– SETANGKAI SUNYI

gambar16AKU tengah berfikir betapa hidup ini telah menjadi begitu hampa dan sia-sisa untuk dipertahankan ketika kusaksikan setangkai sunyi tumbuh di antara gerimbun bunga-bunga di halaman. Setangkai sunyi yang cemerlang dengan perpaduan warna-warna yang paling rahasia sehingga membuatku tergetar dan bertanya-tanya. Benarkah masih ada keindahan yang begitu menakjubkan di tengah dunia yang telah berubah menjadi tempat pembantaian?

Di sela bunga-bunga mawar yang mekar dan di bawah gerimis yang membasahi senja, setangkai sunyi itu tampak begitu bening dalam kehindahannya. Seakan bunga keabadian yang tumbuh dari duka abadi. Seperti segala yang bermula dari sunyi, ia menjadi terlihat begitu berarti. Bukankah dunia ini juga sebermula dari sunyi? Entahlah. Aku tak mengerti. Aku tak terlalu memahami. Tetapi yang pasti, kini, di hadapanku telah tumbuh setangkai sunyi yang begitu cemerlang, basah dan murni. Memancarkan keredupan yang menentramkan hati. Segala yang kupandang seperti menjelma bentangan luas yang lembut dan segar. Langit bersih seperti permukaan agar-agar. Aku menyaksikan dunia yang selama ini hanya ada dalam harapan. Aku menyaksikan sekawanan burung merpati terbang meniti sepi.

Aku memejam menyaksikan itu semua. Ini bukan dunia menyedihkan yang kukenal. Dan aku, tiba-tiba, menemukan diriku yang termangu di beranda, seperti luluh di bawah cahaya pucat rembulan.

Tapi bayangan buruk itu berkeredap lagi. Bayangan yang tak ingin kau kekalkan dalam ingatan, tetapi selalu muncul seperti gedoran di tengah malam. Mengejutkan dan membuatnya tergeragap ketakutan. Aku menyaksikan darah menggenang di lantai…

Bayangan itu begitu jelas, meski aku bersikeras tak ingin mengingatnya lagi. Aku baru saja pulang menjelang tengah malam dengan keletihan. Aku bayangkan Asih, istriku yang bermata lembut, akan membukakan pintu dan segera menyiapkan secangkir kopi hanya untuk meneduhkan penat. Anak-anakku mungkin masih ada yang tengah belajar. Atau mungkin mereka malah masih nonton televise. Atau mungkin mereka sudah tertidur di kursi ruang keluarga, sementara televise masih saja menyala. Asih, barangkali juga terkantuk menunggu kepulanganku. Ia selalu ingin membukakan pintu untukku. “Agar aku selalu tahgu kau telah kembali,” katanya. Itulah kenapa ia tak suka bila aku bersikeras untuk menduplikat saja kunci pintu. “Kalau kau bawa kunci, kau jadi punya alasan untuk kembali lebih malam, atau malah pulang dini hari…”

Dan suami yang terbiasa pulang dini hari, akan tergoda untuk tidak pulang, dan lupa kalau ada yang tengah menunggu di rumah. Aku tersenyum setiap Asih mengatakan itu sambil lalu. Aku tahu kecemasannya, dan karenanya aku makin mencintainya. Ah, betapa menyenangkan membayangkan ada kehangatan yang menunggu di rumah.

Tapi malam itu aku menemukan rumah begitu ganjil. Pintu setengah terbuka, dan darah berceceran di lantai. Perabotan terguling berantakan. Asih tertelungkup dengan kepala pecah. Ida, Renaldi, Inan dan Betita – anak-anakku tercinta – terkapar dengan mata terbelalak. Seakan ketakutan masih lekat di kelopak mata mereka.

Benarkah semua itu sungguh-sungguh nyata? Benarkan darah, kekerasan dan pembantaian tidak cuma terjadi di televisi? Jadi, semua berita di koran-koran itu tidak mengada-ada? Perampokan terjadi di mana-mana. Pembunuhan setiap saat terjadi di mana-mana. Pembantaian di mana-mana. Dulu tiada hari tanpa olah raga, kini tiada hari tanpa pembunuhan. Dunia telah menjadi penuh kisah kekejaman. Kini aku bisa merasakan, betapa bukan kematian benar yang menakutkan, tetapi cara bagaimana kita matilah yang membuat kita ngeri. Cara istri dan anak-anakku mati, selalu membuatku merinding. Membuatku selalu bertanya, benarkan ini dunia yang diinginkan Tuhan ketika menciptakannya?

