis : Di Indonesia hanya ada 2 Grup Teater. yakni Koma dan Gandrik
    4.katanya lakon keluarga TOT, Gandrik mainnya serius, tidak seperti lakon lainnya.
    5.Tergantung nanti ada Freepas atau tidak ?

  7. 7 Mangir Putra April 28, 2009 pukul 7:38 pm

    Tak usahakan tuk nonton Teater Gandrik yg ge-er dan merasa dirinya penting di masa pasca pemilu Legislatif ini, megaloman abis.

  8. 8 Mangir Putra April 28, 2009 pukul 7:46 pm

    Akan menjadi penilaian tersendiri bagi Teaterawan “muda maupun tua” dengan kenarsisan Butet yang merasa lucu dan unik….
    Sampai dimana bakul kesenian ini berekplorasi, sudahkah seperti selebritis-2 Ibukota yang menamakan dirinya Teater Koma itu…

    Trah Ki Ageng Mangir

  9. 9 agusnoorfiles April 29, 2009 pukul 8:27 am

    Mangir Putra, silakan anda dateng nonton, dan ingat: jangan mbludus dan gratisan ya. Jangan kayak Hendro Plered, yang cuman mau nonton kalao dapat freepas, meski selama Pemilu kemarin dia dapet job MC dari banyak partai… Mangir dan Plered, jangan-jangan satu trah, ya? Trah Gratisan, hahahaha

  10. 10 masmpep Mei 3, 2009 pukul 2:30 am

    saya kemarin sempat nonton mas. testimoninya saya tulis di masmpep.wordpress.com. dikomentari yak.

    salam,
    masmpep.wordpress.com

  11. 11 Mangir Putra Mei 7, 2009 pukul 10:57 pm

    He…he…he…
    Lumayan….
    Aku nonton lho mas Jagger…
    Cuma catatanku….
    Apa bedane permainannya Rano Karno dng sinetron dan film2nya?,
    Jacky Chan dalam setiap Film2nya?,
    Butet dalam setiap pertunjukannya….?
    Semua karakter sama….
    yang membingungkan, sebenarnya Aktor yang menyesuaikan karakter peran…? atau karakter peran sing digathuk-gathukke ke Aktor supaya menarik…?
    Atau memang begitukah teater sampakan…?
    Bagaimana pembenarannya…?
    Soale… Teater Gandrik memang mengalami perkembangan Hebat dalam bentuk pertunjukannya, cuma karakter (biasanya peran utamanya) kok dari dulu begitu-begitu saja. Saya jadi heran dengan Pedagang Kesenian yang satu itu…
    dari dulu begitu… begitu… saja!
    Hambok njenengan sebagai Sarjana Teater ngandani mas…!
    Ben bisa jadi conto sing enom-enom…!
    He… he… he….
    Nuwun Lho mas….
    Wis dikasih ruang nggo mutah-mutah….

    Salam!
    Trah Ki Ageng Mangir

  12. 12 Mangir Putra Mei 7, 2009 pukul 11:02 pm

    Eh iyo Lupa….
    Aku pakai tiket yang 100 rb lho mas…
    jd tidak mBludhus kayak Endro…
    He… he… he…

    Sekali lagi Salam
    Trah Ki Ageng Mangir

  13. 13 agusnoorfiles Mei 8, 2009 pukul 7:45 am

    Mangir Putra, terimakasih telah menyaksikan pementasan itu. Tentu masukanmu berguna bagi perkembangan Gandrik, aktor-aktornya. Saya pasti sampaikan. Setiap kritik dan pendapat selalu dapat tempat untuk dicatat dan diingat. Semoga Gandrik bisa terus berkembang makin menjaedi baik

  14. 14 FPHC ( Pront Pembela Hendro Cakep ) Juni 2, 2009 pukul 8:56 pm

    1. Mangir Putra, silakan anda dateng nonton, dan ingat: jangan mbludus dan gratisan ya. Jangan kayak Hendro Plered, yang cuman mau nonton kalao dapat freepas, meski selama Pemilu kemarin dia dapet job MC dari banyak partai… Mangir dan Plered, jangan-jangan satu trah, ya? Trah Gratisan, hahahaha
    2.Eh iyo Lupa….
    Aku pakai tiket yang 100 rb lho mas…
    jd tidak mBludhus kayak Endro…
    He… he… he…

    Sekali lagi Salam
    Trah Ki Ageng Mangir

    TOLONG, KAWAN KAWAN SEMUA…NIATAN HENDRO PLERED MENGAJARI AGUS NOOR MENULIS / POSTING DI BLOG INI ADALAH SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI KARYA SASTRA. BUKAN SEBAGAI MEJA HIJAU BAGI SESEORANG…DEMIKIAN TERIMAKASIH.

  15. 15 agusnoorfiles Juni 3, 2009 pukul 1:41 pm

    Oke Mas Plered…aku termasuk anggota hendro Plered Fans Club kok. Aku sudah resmi terdaftar sebagai anggota itu sejak tasyakuran yang ditandai potong cempe… Salam Buat Man Hendro

  16. 16 Warsa Juni 16, 2009 pukul 9:51 am

    Hmm… salam kenal kang Agus Noor, saya lagi ngebet banget ingin menuliskan sesuatu sore ini…sambil menyeruput kopi pahit buatan Mang Ajay…

  17. 17 teaterbumi Juli 15, 2009 pukul 5:56 am

    salam kenal buat semua pecinta seni..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
April 2009
S S R K J S M
« Mar   Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: