– DANGDUT, JAZZ, SEPAKBOLA

Fenomena budaya menjadi bermakna bila ia memiliki setidaknya dua hal: aspek simbolik dan pragmatik. Karena itu, pencapaian kognitif atau pertumbuhan pemikiran sebuah masyarakat, bisa ditelisik dari karya-karya simbolik yang dihasilkannya. Seni, arsitektur dan juga filsafat, bisa mewakili aspek simbolik itu. Dari sinilah, masyarakat mencoba mentransformasikan aspek simbolik itu menjadi sesuatu yang kadang bersipat praksis, sehari-hari, dan punya relevansi bagi kebutuhan hidup mereka. Kebutuhan hidup material maupun spiritual. Aspek pragmatik peristiwa budaya, karenanya, memiliki relevansi dengan mobilitas sosial. Menjadi sesuatu yang urgen bagi kita sekarang bertanya: apakah yang kita dapat dari gegap gempita sepakbola ini?

Tak terbantah, di Republik ini, sepakbila memang populer, seperti dangdut. Kita tahu, dangdut bahkan pernah ingin diangkat sebagai musik yang mewakili identitas keindonesiaan. Di tahun 80an awal, persepakbolaan kita juga pernah dipenuhi wacana untuk menemukan permainan sepakbola yang khas Indonesia. Kita, saat itu, ingin mengadopsi gaya permainan Brasil, (bahkan sempat “menyekolahkan” Timnas kita ke negeri samba itu), dengan semacam pengharapan: kalau Brasil identik dengan samba, kenapa Timnas kita tidak bisa mengambil semangat dangdut? Cara menggocek bola pemain Brasil, bagaikan menarikan samba. Lalu kenapa para pemain kita tidak bisa memainkan bola selentur ketika menari dangdut? Begitu, kira-kira, mimpi kita, saat itu.

Tetapi, di situlah soalnya. Dangdut tak pernah dioptimalkan sebagai kekuatan simbolik yang inspiratif bagi perubahan sosial. Popularitas dangdut tidak membuatnya menjadi orientasi budaya masyarakat pendemennya. Dangdut masih saja kesulitan menjadikan dirinya sebagai sebuah peluang dan cara bagi masyarakat untuk mentransformasikan mentalitasnya. William H Frrederick mencatat akar dangdut ada sejak zaman kolonial, saat perpaduan beragam alat musik dimainkan bersama-sama dalam tanjidor dan dipertunjukan oleh para budak peliharaan tuan tanah kulit penguasa perkebunan di sekitar Batavia. Dari ujung abad ke-19 itu, hingga tahun 1940 ketika irama Melayu menjadi bagian penting dari musikalitas dangdut, sejarah dangdut adalah sejarah rakyat kebanyakan. Popularitas itulah yang membuat “intelektual kota” Billi Silabumi, menyatakan dengan nada genit istilah “dangdut” melalui artikelnya di majalah Aktuil, dimaksudkan sebagai olok-olokan dari bunyi kendang yang kampungan.

Bandingkan dengan jazz, yang juga bermula dari akar ketertindasan, tetapi bisa menjadi medium untuk menemukan pembebasan. Kau harus berjiwa bebas untuk memainkan jazz, begitu kira-kira Louis Armstrong pernah menegaskan. Atau dalam perkataan saxophonis Archie Shepp, “Harus punya spirit untuk memenangi kehidupan dan bukan menjadi pecundang yang degradatif”. Artinya, jazz adalah jalan bagi manusia untuk meningkatkan kualitas kemanusiaannya. Pada jazz, aspek simbolik dan pragmatik itu menjadi sebuah arus gerakan kebudayaan.

Popularitas sepakbola dan dangdut, mestinya bisa menginspirasikan proses transformasi mental dan sosial. Kita bisa belajar dari Turki untuk itu. Pencapaiannya di Piala Eropa 2008 ini, tidak Cuma menorehkan catatan sejarah, tetapi juga menjadi moment kebangkitan. Sebagai minoritas dan the other di Eropa, pertmainan Turki bukan sekadar persoalan tekhnis. Mereka bermain seperti tengah menyampaikan manifesto penting: bahwa kami, Turki, adalah bagian penting dari Eropa. Itu dirasakan suporter Ahmed Hassan, yang menegaskan bahwa sepakbola adalah bagian dari diplomasi kebudayaan untuk bisa memasuki pergaulan Eropa. Sepakbola telah menjadi inspirasi untuk mewujudkan aspek pragmatik dalam kebanggaan diri rakyat Turki. Seperti dulu Orhan Pamuk membuat dunia berpaling ke Turki, saat sastsrawan itu menerima hadial Nobel Kesusastraan, 2006.

Pada novel Pamuk, My Name is Red, yang sudah terjemahkan, pergulatan untuk menerima identitas Eropa berarti sebuah upaya untuk menyerap kebudayaan Eropa, melalui gagasan tentang lukisan, meski itu tidak dibayah murah, penuh darah dan kematian. Keberhasilan pasukan Fatih Terim terasa sebagai sebuah pernyataan perihal era keemasan Turki semasa Dinasti Otoman.

Sepakbola, sebagaimana juga sastra, adalah kekuatas simbolis yang mampu menginspirasikan tindakan-tindakan sosial. Kata kuncinya adalah: sepakbola mesti bisa memenuhi aspek simbolik dan pragmatik masyarakat kita. Sepakbola bisa didayakan sebagai medium transformasi budaya. Bila tidak, maka sepakbola memang hanya menjadi konsumsi hiburan yang massif tetapi tidak mencerahkan. Bila itu berlangsung terus di negeri ini, maka sepakbola akan bernasib sama dengan dangdut, merakyat tetapi tidak membentuk kultur rakyat yang membebaskan.

Keinginan itu, mungkin berlebihan, tetapi bukannya tidak mungkin. Popularitas sepakbola adalah modal yang dimilikinya untuk menjadi kekuatan mobilitas sosial, vertikal maupun horizontal. Bila sekarang ini kita tengah bermimpi perihal Kebangkitan Nasional yang kedua, maka sepakbola bisa dijadikan satu peluang untuk mengolah semangat kebangkitan itu. Kita tidak mungkin berharap munculnya kebangkitan dari lapangan politik. Karena politikus kita tidak pernah bisa menyelesaikan masalah bangsa ini, tetapi jutru terus-terusan menambahi masalah bangsa. Kita tidak bisa berharap kebangkitan moral dari lapangan hukum, karena para aparat hukum cuman sibuk jual beli pasal-pasal hukuman. Dari lapangan sepakbolalah isnpirasi kebangkitan itu, semestinya bisa datang. Itu bila kita mulai melihat bahwa membangun sepakbola bukan semata-mata mengurusi aspek tekhnik semata. Aspek simbolik dan pragmatik dari sepakbola, adalah dasar untuk membangun budaya bola. Tradisi sepakbola, dibangun sejajar dengan budaya bangsa itu, sebagaimana diyakini Franklin Foer, bahwa sepakbola selalu punya akar persoalan sosial dari sebuah bangsa di mana sepakbola itu berkembang.

Maka, sebelum semua gegap gempita ini lerai, setelah encok kambuh karena terus begadang, apa yang membuat sepakbola kemudian makin meningkatkan maqam kehidupan kita? Sepakbola mestinya menjadi inspirasi simbolik, dengan ditandai karya-karya sastra (puisi, cerpen atau nanti novel) juga lukisan atau musik, yang menggubah riuh rendah sepakbola sebagai sumber imajinasi perubahan bangsa. Agak aneh sebenarnya, bila sampai saat ini, tak banyak karya simbolik negeri ini yang mengolah sepakbola. Dalam sastra, saya cuman menemukan satu cerpen Seno Gumira Ajidarma, Matinya Seorang Pemain Sepakbola. Dalam dangdut, hanya ada satu lagu Bola Ona Sutra. Adakah itu, pertanda, sepakbola kita memang belum inspiratif hingga menggugah proses kreatif. Padahal karya-karya kreatif, sebagai bentuk simbolik dari gambaran sebuah masyarakat atau bangsa, bisa gunakan sebagai parameter budaya bangsa itu, sebagaimana pada Orhan Pamuk dan persekpakbolaan Turki.

Bila tidak, barangkali kita tak akan pernah mencapai Kebangkitan Nasional yang kedua. Tetapi justru mengalami Kebangkrutan Nasional untuk kesekian kalinya…

4 Responses to “– DANGDUT, JAZZ, SEPAKBOLA”


  1. 2 agusnoorfiles September 5, 2008 pukul 1:40 pm

    Ups, salam kenal jg…

  2. 3 asmanto September 16, 2008 pukul 6:08 pm

    salam kenal. biasanya saya suka membaca cerpen di harian kompas, dan beberapa kali menikmati karya anda. juga tulisan-tulisan orang lain yang ada hubungannya dengan anda.
    jadi ingat sindhunata yang suka menulis tentang sepakbola di harian kompas. ingat juga bukunya cak nun ‘bola-bola kultural’, yang mengambil sudut pandang lebih luas dan agak ‘aneh’. hehehe…

  3. 4 agusnoorfiles September 16, 2008 pukul 6:46 pm

    Dua penulis yang kamu sebut, memang kegemaran saya juga. Salam kenal juga.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Agu »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: