– SERENADE KUNANG-KUNANG

“Serenade Kunang-kunang”-nya asyik. Mengingatkan aku pada apa ya? Pada sesuatu yg crispy, renyah dan manis. Namun selalu pengen nambah dan nambah lagi… (SMS dari +6218026736XX)

Pesan singkat itu menyelusup ke hpku. Nomor asing yang belum ku-save. Ia, rupanya mengomentari cerpeku yang muncul di Kompas Minggu, 18 Mei 2008, lalu. Aku jadi ingat pada rencanaku membukukan beberapa cerpenku, yang disertai komentar-komentar pendek, renyah dan karib semacam itu. Seringkali, komentar-komentar kecil dan hangat memang bertandang ke emailku, juga selularku. Dan aku berfikir, kenapa komentar- komentar itu tidak aku munculkan dalam bukuku, kelak?

Tetapi, memang, aku mesti minta izin terlebih dulu, pada para pengirimnya. Maka, dengan niat semacam itu, aku pun membalas SMS yang masuk jam 12.43 pm itu (artinya, ini jam bangun tidurku, kecuali mesti terpaksa bangun pagi). Alangkah terkejut, sekaligus sumringah, ketika tahu bahwa pengirim itu tiada lain sahabat kentalku dulu. Ruangan dengan tumpukan majalah dan buku, tikar dan kasur ringkat dimana kami biasa menidurkan letih, sengkarut mimpi masa muda…., tiba-tiba berkelindan dalam kepala: menyusun kenangan yang mendadak menjadi begitu berharga karena langka. Tak mudah kutemui kembali kehangatan dan kegairahan semacam dulu dengannya, dengan karibku itu – yang baiklah, atas seizinnya, tak perlu aku ungkapkan namanya dulu. Misteri adalah waktu yang membuat kita betah menunggu. Dan kenangan-kenangan itu, serta-merta kembali berterbangan seperti kunang-kunang, ketika ia bicara di telepon. Seperti yang kutulis dalam cerpen Serenade Kunang-kunang, maka begitu mendengar suaranya aku “teringat pada sepasang kunang-kunang yang melayang di atas kolam.”

Lalu SMS lain, dari nomor lain, muncul minta perhatian. “Aku br slesai bc cerpennya lo, mas..”, lalu ia cerita kalo 2 tahun lalu ia pun pernah jatuh cinta pada laki-laki, yang sudah beristri..

Duh, kunang-kunang, kenapa belakangan ini aku begitu terobsesi dengannya. Ada 4 cerita yang kini tengah aku kerjakan, yang memakai metafora kunang-kunang. Serenade Kunang-kunang ini adalah salah satunya.

SERENADE KUNANG-KUNANG

Cerpen Agus Noor

AKU suka matanya, seperti langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. Kau akan melihat hamparan kesenduan dalam mata itu. Mata yang terlalu melankolis untuk seorang laki-laki yang selalu gugup dan tergesa-gesa ketika berciuman. Tapi sepasang mata itulah yang membuatku jatuh cinta.

Sisa hujan masih terasa dingin di kaca saat aku bertemu dengannya di toko ikan hias. Aku tengah memandangi ikan-ikan dalam akuarium, ketika sepasang mata itu muncul dari sebalik kaca – membuatku terkejut. Di antara ikan-ikan kecil warna-warni, sepasang mata itu bagai mengambang. Sementara gelembung-gelembung udara dan serakan batu koral, membuat wajahnya seperti terpahat di air. Dan saat sepasang matanya mengerdip, aku teringat pada sepasang kunang-kunang yang melayang di atas kolam.

Aku tak tahu bagaimana persisnya aku mulai mengajaknya bicara. Tetapi ketika ia menyebutkan namanya, aku seperti mendengar denting genta, bergemerincing dalam hatiku. Barangkali, seperti katamu, aku memang mengindap gangguan jiwa karena terlalu gampang jatuh cinta.

“Atau jangan-jangan kamu hanya maniak seks yang takut kesepian. Kamu takut tidur sendirian…”

Kamu mungkin tak percaya, kalau kukatakan betapa semua ini bukan semata-mata urusan ranjang. Memang, berganti pacar bagiku tak lebih seperti ganti baju: tinggal pilih mana yang cocok buat ke pesta, mana yang pantas buat dipakai makan malam, mana yang pas buat jalan-jalan, dan mana yang nyaman buat sekadar menghabiskan malam di ranjang.

“Dan yang ini?”

Seperti kukatakan, aku suka matanya yang selalu mengingatkanku pada langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. Menatap matanya menjadi kehangatan tersendiri, seperti ketika kamu merasa rindu pada masa kanak-kanakmu yang paling menentramkan. Itulah yang membuatku betah berada di dekatnya. Aku suka ketika mendengar ia berbicara. Terdengar seperti lagu pop yang tak terlalu merdu tetapi dinyanyikan dengan sentimentil…

“Laki-laki yang romantis rupanya!”

Tidak. Ia tak pernah mengucapkan rayuan, yang paling gombal sekali pun, untuk sekadar membuatku tersenyum. Ia malah cenderung selalu gugup bila aku bermanja-manja memeluknya. Aku ingat, betapa jari-jari tangannya begitu gemetar ketika pertama kali menyentuh putingku yang ungu. Ia bercinta nyaris tanpa suara. Bahkan aku tak mendengar desah apa pun ketika ia orgasme. Kau tahu, bercinta dengannya seperti menikmati nasi goreng: rasanya standar dan bisa didapat di mana saja. Tapi – entah kenapa – aku selalu menyukainya. Mungkin karena aku merasa nyaman saja. Bersamanya aku tidak terobsesi untuk melakukan bermacam adegan dan posisi. Dan kupikir, kalau memang kepingin yang aneh-aneh begitu, aku kan bisa melakukannya dengan pacar-pacarku yang lain.

Busyet!!

Mungkinkah, kali ini, aku sungguh-sungguh jatuh cinta?

“Gatal telingaku denger kamu ngomong soal cinta.”

Bila aku kangen, bayangannya seperti ketukan ganjil pada pintu saat tengah malam. Membuatku tergeragap. Lalu kuingat kunang-kunang di matanya, yang membuatku menyukai kemurungan dan kesenduannya. Dia bukan laki-laki seperti yang sering kamu lihat di iklan deodoran, yang membuatmu rela melakukan apa saja untuk sekadar mendapatkan perhatiannya. Sungguh, penampilannya lebih mirip salesman yang baru saja ditolak masuk rumah, dengan dasi yang selalu terlihat tak serasi dengan warna sweater-nya yang kelabu. Ada beberapa jerawat di wajahnya yang coklat. Sedikit berkumis, tipis, tak rapi. Dia agak pendek untuk ukuran kebayakan laki-laki. Keringatnya meruapkan aroma kamper yang akan membuatmu teringat pada baju yang menjadi apak karena terlalu lama disimpan.

“Bukan baju yang pantas buat ke pesta, kukira!”

Lebih mirip seperti baju yang ingin selalu kamu sembunyikan dalam lemari. Bukan karena kamu tak suka, tapi karena kamu tak ingin orang lain tahu kamu memilikinya. Tapi – entahlah, aku begitu menyukainya. Seperti menyukai baju yang selalu ingin kukenakan diam-diam.

“Anggap saja ini cinta sejatimu. Dan ini kisah cintamu yang akan jadi dongeng menakjubkan! Ha ha…”

Tidakkah kau tahu, terkadang sebuah kisah cinta bisa saja menakjubkan meski pun tidak seindah kisah cinta Cinderella dengan Pangeran tampannya? Sampai saat ini, aku sendiri masih heran, kenapa aku jatuh cinta padanya. Kadang aku menganggap semua ini tiada lebih dari kisah cinta yang ganjil dan bermasalah. Tapi, bukankah cinta memang ganjil dan penuh masalah?! Tapi…

Maaf, aku mesti pergi.

“Mau ke mana?”

Kau lihat kunang-kunang itu? Setiap melihat kunang-kunang, aku selalu merasa dia tengah memikirkanku. Setiap melihat kunang-kunang, aku jadi ingin ketemu dia.

***

“KAU suka kunang-kunang?”

“Hmm.”

“Aku suka kunang-kunang…”

“Hmm.”

“Aku suka matamu…”

“Hmm”

“Kok hmm..”

“Hmm.”

“Seperti ada kunang-kunang dalam matamu.”

“Hmm…”

Ah, selalu tak mudah mengajaknya bercakap. Padahal, pada saat-saat seperti ini aku ingin sekali mengajaknya bercakap-cakap tentang kunang-kunang itu. Itulah kenapa aku mengajaknya ke mari. Aku ingin ia melihat sendiri bagaimana setiap bulan purnama ribuan kunang-kunang itu muncul dari bawah lembah sana, bagai gugusan cahaya kekuningan yang bangkit. Kemudian terbang mengikuti aliran sungai. Ribuan kunang-kunang itu terlihat bagaikan selendang kuning yang melayang-layang hanyut di riak air.

Itulah pemandangan yang selalu kusaksikan sejak kecil di tempat ini. Ibu selalu mengajakku ke mari, setiap kali aku merasa rindu dengan ayah. Ibu selalu bercerita, bahwa ayah telah menjelma kunang-kunang. Salah satu dari ribuan kunang-kunang itu adalah ayahmu, kata ibu. Selalu, dengan mata yang layu, ibu bercerita bagaimana suatu malam ayahku diseret keluar rumah, di jaman gestapu dulu. Aku masih dalam kandungan ibu, saat itu. Ibu mendengar tubuh ayah di buang ke lembah itu, bersama ribuan tubuh lainnya. Seminggu setelah pembantaian, dari lembah itu muncul ribuan kunang-kunang. Membuat lembah itu menjadi berkilauan. Kunang-kunang itu adalah jelmaan roh-roh yang penasaran. Dan setiap malam purnama, ketika lembah itu menjadi bisu, dan angin yang membeku membuat pepohonan tertugur kelu, ribuan kunang-kunang itu selalu bangkit dan terbang melayang-layang menyusuri aliran sungai, kemudian gaib begitu saja dalam kesunyian yang mengelabu.

Kuajak ia kemari, agar ia menyaksikan kemunculan ribuan kunang-kunang itu. Agar ia mengerti kenapa aku suka kunang-kunang. Kenapa aku suka pada matanya yang bagai menyimpam kunang-kunang. Sejak kecil aku kerap bermimpi ayahku muncul dengan mata yang bagai sepasang kunang-kunang.

“Kau lihat kunang-kunang itu?!”

“Hmm…”

***

INI pertemuan ke 43. Seperti yang sudah-sudah, ia langsung tidur setelah bercinta. Dia meringkuk dalam selimut, seperti sosis dalam setangkup roti. Bahkan kemurungan tak juga menguap dari wajahnya ketika ia terlelap. Dari jendela apartemen lantai sebelas, kota terlihat gemerlap ditangkup gelap yang pucat. Aku jadi teringat pada cerita seribu kunang-kunang yang menautkan kesepian dan kenangan. Rasanya aku pernah membaca cerita seperti itu – mungkin sewaktu SMA, aku lupa. Aku membayangkan jutaan kunang-kunang muncul dari kegelapan malam dan terbang berhamburan memenuhi kota…

“Nggak tidur?” Ia menggeliat, memandangku yang duduk telanjang di sofa.

Ia sungkan dan jengah. Ia masih saja tak terbiasa melihatku telanjang. Kemudian ia bangkit, meraih celana dan kemeja di sisi ranjang. Membelakangiku, dan tergesa mengenakan pakaian. Kurasakan kemurungan yang ganjil ketika ia mendekatiku. Tak ada pelukan untuk saat-saat seperti ini. Tak ada percakapan. Seolah ia menginginkan semua ini berlangsung tanpa percakapan yang akan menjadi terlalu sarat kenangan.

Seperti jeritan yang teredam, handphone di atas meja bergetar tanpa suara. Ia meraih handphone itu, dan dengan gerakan pelan menjauhiku, berbicara setengah berbisik. Aku hanya memandang keluar jendela. Sampai ia mematikan handphone dan mendekatiku.

“Aku mesti pergi…” suaranya pelan dan datar. “Anakku sakit …”

Bukan sesuatu yang mengagetkan. Tapi aku tetap saja merasakan kemurungan yang makin membentang, seperti langit yang bertambah memucat di atas kota yang di penuhi kunang-kunang. Cahaya perlahan susut dan aus. Desah nafas waktu meruapkan basah pada kaca jendela. Kesunyian tak terpermanai. Dan dingin, seperti dalam sebuah puisi, tak tercatat pada termometer.

Barangkali, seperti kerap kau katakan, aku memang wanita paling menyedihkan yang pernah kau kenal. Karena, selalu saja, aku gampang jatuh cinta pada laki-laki yang sudah beristri…

Jakarta, 2005-2008.

(Kado Nikah Buat Bona & Weni)

4 Responses to “– SERENADE KUNANG-KUNANG”


  1. 1 Roy Thaniago Mei 23, 2008 pukul 11:33 am

    Mas Agus,
    saya juga baca cerpen Anda ini di Kompas. Seru sih. Dibikin keki ama ceritanya yg akhirnya begitu.

    Salam kenal!

  2. 2 Sungai Juni 21, 2008 pukul 6:40 am

    ketika membaca cerpen ini di Kompas, istriku yang memang suka baca cerpen, bilang, “terlalu ngepop.” hehe. padahal aku sangat suka. entahlah karena aku terlanjur terobsesi pada cerpen-cerpen bung sebelumnya.

  3. 3 agus2noor Juni 21, 2008 pukul 11:35 am

    Benar, cerpen ini memang “rasa pop”. Itu sebuah upaya saya untuk menulis dengan gaya ringan, seakan gampang dikunyah, tetapi (kalo bisa) menyisakan gema panjang seusai baca. Setidaknya, itu sebuah upaya gaya, untuk keluar dari kecenderungan cerpen-cerpen yang “sok rumit dan berat”, sebagaimana nampak menjadi kencenderungan cerpen-cerpen saat ini. Saya selalu punya obsesi: bagaimana menulis dengan gaya dan cara sederhana tetapi tidak terkesan sederhana dan maknanya juga tidak sederhana? Serenade Kunang-kunang ialah upaya ke sana..

  4. 4 empress Juli 2, 2008 pukul 6:11 am

    aku juga kurang suka dgn cerpen ini..tandanya kurang suka..ya aku udah baca tapi aku ga gitu ingat lagi sekarang ehehe…kalo ga salah aku kurang suka krn tema nya itu itu lagi..perselingkuhan ..dan penggunaan metafora kunang kunang yg kurang tepat


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: