– PENA KENCANA KE-2 TELAH TIBA

Libur tlah tiba… libur tlah tiba…

Nyanyian kanak-kanak Tasya membuat saya tertawa. Mungkin karena saya memang pingin libur panjang. Saya ingin,gambar43 akhir tahun ini menepi dari kehirukpikukan, dan membaca. Hanya membaca. Dan hanya membaca. Libur belum lagi tiba, tapi surat dari Panitia Pena Kencana lebih dulu tiba. Cerpen saya, “Kartu Pos dari Surga”, yang dimuat Kompas, 21 September 2008, masuk dalam “20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009”.

Hmm. Rupanya Anugerah Sastra Pena Kencana ke dua, sudah melewati seleksi penjurian. Buku itu, akan beredar bulan Februari 2009 nanti. Selain memilih 20 cerpen yang dianggap terbaik, sederet juri: Sapardi Djoko Damono, Budi Darma, Linda Christanty, Putu Wijaya, Sitok Srengenge, Sutradji Calzoum Bachry, juga telah memilih 60 Puisi Indonesia Terbaik – ini berbeda dengan tahun lalu, yang jumlahnya 100. Konon, karena para juri merasa kesulitan memenuhi kuota angka 100 bagi puisi. Kenapa? Tentu hanya juri – dan Tuhan tentu saja – yang bisa menjawabnya.

Ini cerpen “Kartu Pos dari Surga”, yang terpilih itu…

Kartu Pos dari Surga

Cerpen Agus Noor

kartu-pos-dari-surga

MOBIL jemputan sekolah belum lagi berhenti, Beningnya langsung meloncat menghambur. “Hati-hati!” teriak sopir. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. Seperti capung ia melintas halaman. Ia ingin segera membuka kotak pos itu. Pasti kartu pos dari Mama telah tiba. Di kelas, tadi, ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun.

Beningnya tertegun, mendapati kotak itu kosong. Ia melongok, barangkali kartu pos itu terselip di dalamnya. Tapi memang tak ada. Apa Mama begitu sibuk hingga lupa mengirim kartu pos? Mungkin Bi Sari sudah mengambilnya! Beningnya pun segera berlari berteriak, “Biiikkk…Bibiiikkk…” Ia nyaris kepleset dan menabrak pintu. Bik Sari yang sedang mengepel sampai kaget melihat Beningnya terengah-engah begitu.

“Ada apa, Non?”

“Kartu posnya udah diambil Bibik, ya?”

Tongkat pel yang dipegangnya nyaris terlepas, dan Bik Sari merasa mulutnya langsung kaku. Ia harus menjawab apa? Bik Sari bisa melihat mata kecil yang bening itu seketika meredup, seakan sudah menebak, karna ia terus diam saja. Sungguh, ia selalu tak tahan melihat mata yang kecewa itu.

***

MARWAN hanya diam ketika Bik Sari cerita kejadian siang tadi. “Sekarang, setiap pulang, Beningnya selalu nanya kartu pos…” suara pembantunya terdengar serba salah. “Saya ndak tahu mesti jawab apa…” Memang, tak gampang menjelaskan semuanya pada anak itu. Ia masih belum genap 6 tahun. Marwan sendiri selalu berusaha menghindari jawaban langsung bila anaknya bertanya, “Kok kartu pos Mama belum datang ya, Pa?”

“Mungkin Pak Posnya lagi sakit. Jadi belum sempet ngater ke mari…”

Lalu ia mengelus lembut anaknya. Ia tak menyangka, betapa soal kartu pos ini akan membuatnya mesti mengarang-ngarang jawaban.

Pekerjaan Ren membuatnya sering bepergian. Kadang bisa sebulan tak pulang. Dari kota-kota yang disinggahi, ia selalu mengirimkan kartu pos buat Beningnya. Marwan, kadang meledek istrinya, “Hari gini masih pake kartu pos?” Karna Ren sebenarnya bisa telepon atau kirim SMS. Meski baru playgroup, Beningnya sudah pegang hape. Sekolahnya memang mengharuskan setiap murid punya handphone, agar bisa dicek sewaktu-waktu, terutama saat bubaran sekolah, untuk berjaga-jaga kalau ada penculikan.

“Kau memang tak pernah merasakan bagaimana bahagianya dapat kartu pos…”

Marwan tak lagi menggoda bila Ren sudah menjawab seperti itu. Sepanjang hidupnya, Marwan tak pernah menerima kartu pos. Bahkan, rasanya, ia pun jarang dapat surat pos yang membuatnya bahagia. Saat SMP, banyak temannya yang punya sahabat pena, yang dikenal lewat rubrik majalah. Mereka akan berteriak senang bila menerima surat balasan atau kartu pos, dan memamerkannya dengan membacanya keras-keras. Karena iri, Marwan pernah diam-diam menulis surat untuk dirinya sendiri, lantas mengeposkannya. Ia pun berusaha tampak gembira ketika surat yang dikirimkannya sendiri itu ia terima.

Ren sejak kanak sering menerima kiriman kartu pos dari Ayahnya yang pelaut. “Setiap kali menerima kartu pos darinya, aku selalu merasa ayahku muncul dari negeri-negeri yang jauh. Negeri yang gambarnya ada dalam kartu pos itu…” ujar Ren. Marwan ingat, bagaimana semasa mereka pacara, Ren bercerita dengan suara penuh kenangan, “Aku selalu mengeluarkan semua kartu pos itu, setiap Ayah pulang.” Ren kecil duduk dipangkuan, sementara Ayahnya berkisah keindahan kota-kota pada kartu pos yang mereka pandangi. “Itulah saat-saat menyenangkan dan membanggakan punya Ayah pelaut.” Ren merawat kartu pos itu seperti merawat kenangan. “Mungkin aku memang jadul. Aku hanya ingin beningnya punya kebahagiaan yang aku rasakan…”

Tak ingin berbantahan, Marwan diam. Meski tetap saja ia merasa aneh, dan yang lucu: pernah suatu kali Ren sudah pulang, tetapi kartu pos yang dikirimkannya dari kota yang disinggahi baru sampai tiga hari kemudian!

***

KETUKAN di pintu membuat Marwan bangkit, dan ia mendapati Beningnya berdiri sayu menenteng kotak kayu. Itu kotak kayu pemberian Ren. Kotak kayu yang dulu juga dipakai Ren menyimpan kartu pos dari Ayahnya. Marwan melirik jam dinding kamarnya. Pukul 11.20.

“Nggak bisa tidur, ya? Mo tidur di kamar Papa?”

Marwan menggandeng anaknya masuk.

“Besok Papa bisa anter Beningnya nggak?” tiba-tiba anaknya bertanya.

“Nganter ke mana? Pizza Hut?”

Beningnya menggeleng.

“Kemana?”

“Ke rumah Pak Pos…”

Marwan merasakan sesuatu mendesir di dadanya.

“Kalu emang Pak Posnya sakit, biar besok Beningnya aja yang ke rumahnya, ngambil kartu pos dari Mama.”

Marwan hanya diam, bahkan ketika anaknya mulai mengeluarkan setumpuk kartu pos dari kotak itu. Ia mencoba menarik perhatian Beningnya dengan memutar DVD Pokoyo, kartun kesukaannya. Tapi Beningnya terus sibuk memandangi gambar-gambar kartu pos itu. Sudut kota tua. Siluet menara dengan burung-burung melintas langit jernih. Sepeda yang berjajar di tepian kanal. Pagoda kuning keemasan. Deretan kafe payung warna sepia. Dermaga dengan deretan yacht tertambat. Air mancur dan patung bocah bersayap. Gambar pada dinding gua. Bukit karang yang menjulang. Semua itu menjadi tampak lebih indah dalam kartu pos. Rasanya, ia kini mulai dapat memahami, kenapa seorang pengarang bisa begitu terobsesi pada senja dan ingin memotongnya menjadi kartu pos buat pacarnya.

Andai ada Ren, pasti akan dikisahkannya gambar-gambar di kartu pos itu hingga Beningnya tertidur. Ah, bagaimanakah ia mesti menjelaskan semuanya pada bocah itu?

“Bilang saja Mamanya pergi…” kata Ita, teman sekantor, saat Marwan makan siang bersama. Marwan masih ngantuk, karena baru tidur menjelang jam lima pagi, setelah Beningnya pulas,

“Bagaimana kalau ia malah terus bertanya, kapan pulangnya?”

“Ya sudah, kamu jelaskan saja pelan-pelan yang sebenarnya.”

Itulah. Ia selalu merasa bingung, dari mana mesti memulainya? Marwan menatap Ita, yang tampak memberi isyarat agar ia melihat ke sebelah. Beberapa rekan sekantornya terlihat tengah memandang mejanya dengan mata penuh gosip. Pasti mereka menduga ia dan Ita…

“Atau kamu bisa saja tulis katu pos buat dia. Seolah-oleh itu dari Ren..”

Marwan tersenyum. Merasa lucu karena ingat kisah masa lalunya.

***

MOBIL jemputan belum lagi berhenti ketika Marwan melihat Beningnya meloncat turun. Marwan mendengar teriakan sopir yang menyuruh hati-hati, tetapi bocah itu telah melesat menuju kotak pos di pagar rumah. Marwan tersenyum. Ia sengaja tak masuk kantor untuk melihat Beningnya gembira ketika mendapati kartu pos itu. Kartu pos yang diam-diam ia kirim. Dari jendela ia bisa melihat anaknya memandangi kartu pos itu, seperti tercekat, kemudian berlarian tergesa masuk rumah.

Marwan menyambut gembira ketika Beningnya menyodorkan kartu pos itu.

“Wah, udah datang ya kartu posnya?”

Marwan melihat mata Beningnya berkaca-kaca.

“Ini bukan kartu pos dari Mama!” Jari mungilnya menunjuk kartu pos itu. “Ini bukan tulisan Mama…”

Marwan tak berani menatap mata anaknya, ketika Beningnya terisak, dan berlari ke kamarnya. Bahkan membohongi anaknya saja ia tak bisa! Barankali memang harus berterus terang. Tapi bagaimanakah menjelaskan kematian pada anak seusianya? Rasanya akan lebih mudah bila jenazah Ren terbaring di rumah. Ia bisa membiarkan Beningnya melihat Mamanya terakhir kali. Membiarkannya ikut ke pemakaman. Mungkin ia akan terus-terusan menangis karena merasakan kehilangan. Tetapi rasanya jauh lebih mudah menenangkan Beningnya dari tangisnya, ketimbang harus menjelaskan bahwa pesawat Ren jatuh ke laut, dan mayatnya tak pernah ditemukan.

***

KETUKAN gugup di pintu membuat Marwan bergegas bangun. Duabelas lewat, sekilas ia melihat jam kamarnya.

“Ada apa?” Marwan mendapati Bik Sari yang pucat.

“Beningnya…”

Terburu Marwan mengikuti Bik Sari. Dan ia tercekat di depan kamar anaknya. Ada cahaya terang keluar dari celah pintu yang bukan cahaya lampu. Cahaya yang terang keperakan. Dan ia mendengar Beningnya yang cekikikan riang, seperti tengah bercakap-cakap dengan seseorang. Hawa dingin bagai merembes dari dinding. Bau wangi yang ganjil mengambang. Dan cahaya itu makin menggenangi lantai. Rasanya ia hendak terserap amblas ke dalam kamar.

“Beningnya! Beningnya!” Marwan segera menggedor pintu kamar yang entah kenapa begitu sulit ia buka. Ia melihat ada asap lembut, serupa kabut, keluar dari lubang kunci. Bau sangit membuatnya tersedak. Lebih keras dari bau amoniak. Ia menduga terjadi kebakaran, dan makin panik membayangkan api mulai melahap kasur.

“Beningnya! Beningnya!” Bik Sari ikut berteriak memanggil.

“Buka Beningnya! Cepat buka!”

Entahlah berapa lama ia menggedor, ketika akhirnya cahaya keperakan itu seketika lenyap, dan pintu terbuka. Beningnya berdiri sambil memegangi selimut. Segera Marwan menyambar mendekapnya. Ia melongok ke dalam kamar, tak ada api, semua rapi. Hanya kartu pos-kartu pos yang beserakan.

“Tadi Mama datang,” pelan Beningnya bicara. “Kata Mama tukang posnya emang sakit, jadi Mama mesti ngater kartu posnya sendiri…”

Beningnya mengulurkan tangan. Marwan mendapati sepotong kain serupa kartu pos dipegangi anaknya. Marwan menerima dan mengamati kain itu. Kain kafan yang tepiannya kecoklatan bagai bekas terbakar.

Singapura-Yogyakarta, 2008

16 Responses to “– PENA KENCANA KE-2 TELAH TIBA”


  1. 1 kiey Desember 10, 2008 pukul 2:29 pm

    Aku dah bc cerpen ni sblmnya. Ngaduk emosi banget. Ni cerpen aku seneng. Selamat ya, mas. Bisa critain ga proses nulisnya? biar qta2 jg bs blajar, gmana bikin cerpen yg bagus gni…

  2. 2 komang ira Desember 12, 2008 pukul 8:20 pm

    hmmm, sepertinya sudah siap untuk lebih baik dari favorit ke3 pilihan pembaca tahun 2008. cerpennya memang bagus, mas…🙂

  3. 3 Marsli N.O Desember 13, 2008 pukul 5:04 pm

    Jadi sudah banyak buku kumpulan cerpen Sdr yang terlewat saya koleksi. Tahniah atas segala kejayaan Sdr.

  4. 4 agusnoorfiles Desember 14, 2008 pukul 9:36 am

    Apakabar Bung Marsli…
    Saya kerap menjenguk blog Anda. Lama juga saya tak mengikuti pertumbuhan sastra Malaysia paling mutakhir. Kemarin, saya diundang Jilfest (Jakarta International Literary Festival), dan pada daftar hadir ada beberapa nama dari Malaysia. Tapi justru pada saat acara itu, saya jatuh sakit, kena demam, jadi saya tak bisa konsentrasi mengikuti rangkaian acara diskusi dan pementasan di forum Jilfest itu. Malah nyaris 2 hari, saya hanya istirahat (tiduran) di kamar, untuk memulihkan stamina. Padahal, pada acara Jilfest itu saya ingin mencari kesempatan bicara dengan pengarang2 dari Malaysia, untuk mencari tahu perkembangan sastra Malaysia paling “hot”…
    Salam, semoga makin kratif dan berjaya karya-karya Anda…

  5. 5 F Moses Desember 14, 2008 pukul 9:54 am

    Cerpen Mas Agus membuat saya berkali-kali untuk membacanya. Selamat, Mas. Salam

  6. 6 [D2R3D2] Desember 16, 2008 pukul 4:10 pm

    selamat untuk pena kencananya om .. seperti biasanya cerpen yang intim

  7. 7 zaldy munir Desember 20, 2008 pukul 11:13 am

    Wahh… cerpennya Ma-nyusss….

  8. 8 teguh Santoso Desember 28, 2008 pukul 10:17 am

    thx for the inspirations…

  9. 9 F Moses Januari 7, 2009 pukul 8:03 am

    Mas Agus yang baik-meskipun kita sama sekali belum pernah bertemu, kecuali jarak pada kata yang mengantarkannya pada saya-kenapa selalu begitu dan mulai begitu. Gilakah saya? gilakah saya? karena saya terperangah oleh karakter “melambat” anda mengolah alur di penceritaan. Itulah hebatnya anda: melambat dengan tempo teramat pelan sembari mengusung jalinan kata yang akhirnya benar-benar terjalin, berjalin menjadi suatu “rintihan cerita” yang meruap ke kepala saya. Sesekali juga menjewer menjadi memekakkan telinga saya. Aih, omong apakah sebenarnya saya? begini, jalinan nalar penceritaan anda itu merdu, bersahaja, melembut dari sesuatu yang memang sudah benar-benar lembut. Kumpulan frasa di tangan anda membawa ruapan-ruapan pesona-barangkali, bila boleh saya mengatakan itu tak terhingga. terhingga sampai di keseolahan anda merangkul saya melihat pada negeri maupun kota-kota yang begitu jauh.
    Mas Agus yang baik, terima kasih atas cerita anda yang acap merangkul saya. Meski kita tak pernah bertemu. Barangkali memang kita di tak sempatkan bertemu. Izinkan saya berucap cinta untuk anda. Saya tunggu kartu Pos dari Surga itu–berisikan kata-kata mendiang ayah saya. Salam.

  10. 10 agusnoorfiles Januari 7, 2009 pukul 11:25 am

    aku yakin kita bertemu, dalam hati kita masing-masing. Aku yakin, mendiang Ayah anda, tak hanya mengirimkan kartu pos cahaya, tetapi juga selalu mengirimkan doa buat anda…

  11. 11 nanaeres Januari 17, 2009 pukul 3:30 am

    hmmm

    aku boleh tau kode pos surga??

    aku anak kecil yang mau kirim surat buat nenekku di surga…

    he…
    slam kenal..
    nanaeres perlu banyak belajar darimu

  12. 12 agusnoorfiles Januari 17, 2009 pukul 9:08 am

    Aih, keren banget frase pertanyaanmu itu: “Aku boleh tahu kode pos surga??”… Membuat imajinasiku kembali serentak menyusun sebuah kisah tentang tukang pos, yang mirip dengan Sinterklas, membagi-bagi surat berisi kebahagiaan untuk anak-anak di dunia ini…mungkin keren juga kalao anak yg dapat surat kebahagiaan itu anak Palestina, ya?

  13. 13 Syaifuddin Gani Januari 17, 2009 pukul 12:21 pm

    mat malam mas agus noor
    engkau gubernur
    cerpen indonesia

    cerpenmu senantiasa bertabur nur

  14. 14 sainul hermawan Maret 7, 2009 pukul 2:20 pm

    Mas, cerpen Anda membuat saya merinding. Luar biasa. Nyaris tanpa kata mubazir.

  15. 15 Marsli N.O November 10, 2009 pukul 1:34 pm

    Tahniah untuk kejayaan ata segala kegigihan Sdr.

  16. 16 agusnoorfiles November 13, 2009 pukul 2:09 pm

    Saudaraku Marsli, yang baik. Semoga kau pun terus berjaya dalam berkarya. Terus kreatif. Salam…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: