– MANCHESTER UNITED VS TUHAN

Surat Agus Noor

Bung, kutulis ini untukmu yang demen sekali nonton bola. Pasti, saat ini , kamu sedang terhipnotis Piala Eropa. Macam saya…

Sebelum pertandingan Manchester United versus Chelsea di final Piala Champions Eropa, seperti biasa, saya nongkrong di kafe, untuk nobar, nonton bareng. Ditengah sengitnya obrolan saling mengunggulkan klub yang dijagoinya, seorang kawan dengan nada sungguh-sungguh berkata, “Bila Manchester United bertanding melawan Kesebelasan Malaikat, saya pasti menjagoi MU. Bahkan, bila MU melawan Tuhan, saya pasti juga menjagoi MU.” Saya termangu, mendengar itu.

Anda pun, barangkali, akan langsung mengatakan bahwa itu adalah perwujudan fanatisme yang akut. Sikap takabur. Karena bagaimana mungkin melawan Tuhan yang Maha Tak Terkalahkan? Tapi itu bukanlah kejumawaan kawan saya. Itu, ternyata, lebih merupakan upayanya menemukan jalan untuk memahami Tuhan. Sepak bola dan Tuhan, saya kira memang menarik untuk dibicarakan, ketika sebagian kita dengan penuh pekikan mentakbirkan namanya sembari menenteng pedang kekerasan.

Teman saya bilang, “Saya tahu, MU mungkin akan kalah dalam pertandingan melawan Tuhan. Tapi saya meyakini perjuangan untuk membuktikan itu. Lagi pula, bagaimana kamu sudah begitu yakin kalau Tuhan pasti menang? Bukankah itu artinya kamu memojokkan Tuhan? Artinya kamu mendahului kehendak Tuhan: memaksakan keyakinanmu kalau Tuhan pasti akan menang! Bagaimana kalau Tuhan ternyata punya kehendak sendiri: Ia dengan kemurahan hati-Nya, mau mengalah dan memberikan kemenangan buat MU?” Bukankah takdir, tak akan pernah kita ketahui, sampai pertandingan itu berakhir? Maka, katanya, pertandingan sepakbola, bisa membuat kita makin memahami Tuhan.

Sir Alex Ferguson, si Setengah Dewa yang ‘sabda-sabda’-nya nyaris tak terbantahkan di mata ‘para pengikutnya’, para pemuja Manchester United, pada akhirnya menumukan pemahaman soal kehendak Tuhan itu, setelah klubnya memenangi pertandingan final Liga Champions Eropa 2008, melawan Chelsea. Tuhan ikut bermain dalam final itu. “Kemenangan ini adalah takdir,” katanya (bayangkalah, bagaimana seoranga rasionalis yang hidup dalam tradisi pemikiran Inggris yang nyaris tak menempatkan wacana takdir (faith) dalam filosofinya, kemudian seperti tercerahkan dengan hasil pertandingan final itu). Pemenang final itu adalah Chelsea. Tapi Tuhan mengubahnya, dengan cara membuat Jhon Terry terpeleset ketika menendang penalti. Ketika itu terjadi, Ferguson tahu, tangan takdir sedang bekerja. Bahwa, Tuhan, ternyata ada. Di lapangan bola.

Moment seperti itu adalah moment keindahan, yang bisa bersifat tansenden. Keindahan yang melebihi keindahan rumitnya matematika, yang membuat Albert Einstein bisa merasakan bahwa persentuhan dengan yang ilahiah adalah “keindahan tiada tara, yang tak pernah dapat dimengerti” tetapi “membuat kita tersentuh dan beriman.” Kita tak pernah bakal mengerti Tuhan, kata Einstein, tetapi justru ketidakmengertian itulah yang membuatnya terus merasa asyik mencari.

Itu juga yang membuat kawan saya bisa tampak yakin ketika menjagoi kesebelasannya. Semacam kegilaan pada suatu keyakinan dan harapan. Dan saya yakin, pada putaran final Piala Eropa kali ini, akan banyak “kegilaan” semacam itu. Kegilaan, yang justru, akan memperkaya penghayatan kita akan kehendak Tuhan.

Ada seorang kawan lain, yang dalam event bola apa pun (pertandingan bola antar kampung, Liga Indonesia yang amburadul, sampai Piala Dunia), selalu menjagoi kesebelasan underdog. Pada Piala Eropa ini, ia berani bertaruh untuk Turki dan Austria. “Menjagoi kesebelasan-kesebelasan mapan, mencerminkan orang itu pada kemapanan,” katanya. Pada yang dipinggirkan, yang disepelekan, ia malah berharap akan memperorel pencerahan dengan adanya “keajabian”. Seperti “kejaiban” kemenangan Kamerun atas Argentina di Piala Dunia, yang kemudian mengubah persepsi publik bola atas peta kekuatan persebakbolaan dunia. Keajabian, tentu saja, tidak datang setiap kali. Tetapi, disitulah nikmatnya kita meyakini sesuatu.

Sebak bola, memang bisa menjadi cara bagi kita untuk meyakini sesuatu. Keyakinan itu, boleh jadi meleset, tetapi kemudian kita belajar menerimanya. Ini proses transformasi psikologis, yang akan mendewasakan. Sampai tingkat apa psikologisme sebuah bangsa, bisa tercermin dari kualitas sepakbolanya. Di sinilah, kita kemudian bisa melihat kedewasaan kita dalam berdemokrasi, yang nyaris belum dewasa menerima kekalahan, dengan kerusuhan-kerusuhan sepakbola kita, yang selalu meledak bila klubnya merasa kalah. Kekalahan selalu dilihat sebagai proses kecurangan fihak lawan, bahwa musuh telah menelikung aturan, menyuap para pengadil, seakan-akan para wasit itu memang tak beda dengan para hakim kita yang demen suapan. Kerushnan-kerusuhan itu, adalah wujud keyakinan kita yang tertutup, yang tak punya peluang untuk melakukan transformasi psikologis. Karena kita, masih sering meyakini sesuatu dengan cara dan sikap yang absolut. Seperti ketika meyakini Tuhan kita.

Masih banyak yang begitu yakin, Tuhan harus dibela dengan cara-cara kekerasan. Tuhan yang diyakini seperti ini, tentu saja tidak menarik. Dan akan ditinggalkan. Eropa merasakan itu. Ketika Tuhan menjadi terlalu dogmatis, ia tak laku lagi. Maka orang-orang lebih suka ke stadion ketimbang gereja. Bahkan, sekarang ini, stadion dianggap merupakan perpaduan paling eklektis dari “mal dan katerdal”. Stadion adalah gairah industri, seperti juga mal yang jadi simbol-simbol gaya hidup. Tetapi, di stadion pula, kita bisa merasakan gairah yang mirip pengalaman religius, dimana tangan takdir – sebagai perwujudan tangan Tuhan – terasa betul “bentuknya”. Kehadiran Tuhan seperti bisa terasakan betul, terasa konkrit, tidak seperti ayat-ayat yang dikhotbahkan penuh kekosongan.

Maka, bila saat ini sudah mulai terhipnotis oleh keriuhan Piala Eropa, akan lebih berarti bila Anda mengisinya dengan sebuah keyakinan pula. Jangan menonton bola dengan “kekosongan”, dengan gaya seorang pengamat yang sok objektif menganalisis kelebihan dan kekurangan sebuah kesebelasan, karna itu akan membuat Anda kehilangan passion. Anda harus “menjagoi” (baca: menyakini) sesuatu. Anda bisa menjagoi satu kesebelasan yang Anda cintai dan menjadi pilihan hati nurani. Tetapi bisa juga ada meyakini nilai atau etika tertentu. Bukan untuk menjadi fanatik. Tetapi untuk merasakan bagaimana bola bundar nasib itu menggelinding di lapangan. Dengan begitu, siapa tahu, ketika jiwa Anda merasakan kekosongan yang sangat karena bosan dengan retorika seputar Tuhan, Anda akan bisa kembali merasakan kehadiran-Nya.

Tuhan menyukai keindahan. Dan dalam keindahan sepak bola kita bisa merasakan kehadiran Tuhan. Yang jelas, Tuhan tak akan kita temukan dilapangan Monas yang beringas.

10 Responses to “– MANCHESTER UNITED VS TUHAN”


  1. 1 [D2R3D2] Juni 6, 2008 pukul 6:04 pm

    PERTAMAXXXXX

    hati hati masih banyak yang berkedok menegakkan aturan Tuhan
    tapi berlaku seperti hewan…

    bravo ITALIA….!!!

  2. 2 zen Juni 8, 2008 pukul 6:11 pm

    oh, dari sini toh asalnya esai yg ku baca kemarin. selamat, bro!

  3. 3 Dino Juni 9, 2008 pukul 12:49 am

    Hahahaha…
    Aku juga pendukung MU tapi gak pernah aku denger orang bilang MU vs Tuhan.. haha..

  4. 4 nates harem Juni 9, 2008 pukul 1:55 am

    Glory Glory Man Utd!!!
    heeee..heeee… sesama penggila MU mas… mungkin bisa mampir dan memberi warna di komunitas kita… http://www.unitedindonesia.com syukur-syukur kalo’ mo nonton bareng kita-kita sesama Mancunia😀

  5. 5 rondwisan Juni 9, 2008 pukul 2:33 am

    wah bener juga Oom
    gw nonton bola passion-nya ada ama Manchester United
    jadi pas nonton match lain yaa apa boleh buat …., tinggal jadi penikmat belaka …, yahh paling juga menjagokan sesaat aja deh …
    biar ada sedikit passion

    tulisan nyang ok

  6. 6 agusnoorfiles Juni 9, 2008 pukul 6:00 am

    Zen, Pejalan Jauh, menikmati permainan MU, seperti menikmati puisi-puisimu yang penuh passion. Mungkin kawan-kawan lain jg mesti mulai melakukan eksplorasi seperti itu: betapa menikmati bola, juga punya kaitan dengan menikmati teks-teks kebudayaan lainnya. Bila bola bundar adalah simbolisasi dari dunia dan kehidupan, maka sesungguhnya selalu ada hubungan antar elemen hidup ini dalam permainan bola.
    Ok, untuk semua pendemen MU, salam buat kalian semua. Dan, Nates Harem, saya sering kok melongok ke laman MU itu, cuman belum menongolkan diri. Pasti, suatu hari, aku pingin menjadi bagian dari kebahagiaan kalian.

  7. 7 [D2R3D2] Juni 9, 2008 pukul 6:13 am

    bagaimana kalau kita tebak skor aja gimanah…??😀
    siapa yang menjagokan MU..
    dan siapa yang berani menantang Tuhan!!

    monggoh kang jeg untuk mengulas lebih detail…
    MERDEKA!!!

  8. 8 rondwisan Juni 9, 2008 pukul 11:11 am

    wah temennya Bro Zen nih yaa …
    mahfum deh …, sesama penulis kelas berat …, hehe

    bang minta ijin tulisannya ane post di forum kita yaa …

  9. 9 agusnoorfiles Juni 9, 2008 pukul 11:35 am

    Silakan, silakan…


  1. 1 Tuhan sudah mati Lacak balik pada Juni 15, 2008 pukul 7:55 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Agu »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: