Arsip untuk Juni, 2008

– CERPEN KOMPAS PILIHAN: CINTA DI ATAS PERAHU CADIK

Ayo kirim komentar, dan aku akan kasih 2 buku sebagai hadiah buat kalian?

Penganugerahan Cerpen Kompas Pilihan tahun 2008 ini telah berlangsung, dan sebagaimana aku kira, cerpen Cinta di Atas Perahu Cadik milik Seno Gumira Ajidarma, terpilih sebagai yang terbaik. Selamat. Aku, akhirnya bisa datang ke acara itu, sambil diam-diam merayakan ulangtahunku, dan lalu malamnya… (hhmmm, rame dech).

Dua juri, yang tahun ini adalah Sapardi Djoko Damono dan Ayu Utami, memilih 15 cerpen. Lampu Ibu (Adek Alwi), Kisah Pilot Bejo (Budi Darma), Koh Su (Puthut EA), Serdadu Tua dan Jipnya (Wilson Nadeak), Gerhana Mata (Djenar Maesa Ayu), Sinai (F. Dewi Ria Utari), Belenggu Salju (Triyanto Triwikromo), Bigau (Damhuri Muhammad), Lak-uk Kam (Gus tf Sakai), Candik Ala (GM Sudarta), Tukang Jahit (Agus Noor), Sepatu Tuhan (Ugoran Prasad), Hari Terakhir Mei Lan (Soeprijadi Tomodihardjo), Gerimis yang Sederhana (Eka Kurniawan), dan tentu cerpennya Seno itu.

Apayang menarik dari buku itu? Lanjutkan membaca ‘– CERPEN KOMPAS PILIHAN: CINTA DI ATAS PERAHU CADIK’

– DANGDUT, JAZZ, SEPAKBOLA

Fenomena budaya menjadi bermakna bila ia memiliki setidaknya dua hal: aspek simbolik dan pragmatik. Karena itu, pencapaian kognitif atau pertumbuhan pemikiran sebuah masyarakat, bisa ditelisik dari karya-karya simbolik yang dihasilkannya. Seni, arsitektur dan juga filsafat, bisa mewakili aspek simbolik itu. Dari sinilah, masyarakat mencoba mentransformasikan aspek simbolik itu menjadi sesuatu yang kadang bersipat praksis, sehari-hari, dan punya relevansi bagi kebutuhan hidup mereka. Kebutuhan hidup material maupun spiritual. Aspek pragmatik peristiwa budaya, karenanya, memiliki relevansi dengan mobilitas sosial. Menjadi sesuatu yang urgen bagi kita sekarang bertanya: apakah yang kita dapat dari gegap gempita sepakbola ini?

Tak terbantah, di Republik ini, sepakbila memang populer, seperti dangdut. Kita tahu, dangdut bahkan pernah ingin diangkat sebagai musik yang mewakili identitas keindonesiaan. Di tahun 80an awal, persepakbolaan kita juga pernah dipenuhi wacana untuk menemukan permainan sepakbola yang khas Indonesia. Kita, saat itu, ingin mengadopsi gaya permainan Brasil, (bahkan sempat “menyekolahkan” Timnas kita ke negeri samba itu), dengan semacam pengharapan: kalau Brasil identik dengan samba, kenapa Timnas kita tidak bisa mengambil semangat dangdut? Cara menggocek bola pemain Brasil, bagaikan menarikan samba. Lalu kenapa para pemain kita tidak bisa memainkan bola selentur ketika menari dangdut? Begitu, kira-kira, mimpi kita, saat itu. Lanjutkan membaca ‘– DANGDUT, JAZZ, SEPAKBOLA’

– SEPAKBOLA: MEMBERI MAKNA PADA YANG FANA

Surat Agus Noor

Kau bertanya, “Kenapa kamu bisa begitu tergila-gila pada sepakbola? Apa yang kau dapat darinya?” Baiklah. Kutuliskan ini buatmu. Tidak agar kau memahami. Tetapi setidaknya supaya kamu bisa sedikit merasakan kegembiraanku…

Sepertinya, ada yang hilang dalam Piala Eropa 2008. Drama! Saya sangat setuju dengan pendapat Robert Coover, bahwa ada “sifat teater” dalam permainan bola. Lapangan adalah panggung, dan pertandingan adalah alur dramatik berdurasi 2×45 menit plus injury time. Setiap pertandingan menjadi menarik karena menampilkan drama yang berbeda, ketegangan dan suspens yang berbeda. Sifat teater itulah yang membuat sebuah pertandingan akan semakin menarik bila memenuhi aspek dramatik di dalamnya. Dan itu, yang sampai saat tulisan ini dibuat, terasa hilang di panggung Piala Eropa kali ini. Barangkali, karena belum memasuki babak knock out. Babak hidup mati yang bisa berujung pada “tragedi”. Dan tragedi, kita tahu, adalah pencak ekstase dari pertunjukan teater. Lanjutkan membaca ‘– SEPAKBOLA: MEMBERI MAKNA PADA YANG FANA’

– UNDANGAN CERPEN KOMPAS PILIHAN 2007

Seperti telah jadi tradisi tahunan, Kompas kembali memilih cerpen-cerpen terbaik pada tahun 2008 ini. Undangan untuk menghadiri malam Penganugerahan Cerpen Terbaik Kompas 2008, sudah saya terima. Dari desain undangan itu, saya sebenarnya sudah bisa menduga: siapa yang menang cerpen terbaik tahun ini. Tapi, sebagaimana biasanya, Kompas nampaknya memang ingin berahasia, dengan tidak mengungkapnya lebih dulu. Maka, saya pun menghormati itu, dengan tidak menuliskan lebih dulu dugaan saya.

Makanya, ketika kawan Triyanto Triwikromo mengirim sms, “Hayo, cerpen siapa yang ada kisah ikan pausnya? Itulah cerpen terbaiknya… Liat ajah desain undangannya”, saya hanya senyum-senyum. Lalu kubalas, “Oke, saya akan baca cerpen itu…” Dugaan Triyanto pun tak beda dengan saya. Tapi, baiklah, cerpen siapa yang jadi cerpen terbaik, biarlah nanti terungkap setelah malam penganugerahan itu. Yakni, hari Kamis, 26 Juni 2008, sekitar jam tujuh malam, di Bentara Budaya Jakarta. Aneh juga, sebab biasanya acara pemberian hadiah cerpen Kompas itu dilaksanakan setiap tanggal 28 Juni, bertepatan dengan ulang tahun Kompas.

Karena kali ini diadakan tanggal 26, maka kemungkinan saya nggak bisa datang. Soalnya, tanggal itu adalah tanggal ulang tahun saya. Dan saya, sudah merancang acara bersama kawan-kawan dekat, untuk merayakannya.

– MATINYA TOEKANG KRITIK

Tiga email masuk di akunku. Semua berkait dengan naskah lakon Matinya Toekang Kritik (MTK). Dua email memberitahu perihal niatan untuk melakukan studi telaah naskah, bagi kesarjanaan mereka. Dan satu email, mengabarkan tentang rencana menerjemahkan naskah lakon itu ke bahasa Inggris. Naskah lakon ini, sebenarnya sudah diterbitkan sebagai buku, tetapi (sebagaimana dikatakan dalam satu email itu) sulit untuk didapat. “Bisakah saya minta copy naskah itu?” tanyanya. Naskah MTK sebenarnya sudah di posting oleh Butet Kartaradjasa, dan bisa di lihat di blognya.

Agar sedikit beda, maka naskah lakon itu saya tulis kembali dengan gaya prosa. Dan saya turunkan di sini. Kenapa saya tulis ulang dengan gaya prosa? Agar lebih enak dibacanya. Format penulisan naskah lakon memang punya kaidah-kaidah, yang sebenarnya justru tidak menarik ketika dibaca sebagai teks. Kadang kita mendapati banyak “perkara tekhnis pemanggungan” di dalam naskah itu. Akibatnya, bagi awam, naskah lakon menjadi kurang familiar. Maka, saya tiba-tiba punya bayangan: bagaimana kalau naskah lakon itu saya tulis dengan gaya prosa? Sehingga pembaca bisa akrab karena ia seperti tengah membaca cerita (tetapi tetap juga bisa membayangkan pemanggungannya). Setidaknya, inilah upaya, agar naskah lakon pun bisa dinikmati ketika ia hadir (masih) berupa teks… Lanjutkan membaca ‘– MATINYA TOEKANG KRITIK’

– BOLA, BULAT, BUNDAR DAN BANYOLAN

Oleh Agus Noor

Sepak bola merupakan produk kebudayaan manusia yang paling konyol! Barangkali, itulah sebabnya Butet “Sarimin” Kartaredjasa tidak menyukainya. “Saya ndak pernah bisa memahami, bagaimana mungkin ada 22 orang mau berlarian kesana-kesana kemari saling jegal rebutan bola? Itu kan absurd. Beri saja masing-masing satu bola, pasti ndak lagi rebutan. Lagi pula, dari pada rebutan bola, kan mendingan seperti para politikus kita yang dengan gigih rebutan kursi kekuasaan…” Tentu saja, itu kelakar khas si Raja Monolog itu.

Tapi kelakar itu membuat saya jadi memahami: betapa memang ada perspektif komedis dari bola. Disamping bulat dan bundar, bola ternyata penuh banyolan juga. Ketika sepak bola dari waktu ke waktu makin industrialis dan dikembangkan pada pada tingkat yang makin menghibur dan sempurna melalui pola permainan eksplosif semacam total football atau ekspresif sebagaimana para pemain Brasil menarikan samba-bolanya, maka selalu saja ada kelucuan-kelucuan, yang membuatnya makin “manusiawi”. Tapi, tentu saja, ada tingkat-tingkat kelucuan, yang membuat sesuatu kemudian menjadi memiliki nilai, atau cuman membersitkan banyolan konyol.

Seorang kawan membawa kabar yang cukup mengagetkan: bahwa Nurdin Halid, Ketua PSSI, yang kini mendekam di penjara, terpilih menjadi ketua FIFA. Dalam sidang tahunan di Wina yang di hadiri 153 wakil dari seluruh anggota FIFA, Nurdin Halid memenangkan pemilihan jabatan ketua FIFA secara mutlak. 150 delegasi mendukungnya, hanya 2 wakil yang menolak, dan 1 abstain. Tentu kabar ini menggembirakan bagi persepakbolaan Indonesia. Tetapi, usut punya usut, seorang doktor psikologi dari Denmark akhirnya bisa menjelaskan kenapa Nurdin Halid bisa terpilih. “Ternyata para wakil delegasi dari seluruh dunia itu mendadak terjangkiti apa yang disebut sebagai ‘syndrome pengurus PSSI’. Sindrom inilah membuat mereka menjadi buta, tuli dan bisu. Persis seperti para pengurus PSSI saat ini…” Lanjutkan membaca ‘– BOLA, BULAT, BUNDAR DAN BANYOLAN’

– AKTOR DI PANGGUNG TEATER

Oleh: Agus Noor

Sutradara bisa mati, tapi aktor tidak!

(Arifin C. Noer)

Cukup lama aktor absent dalam teater modern kita. Tradisi realisme yang tidak cukup berkembang bisa dilihat sebagai satu faktor yang menyebabkan aktor tak menemukan ‘ruang bermain’ dalam panggung teater modern kita. Pentas-pentas teater yang berbasis realisme, sebagaimana dikembangkan sejak periode ATNI, Teater Populer, Teater Lembaga sampai STB, memang secara sporadis muncul, tetapi tidak terlalu kuat nenamamkan tradisi realisme sebagai mainstream dalam teater modern kita.

Hal itu membawa konsekuensi: tak tersedianya peran dan penokohan dalam naskah lakon yang memiliki kompleksitas psikologis. Yang berkembang ialah tokoh-tokoh tipologis, kata Kuntowijoyo. Hingga seringkali kita ‘terpaksa’ meminjam tokoh-tokoh dalam lakon yang ditulis oleh Ibsen, Chekov, untuk menjadi referen permainan realisme. Ketika naskah lakon tidak menyediakan kompleksitas penokohan yang menantang untuk ditafsirkan aktor dalam satu pementasan, perlahan-lahan sosok aktor pun surut dalam panggung teater modern kita. Karena itu teater kemudian lebih tampak sebagai “representasi gagasan” ketimbang “representasi pemeranan”. Lanjutkan membaca ‘– AKTOR DI PANGGUNG TEATER’

– MANCHESTER UNITED VS TUHAN

Surat Agus Noor

Bung, kutulis ini untukmu yang demen sekali nonton bola. Pasti, saat ini , kamu sedang terhipnotis Piala Eropa. Macam saya…

Sebelum pertandingan Manchester United versus Chelsea di final Piala Champions Eropa, seperti biasa, saya nongkrong di kafe, untuk nobar, nonton bareng. Ditengah sengitnya obrolan saling mengunggulkan klub yang dijagoinya, seorang kawan dengan nada sungguh-sungguh berkata, “Bila Manchester United bertanding melawan Kesebelasan Malaikat, saya pasti menjagoi MU. Bahkan, bila MU melawan Tuhan, saya pasti juga menjagoi MU.” Saya termangu, mendengar itu.

Anda pun, barangkali, akan langsung mengatakan bahwa itu adalah perwujudan fanatisme yang akut. Sikap takabur. Karena bagaimana mungkin melawan Tuhan yang Maha Tak Terkalahkan? Tapi itu bukanlah kejumawaan kawan saya. Itu, ternyata, lebih merupakan upayanya menemukan jalan untuk memahami Tuhan. Sepak bola dan Tuhan, saya kira memang menarik untuk dibicarakan, ketika sebagian kita dengan penuh pekikan mentakbirkan namanya sembari menenteng pedang kekerasan. Lanjutkan membaca ‘– MANCHESTER UNITED VS TUHAN’


Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Juni 2008
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Archives Files

Catagories of Files