AKU masih termangu di beranda, menyaksikan setangkai sunyi itu tumbuh mekar dan makin mengesankan, sementara kegelapan mulai menampakkan diri bersama gerimis. Pagar dan pepohonan membasah, jalanan berkilat dan makin muram, sedang pohon-pohon tampak menggigil ganjil. Aku melihat setangkai sunyi itu bergoyang-goyang dijentikan angin. Ada suasana gaib yang ditimbulkannya. Seperti ada kesedihan yang diuntai jadi bunga keindahan. Atau semacam kesyahduan dan kerelaan yang tulus dalam duka tak berkesudahan.

Makin lama setangkai itu makan mekar membesar, dan aku semakin berdebar.

Di jalanan, orang-orang masih saja lalu-lalang tanpa mempedulian gerimis. Apakah yang membuat mereka tidak mempedulikan gerimis? Kenapa tergesa-gesa? Apakah mereka juga menyimpan ketakutan ketika melintas gang remang atau jalan tampa penerangan? Kulihat seseorang melangkah bergegas. Mungkin tadi ia lama berdiri di halte, sementara rinai gerimis membuat sekelilingnya jadi tampak mengerikan: seperti ada rahang besar yang akan menelannya. Dan ia jadi gugup, lalu memutuskan untuk segera jalan kaki. Tak jauh dari halte itu, barangkai, ia melihat ada seseorang yang terbunuh ketika baru saja turun dari taksi. Pastilah banyak peristiwa terjadi di luar sana. Sepasang kekasih yang berjalan sambil bergandengan tangan tiba-tiba di hampiri segerombolan pemuda. Gadis itu panik. Tanpa babibu gerombolan itu memukuli kekasihnya hingga terkapar dalam got. Lalu gadis itu hanya bisa merasakan berate kerongkongannya kering dan segumpal jerit membuat lehernya sesak ketika gerombolan pemuda ity mulai menyeretnya masuk ke dalam bangunan kosong terbengkalai. Mungkin ada beberapa orang yang menyaksikannya. Tapi tak berani berbuat apa-apa.

Banyak kisah disembunyikan kota namun kita tak tahu maknanya. Apa pentingnya semua itu bagi kita?

Masih saja aku termangu di beranda dengan secangkir kopi yang telah dingin memandangi setangkai sunyi itu ketika kudengar teriakan riang memanggilku dari dalam rumah. Ah, suara itu! Terdengar penuh pengertian. Suara lembut Asih yang bagai selalu menawarkan kelembutan yang membuatku ingin berada di dekatnya.

“Masuklah. Nantu kau masuk angin…”

Suara itu masih saja terdengar dalam ingatan. Sampai aku yakin ia memang masih hidup. Dan ia memang tetap hidup. Dalam ingatan.

Aku masih saja mendengar suara pertengkaran Ida dan renaldi memperebutkan lauk pauk ketika makan malam. Masih kudengar derai tawa mereka yang renyak ketika menonton televisi. Masih begitu jelas jeritan dan tawa mereka ketika saling kejar-kejaran sambil saling melempar bantal. Suara Inan bermain piano. Betita yang merengek minta dikelonin. Lalu kudengar suara Asin menyuruh Ida dan Renaldi belajar. Aku ingat pada mata si bungsu yang menatap manja. Sepasang mata itu mirip sekali dengan mata ibunya.

“Ayo, kamu panggil Ayahmu masuk… Biar kamu dikelonin Ayah, ya…”

Aku mendengar langkar ringan betika mendekati pintu. Kurasakan betika hati-hati mendekatiku. Aku menengok ke arah pintu itu. Tak ada siapa-siapa.

Tapi aku yakin Betita masih ada. Ia mungkin malu, sembunyi di balik pintu.

Aku selalu measa semuanya ada dan nyata. Sebagaimana setiap kali aku bangun pagi dengan malas karena tak tahu harus melakukan apa dengan hidup yang makin hampa dan membosankan ini, kemudian mendapati kesibukan pagi ketika bayangan anak-anak berkelebatan ingin cepat berangkat sekolah. Aku mendengar celoteh mereka menikmati roti. Aku mendengar denting sendok di piring. Aku mencium harum kopi mengambang di udara pagi. Dan aku bejalan mendakati meja makan. Mendapati nasi goreng yang sedap. Terhidang sempurna.

Dan aku termangu memandangnya. Mencoba meyakinkan betapa segalanya masih seperti semula. Anak-anak dan istriku tak pernah mai dengan cara mengerikan seperti yang kusaksikan. Ah, siapa yang bisa menghapus kenangan? Mereka tetap berkeliaran dalam rumah. Itu lebih baik, batinku. Dari pada mereka berlarian di luar rumah. Mereka bisa saja sewaktu-watu mati dengan cara mengerikan. Untuk kedua kali.

“Masuklah. Sudah malam. Nanti kamu masuk angin…”

Suara itu kembali memanggil. Aku bangkit, dan menyempakan memetik setangkai sunyi yang tumbuh dalam rimbun kesepianku itu. Aku ingin memberikan setangkai sunyi itu buat istriku. Biarlah nanti ia akan menaruhnya di vas bunga di samping potret keluarga. Agar kami bisa selalu memandangi dan menikmatinya bersama-sama.

SETIAP kali ada kenalan atau kerabat yang datang, mereka sangat terpukau dengan setangkai sunyi itu.

“Benar-benar menakjubkan!” pekik mereka.

“Oh, ya?”

“Ya. Aku tak pernah membayangkan kalau ada sekuntum bunga yang begini indah. Saya bukanlah orang yang suka bunga, tetapi jujur, saya langsung jatuh cinta melihat bunga ini. Bunga apakah ini?”

“Itu bukan bunga,” kataku. “Itu kesunyian.”

“Ah, aku tak mengerti maksudmu?”

“Kalian memang tak bakal mengerti.”

Lantas aku mengajak mereka ke halaman, menunjukkan serimbun sunyi yang bermekaran. Mereka terpesona. Mereka dengan gembira memetik dan membawanya pulang.

Dan aku, selalu, kembali merasa makin sepi setelah mereka pergi. Kembali disergap kehampaan ketika merasakan dunia yang makin tidak mempesona. Sendiri merawat kesunyian yang tumbuh di halaman. Begitulah. Aku rawat bunga sunyi itu hingga tumbuh subur. Aku tanam bunga sunyi itu di sekeliling pagar. Di bawah jendela kamar, agar setiap aku bangun pagi bisa kuhirup harum baunya yang menentramkan. Kutanam bunga sunyi itu di setiap pojok rumah dan juga lahan-lahan kenangan yang seringkali sayup-sayup membuatku menangis sendirian.

Setangkai sunyi yang mula-mula aku temukan tumbuh di antara rerimbun bunga-bunga itu kini telah memenuhi halaman dan setiap bagiah rumah. Setangkai sunyi itu kini bermekaran di mana-mana. Setiap menghirup keharumannya aku seperti melayang dan mengapung. Kelopaknya selalu berkilat. Daun-daunnya selalu basah. Tangkainya selalu bergoyangan. Aku melihat anak-anakku berlarian riang seperti kupu-kupu yang beterbangan dari satu tangkai sunyi ke tangkai sunyi lainnya.

Setiap pagi aku selalu menyaksikan setangkai sunyi itu berbunga. Dan setiap kali itu pula aku masih merasakan keperihan.

Tegal, 1994.

8 Responses to “– SETANGKAI SUNYI”


  1. 1 roslan jomel November 26, 2008 pukul 5:23 am

    Sepertinya puisi panjang yang dramatis. Saya selalu kagum dengan bahasa bening Mas Agus. Membuatkan saya tambah terpesona dengan magis penulisan Mas Agus. Saya fikir, saya tidak berlebih-lebihan memberi komentar.

  2. 2 Rizal November 26, 2008 pukul 6:38 am

    Luar biasa…. kata – kata yang dirangkai sungguh mempesona… indah sekali… sekalipun harus diakui, apa yang disampaikan postingan ini sungguh memilukan…

  3. 3 [D2R3D2] November 26, 2008 pukul 9:50 am

    une fois de plus, la lecture de votre tragique histoire courte, mais plus que votre micro-fiction
    heh tegal 1994 ? ..
    bonne nuit et ont un grand jour, Dieu nous bénisse ..

  4. 4 morning dew November 27, 2008 pukul 8:14 am

    Membaca cerpen ini, bikin mata ning berkaca-kaca…

    Takjub.

  5. 5 kikiey Desember 4, 2008 pukul 12:28 pm

    salam ziarah.

    saya suka baca tulisan anda:]

  6. 6 budakdigital Januari 5, 2009 pukul 9:07 am

    sumpah mampus….
    kereeennnnn banget……
    itu saja….

  7. 7 Eman Suherman Juli 15, 2011 pukul 8:19 am

    ….Setangkai sunyi yang mula-mula aku temukan tumbuh di antara rerimbun bunga-bunga itu kini telah memenuhi halaman dan setiap bagiah rumah. Setangkai sunyi itu kini bermekaran di mana-mana. Setiap menghirup keharumannya aku seperti melayang dan mengapung….
    (Wuiih lumayan tuh, cerpenya Mas Agus Noor yang satu ini).


  1. 1 SETANGKAI SUNYI | Sura-Art-Baya Lacak balik pada November 19, 2015 pukul 8:42 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
November 2008
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: