– INTERMEZO: LELUCON DALAM FIKSI MINI

Buat Saut Situmorang


intermezo

PENYAIR DAN MANTRA

Penyair Saut terpesona iklan obat kuat di pasar malam: Cukup oleskan sambil mengucapkan mantra ‘pow’, seketika akan membesar dan kuat!! “Bagaimana kalau sudah selesai?” tanya Saut, yang langsung terkenang pada sajak-sajak mantra Sutardji Calzoum Bachri. “Cukup ucapkan mantra ‘wow’, maka akan mengecil kembali,” tukang obat itu menerangkan.

Saut pun membeli sebotol. Sesampai di kamar pelacur langganannya, segera ia mengoleskan obat itu sambil merapal mantra ‘pow’. Ia kini begitu bangga karena burungnya – seperti dalam sajak Joko Pinurbo – bertenger dengan gagahnya.

Kaget, karena melihat burung penyair itu tampak besar tidak sebagaimana biasanya, pelacur itu pun langsung berteriak, “Wow!”

PAGI TERAKHIR SEPASANG SUAMI ISTRI

Seorang istri menemukan celana dalam yang bukan miliknya tergeletak di kolong tempat tidur. Ia pun curiga: selama seminggu ia keluar kota, suaminya yang penyair itu pasti menyelingkuhi pembantunya. “Ini pasti celana dalam Iyem, kan?!!”

“Jangan main tuduh gitu dong, Ma,” jawab si penyair kalem. “Setahuku, Iyem nggak punya celana dalem kok. Buktinya dia nggak pernah pakai…”

SEORANG PENYAIR DAN DUA ORANG RAHIB

Dalam kisah ini, penyair kita Saut, bersikeras ambil bagian, hanya karena ingin menunjukkan maqam kepenyairannya. Saat berjalan mrncari inspirasi melintasi hutan cemara yang menderai seperti dalam sajak Chairil Anwar, ia melihat dua rahib bermeditasi di tepi danau.

Ia kemudian menyaksikan rahib pertama bangkit, dan dengan tenang berjalan melintasi danau, seolah Yesus yang berjalan di permukaan air. Rahib kedua lalu menyusul, melangkah ringan di permukaan danau bening itu, bagai rase terbang di atas rerumputan – yang membuat penyair Saut seketika teringat pada adegan dalam buku-buku silat yang pernah dibacanya.

Menganggap kedua rahib itu tengah unjuk kesaktian di hadapannya, penyair Saut yang semasa kecil merasa pernah bercakap-cakap dengan Tuhan, segera ingin pamer: “Aku juga bisa berjalan melintasi danau itu.” Tapi baru sekali melangkah, ia langsung kecebur. Ia terus berusaha meringankan tubuhnya, terus mencoba berjalan melintasi permukaan danau, tetapi seketika itu juga selalu kembali tenggelam megap-megap.

Melihat itu, rahib pertama segera berkata pada rahib kedua, “Mungkin sebaiknya kita beritahukan saja letak batu-batunya…”

PENYAIR SELEBRITIS

Hanya karena merasa dirinya pemberontak, penyair kita Saut selalu menganggap dirinya selebitris yang dikenal setiap orang. Makanya, ia tak heran ketika seorang gadis cantik tampak diam-diam memperhatikan dan tersenyum-senyum kepadanya. “Kayaknya kenal, deh…” ujar gadis itu malu-malu.

“Pastilah kau kenal aku!” ujar Saut mantap.

“Ya, beneran kayak kenal…pot!” jawab gadis itu sambil mesam-mesam.


19 Responses to “– INTERMEZO: LELUCON DALAM FIKSI MINI”


  1. 1 Catshade Februari 1, 2009 pukul 8:45 am

    Iya, ya…saya baru nyadar kalau lelucon-lelucon itu sesungguhnya adalah fiksi mini juga.😯

  2. 2 agusnoorfiles Februari 1, 2009 pukul 10:11 am

    Bila kita menelisik khasanah sejarah sastra dunia, kita akan segera mahfum: bahwa fabel-fabel Aesop, yang hidup sekitar 620-560 SM, di zaman kejayaan Yunani kuno, adalah bentuk fiksi mini. Tembang-tembang macapat Jawa juga memiliki unsur naratif, hanya bentuknya dekat ke puisi. Kisah-kisah sufi, yang kadang anekdotis seperti kisah Abunawas atau Nasrudin Hoja di zaman kekhalifahan Islam, juga berupa kisah-kisah pendek — yang sekarang bisa dilihat sebagai sebuah fiksi mini. Dari Tiongkok, kita akan menemukan banyak sekali kisah zen, yang dipakai untuk menggambarkan pencarian kebajikan. Bukankah secara bentuk, itu semua adalah “cerita setelapak tangan”, sebagaimana sering orang China menyebutnya?
    Jadi, fiksi mini, tidak lahir begitu saja. Ia punya sejarah panjang. Kupikir, jauh sebelum manusia menuliskan kisah-kisah panjang semacam epik atau roman atau novel, ia menuturkan pengalaman hidupnya dalam kisah-kisah pendek, dongeng dan sejenisnya. Maka kita bisa berasumsi: kisah-kisah yang pendek lebih dulu ada sebelum yang panjang.
    Dalam diskusi di Warung Apresiasi Sastra Bulungan Jakarta, saya menegaskan: kemunculan kembali fiksi mini sekarang ini menjadi relevan, atau menemukan momentumnya yang pas, ketika dunia internet, yang serba cepat dan sekelebat, mengkonstruksi pengalaman membaca kita. Banyak penelitian yang mengatakan: kita cenderung tak tahan membaca tulisan panjang di internet. Mereka yang hidup dalam tradisi buku, malah selalu tak bisa konsentrasi dan teliti ketika membaca lewat layar monitor. Begitulah, di internet (atau sekarang ini) kita seperti ingin menemukan tulisan yang ringkas, tetapi cerdas dan bernas. Pendek, tetapi mampu memberikan informasi atau imajinasi yang panjang. Di sinilah, fiksi mini bisa, memenuhi hasrat seperti itu.
    Fiksi mikro, yang sangat-sangat pendek, karena itu tiada lain adalah upaya pengembangan dari khasanah sastra yang sudah panjang di dunia. Inilah era, dimana para pengarang ditantang untuk menyuling dirinya.

  3. 3 Catshade Februari 1, 2009 pukul 4:59 pm

    Ah, iya…minggu kemarin ada diskusi itu ya *lupa😳 * dibahas lebih lengkap dong mas Agus, apa2 saja yang dibicarakan di situ😀

  4. 4 Warga Bantul Februari 3, 2009 pukul 4:53 am

    saya paling senang membaca fiksimini semacam ini karena bahasanya yang sederhana tetapi banyak makna di dalamnya. Dan terkadang sifatnya tak terduga

  5. 5 bodrox Februari 4, 2009 pukul 10:40 am

    Jangan2 bukan fiksi? Btw, yang dihadiai pasti seneng.

  6. 6 just hans not haris even hanis! Februari 5, 2009 pukul 3:01 am

    mau fiksi mini,mau puisi ala jokpin, mau zen, mau de mello, whatever its said, kula paling remen tulisan kados niki🙂

  7. 7 Saut Situmorang Februari 13, 2009 pukul 1:38 pm

    *AGUS NOOR DAN SAUT SITUMORANG (sebuah sajak-prosa temuan)*

    prosais Agus Noor yang sudah bertahun-tahun berusaha mencari pencerahan intelektual-spiritual tapi gagal akhirnya memutuskan untuk mempelajari Zen dari penyair Saut Situmorang.

    setelah lewat satu tahun penyair Saut memutuskan untuk menguji pemahaman Zen muridnya itu. suatu hari setelah matahari condong ke barat, sehabis hujan deras yang tiap hari turun di Jogja berhenti, Saut mengajak muridnya itu jalan-jalan ke Sarkem. Agus Noor tentu saja kaget mendengar ajakan suhunya itu tapi sebagai murid yang baik dia tidak berkata apa-apa dan mengikuti suhunya menyusuri jalan Pasar Kembang di ambang malam. seperti biasanya di mana-mana sehabis turun hujan deras, jalan Pasar Kembang pun tergenang air hujan dan becek di mana-mana. seperti biasanya juga di mana-mana sehabis turun hujan deras, jalan Pasar Kembang pun sunyi dari manusia. selagi enak-enaknya berjalan santai menyusuri aspal jalan di belakang suhunya, tiba-tiba Agus Noor melihat seorang pelacur berdiri bengong di trotoar jalan. pelacur yang nampak masih muda dan indah ehem-ehem itu mengenakan pakaian kebaya lengkap hingga bener-bener seperti bidadari Jawa yang ketinggalan pelangi sorgawi yang sudah digulung kembali oleh para dewa-dewa ke langit sorgaloka sana setelah hujan reda di bawah matahari yang cuma sapuan-sapuan warna merah di langit yang mirip kanvas Affandi di museumnya di pinggir Kali Gaja Wong di timur kota. pelacur itu sepertinya ingin menyebrang jalan tapi pakaian kebayanya membuatnya susah berjalan, lagi pula jalan yang becek bisa mengotorinya, ah…

    tapi apa yang terjadi? penyair Saut Situmorang tiba-tiba saja berjalan mendekati pelacur indah itu, memeluknya, menggendongnya, menyebrangkannya ke sebrang jalan sana, lalu meneruskan jalannya! Agus Noor tentu saja kaget setengah mati dan terpaku di jalan melihat apa yang terjadi. Eh, kenapa suhu melakukan itu? Bukankah kami yang sedang mendalami spiritualisme ini haram menyentuh perempuan, apalagi pelacur?! apalagi pelacur muda dan indah?! Agus Noor melihat suhunya sudah agak jauh meninggalkannya seperti tak terjadi apa-apa segera buru-buru mengikutinya. Tapi sekali ini rasa penasarannya begitu besarnya sampai dia tak bisa lagi menguasainya. jangan-jangan suhu Saut Situmorang ini cuma seorang impostor, pura-pura Master Zen tapi sebenarnya seorang penipu ulung profesional kayak para guruku sebelumnya itu, jay hwa cat intelektual…

    kerna tak tahan lagi prosais Agus Noor pun segera mendekati suhunya, penyair Saut Situmorang, dan berkata, “Suhu! Suhu! apa yang Suhu lakukan tadi? Bukankah kita para spiritualis haram menyentuh perempuan apalagi pelacur muda dan indah tapi kenapa Suhu tadi bahkan memeluk dan menggendongnya segala?!”

    sambil tetap meneruskan langkah kakiNya menyusuri aspal jalan Pasar Kembang yang mulai diterangi lampu jalan satu-satu penyair Saut Situmorang berkata, “Agus Noor muridku. kalok gak silap aku tadi meninggalkan perempuan itu di belakang sana. apa masih kau gendong dia?”

    Jalan Jaksa, Jakarta, 1 Februari 2009
    21:30 pm

  8. 8 Arsyad Indradi Februari 13, 2009 pukul 3:41 pm

    Fiksi mini atau orang menyebut istilah cerita mini (cermin )kupikir cocok sekali untuk di dunia maya ini di populerkan. Sebab tak banyak makan waktu untuk membacanya, pembaca langsung baca beberapa fiksi mini tanpa ” copy paste ” seperti halnya cerpen atau cerita yang panjang.Contoh Lelucon dalam fiksi mini ini menarik dan mengasyikan lho.
    Mas Agus kapan lagi ke Banjarmasin melihat pasar terapung. Sayang kemarin tak sempat ke Pulau Kembang menjenguki ” nenek moyang ” Bang Saut he he he
    Salam sastra.

  9. 9 alieeseren Februari 16, 2009 pukul 5:13 pm

    saya merasa juga demikian, suhunya aja begitu pasti muridnya tidak jauh berbeda.

  10. 10 sabbih Februari 23, 2009 pukul 7:27 pm

    fiksi mini bikin waktu makin mini

  11. 11 ali Maret 4, 2009 pukul 4:40 am

    fiksi mini,benarkah itu? ataukah hanya karena menulis di komputer males trus akhirnya menulis di hp yang karakternya terbatas, kemudian disebut fiksi mini?

  12. 12 agusnoorfiles Maret 4, 2009 pukul 6:21 am

    Fiksi mini, memang secara bentuk sangat-sangat pendek atau mini, jumlah katanya pun sedikit. Tetapi itu bukan berarti membuat fiksi mini kemudian menjadi “cepat”. Ada proses memilah dan meilih kata, menyusun frasa, memastikan suspen dan juga alur yang menarik. Dan itu membutuhkan waktu yang nggak sedikit. Satu fiksi mini yang saya tulis, mungkin bisa membutuhkan waktu setengah hari sampai satu hari: dari kelebatan ide, pengendapan, proses penulisan dan editing, untuk sampai final dan yakin secara bentuk.

  13. 13 2qman Agustus 28, 2009 pukul 9:32 am

    nderek ngeyup Ndoro….

  14. 14 Isala bs September 15, 2010 pukul 5:07 pm

    waow…..!! so exiting,lg ikut lomba nih,
    cari2 contoh,dpt deh. thx bgt..

  15. 15 Saut Situmorang September 15, 2010 pukul 6:15 pm

    Darah Muda
    -sebuah fiksi mini temuan buat Agus Noor

    oleh Saut Situmorang

    seorang cowok bernama Agnoor donorin darah buat ceweknya. tanda cintaku yang tulus dan murni kayak sajak Sapardi yang kau sukai, katanya pada sang kekasih di rumah sakit.

    tapi beberapa minggu kemudian sang cewek memutuskan hubungan dengan Agnoor! Agnoor ketahuan ternyata sudah punya istri dan anak walo ngakunya masih perjaka tulen. dasar laki-laki! dasar bajingaaan!!! untung gue masih perawan!

    kerna malu luar biasa, Agnoor jadi kalap dan keluarlah sifatnya yang sebenarnya, yang selama ini dia tutupi dengan tingkah laku yang sopan santun dan penuh pengorbanan terhadap sang kekasih.

    “baik! putus ya putus tapi kembalikan darah yang aku donorin ke kau itu!” tereaknya sengit, persis kayak kawannya si Marco Sontoloyo, arsitek gagal yang jugak gemar tereak-tereak itu.

    sang cewek mendelikkan matanya, membalikkan badan, lalu masuk ke kamarnya.

    tak lama kemudian dia keluar dari kamar lalu melemparkan sebuah softex yang tepat jatuh ke wajah Agnoor.

    “nih gue nyicil perbulan, oke!”***

  16. 16 tanti April 3, 2013 pukul 3:51 am

    Bang Saut….masih ingat tanti?… kangen ma lelucon2mu dan rambut gimbalmu….

  17. 17 Saut Situmorang (@AngrySipelebegu) April 4, 2013 pukul 1:34 pm

    Halo, Tanti! Ayok main ke Twitter-ku: @AngrySipelebegu

  18. 18 Umi Sakdiyah Desember 27, 2014 pukul 7:27 pm

    Wah senangnya bisa mampir ke blognya mas Agusnoor. Saya paling suka baca dan nulis cerita humor, yang bentuknya fiksi mini juga. Mampirlah ke blog saya : http://www.fiksiminihumor.blogspot.com

  19. 19 Umi Sakdiyah Desember 27, 2014 pukul 7:28 pm

    Bang Saut Situmorang, salam kenal


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Februari 2009
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: