Arsip untuk Juni 27th, 2008

– CERPEN KOMPAS PILIHAN: CINTA DI ATAS PERAHU CADIK

Ayo kirim komentar, dan aku akan kasih 2 buku sebagai hadiah buat kalian?

Penganugerahan Cerpen Kompas Pilihan tahun 2008 ini telah berlangsung, dan sebagaimana aku kira, cerpen Cinta di Atas Perahu Cadik milik Seno Gumira Ajidarma, terpilih sebagai yang terbaik. Selamat. Aku, akhirnya bisa datang ke acara itu, sambil diam-diam merayakan ulangtahunku, dan lalu malamnya… (hhmmm, rame dech).

Dua juri, yang tahun ini adalah Sapardi Djoko Damono dan Ayu Utami, memilih 15 cerpen. Lampu Ibu (Adek Alwi), Kisah Pilot Bejo (Budi Darma), Koh Su (Puthut EA), Serdadu Tua dan Jipnya (Wilson Nadeak), Gerhana Mata (Djenar Maesa Ayu), Sinai (F. Dewi Ria Utari), Belenggu Salju (Triyanto Triwikromo), Bigau (Damhuri Muhammad), Lak-uk Kam (Gus tf Sakai), Candik Ala (GM Sudarta), Tukang Jahit (Agus Noor), Sepatu Tuhan (Ugoran Prasad), Hari Terakhir Mei Lan (Soeprijadi Tomodihardjo), Gerimis yang Sederhana (Eka Kurniawan), dan tentu cerpennya Seno itu.

Apayang menarik dari buku itu? Lanjutkan membaca ‘– CERPEN KOMPAS PILIHAN: CINTA DI ATAS PERAHU CADIK’

– DANGDUT, JAZZ, SEPAKBOLA

Fenomena budaya menjadi bermakna bila ia memiliki setidaknya dua hal: aspek simbolik dan pragmatik. Karena itu, pencapaian kognitif atau pertumbuhan pemikiran sebuah masyarakat, bisa ditelisik dari karya-karya simbolik yang dihasilkannya. Seni, arsitektur dan juga filsafat, bisa mewakili aspek simbolik itu. Dari sinilah, masyarakat mencoba mentransformasikan aspek simbolik itu menjadi sesuatu yang kadang bersipat praksis, sehari-hari, dan punya relevansi bagi kebutuhan hidup mereka. Kebutuhan hidup material maupun spiritual. Aspek pragmatik peristiwa budaya, karenanya, memiliki relevansi dengan mobilitas sosial. Menjadi sesuatu yang urgen bagi kita sekarang bertanya: apakah yang kita dapat dari gegap gempita sepakbola ini?

Tak terbantah, di Republik ini, sepakbila memang populer, seperti dangdut. Kita tahu, dangdut bahkan pernah ingin diangkat sebagai musik yang mewakili identitas keindonesiaan. Di tahun 80an awal, persepakbolaan kita juga pernah dipenuhi wacana untuk menemukan permainan sepakbola yang khas Indonesia. Kita, saat itu, ingin mengadopsi gaya permainan Brasil, (bahkan sempat “menyekolahkan” Timnas kita ke negeri samba itu), dengan semacam pengharapan: kalau Brasil identik dengan samba, kenapa Timnas kita tidak bisa mengambil semangat dangdut? Cara menggocek bola pemain Brasil, bagaikan menarikan samba. Lalu kenapa para pemain kita tidak bisa memainkan bola selentur ketika menari dangdut? Begitu, kira-kira, mimpi kita, saat itu. Lanjutkan membaca ‘– DANGDUT, JAZZ, SEPAKBOLA’


Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Juni 2008
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Archives Files

Catagories of Files