– FIKSI MINI HASAN ASPAHANI

hasanHasan Aspahani, menyebut dirinya pengrajin puisi. Sudah tentu, itu semacam kerendahan hati. Ia, boleh dibilang, tak hanya penyair Indonesia terkini yang produktif, tetapi juga selalu memperlihatkan kegelisahan estetiknya. Ketika kebanyakan penyair (kita) cenderung untuk secepatnya menemukan “rumah estetik”-nya, Hasan justru seolah menolak godaan untuk merasa mapan dalam sebuah “rumah estetik”. Setiap sajak yang ditulisnya, seolah sebuah awal untuk menjelajah. Ia seorang petualang estetis. Nyaris tanpa beban ia melenting dari suatu gaya ke gaya lainnya. Dan inilah yang paling saya sukai: karena sebagai pembaca saya jadi selalu berdebar menunggu karyanya: karya seperti apa lagi yang akan ia tulis? Itulah yang membuat Hasan berbeda dengan para penyair Indonesia lain, yang sudah terlalu saya hafal gaya penulisan puisinya, hingga saya sudah bisa menduga seperti apa sajak-sajak yang bahkan belum dituliskannya.


Beberapa fiksi mini yang dihasilkannya, bisa menjadi contoh “petualangan estetis” Hasan Aspahani. Atas seijin sang penyair, saya menurunkan karya-karyanya itu, supaya kita juga bisa ikut merasakan tamasya imaji-imaji yang diolahnya itu, dan tentu agar – sebagaimana Hasan dengan penuh ketekunan dan pergulatan mempelajari karya-karya penulis lain – kita juga bisa belajar dari karya-karnya.


Jam dan Kalender

KALENDER itu berusaha merontok-rontokkan angka-angka tanggal dan nama-nama hari pada bulan-bulannya. Tapi, tak ada yang terlepas. Semua tetap terbaca, berurutan, satu hingga 28, 30 atau 31. “Ha ha ha. Sia-sia saja, Kawan,” kata Jam di dinding itu.

Sejak itu, Kalender itu tak mau berusaha melepaskan diri dari angka tanggal dan nama hari yang melekat padanya (Sia-sia saja, kawan….). Abadi, seakan.

Jam itu pun tak pernah bicara apa-apa lagi. Ia seakan menyesali kata-katanya kepada Kalender itu (Sia-sia saja, Kawan….). Jam itu kini sadar, dengan atau tanpa angka padanya, ia tak pernah bisa mempercepat atau memperlambat tik tak tik taknya sendiri. Suara detik itu dengan seksama disimak oleh si Kalender itu. Kalender itu merasa seperti ada yang ikut berdetak pada angka-angka tanggal dan nama-nama hari bersama detak detik itu.

jam


Fiksi Mini Tentang Si Agus dan Si Noor

: untuk Agus Noor

Kematian Instan

SI Agus lapar. Lapar sekali. Ia pergi makan ke restoran cepat saji. Saat menyeberang ia ditabrak taksi. Sehabis menabrak taksinya lari. Cepat sekali. Si Agus menggelepar sebentar, lalu dia sendiri memastikan dia sudah mati. Cepat sekali.


Saat Dia tidak Menelpon ke Mana-mana

IA menelepon ke Gedung Putih, Amerika. Ketika ditanya (dalam bahasa sana), “Ini siapa?”, Agus menjawab, “Agus, Agus!”

IA menelepon ke Menara Kembar di Malaysia. Waktu ditanya (dalam bahasa sana), “Ini siapa?” Agus menjawab, “Agus, Agus!”

IA menelepon pemain Barongsai, di Tiongkok. Ketika ditanya (dalam bahasa sana), “Ini siapa?” Agus menjawab, “Agus, Agus…”

SAAT dia tidak menelepon ke mana-mana, Agus bertanya pada teleponnya, “Kalau saya telepon Tuhan, apa dia juga bertanya siapa saya?”

Teleponnya bilang, “Mungkin saja. Memangnya kenapa? Kau tinggal jawab saja: Agus, Agus!”


Hari Pertama Kerja Si Noor

NOOR diterima kerja menjadi seorang detektif partikelir di sebuah kantor detektif. Tugas pertamanya, di hari pertama bekerja adalah mencari di manakah gerangan kantornya berada.

penyair-tua

Empat Fiksi Mini Tentang Seorang Penyair Tua

: SDD

Ia Tersesat di Sebuah Sajaknya

DIA masuki belantara sajaknya sendiri. Dia mulai dari kata pertama di sajaknya, sebuah kata yang berhuruf awal A. Sajak yang dia kira sederhana itu ternyata menyesatkan. Di dalamnya banyak jalan setapak bersilangan dan lorong-lorong berliku. Dia mula-mula tenang-tenang saja, tapi lama-lama risau, akhirnya cemas, dan bahkan ketakutan.

“Bagaimana caranya saya keluar dari bait-bait sajak sini?” katanya, pada dirinya sendiri. Pertanyaan itu menggema di dinding-dinding sajaknya, membuatnya semakin takut saja.

Bila akhirnya dia bisa bebas dari sajak itu, sajaknya sendiri itu, maka itu berkat bantuan sebuah kata yang ia letakkan di akhir larik akhir bait akhir sajaknya. Sebuah kata yang dia beri tanda tanya.


Ia Takut Membaca Sajak-sajak Lamanya

DI usia tuanya dia suka membersihkan halaman rumah dinasnya (rumah dinas untuk penyair), membaca buku (kadang ia merasa ditipu oleh kacamatanya), menulis sajak baru (susah sekali mencari waktu untuk diajak menemukan sajak baru), menerima tamu (teman-temannya, mahasiswanya, dan penggemarnya), menerima telepon dan membalas SMS (kadang ia mengirim SMS ke nomornya sendiri), sesekali ia masih mengajar juga (meskipun ia pernah salah masuk ruangan lalu mengajar mahasiswa yang seharusnya tidak diajarnya).

Ia takut membaca sajak-sajak lama yang ia tulis dulu. Kenapa? Ia takut sebab kalau ia membaca sajak lamanya maka ia sering bertanya, “kok dulu saya bisa menulis sajak sebagus itu, ya? Kenapa sekarang susah sekali…”

Takutnya bertambah besar kalau ia membayangkan sajak-sajaknya itu menjawab, “Apa betul kamu dulu yang menuliskan kami?” Ia takut sekali.


Gadis Kecil Itu Sudah Dewasa

GADIS kecil itu, Indah namanya, sudah dewasa. Pada suatu gerimis, yang tak juga menua, ia bertemu dengan penyair yang dulu pernah menuliskannya dalam sajak bersama gerimis yang sama.

“Saya gadis kecil yang diseberangkan gerimis itu, Pak Penyair,” kata Indah.

“Kamu?”

“Ya. Aku sudah bersuami, dan punya anak tiga…”

Ingin sekali Pak Penyair itu bertanya, apakah gadis yang kini dewasa itu bahagia, mana dulu tangis yang ia kibaskan dengan tangan kanan, dan mana payung yang ia pegang dengan tangan kiri. Tapi, ia tidak bertanya, justru ia yang ditanya.

“Gerimis-gerimis begini Pak Penyair mau kemana?”

“Ah, di usia begini susah sekali menyeberangi Jakarta.”

“Oh, Pak Penyair mau menyeberangi gerimis ini?” Pak Penyair mengangguk.

Maka, di gerimis yang sama dengan gerimis yang dulu ia sajakkan, Pak Penyair diseberangkan oleh si Gadis yang dulu ada dalam sajaknya yang kini sudah dewasa itu.

Sayangnya, tak ada yang menyajakkan peristiwa itu. Sayang…


Ia Tertidur di Depan Televisi

IA tertidur di depan televisi, dan televisi itu jengkel sekali. “Buat apa aku dihidupkan kalau tidak ditonton,” kata televisi itu, “Kalau memang tidak mau nonton, ya matikan saja.”

Si Penyair tak mendengar gerutu si televisi itu. Ia tertidur pulas nafasnya menciptakan dengkuran tua.

“Kalau dia tidak mematikan kamu, kamu saja yang mematikan dia,” kata remote control (entah apa padanannya dalam bahasa Indonesia?).

Si penyair terkejut. Memandangi remote control di tangannya. Saat itu televisi sedang menyiarkan tentang sebuah bom yang dijatuhkan pesawat tempur Israel di sebuah sekolah di Palestina. 40 anak-anak tewas.

Kata penyair itu, “Ah, Tuhan, apakah orang setua aku masih harus disiksa dengan mimpi buruk?” Televisi itu tidak juga ia matikan.

2 Responses to “– FIKSI MINI HASAN ASPAHANI”


  1. 1 ali April 13, 2009 pukul 5:14 am

    asslkum…., maaf mas saya orang baru di dunia sastra yang penuh dengan kebebasan namun kadang juga terkekang oleh keotoriteran kekuasaan, mudah-mudahan tidak lagi.
    ……begini mas,tentang fiksi mini sendiri menurut mas Hasan bagaimana? dari munculnya, perkembanganya, pengaruh bagi sastra indonesia.
    mohonlah mas, dibales ke surat saya. kalau sempat….

  2. 2 yeyen September 26, 2012 pukul 8:35 am

    Ini sajak kok agak menyindir sajak – sajak karya Bapak Sapardi Djoko Damono ya? Bisa di kasih penjelasan kenapa harus seperti ini?
    Karena saya pengagum berat Bapak Sapardi Djoko Damono..
    Terimakasih..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: