– CERPEN KOMPAS PILIHAN: CINTA DI ATAS PERAHU CADIK

Ayo kirim komentar, dan aku akan kasih 2 buku sebagai hadiah buat kalian?

Penganugerahan Cerpen Kompas Pilihan tahun 2008 ini telah berlangsung, dan sebagaimana aku kira, cerpen Cinta di Atas Perahu Cadik milik Seno Gumira Ajidarma, terpilih sebagai yang terbaik. Selamat. Aku, akhirnya bisa datang ke acara itu, sambil diam-diam merayakan ulangtahunku, dan lalu malamnya… (hhmmm, rame dech).

Dua juri, yang tahun ini adalah Sapardi Djoko Damono dan Ayu Utami, memilih 15 cerpen. Lampu Ibu (Adek Alwi), Kisah Pilot Bejo (Budi Darma), Koh Su (Puthut EA), Serdadu Tua dan Jipnya (Wilson Nadeak), Gerhana Mata (Djenar Maesa Ayu), Sinai (F. Dewi Ria Utari), Belenggu Salju (Triyanto Triwikromo), Bigau (Damhuri Muhammad), Lak-uk Kam (Gus tf Sakai), Candik Ala (GM Sudarta), Tukang Jahit (Agus Noor), Sepatu Tuhan (Ugoran Prasad), Hari Terakhir Mei Lan (Soeprijadi Tomodihardjo), Gerimis yang Sederhana (Eka Kurniawan), dan tentu cerpennya Seno itu.

Apayang menarik dari buku itu?

Inilah, sesungguhnya yang ingin aku tahu. Makanya, entah kenapa, aku tiba-tiba punya ide: gimana kalo aku mancing komentar atau pendapat atau apa pun dari temen-temen? Secara aku sekarang punya blog, gitu lho, jadi ya aku jadi pingin tahu apa ya kira-kira komentar “orang lain” tentang buku itu? Tentang tradisi penganugerahan cerpen pilihan itu? Tentang cerpen-cerpen itu? Hhhm. Gimana ya?

Nah, aku pikir ini menarik: gimana kalu kalian kasih komentar? Komentar apa saja, menyangkut buku ini (ups, padahal kalian mungkin belum baca,ya?). Ya, pasti kalian tahu soal tradisi tahunan Kompas ini, kan! Kira-kira apa pendapat kamu, tanggapan ente, opini sampeyan, lalu kirimkan deh kemari. Mumpung ini juga dalam rangka ulangtahunku, dan suasana hati aku lagi baik, makanya aku akan memberi dua buku untuk kalian. Jadi, nanti aku akan pilih 2 komentar yang menurut aku “baik”, dan aku akan kirimkan buku Cinta di Atas Perahu Cadik buat 2 pemenang itu, masing-masing dapet satu buku (kan aku dapat jatah gratisan beberapa buku itu, jadi ga ada salahnya kalo aku menyisihkan 2 buku untuk hadiah komentar “terbaik” itu, hehehe…).

Inget, ya: ini hanya iseng-iseng berhadiah. Jangan terlalu dianggap macam-macamlah. Yang penting, kalian kirim komentar di sini, dan aku kasih dua buku. Buku itu ntar aku kirim via pos, ke alamat kalian yang menang. Aku akan hubungi pemenangnya, nanti, lewat japri. Oh, ya, batas pengiriman komentar sampai akhir bulan Juli 2008 ini. Ntar aku umumkan pemenangnya, di box komentar ini juga. Setuju? Cuusss…

33 Responses to “– CERPEN KOMPAS PILIHAN: CINTA DI ATAS PERAHU CADIK”


  1. 1 Fatah Juni 28, 2008 pukul 3:52 am

    Menurut saya, acara Anugerah Cerpen Pilihan Kompas, merupakan wadah apresiasi sastra koran Indonesia yang layak diacungi jempol. kenapa? karena masyarakat bisa mengetahui begini loh contoh karya sastra genre cerpen yang berkualitas. Selain itu, tujuannya tentu saja untuk mengenalkan secara lebih dekat tentang cerpen2 Indonesia ke masyarakat. Jadi, tak hanya sebagai bentuk perwujudan prestasi karya bagi penulis-penulis cerpen Indonesia. Namun, unsur mendidik, mengenalkan, serta meluaskan cakrawala berpikir masyarakat kita terhadap budaya, sastra, politik, ekonomi, dan sebagainya yang menjadi tema dari masing-masing cerpen, nyatanya itulah tujuan yang harus digapai bersama. Meskipun tentunya harus dipertimbangkan pula nama besar Kompas dalam memilih karya-karya tersebut. Sebab, masyarakat yang multikultural dengan rasa estetika, pemahaman, dan pandangan yang berbeda terhadap cerpen-cerpen di media massa, khususnya koran, tentunya perlu diperhatikan. Kenapa? Sebab, agar tidak adanya komentar miring bahwa Kompas itu begini, cerpen2 yang dimuat di sana hanya untuk penulis yang mengangkat tema-tema yang cocok dengan pandangan Kompas, dan sebagainya.

    Tanpa mengurangi hormat saya pada sastrawan yang menjadi dewan juri, alangkah baiknya, kalau bisa, masyarakat pun ikut dilibatkan dalam pemilihan cerpen-cerpen ini. Sebab, setelah dikompilasi dalam bentuk buku pun, kan bukan hanya kalangan sastrawan atau yang melek sastra saja yang membacanya. Masayarakat awam pun membacanya – kalau ada. Jadi, apa yang saya katakan di paragraf pertama, bisa tercapai.

    Akhir kata, selamat buat para pemenang yang karyanya sudah terpilih, khususnya buat Seno Gumira AjiDarma, yang karya-karyanya yang lain juga sangat saya suka…

    Terima kasih

  2. 2 agusnoorfiles Juni 28, 2008 pukul 4:18 am

    Ayo, siapa lagi mo komen?

  3. 3 [D2R3D2] Juni 28, 2008 pukul 8:28 am

    wah ini namanya tepa slira, saling menghargai
    so it’s georgeous..!!

    dan mengenai buku, cerpen yang disituh bla bla…
    maka kak jeg..MAAF NDAK BISA BERKOMENTAR
    secara saia sendiri belum baca buku
    dan saia penasaran dengan isi buku itu..!!

    sekian komen saia yang singkat ini
    dan final EURO 2008 nanti saia pegang JERMAN..

    MERDEKA…!!!

  4. 4 ratihkumala Juni 28, 2008 pukul 3:30 pm

    Nah, kalo menurut saya Cerpen Kompas Pilihan adalah ajang yang tepat untuk dirayakan dengan karaoke, siapapun pemenangnya! hihihihi….

  5. 5 aanmansyur Juni 29, 2008 pukul 1:21 pm

    15 cerpen pilihan Sapardi dan Ayu itu menurutku biasa-biasa saja. Dan pula hajatan tahunan Kompas ini, menurutku, tak lagi dinanti-nanti oleh siapa-siapa kecuali oleh para cerpenis yang karyanya mejeng di Kompas tahun sebelumnya. Meski begitu, kalau saya dapat buku gratis sih mau saja, hitung-hitung bisa nambah koleksi perpustakaan komunitasku–kan kalau buku gratis itu jatuh ke tanganku dijamin lebih banyak yang akan menikmatinya! hehehe..

  6. 6 Sungai Juni 30, 2008 pukul 10:08 am

    komentarku gini aja bung. ga menarik. karena nama yang muncul itu-itu juga. tapi tetap penting, selain sebagai bentuk apresiasi pada para penulis, juga sebagai tradisi untuk selalu dinanti. tapi tetap ga menarik, sebab penulisnya itu-itu juga. hehe. nah, mana buku untukku, sebab kutahu komen ini bukan komen terbaik, seperti penulis yang cerpennya ada di buku ini, pasti ada yang berpendapat bahwa cerpen bung Seno bukanlah yang terbaik. hehe.

  7. 7 yon's revolta Juli 1, 2008 pukul 4:31 am

    seperti apakah karya pilihan itu?
    Apakah benar-benar bisa menginspirasi pembaca?.
    Ataukah hanya “sastrawan” saja yang bisa menikmatinya.
    Entahlah.

  8. 8 empress Juli 2, 2008 pukul 6:04 am

    kalo cerpen yg masuk ke kompilasi cerpen kompas pilihan itu murni selera 2 juri itu..tentunya tetap ada nilai nilai standar yg harus di penuhi sesuai standar mereka. jadi ok aja klo mereka milih cerpen cerpen itu.

    tentang pemenangnya cinta di atas perahu cadik..saya juga kaget kenapa mesti cerpen itu ya. kalo buku sebelumnya yg menang kan RIPIN..itu cerpen emang gila banget..pas aku baca bener bener keseret ke dalam ceritanya. apalagi cerpen itu ada kritik sosial yg di bawa

    kemarin aku coba baca lagi cinta di atas perahu cadik..pas pertama baca sih emang ga gitu berkesan buat aku..cuma cerita perselingkuhan biasa..dan kemaren aku coba baca lagi..mungkin cara pengungkapan atau struktur bercerita yg bikin dia menang..bukan isi atau kandungan perubahan yg di bawa.

  9. 9 tukang tidur Juli 4, 2008 pukul 3:34 am

    Bagus… Bagus… Bagus…
    Kalo kata temen-temen saya, cerpen yang dimuat di kompas itu adalah cerpen-cerpen yang bagus-bagus.
    Tapi menurut saya sih biasa aja. Ada yang bagus, ada yang jelek. Ada yang saya suka, ada yang ogah saya baca.
    Dan perkara tentang buku kumpulan cerpen Kompas yang tiap tahun memang sering disayembarakan ini, Saya juga tetap biasa aja. Ada yang saya suka, ada yang ogah saya baca. Hehehe….
    Tapi saya sudah baca cerpen mas Seno itu, dan saya suka. (Maklum, penggemar seno. Hehehe)

    yang penting mah tetep nulis aja kali ya mas. Menang syukur, ga menang ya udah. Menang dan kalah hanyalah sebatas angka, dan hidup ini akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. (Apa sih?)

    P.S. Salut untuk mas Agus Noor! Saya suka cerpen2 mas Agus.

    salam

  10. 10 clara Juli 4, 2008 pukul 8:42 am

    Mestinya ga usah ada Cerpen Terbaik. Maksudnya ga usah ada Terbaik diantara yang Baik-Baik. Cukup 15 Cerpen Terbaik saja. Karena untuk memilih yang TERbaik di antara yang Baik- Baik, itu bisa subjektif sekali. Selera pribadi juri sedikit banyak pasti ikut berperan. It’s like comparing apple with orange. Membandingkan apel dangan jeruk. Mana yang lebih baik?

  11. 11 Raindrop Juli 6, 2008 pukul 11:14 am

    Mungkin seru kali ya, kalo tim jurinya melibatkan orang-orang dari profesi selain sastrawan. Kan pembaca cerpen Kompas bisa dari kalangan apa saja. Dan tentu saja orang tersebut berminat dan mengikuti perkembangan satra Indonesia. Sekali sekali, orang-orang yang berlainan profesi, harus saling ‘menyapa’. Kali aja bisa dapat ide2 baru, daripada masing2 berkutat terus2an di ‘dunia’nya sendiri2. Kan seru, bila seorang ahli bedah ikut memutuskan, mana cerpen Kompas terbaik. Asal jangan jadi latah, seorang sastrawan jadi ikut-ikutan memutuskan mana yang harus dipotong di ruang operasi. Hehehe

  12. 12 Dedy Juli 10, 2008 pukul 1:41 am

    Setuju kok dengan istilah cerpen terbaik, kan jelas di situ ditulis (versi) kompas. Ini sekaligus merangsang komunitas atau bahkan individu untuk bisa melakukan hal yang serupa.

    Contohnya (misalnya) Mas Agus Noor bikin Kumpulan Cerpen Koran Terbaik 2000-2007 (tentu saja versi / pilihan Mas Agus Noor) itu juga akan merangsang gairah bersastra bagi semua.

    Di sisi lain, setiap orang berhak menilai cerpen siapa yang terbaik tahun kemarin. Tentunya haruslah punya kriteria penjurian yang baik juga.

    Mengenai cerpen-cerpen yang terpilih dalam buku itu, yang sempat saya baca baru beberapa (Bigau-nya DM, Cadik-nya SGA, dan Gerimis-nya EK) dan menurut saya bagus. Hanya ada hal-hal kecil yang mungkin sudah diangkat oleh orang lain seperti “Kenapa Kurai takut sama Bigau?” di Bigaunya DM, “Kenapa kepulangan Sukab dan Hayati datar-datar saja?” di Cadiknya SGA, atau “Kenapa nama perempuan Cina yang dikaitkan dengan peristiwa Mei selalu bernama Mei, padahal nama perempuan Cina di Indonesia sudah sangat bervariasi?” di Gerimis-nya EK.

    Salam

  13. 13 Haris Juli 10, 2008 pukul 12:01 pm

    Kenapa “Cinta di atas Perahu Cadik” bisa beruntung tahun ini? Ceritanya sungguh sederhana. Ide cerita yang biasa saja. Kisah perselingkuhan (yang bisa terjadi kapan saja, di mana saja, menimpa siapa saja). Berlatar perkampungan nelayan (yang juga biasa2 saja, ga ada yang istimewa). Plot cerita yang berjalan kurus, dengan ending yang entah klimaks entah anti-klimaks.

    Menurut saya, justru karena ‘terlalu sederhana’ itulah kekuatannya. Kesederhanaan itu telah memberikan ruang yang lebih untuk SGA untuk mengisinya dengan permainan bahasanya yang indah, apa adanya namun memikat.

    Selain itu?
    Mungkin karena Sukab. Sukab telah menjadi hidup dalam dunia fiksi SGA. Atau Sukab adalah cerminan fiksi dunia nyata SGA. Pemberontak, tidak terikat aturan, petarung tangguh, pecinta ulung. Sukab telah dicintai dan dibenci pembaca SGA.

    Ada beberapa Cerpen Terpilih tersebut sudah saya baca. Secara ide cerita, saya lebih suka ‘Tukang Jahit’nya Agus Noor. Ide cerita yang tak biasa dengan alur cerita yang membuat kita penasaran dan menduga2 terus sampai akhir.

    Tapi sayangnya, juri “Cerpen Pilihan Kompas” tahun ini bukan saya.

  14. 14 Haris Juli 13, 2008 pukul 3:04 pm

    Plot yang berjalan lurus maksud saya. Thanks

  15. 15 Marsli N.O Juli 13, 2008 pukul 10:02 pm

    Salam Sdr Agus Noor. Mohon maaf kerana menggunakan ruang ini untuk menitipkan salam sahabat dari Malaysia. Tahniah atas segala kejayaan Sdr. Baru ketemu blog milik Sdr ini.

  16. 16 agusnoorfiles Juli 14, 2008 pukul 5:15 pm

    Hallo kawan Marsli.. Apa kabar? Wah, senang sekali bisa kembali berkorespondensi dengan Anda. Saya harap Anda pun semakin jaya sebagai penulis Malaysia. Apakah perkembangan sastra di Malaysia makin menggembirakan?

  17. 17 Marsli N.O Juli 15, 2008 pukul 2:54 pm

    Terima kasih atas jawaban. Sastera Malaysia seperti apa adanya. Gembira ya boleh dan untuk bermuram juga boleh. Pokoknya ada karya diterbitkan terus menerus. Dan sejumlah penerbit baru muncul. Tahniah untuk blog Sdr yang cantik ini.

  18. 18 erwin dwi hartanto Juli 19, 2008 pukul 8:25 am

    Salam untuk semua.,

    Selamat tentunya untuk Agus Noor, “Tukang Jahit” termasuk salah satu pilihan dewan juri. Saya pernah membacanya, kompas minggu, dan di blog yang menampilkan karya Agus Noor (entahlah saya lupa blog siapa). Dan tentunya Cerpen yang lainnya dalam antologi Cerpen Kompas Pilihan 2008 via website. Semoga Ayu Utami dan Bapak Sapardi menilai dengan obyektif sebuah karya bukan siapa pengarangnya. Apakah senior atau junior.

    Tapi pilihan Cinta Di Atas Perahu Cadik sesuai dengan pilihan saya. (maaf ya mas Agus). Bukan karena senioritas, melainkan penilaian saya pribadi. Sebuah cerpen, apalagi dimuat di koran, yang dibaca oleh banyak khalayak. Entah berapapun usianya, pendidikannya, latar belakangnya- apakah pembaca peminat sastra atau bukan- yang jelas membaca cerpen di koran minggu adalah wadah rekreasi visual melalui bacaan yang memungkinkan pembaca ikut berimajinasi. Mengingat pembaca yang banyak itu pula maka cerpen tidaklah harus memaksa untuk terlalu jauh mengacaukan rekreasi. Jangan sampai tersesat, tidak pulang-pulang, atau hambar begitu saja menjadi rekreasi yang tidak menyenangkan setelah pulang.

    Tapi Cinta Di Atas Perahu Cadik merupakan rekreasi yang menyenangkan. Untuk “Tukang Jahit” rekreasinya mungkin bagi pembaca yang lebih meminati satra (mungkin lebih surealis dan bermetafora) tapi sangat menarik.

    Itu saja. Sedangkan cerpen yang lain saya belum bisa terlalu jauh untuk menilainya (memangnya siapa saya?….. he.he)

    Dan salut buat Kompas. Pertahankan tradisinya. Pembaca tentunya senang berekreasi imajinasi melalui cerpen tiap minggunya. Siapa tahu sepulang rekreasi membawa cara pandang yang lebih baik akan tema yang di usungnya dalam cerpen itu.

    Salam.

    Erwin Dwi Hartanto
    Peminat dan pembaca cerpen.

  19. 19 aku Juli 23, 2008 pukul 4:50 am

    Hmmm, ilustrasi cerpen Bigau-nya Damhuri Mohammad bagus lho ya hehehe…

  20. 20 triyanto Triwikromo Juli 24, 2008 pukul 6:13 am

    pada akhirya memang tak ada cerpen yang benar-benar sempurna dan menjadi
    pada akhirnya cerpen terbaik selalu hanya ada di dalam angan-angan pencerita
    pada akhirnya tugas pencerita ya bercerita saja…

  21. 21 Pram Juli 28, 2008 pukul 2:46 am

    Dalam upaya melestarikan sebuah bahasa, menulis merupakan suatu keahlian yang paling terakhir (karena paling susah) yang dikuasai manusia. Keahlian yang pertama, tentulah berbicara. Setelah mampu berbicara, manusia akan berusaha membaca. Setelah dua keahlian ini dikuasai, barulah manusia belajar menulis.

    Sekilas, tradisi tahunan yang diadakan Kompas ini sepertinya ‘hanya’ meluncurkan buku yang berisi kumpulan bacaan sastra bermutu. Para cerpenis yang cerpennya pernah dimuat di Kompas Minggu, tentu saja H2C (harap harap cemas) kalo kalo cerpennya bakal terpilih, dan ber TTM (tebak tebak manggis)cerpen siapa yang terbaik. Suatu bentuk penghargaan? Pasti dong. Gengsi? Tentu saja..

    Namun yang paling penting menurut saya, bila terpilih (terlepas dari prokon apa-siapa-mengapa), maka usia sebuah cerpen (tulisan) itu sudah di’perpanjang’ hingga puluhan tahun ke depan (dalam bentuk buku) dibandingkan dengan dimuat di koran yang hanya mampu bertahan 1 hari. Dengan umur yang lebih panjang, cerpen2 (tulisan) itu akan dibaca lebih banyak orang dan dibicarakan lebih lama, dan semoga saja bisa merangsang minat unuk menulis, sehingga siklus sirkular bicara-baca-tulis ini tidak tersendat apalagi sampai terputus. Sampai di sini, tentu tidak berlebih bila saya berpendapat, tradisi Kompas ini juga merupakan usaha untuk memperpanjang usia bahasa Indonesia, sebab bahasa dan tulisan merupakan jejak yang paling penting dalam peradaban sebuah bangsa. BRAVO!!! SALUT!!!

  22. 22 dan! Juli 29, 2008 pukul 11:21 am

    sebagai “orang lain” yang hanya bisa menikmati cerpen, kriteria cerpen yang bagus adalah: dada yang anget setelah selesai membacanya. dan keangetan itu bisa muncul lagi setiap mengalami atau melihat hal-hal yang mengingatkannya pada makna cerpen itu.

    lha kalo ada orang-orang “agen perjualan cerpen” yang milihin menu-menu anget dan teranget lalu disajikan dalam satu perjamuan, kan kepenak banget buat “orang lain” yang penikmat itu to?

    makanya bagi-bagi tugas lah.. ada yang masak, ada yang milihin, ada yang ider, dan ada yang makan. angeet..

  23. 23 agusnoorfiles Juli 31, 2008 pukul 2:48 pm

    MAKLUMAT PENGUMUMAN PEMENANG YANG DAPAT BUKU:
    Terimakasih untuk semua komentarnya. Sangat menyenangkan bisa membaca beragam komentar. Secara pribadi, sudah tentu saya memperolah banyak manffat dari komentar-komentar itu. Semoga, yang lain, yang ikut membaca, juga bisa merasakan serupa.
    Seperti yang saya janjikan, saya akan mengumumkan siapa pengirim komentar yang dapat buku. Perlu saya tegaskan, ini memang hanya “iseng-iseng berhadiah”, jadi mohon tidak terlalu dipersoalkan metode pemilihan saya. Saya jelaskan saja: saya mencatat nama-nama pengirim komentar itu, lalu saya bikin semacam daftar. nah, kemudian saya ambil pena. pena itu kemudian saya jatuhkan ke daftar itu. Nah, nama yang kejatuhan itu yang saya anggap memperoleh buku yg saya janjikan. Simpel dan ngawur, kan, hehehe.
    Adapun nama yang dapat tersebut adalah: aanmansyur dan haris.
    Selamat. Saya nanti akan menghubungi kedua kawan itu, lewat email, secara pribadi, untuk menanyakan alamat pos (buat pengiriman buku).
    Sekali lagi, terimakasih untuk semuanya. Dengan diumumkannya pemenang ini, maka berakhir sudah “iseng-iseng berhadian buku ini”. Segala keputusan ini tidak boleh diperkarakan, apalag sampai dibawa ke KPK (Komite Pengawas Kesusastraan), hikhihk…
    Salam buat semuanya.
    TTD,
    Agus Noor

  24. 24 aku Agustus 1, 2008 pukul 3:26 am

    Ah, kenapa mesti hadiah buku? Edukatif? Kenapa tidak wisata ke salon utuk merapikan rambut, wajah, dan imajinasi — seperti yg acap kau lakukan? (Re)kreatif kan, bung? hehehehe…

  25. 25 mata Agustus 6, 2008 pukul 2:27 am

    sya belum membeli buku kumpulan cerpen itu. tapi saya sudah membaca hampir semua karya yang termuat disitu…

    kisah pilot bejo punya pak budi darma yang paling special menurut saya. entah apa yang membuat saya suka cerpen tersebut, yang pasti tutur gaya bahasanya yang sangat sederhana banget dan menyentil.

    oh ya sebelumnya kenalan dulu, saya ini salah satu pengagummu lho. buku memorabilia tahun 1999 masih saya simpan di rak dan ngga bosan bosannya saya baca berulang ulang. bagi saya buku itu seperti kitap.

    kapan lagi membuat kumpulan cerpen yang surealis seperti itu mas ? setelah “potongan cerita di kartupos” kok belum ada lagi ?

    saya kangen cerita cerita otok, saya kangen dengan winarti, saya kangen dengan mineleus…

    salam hangat dari solo

    mata

  26. 26 agusnoorfiles Agustus 11, 2008 pukul 4:32 pm

    Mata, entah kenapa, aku jadi seperti diserbu ribuan mata akhir-akhir ini. Setiap pulang malam, saya seperti melihat ribuan mata berkedip dan menatap saya dari kegelapan gang. Ribuan ata itu bahkan seperti menyelusup ke dalam mimpi saya. Mata-mata itu mengembang dan membesar, kadang lumer seperti airmata yang meleleh karena duka…
    barangkali, itu surealisme yang menghantui saya. tapi apakah saya akan menuliskan itu dalam cerpen? entahlah. Sampai saat ini, saya sendiri punya satu cerpen yg masih saya simpan (karena merasa belum menyakinkan), judulnya “Sepasang Mata Penari Telanjang”. Ini mungkin akan saya himpun dalam kumcer saya yg akan datang.
    Tapi, saya pribadi selalu ingin keluar dari bayang-bayang apa yg telah saya tulis. Pataya, Mnees, adalah keasyikan saya, yg memang membuat saya rindu.
    tetapi, sebagai penulis saya selalu punya sikap: setiap cerita yang datang pada imajinasi saya, selalu punya gayanya sendiri. Ia mesti saya terima dengan keunikannya. Secara tekhnis, itu akan memunculkan banyak gaya. Begitulah, saya selalu ingin menjelajah, dengan cara memilih gaya yang saya anggap menarik untuk dieksplorasi. Surealisme, dongeng, juga kisah yang ringan dan ngepop, sama asyiknya ketika kita menerima kehadiran mereka dengan kehangatan.
    Sekarang ini, saya lagi terobsesi membuat cerpen dengan gaya epik. Entah seperti apa nanti jadinya. Juga kisah dengan struktur penceritaan yang terdiri dari “panel-panel adegan”, ini juga menggoda saya untuk mencobanya…
    Semoga, bila cerpen-cerpen itu kelak aku publikasikan, kamu pun akan (tetap) menyukainya..
    Salam juga, untukmu, Mata.

  27. 27 Hilman Agustus 12, 2008 pukul 4:02 am

    Salam kenal mas Agus,

    Saya sebenarnya kesengsem ama Pilot Bejo, Tukang Jahit ama Sepatu Tuhan. Menghibur lagi syahdu….

    Cinta di atas perahu cadik ? kayaknya menang karena klimak satu paragraf akhir..

  28. 28 muyfti September 26, 2008 pukul 4:10 pm

    Sudah baca, menurutku cerita2nya masih lebih menarik cerpen2 di kumpulan tahun lalu. Cerpen tulisan F D Ria, Triyanto Triwikromo, dan Gus Tf, seperti biasa, rumit & mistik. saya paling suka cerita Bigau & Tukang jahit.🙂

  29. 29 F Moses November 28, 2008 pukul 10:59 am

    Salam kenal, Mas Agus.

    (Langsung saja)
    O ya, lagi-lagi Mas Seno yang, ya, sejak dulu aku suka. Ia memang selalu bikin “ulah”. Ulah yang acap bikin saya kelojotan, terheran-heran. “Ngeselin”. Gaya penceritaannya itu, lho: kuat banget. Bingung harus mendeskripsikannya bagaimana. Sejak dulu ia memang selalu begitu. Salam..

  30. 30 hardini Februari 4, 2009 pukul 11:15 am

    …komennya bebas kan, sy pnkmat cerpen.klo menurut saya tidak masalah cerita diambil dari cerita yg sederhana, ga harus cerita yang langka. yang penting nulis dan mampu menghibur. biar ceritanya sederhana asal mampu menghibur pantas jadi yang terbaik. klo soal apa tu? mutu atau pesan sih menurut saya klo sudah nulis… nuliiiissss dan nulis,dengan sendirinya nanti akan tersirat sendiri. seperti diary misalnya saat nulis mana terpikir pesan, tapi setelah jadi tulisan jadi banyak pelajaran begitu di baca. karena semua peristiwa kalo di cermati mengandung hikmah semua. so, … hadiah bukunya mudah2an buat saya y? hehe …

  31. 31 ochasoundre Februari 8, 2009 pukul 6:05 am

    kapan nich cerpennya mas agus yg katanya berjudul “bibir paling indah didunia” mampir di media nasional?emang bener inspired by SGA?sapa penulis cerpen lokal yg mas agus minati karyanya lho bukan humannya??he..he..thanks.

  32. 32 n2g September 20, 2010 pukul 7:26 am

    Tak bisa berkata apapun… hanya… “Tulisannya sungguh luar biasa”

  33. 33 Nawal El Moutawaqil September 14, 2011 pukul 11:53 am

    hay. unsur ekstrinsik cerpem “hari terakhir mei lan” gmn yha?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Agu »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: