– POLITIKUS BUSUK & RAJA JIN

Monolog

Monolog karya Agus Noor ini pernah dimainkan oleh Butet Kartaredjasa, saat dimulainya Gerakan Anti Politisi Busuk, menjelang Pemilu 2004. Monolog ini dimainkan secara “garingan”. Itu istilah untuk pertunjukan monolog yang biasanya cuman dibacakan (atau paling banter dengan kostum dan properti sederhana untuk mendukung tampilan). Monolog ini, kemudian juga dibukukan dalam buku Matinya Toekang Kritik (Lamalera, 2006). File ini diturunkan dalam blog ini karena, saya rasa, masih relevan secara tema. Setidaknya untuk mengingatkan, betapa masih banyak politisi busuk yang ngangkangin republik ini.

Jangan percaya politikus, begitu seorang kawan bilang. Negeri ini memang tidak akan mungkin bisa bangkit dari keterpurukan bila kita mempercayai para politikus untuk mengelolanya. Menurut saya, politikus kita memang tidak akan pernah bisa berhasil mengatasi masalah bangsa ini. Politikus kita tidak pernah mampu menyelesaikan maslah. Karena politikus kita terbiasa menyelesaikan masalah dengan cara menambah-nambahi masalah.

“Kamu memang sisnisme sejati,” komentar seorang kawan. Kujawab, “Mungkin. Coba saja baca monolog ini…”

POLITIKUS BUSUK & RAJA JIN

Monolog Karya: Agus Noor

Tampak pohon beringin tua, rimbun dan singup. Suasana terkesan angker. Terlihat sisa dupa persembahan, juga tebaran bunga setaman di bawah pohon beringin itu. Bau magis terasa dimana-mana. Di satu sisi pohon beringin itu terlihat bayangan makam tua.

Dari satu arah muncul Juru Kunci makam itu. Agak tertatih, melangkah hati-hati. Ia terlihat tua. Memakai sorjan dan ikat kepala hitam. Ia berjalan mondar-mandir di seputar makam. Mengamati keadaan, lalu mengambil kotak sumbangan, membukanya. Melihat dan kecewa karena tak ada uang di dalam kotak sumbangan itu…

JURU KUNCI: Sudah berhari-hari ndak ada yang datang kemari. Paling-paling mahasiswa yang mau pacaran. Mungkin karena mereka nggak bisa bayar losmen murahan, makanya milih pacaran dikuburan…

Sekarang beginilah suasana makam ini… Selalu sepiiiii… Ini gara-gara aaa apa itu… (mengingat-ingat) eee, ya.. Gerakan Anti Politikus Busuk. Gara-gara ada Gerakan Anti Politikus Busuk itu, omzet saya langsung menurun drastis. Mangkel aku! Siapa itu para penggagasnya? Siapa? Teten Masduki? Faisal Basri? Siapa? Franky Sahilatua?

Saya santet baru tau rasa!

Lho, saya berhak marah. Sebab kaena merekalah stabilitas ekonomi keluarga saya jadi terganggu. Makam jadi sepi. Nggak ada lagi orang yang datang ke mari.

Padahal, biasanya, tiap hari rata-rata mmm sepuluh atau duapuluh bungkus politikus, datang kemari. Biasalah, cari berkah. Kalian kan ya sudah tahu toh, kualitas para politikus kita itu. Lebih percaya mistik, ketimbang berbuat baik.

Sebelum ada Gerakan Anti Politikus Busuk, banyak politikus yang nyekar ke mari. Sowan sama Kanjeng Sunan Raja Jin. Dedemit sakti yang berkeraton di pohon kurung itu…

Bahkan kadang-kadang ada juga menteri yang datang ke mari… Eeh, jangan salah sangka ya, apa dikira menteri juga tidak memerlukan sowan kemari untuk minta petunjuk dan saran? Apa dikira staf ahli menteri itu cuma dari kalangan akademisi? Diam-diam, juru kunci seperti saya ini juga termasuk staf ahli ahli menteri lho. Straf ahli bidang perklenikan.

Biasanya menjelang Pemilu atau penyusunan kabinet, banyak tokoh dari pusat sowan ke mari. Terakhir ya seminggu yang lalu. Tepatnya sehari setelah dicanangkannya Gerakan Anti Politikus Busuk. Saya sedang berak di pojok situ, ketika tiba-tiba seorang politikus muncul dan langsung marah-marah mencari saya. Saya sampai kaget, dan nggak sempat cebok. Langsung saya menemui politikus yang sedang marah-marah itu. “Ada apa Denmas Politikus, kok marah-marah begitu?”

PAUSE: menjadi Politikus yang marah-marah

POLITIKUS: (Sembari mengeluarkan selembar kertas) Lihat ini: Daftar Politikus Busuk! Kamu baca coba! Ini kan keterlaluan

PAUSE: menjadi Juru Kunci, menyabarkan…

JURU KUNCI:Tenang…Sabar.., sabar… Denmas Politikus pasti marah dan tersinggung karena dimasukkan dalam Daftar Politisi Busuk, iya ‘kan?!

PAUSE: kembali menjadi Politikus yang terus marah-marah…

POLITIKUS: Lho, saya marah justru karena nama saya tidak masuk dalam Daftar Politikus Busuk! Ini kan keterlaluan. Tidak menghargai perjuangan dan jerih payah saya sebagai politikus. Padahal saya sudah bertahun-tahun menjadi politikus. Saya sudah seoptimal dan semaksimal mungkin berbuat curang dalam setiap kesempatan, lha kok nama saya tidak dimasukkan daftar sebagai polisi busuk?! Itu ‘kan artinya sama saja tidak mengakui saya sebagai polikus yang berhasil. Terhina saya!

PAUSE: menjadi Juru Kunci, geleng-geleng keheranan dan bingung,

JURU KUNCI: Ck..ck..ck… Iki wong genius, atau wong edan yang nyambi jadi politikus… (Lalu kepada politikus itu) Lho.., mestinya Denmas Politikus ‘kan senang, kalau Denmas Politikus ini bukan termasuk golongan politisi busuk?! Iya, toh?

PAUSE: kembali menjadi Politikus, mulai reda kemarahannya…

POLITIKUS: Saya justru sedih, Pak… Karena itu artinya saya belum sukses menjadi politikus yang baik dan benar. Bukankah kesuksesan seorang politikus diukur dari tingkat keculasan dan kebusukannya? Semangkin pintar memutar-mutar kebohongan, semangkin canggih memanipulasi keadaan, semangkin tinggilah status dan martabat politikus. Karena itulah, Pak.., tolong, tolong, tolonglah saya, bagimana caranya agar nama saya masuk dalam Daftar Politikus Busuk.

Saya kan sudah sering nyekar kemari. Sowan sama Kanjeng Sunan Raja Jin di sini… Apa masih kurang ubo rampe saya? Kalau saya harus nambah, saya ikhlas kok, Pak. Sebutkan saja berapa. Saya pasti siapkan dananya. Asal nama saya masuk dalam Daftar Politikus Busuk. Saya percaya, bapak pasti bisa membantu saya… Tolong ya, Pak. Bener. Atau mungkin bapak bisa sampaikan kepada Teten Masduki atau Faizal basri… kepada para penggagas gerakan itu. Tolong sampaikan kepada mereka, saya tidak ingin menjadi politisi yang gagal seperti mereka. Lho, iya kan? Mereka gagal menjadi politisi, bukan karena mereka tidak cerdas atau kurang waras, tetapi karena mereka tidak berhasil membuat diri mereka menjadi busuk. Karena mereka tidak berhasil jadi politikus busuk, akhirnya ya mereka tersingkirkan sebagai politikus…

Saya tidak ingin bernasib seperti mereka, Pak…

Saya sudah habis modal banyak. Saya sudah merintis karier dari bawah, agar saya tetap bertahan sebagai politikus busuk. Itu tidak mudah, Pak.

Bapak tahu, lebih mudah menjadi politikus yang tidak busuk, ketimbang menjadi politikus busuk!

Jadi politikus yang tidak busuk itu gampang. Modalnya cuma moralitas, punya integritas, beriman, tahan godaan, perhatian pada nasib rakyat, track record yang baik…. Sebagai politikus, alhamdulillah, saya tidak memiliki itu semua.

Menjadi politikus busuk jauh lebih susah, Pak! Mesti banyak berkorban, betul?! Mesti mengeluarkan banyak modal, betul?! Mesti tahan hinaan, betul?! Mesti punya ilmu bunglon, betul?! Harus bersikap tak peduli dan tuli, Betul?! Dan itu tidak mudah lho, Pak. Saya harus pura-pura tuli, meski telinga saya sehat. Kan susah, punya pendengaran bagus tapi harus terus-menerus pura-pura tidak mendengar aspirasi rakyat.

Karena itu, tolong… Tolong, jangan hinakan saya menjadi politikus yang tidak busuk.

Nanti saya jadi terasing. Kesepian. Bisa-bisa saya mati gantung diri. Karena itu, tolong, tolonglah saya, Pak…bagaimana agar semua orang terus-menerus menganggap saya ini politikus busuk. Nama saya harus dimasukkan dalam Daftar Politikus Busuk!

Bagi politikus, menjadi busuk itu bukan musibah… tapi berkah. Kebusukan itu identitas politikus. Jati diri politikus. Karena itu sudah menjadi kewajiban politikus seperti saya untuk terus membudidayakan kebusukan-kebusukan. Politikus itu bukan orang yang ‘mengatasi masalah tanpa masalah’. Itu biar tugas Pegadaian. Politikus itu selalu ‘mengatasi masalah dengan cara menambah-nambah masalah’.

Tolongin saya, ya Pak…

Politikus itu mengeluarkan amplop tebal, menyerahkan…

POLITIKUS: Ini, sebagai dana awal… Kalau perlu kembang setaman dan kemenyan, saya juga sudah siapkan. Yang penting usahakan saya menjadi politikus busuk. Kalau saya tidak terdaftar sebagai politisi buruk, bagaimana mungkin saya bisa menjadi calon anggota legislatif?

Karena itu, tolonglah, Pak… Saya memohon dengan amat sangat, masukkan saya dalam Daftar Politisi Busuk. Agar karier politik saya naik. Nama saya melejit. Jadi bahan pemberitaan. Politik kita ‘kan sama seperti persepakbolaan kita, yang menarik dan menjadi berita bukan kebaikan dan keberhasilannya, tapi justru skandal dan kerusuhan-kerusuhannnya.

Karena itu, saya akan senang kalau nama saya dimasukkan di urutan pertama dalam Daftar Politisi Busuk!

PAUSE: menjadi Juru Kunci, kebingungan dan heran…

JURU KUNCI: Oalaah. Ngger…nggeerr… Anakku Denmas Politikus sing elek dhewe(Seolah menuntun dan menyuruhnya duduk tenang) Sini, sini… Duduk yang tenang…

Kemudian, ke arah penonton,

JURU KUNCI: Begitulah peristiwanya… Saya menenangkan politikus itu. Ia terus memohon dan menghiba. Sementara saya kian tambah bingung.

Usut-punya usut,… baru saya tahu. Ternyata: dia ingin sekali dimasukkan dalam Daftar Politisi Busuk, karena dia ingin mengkatrol namanya di Daftar Caleg. Dia ingin agar namanya ada di nomor urut pertama calon anggota legislatif. Rupanya dia masih berada di urutan buncit. Dengan diakui sebagai politisi busuk, maka ia akan punya kesempatan berada di urutan atas nama-nama calon anggota legislatif… Karena seperti kalian ketahu, datar teratar para caleg kita kan biasanya dipenuhi nama-nama politikus busuk…

Makanya, kalian ndak usah heran, kalau nanti daftar calon anggota legislatif sudah disahkan, banyak terdapat nama-nama politikus yang terkenal busuk.

Saya yakin kok, yang masuk daftar calon anggota legislatif, pastilah mereka yang sering sowan ke mari. Saya nggak asal njeplak. Ada buktinya…

Lalu mengambil buku dari satu tempat dekat makam, semacam buku tamu.

JURU KUNCI: Nih lihat… Nama-nama mereka yang sering datang kemari… Ada si Fulan.. Ada Si Polan…[1]

Lengkap. Semua ada di sini. Maknya jangan meremehkan saya. Relasi saya banyak. Saya pribadi juga sering kok dimintai saran dan pendapat. Karena saya dianggap juru bicara yang mumpuni, yang mampu menafsirkan isyarat dan tanda-tanda yang disampaikan Kanjeng Sunan Raja Jin. Jadi saya ini ibarat Hermes dalam mitologi Yunani, yang mampu membaca tanda-tanda dari Dewa. Kalian tahu kan, Hermes itu yang menjadi dasar ilmu Hermeneutika. Tapi karena saya cuma dianggap juru kunci tukang klenik, maka ilmu saya namanya Hermeneukleniktika.

Itu ilmu yang bermodalkan waton omong dan otak atik gatuk. Tapi banyak yang suka dan percaya. Kalau ada pemilihan Bupati atau Gubernur, saya sering diminta menjadi Tim Sukses. Aneh, kan? Hidup saya saja tidak sukses, kok ya dimintai jadi Tim Sukses. Kalau memang saya punya kemampuan membuat sukses, ngapain pula saya membuat sukses orang lain. Mending menyukseskan hidup saya sendiri, biar nggak terus-terusan jadi Juru Kunci kuburan seperti ini…

Tapi, yah.. karena saya ini sudah terlanjur dianggap pintar dan sakti, ya tetap saja saya dimintai tolong. Waktu kampanye presiden juga begitu. Banyak Tim Sukses yang sowan ke mari.

Saya jadi makin heran. Kenapa sih calon presiden membutuhkan Tim Sukses? Kalau dipikir-pikir, bukankah keberadaan Tim Sukses itu dengan sendirinya menegaskan kalau para calon presiden itu belum sukses? Karena merasa belum sukses, maka para calon presiden itu memerlukan tim sukses, agar dirinya bisa sukses.

Lalu ngapain kita milih calon presiden, kalau dia sendiri merasa belum sukses… Mungkin para calon presiden itu memang bener-bener belum sukses sebagai politikus busuk.

Mendadak ketakutan, melihat kiri-kanan…

JURU KUNCI: Waduh… bisa berabe nih kalau kedengaran intel… (melihat-lihat keadaan) Soalnya intel juga sering datang ke mari. Biasalah, petentang-petenteng minta setoran.

Sekarang, sejak tempat ini makin sepi, saya jadi sering dibentak-bentak intel-intel itu. Saya dianggap menilep uang orang-orang yang datang. Padahal, emang sudah jarang yang sowan ke mari.

Terakhir ya Denmas Politikus yang marah-marah itu. Hampir seharian dia duduk di situ, seperti orang linglung. Karena kasihan, saya ajak dia untuk berdoa tengah malam. Dia senang, karena saya mau menolong.

“Kita minta petunjuk saja sama Kanjeng Sunan Raja Jin, “ kata saya pada politikus itu. Lalu kami berdua pun duduk di dekat makam. Nah, di situ… saya dan politikus itu duduk bersila…

Duduk bersila di depan makam, merapal mantra…Perlahan-lahan muncul asap putih dari arah makam itu…

JURU KUNCI: Begitulah, kami terus berdoa. Sampai tiba-tiba saya mendengar tanah yang tiba-tiba merekah. Saya gemeteran. Tapi politikus itu tetap duduk takzim…

Asap kian tebal, suara menggemuruh.

JURU KUNCI: Saya buru-buru kabur!

Juru Kunci itu lari dan menghilang. Sementara asap dari arah makan kian menebal. Suara gemeretak membuat suasana terasa singup dan angker…

Kemudian, perlahan-lahan muncul sosok[2] dari kelimun kepulan asap, bagai muncul dari dalam makam. Sosok itu rupanya Raja Jin yang mendengar doa politikus itu.

RAJA JIN: Ogleng ogleng celeng degleng moglang mogleng… Siapa gerangan yang membangunkanku, he?!

Terdengar suara Politikus: “Saya Kanjeng Sunan Raja Jin…” [3]

RAJA JIN: Oalah ogleng ogleng celeng degleng bolang baling tak tempeleng… Dari baunya saya sudah tahu… Kamu pasti politikus busuk. Politikus penghasil burket.[4]

Terdengar suara Politikus menjawab: “Saya Kanjeng Sunan Raja Jin…”

RAJA JIN: Terus terang dari pada saya sungguh kecewa dengan kamu Nakmas Politikus… Kamu benar-bener masih dungu dan bebal.

Kembali suara Politikus menjawab: “Saya Kanjeng Sunan Raja Jin…”

RAJA JIN: Saya tahu, dari pada kamu marah dikarenaken nama kamu tidak terdaftar sebagai politikus busuk. Apakah kamu tidak sadar, kalau kamu itu memang tidak termasuk politikus busuk. Sebab apa? Sebab dari pada kamu itu termasuk golongan politikus super busuk!

Sungguh aneh kalau dari pada politikus super busuk macam kamu, malah menghiba-hiba ingin dimasukken ke dalam dari pada Daftar Politikus kelas busuk. Itu artinya, kamu ternyata masih politikus abangan. Kurang sumeleh. Malu aku jadi gurumu…

Suara Politikus menjawab bernada ketakutan: “ Sa.. Saya Kanjeng Sunan Raja Jin…”

RAJA JIN: Ingat, sudah dari pada bertahun-tahun aku mendidik kamu. Ibaratnya aku ini guru besarmu. Profesor kamu. Mentor kamu. Jadi, dari pada kamu harus menjaga dari pada wibawa dan martabatku. Ndak ada itu politikus didikan saya yang hanya level ‘Politikus Busuk’. Semua rata-rata di atas level ‘Politikus Super Busuk’. Kebusukan dan kelicikannya sudah super canggih. Lebih canggih dari Penthium-5.

Kamu sudah melakuken hampir semua kecurangan dan keculasan. Dari korupsi sampai kolusi. Dari adu ayam sampai pelanggaran HAM. Dari kerusakan lingkungan sampai kekerasan perempuan… Semua sudah kamu lakukan. Paling, yang belum kamu coba cuman memakai narkoba. Meski saya tahu, diam-diam kamu sesekali pakai Viagra.

Itu wajar. Kamu masih muda. Beda dengan saya yang sudah sepuh begini. Makanya saya memilih lengser mandito jadi Jin, ketimbang menerusken dari pada karier saya sebagai Pemimpin Politikus Busuk. Biarlah para politikus itu berhimpun sendiri dalam satu partai yang mengembangkan paradigma kebusukan baru. Partai baru dengan kebusukan baru.

Karena itu, kamu ndak usah dari pada marah-marah begitu ya… Pulanglah. Doa restu dan kebusukanku menyertai kamu. Zaman sudah berubah. Sudah makin tambah parah.

Pesan dari pada saya hanya satu…: sebagai dari pada politikus yang sudah amat sangat teramat super busuk, kamu dan kawan-kawanmu, mesti dari pada pintar memanfaatkan setiap celah dan keadaan, ya, ya ya…

Sekarang pulanglah. Kalau dari pada kamu memerluken dari pada bantuanku, cukup kamu sebut namaku tiga kali: “Bento! Bento! Bento!”[5]

Jangan khawatir, meski saya sudah lengser di sini, sebenarnya dari pada saya tetep selalu urun rembug dalam setiap upaya meningkatken kebusukan.

Sekarang, pulanglah….

Suara Politikus menjawab, terdengar takzim dan penuh hormat: “Saya Kanjeng Sunan Raja Jin…”

RAJA JIN: Oh ya… mungkin dari pada saya akan segera pindah dari tempat ini. Di sini sumuk dan nggak terawat. Tempat ini tidak baik buat encok saya. Prostat saya juga jadi sering kumat. Mangkanya, dari pada saya pingin pindah dari tempat ini. Jadi, mbesok-mbesok, kalau kamu pingin ketemu saya, datang saja ke tetirah baru saya… Ke tempat tinggal dari pada saya yang baru…Ke istana baru saya. Istana Cendana Giri Bangun

Lalu asap kembali mengepul, suara gemuruh yang mistis. Sosok Kanjeng Sunan Raja Jin itu lenyap seketika. Lolongan yang mengerikan seperti menyayat malam. Ada rembulan pucat perak di atas beringin yang angker dan tua itu.

Perlahan kesepian merayap. Sampai suasana kembali seperti ketika awa lpertunjukan. Terlihat sisa dupa persembahan, juga tebaran bunga setaman di bawah pohon beringin itu. Bau magis terasa dimana-mana. Di satu sisi pohon beringin itu terlihat bayangan makam tua.

Kemudian dari satu arah muncul Juru Kunci makam itu. Agak tertatih, melangkah hati-hati. Ia terlihat tua. Memakai sorjan dan ikat kepala hitam. Ia berjalan mondar-mandir di seputar makam. Mengamati keadaan, lalu mengambil kotak sumbangan, membukanya. Melihat dan kecewa karena tak ada uang di dalam kotak sumbangan itu…

JURU KUNCI: Sudah berhari-hari ndak ada yang datang kemari.

Sekarang beginilah suasana makam ini… Selalu sepiiiii… rasanya tempat ini ndak angker lagi… Mungkin yak arena Raja Jinnya sudah pergi…

Yaah, ada juga sih, satu dua politikus muda yang datang. Kadang menginap sampai tiga hari. Kadang ngajak saya ngobrol soal perubahan. Mereka janji, kalau mereka berhasil akan ingat pada saya. Ingat nasib saya.

Saya sih hanya manggut-manggut.

Kalian kan tahu sendiri, omongan politikus….

Lalu Juru Kunci itu meletakan kembali kotak sumbangan itu ke tempat semula. Berjalan tertatih-tatih mengambil sapu lidi, dan mulai membersimkan sampah yang bertebaran di mana-mana.

Srek…srek…srek…srek…srek…srek…

Suara sapu lidi yang bergesekan itu terdengar nyaring, sampai ke mimpi.

Yogyakarta, 2003.


[1] Menyebut nama-nama penonton yang hadir, dengan semangat bercanda. Bisa dikembangkan, seolah-olah seperti tengah mengabsen nama-nama itu.

[2]Adalah aktor yang memerankan Juru Kunci tadi. Ketika ia lari menghilang, itu adalah kesempatannya untuk mengubah peran, berganti kostum.

[3]Suara ini bisa dari aktor/pendukung lain yang membantu pertunjukan.

[4]Burket: bubur ketek, istilah dalam iklan deodorant untuk menggambarkan ketek yang basah dan bau.

[5] Dari lagu Iwal Fals bersama kelompok SWAMI, berjudul “Bento”.

6 Responses to “– POLITIKUS BUSUK & RAJA JIN”


  1. 1 Dendit Juni 3, 2008 pukul 8:06 am

    Kapan lagi bikin monolog yang keren? saya seneng sekali dengan lakon Matinya Toekang Kritik dan Sarimin. Kritis, nakal, cenaka dalam kecerdasan yang tak membosankan

  2. 2 romdan_teater hampa Juni 9, 2009 pukul 2:36 pm

    salam kenal om agus….
    saya suka sekali dengan naskah POLITIKUS BUSUK & RAJA JIN ini…
    kira2 apa saya boleh memainkan naskah ini…saya pikir momennya juga bagus karna menjelang pemilihan presiden….

    ohya om…saya juga minta maaf karna bulan april kmrin sempat mementaskan naskah SIDANG SUSILA….gpp ya om….maaf gak ijin sebelumnya….

    trima kasih

  3. 3 agusnoorfiles Juni 9, 2009 pukul 3:43 pm

    Silakan… Kamu di Malang ya/ kayaknya temenmu pernah ngabari soal pementasan SS itu, jd tak soal-lah…

  4. 4 romdan Juni 10, 2009 pukul 3:50 am

    makasih ya om…iya katanya temenku juga udah pernah kasih kabar… aku suka ma naskah-naskah om agus,bicara apa adanya…selain berkarya tapi tetep menggelitik persoalan2 di negeri ini…

  5. 5 Nanda Arif Arya Putra Maret 1, 2015 pukul 9:56 pm

    Maaf bapak Agus Noor, saya mohon ijin ingin memainkan naskah Politikus Busuk dan Raja Jin ini, saya suka dan ingin memainkannya, menurut saya naskah ini simple dan bisa jail, seperti anak kecil yang polos tapi membuat orang dewasa tersenyum malu melihat kepolosan mereka, hihihi. Saya mohon ijin dan restunya.


  1. 1 Politikus Busuk: Saatnya Blogger Bertindak | Well Informed Society Lacak balik pada Januari 6, 2010 pukul 12:13 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: