– AKUARIUM

akuarium

PAGI menerobos jendela, menebar kehangatan. Mata Pitaya perlahan membuka, silau oleh cahaya pagi, seperti sekuntum melati. Menggeliat, jengah mendapati selapis hari terbaring di piring roti. Sunyi itu masih tercium juga, membuat ujung-ujung jarinya menggigil penuh kecemasan. Gorden yang terbuka, tergantung dingin seperti kulit binatang buruan yang tengah dikeringkan. Ia lupa menutupnya semalam. Dari ruang sebelah, seseorang bernyanyi dengan suara angsa digorok: my days are just an endless dream of emptiness…. Seakan muncul dari kegelapan yang jauh, Krraaakk!! Berhentilah memekik — Pitaya ingin berteriak, tapi tak ada suara. Lambungnya eneg. Usia tua yang celaka.

Di sudut kamar, Pitaya melihat istrinya tertidur, damai, mengapung dalam akuarium, bagai piranha raksasa. “Selamat pagi,” mendesis. Mencoba menghitung gelembung air, sekadar meyakinkan bahwa ia masih bisa bahagia hidup dengan istri yang diawetkan dalam akuarium. Bangkit sungkan menuju lemari. Cuma mendapati beberapa potong roti berjamur dan sekerat daging busuk. Tak ada keju atau mentega. Melirik wajahnya di cermin: lihatlah, seekor keledai bangka! Bayangan itu membuat mulutnya kecut. Dan keledai tua itu beringsut menuju jendela, mencoba meraih kehangatan pagi, seperti anak kecil menyambut kedatangan mamanya pulang belanja membawa boneka. Tapi ujung jari-jarinya tetap menggigil, membuatnya berfikir, betapa kesepian adalah makhluk asing yang tak gampang dikenali. Lalu dari ujung jari-jarinya yang menggigil itu, muncul kupu-kupu. berpuluh kupu-kupu, yang segera menghambur keluar jendela.

Menyaksikan kupu-kupu itu muncul dari ujung jari-jarinya, Pitaya sedikit merasa tak terlalu celaka. Dengan kegembiraan kanak-kanak, Pitaya menjentik-jentikkan ujung-ujung jarinya, menciptakan lebih banyak kupu-kupu bersayap jelita penuh warna, begitu mempesona, sehingga pagi berkilatan oleh bias cahaya aneka rupa. Ia lantas ingat pada sajak yang pernah dibacanya, tentang kata-kata yang menjelma kupu-kupu, menghambur berebut bunga-bunga yang menjelma warna-warna, menjelma cahaya, berebut cakrawala.1 Entah kapan ia membaca sajak itu. Lupa. Tapi ia ingat, Pikulan yang menyuruhnya membaca puisi itu. Pitaya jadi kangen pada kawan satu itu: Seorang yang menjaga puisi seperti menjaga hati nurani. Sampai ia merasa kembali lambungnya eneg. Menjauh jendela. Uh, ia akan sarapan sendirian lagi. Setangkup roti berjamur, susu yang telah rusak, atau sesekali sekaleng coke kedaluwarsa. Membuatnya menderita hypoglycemia. “Mestinya aku ke Dokter Piwaca,” membatin, “mengganti otakku dengan karet sintetis.” Ck ck ck. Bukankah Dokter Piwaca juga yang menganti jantungnya yang membusuk dengan jantung plastik?! Baiklah, nanti siang aku akan ke sana — sambil melirik istrinya, yang mati diperkosa, lima tahun lalu. Adalah ide Dokter Piwaca pula untuk mengawetkan mayat istrinya dalam akuarium, setelah merendamnya dalam cairan air raksa. “Agar kamu tak terlalu merasa sendirian, Tuan Pitaya,” kata Dokter Piwaca. Nyatanya ia selalu kesepian, dan selalu gemetar oleh ingatan kekejian. Je hais ces brigands. Sungguh, aku benci bandit-bandit itu! Mengingat semuanya, membuat Pitaya sengsara.

***

BEGITULAH, suatu hari, seorang laki-laki mengantar bingkisan untuknya. “Selamat ulang tahun, Tuan.” Menjabat tangannya dengan hangat. Sungguh laki-laki yang baik, batin Pitaya. Hanya orang baik yang ingat hari ulang tahun seseorang yang tak pernah dikenalnya dan memberikan padanya hadiah. Pitaya membuka kiriman itu, dan mendapati kepala putrinya yang berumur 12 tahun. Kepala mungil dengan pita biru muda di rambutnya. Alangkah cantik kepala itu, meski telah dipenggal dari lehernya. Kado istimewa! Pitaya gemetar. Lelaki itu melepas topinya, menyilangkan tangan ke dada, membungkuk memberi hormat. Takzim. “Semoga panjang umur, Tuan…” Tersenyum tulus. Itulah senyum paling tulus dari seorang pembunuh yang pernah dilihat Pitaya.

Tanpa upacara kepala itu ia makamkan dekat beranda, dimana dulu ia juga menyimpan ari-ari putrinya tercinta. Agar ia bisa selalu memandanginya setiap kali duduk membenamkan kemarahan di kursi goyang. Ketakutan membuatnya kelihatan lebih tua. Sepanjang hari ia duduk-duduk di beranda, memandangi gundukan makam kepala anaknya, menyaksikan hari menjelma jelaga, dan sekuntum mawar perlahan tumbuh di atas makam itu. Sekuntum mawar yang bungkah merekah, memancarkan cahaya lembut kemerahan, seperti sulur cahaya yang begitu indah. Pitaya merasa, mawar itu tumbuh juga dalam jantungnya.

“Petiklah mawar itu, istriku. Sematkan di telingamu, agar kau bisa mendengar setiap desis, setiap kata, setiap suara, yang dibisikkan anak kita tercinta. Aku merasa mendengar nyanyiannya….”

Perempuan itu akan membimbing Pitaya masuk, membaringkannya penuh pengertian, dan mulai memijiti kaki Pitaya, melulurkan cinta dan ketabahannya. Mereka berdiam diri, menghabiskan malam dalam kamar. Sementara di luar, dunia berubah menjadi ladang pembantaian. Kerusuhan meledak di seluruh kota. Kematian seperti pakaian yang diobral di pinggir jalan. Rumah-rumah dirampok. Para wanita diseret dan diperkosa. Tiada hari tanpa pembunuhan, seperti slogan tiada hari tanpa olah raga. Wahai! Kejahatan seperti makanan pelengkap, yang diiklankan sepanjang hari. Entah dari mana iblis itu datang. Sepanjang malam gentayangan, menjejalkan mimpi hitam, seperti televisi yang tumbuh dalam kepala: memberi pelajaran bagaimana cara paling sempurna menusukkan pisau ke jantung orang. Membuat anak-anak terpana dan percaya, betapa gampangnya menghabisi seseorang; cukup ayunkan kelewang dan, craapp, kepala itu pun menggilinding dengan indahnya, dalam gerak lambat. Kemudian anak-anak itu belajar berkelahi di jalanan. Yang lain menjarah rumah, seperti kanker yang tak dapat dicegah. Penjahat menjadi jantung kota, membuat setiap orang merasa percuma telah membayar pajak, karena tak ada jaminan apa-apa, yang membuat mereka bisa merasa nyaman bercengkrama dalam rumah bersama keluarga. Begitu juga dengan Pitaya. Ia tak bisa apa-apa ketika suatu malam, laki-laki itu muncul kembali. Seperti setan, serta-merta laki-laki itu telah berdiri di tepi ranjang. “Masih ingat saya, Tuan?” ramah menyapa. Pitaya lihat lima orang berdiri di belakang laki-laki itu. “Izinkan kami membawa pergi semua barangmu, Tuan…”

“Ambillah, dan cepat pergi.”

Tapi mereka tak cuma mengangkut barang-barangnya. Mereka juga memperkosa istrinya. Bergiliran. Kemudian menyembelihnya….

Kenangan yang selalu membuat kepalanya berderit. Ngilu. Membuat Pitaya ingat akan Dokter Piwaca. Sedikit opium, mungkin bisa menenangkannya.

***

RUANG tunggu rumah-sakit selalu berbau kematian. Suster penjaga duduk terkantuk-kantuk. Seorang tua bersyal merah di pojok. Pitaya tahu, biji mata kiri orang tua itu telah diganti biji kelereng besi — mungkin mata itu dicongkel dalam satu interogasi. Wajahnya mengingatkan seorang pencoleng yang mau dieksekusi. Waktu terasa lebih lamban di ruang tunggu seperti ini. Seorang perempuan tergeletak dengan perut menggunung penuh sampah, terus mengerang, sebentar lagi akan melahirkan rongsokan panci, kaleng, botol-botol plastik, potongan kayu, sepatu, lonjoran besi dan rombengan baju. Pintu periksa berkerit terbuka, seekor babi melenggang keluar.

“Tuan Pitaya,” suster penjaga memanggil namanya. Pitaya merasa kulitnya tiba-tiba mengeras, seperti ada yang diam-diam tengah tumbuh mengubah dirinya. Babi itu menguik, mengangguk pada Pitaya.

“Tuan Pitaya!”

Ia bangkit. Melangkah lamban dengan keengganan memenuhi dada. Ia merasa tak ada guna menemui Dokter Piwaca.

“Tuan Pitaya, pintu kamar periksa di sebelah sana. Tuan Pitaya!” suster itu berteriak.

Tapi Pitaya terus berjalan keluar ruang tunggu. Entah kenapa ia tak ingin berurusan lagi dengan dokter. Dokter cuma menjadikan tubuh pasien sebagai barang mainan yang diperlakukan seenak-udelnya. Lagi pula ia kini merasa tak terlalu membutuhkan dokter. Ia hanya butuh seseorang yang bisa meyakinkannya: betapa hidup ini masih ada gunanya. Mungkin Pikulan, desis Pitaya. Ia jadi ingin bertemu Pikulan, mendengarkannya berbicara. Pitaya selalu suka mendengar Pikulan bicara, karna kata-kata begitu hangat dalam mulutnya. Hmm, kehangatan. Itukah yang aku butuhkan, Pitaya mendesah. Jengah, Pitaya melirik pada papan nama di tembok yang tergantung miring: Dokter Hewan Piwaca. Membuat kulit Pitaya seakan tambah mengeras.

Di pintu gerbang ia berpapasan dengan tiga ekor anjing, terpincang-pincang masuk rumah-sakit. Satu dari tiga ekor anjing itu ternyata Pitedah, kenalan Pitaya. Dia berubah menjadi anjing ketika bangun tidur pagi tadi. Menguik. “Ini lebih baik, Pitaya. Kota terlalu bahaya bagi orang tua macam saya.” Keduanya bertatapan, seperti sepasang kekasih yang mencoba menjenguk perasaan masing-masing.

“Selamat atas kebahagiaanmu,” bisik Pitaya.

“Bicaramu membuatku merasa terhina, Pitaya.”

“Berbahagialah orang yang telah menjadi anjing.” Pitaya mengelus kepala anjing itu. “Salam buat buat istrimu, Pitedah.”

“Dia telah mati dibacok, tiga hari lalu.”

“Aku turut berduka…”

“Terima kasih.” Menguik. Up, anjing yang manis. Pitaya berharap, ia juga bisa jadi anjing suatu pagi nanti. Jadi istri Pitedah telah mati. Hmm. Bagaimana dengan Piwucal? Apa kabar Pitados dan Pikulan? Lama ia tak ketemu mereka. Belakangan ini Pitaya lebih banyak mengurung diri di kamar, memandangi mayat istrinya yang terapung tenang dalam akuarium; merasa perlu untuk setiap saat mengganti air akuarium itu, seperti mengganti popok bayi agar selalu bersih. Mungkin hari ini aku bisa ketemu mereka di kafe. Tentu banyak hal telah terjadi. Aku akan dengar cerita mereka. Berbincang-bincang dengan para orang tua celaka itu, Pitaya selalu merasa bagai rusa dalam kelompoknya. Kehangatan, hmm, kehangatan. Seakan ada yang mengerudungkan selimut ke punggungnya, setiap mendengar mereka bercerita. Terutama bila Pikulan yang bicara, suaranya seperti keluar dari hidung: gemetar sengau. Seperti mendengar derap baris kaki tentara. Seperti ada senjata yang menjaga kata-katanya. Ia berharap bertemu pikulan di kafe. Ia akan bertanya, kenapa bicaranya sengau begitu. Ia juga akan bertanya, apakah dia sering membayangkan pada suatu hari nanti dirinya menjelma anjing atau babi?

***

HUJAN turun ketika Pitaya keluar rumah sakit. Kabut mengelangut. Jalan-jalan kelabu. Air tumpah, seakan-akan ada kaca yang tiba-tiba mengurung Pitaya, membuatnya merasa berada dalam akuarium raksasa. Dingin. Ia merasa kulitnya berlendir. Ia lihat bangkai bus dan gerobak menjelma lokan. Seluruh bangunan menjelma karang. Ia mengambang, berenang bersama orang-orang yang lalu-lalang, yang menjadi ikan di antara ganggang dan kerang. Ada dunia lain dalam akuarium, yang membuat ujung jari-jarinya tak lagi menggigil kesepian, dan waktu menjadi terasa hangat di pergelangan tangannya, membawanya memasuki masa lalu, termangu di gigir waktu Paleolithic. Dunia putih kelabu, membentang lesu. Binatang-bintang purba bermunculan dari celah-celah terumbu waktu. Di atas kota, sebuah bahtera mengapung, seperti piring terbang raksasa yang memayungi seluruh kota,2 mengapung di bawah cahaya bulan biru yang membuat alun dan riak air jadi berkilauan, seperti bongkahan es yang mencair. Dingin. Ribuan ikan berenang di bawah bahtera yang membawa berpasang-pasang binatang itu, berenang dalam keabadian. Deras. Pitaya mengapung dalam hujan.

Aha, Tuan Pitaya. Apa kabar? Hari yang cerah, bukan?!” Pitungkas, si pincang pelayan kafe, menyambut kemunculannya. Gembira.

“Aku perlu segelas brandy,” Pitaya menggigil dalam hujan. Melepas topi panamanya, duduk memandang keluar jendela: hari yang cerah, seperti kata Pitungkas. Tak ada hujan. Namun Pitaya tetap menggigil.

“Anda kedinginan, Tuan Pitaya?” cemas menyodorkan brandy, Pitungkas membukakan jas kulit Pitaya seperti pemburu tengah menguliti beruang es tua yang sekarat. “Apakah sudah Tuan periksakan kembali jantung plastik Tuan? Mesti rutin, Tuan Pitaya! Dokter Piwaca pasti cemas pada kesehatan Tuan. Jangan merajuk, Tuan Pitaya….” Pikulan terus bicara dengan kata-kata yang memar.

“Jangan omong terus seperti radio!”

Kafe sepi. Penasaran, Pitaya kembali memandang keluar jendela. Benar, tak ada hujan. Ia malah melihat Pikulan berdiri di pintu, menenteng buku puisi seperti biasanya. terlalu sering dibawa-bawa, buku puisi itu jadi lusuh tak karuan. Pikulan mendekap buku puisi itu seperti mendekap hidupnya. Pitaya tak mengerti, kenapa ada orang bisa hidup cukup dengan membawa-bawa buku puisi. Kenapa ada orang merasa begitu bergairah, cuma karena puisi — seperti Pikulan. Tapi, jujur, Pitaya menyukai Pikulan melebihi apa saja, setelah istrinya. Tak pernah bosan Pikulan menyarankannya untuk membaca puisi. Cara dia mendorongnya untuk menyukai puisi, selalu membuatnya merasa nyaman. Kerap Pikulan mengajaknya ke perpustakaan kota, dan disodorkan ke hadapannya setumpuk buku puisi. Yeah, ia pun membacanya sesekali. Tapi ia tak pernah ngerti puisi. Apakah memang berguna membaca puisi di tengah kota yang penuh kekerasan macam ini? Ia sering merasa ada kekerasan juga dalam puisi, yang membuatnya bertambah menggigil di antara kata-kata yang berbau darah dan membayangkan kematian.

“Sudah dengar Pitedah menjelma anjing?” sapa Pitaya.

Pikulan mengangguk. “Dan kamu, Pitaya, apakah sudah mendengar Pitados mati bunuh diri?” telunjuk Pikulan menyentuh kening, membentuk pistol, “Dorr!! Ia menembak kepalanya sendiri.” Mendengus. “Tadi malam. Aku mencoba menelponmu. Cuma dering.” Uh, tadi malam aku tertidur sejak sore, batin Pitaya.

“Duduklah, aku akan mentraktirmu kopi.”

“Terima kasih, Pitaya.” Pikulan mengelus tangan Pitaya. “Aku ada keperluan kecil.” Lalu beranjak pergi. Segera tertelan keriuhan jalan. terdengar seorang perempuan menjerit, “Jambret!! tetapi tak ada yang peduli. Di tempok ada grafiti merah, seperti kemarahan yang dibekukan: ALL RAPISTS SHOULD BE CASTRATED! ALL CHILD ABUSERS SHOULD BE KILLED!! ANYONE ELSE-MURDERERS, CRIMINALS SENT SOMEWHERE TO ROT!! Prasasti sunyi. Tak ada yang peduli. Kemanakah polisi-polisi itu saat ini? Kenapa mereka cuma sibuk ngurusi pelarangan baca puisi?

Pitaya duduk sendiri, didera iri, pada Pitedah yang telah jadi anjing, pada Pitados yang bisa mati bunuh diri. Telah lama ia ingin mati. Telah berkali-kali ia bunuh diri, tapi tak pernah mati. Seperti film seri yang terus-menerus diputar ulang di televisi, Pitaya selalu mendapati dirinya hidup kembali. Telah ia tenggak racun hingga jantungnya membusuk, tetapi Dokter Piwaca keparat itu berhasil menggantinya dengan jantung plastik. Diantara rasa iri itu, ia seperti mencium kembali bau yang membuatnya ngeri. Bau yang sunyi, teramat sunyi.3 Membuatnya seperti berdiam di puncak menara dengan pintu terkunci. Lalu ia lihat bulan bulat biru muncul dari balik gedung-gedung menjulang, membuat silhuet menara-menara katedral dengan bayangan memanjang rebah di atas hamparan lapangan rumput, seperti gelandangan yang lelah rebahan ditemani burung-burung dara yang berkepakan di bawah cahaya bulan. Pitaya jadi teringat pada bahtera yang melintas di atas kota tadi. Mengalun tenang, sebagaimana bulan biru itu. Ia ingin turut berlayar bersama bahtera itu, dalam keabadian waktu. Pikiran itu membuatnya termangu.

“Sudah malam, Tuan Pitaya.” Pitungkas mengemas gelas. Pitaya ingin terus duduk di situ menikmati bulan biru, menunggu kemunculan sebuah bahtera di atas kota. Tapi memang sudah malam. Udara lembab.

“Pulanglah, Tuan Pitaya. Selamat tidur. Jangan lupa berdoa, Tuan Pitaya. Itu baik bagi Anda. Selamat malam, Tuhan bersama Anda, Tuan Pitaya…”

Yeah, semoga Tuhan memang benar-benar ada, dan tak menderita amnesia.

***

PULANG, meringkuk di depan pendiangan, dan tidur. Ya, apa lagi yang mesti dikerjakan selain itu? Ia melenggang seperti ganggang, merasakan kulitnya berkilatan di bawah bulan. Aku akan menjadi ikan, desisnya, sambil memandangi ujung-ujung jarinya yang membeku, bagai ada kupu-kupu yang hendak muncul dari situ.

Kamar penuh bau sunyi, seperti wangi melati yang menguar dari tubuh istrinya yang mengapung tentram dalam akuarium: menyimpan cinta pada bulat bola matanya. Yeah, cinta, hanya ingatan yang terus dipertahankan orang-orang kesepian. Orang sebelah masih saja bernyanyi, datar, you slip in to the silence of my dream last night…., bagai memanggili kenangan manis ditengah kesakitan. Sepertinya ia pernah mendengar lagu itu, membuat Pitaya tanpa sadar ikurt bergumam: Sweet memories… sweet memories… hmm…hmm… Lirih. Alangkah jauh suara itu.

Sambil memandangi mayat istrinya dalam akuarium kenangan Pitaya bangkit dan menggugahnya, membuatnya ingin menjadi sepasang kekasih abadi. Aku tak ingin lagi meninggalkanmu, istriku, bisiknya sambil mengecup kaca akuarium. Malam ini ia ingin tidur dalam akuarium, mendekap tubuh istrinya yang dingin oleh lendir, mendekap kenangan dan impiannya, panjang. Pitaya melepas pakaiannya. Sepi. Menatap akuarium itu, dunia yang membuatnya merasa memiliki cinta, kemudian masuk ke dalamnya. Cahaya biru bulan menerobos masuk celah jendela, menimpa sebagian sisi akuarium, seakan mengirim selembar langit biru. Pitaya mengapung, tertidur dalam akuarium, tak hendak bangun…

Yogyakarta, 1995-1997.

Catatan:


1 Lihat sajak Malam Pembredelan, karya Joko Pinurbo.

2 Seperti satu adegan dalam film Independence Day.

3 Dari sajak Goenawan Mohamad, Parikesit.

2 Responses to “– AKUARIUM”


  1. 1 rafaeltrisno Februari 24, 2009 pukul 6:44 am

    Salam Pak Agus,

    Saya tidak bisa menggambarkan bagaimana bagusnya cerita ini, tapi dari tulisan ini saya tahu bahwa anda seorang yang profesional dibidang sastra.

  2. 2 badrul munir chair Maret 12, 2009 pukul 11:40 am

    Habis baca cerpen ini, aku jadi ingat sama “Sponge bob”. padahal, cerpen ini ada jauh sebelum Sponge Bob tayang.
    aku curiga, jangan-jangan ide ceritanya sponge bob dari cerpen ini…hahaha


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Februari 2009
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: