– BOUQUET

Cerpen Agus Noor

BESOK Mona ulang tahun. Otok ingin memberinya hadiah istimewa. Sesuatu yang bisa mengungkapkan betapa ia sangat mencintainya. Sudah sepuluh tahun mereka menikah, ditambah enam tahun masa pacaran, tetapi Otok selalu tak peduli pada tetek bengek perkara ulang tahun. Baik ulang tahun Mona, lebih-lebih ulang tahun dirinya. Bila diundang pesta ulang tahun, Otok bahkan mencibir: ngapain pakai pesta segala. Ia selalu tak habis pikir, kenapa orang mesti memperingati hari kelahirannya. Pakai pesta lagi. Bukahkah mestinya kita menyesali kelahiran kita di dunia yang begini celaka?!

Tapi, entah kenapa, Otok kini ingin memberi sesuatu untuk ulang tahun Mona. Entahlah, kenapa keinginan itu begitu kuat. Mungkin karena usia Mona yang sudah berkepala tiga. Kata orang, itu usia matang seorang perempuan: Penuh gairah dan impian, seperti benua Amerika, di mana setiap orang ingin ke sana menikmatinya. Tapi mungkin karena ia merasa, betapa hubungannya dengan Mona mulai terasa berjarak. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Percakapan lebih terasa sebagai basa-basi untuk menghindari kebekuan. Belum lagi gosip-gosip yang membuat Otok tak betah. Ia rindu masa-masa pacaran. Ulang tahun mungkin bisa menghangatkan kembali hubungan mereka. Apalagi ketika Indra, kawan baiknya, menyarankan untuk lebih memperhatikan Mona. “Belum terlambat, Tok,” katanya, “dan kamu bisa gunakan momentum ulang tahun itu untuk memperbaiki hubunganmu dengan Mona. Tak banyak kok yang diharapkan perempuan dari laki-laki, Tok. Perhatian, cuma perhatian.”

Otok merasa beruntung punya kawan sebaik Indra. Bila ada masalah, ia memang selalu menceritakannya pada Indra. Dan Indra, dengan penuh pengertian, akan mencarikan jalan keluar. “Sungguh beruntung punya kawan sebaik Indra,” batin Otok, sambil meyakinkan bahwa ia memang mesti memberi sesuatu yang istimewa buat Mona. Tapi apa?

“Beri saja bunga,” kata Indra.

“Bunga?”

“Apa lagi? Orang kayak kita kan cuma bisa beli bunga. Apa pingin bikin pesta yang wah di hotel berbintang atau casino seperti para konglomerat itu? Kalau mereka kan memang kelebihan uang. Nggak penting uang itu hasil kerja keras atau korupsi atau dapat komisi seperti kasus Bank Bali. Atau kamu mau memberi Mona cincin permata? Kalau kamu punya uang sih, ya silahkan. Tapi dari pada kamu terus bingung, sudah, belikan saja bunga.”

Otok manggut-manggut. Bunga. Ya, bunga. Rasanya memang bisa mewakili perasaannya yang kini kembali penuh cinta pada Mona. Ungkapkan perasaanmu dengan bunga, Otok pernah dengar kata-kata itu. Tak heran, bila seorang pecinta yang romantis macam Julio Iglesias menghabiskan lebih dari 50.000 dolar untuk membeli bunga bagi pacar-pacarnya. Lalu apakah ia mesti menghabiskan seluruh gajinya bulan ini untuk membeli bunga?

KEPADA penjual bunga itu, Otok meminta dipilihkan bunga. “Pokoknya, pilihkan saja mana bunga yang menurut Bapak paling indah.”

“Yang mana?” penjual itu balik bertanya. “Ambil saja, mana yang Bapak suka.”

Terus terang, ia tak tahu soal bunga. Baginya semua bunga sama. Semua cemerlang. Semua indah. Semua mempesona. Karena itulah ia tak tahu, mana yang paling pas untuk mengungkapkan perasaannya.

“Buat pacar, Pak?” Penjual bunga itu tersenyum, sambil memberi tekanan khusus ketika mengucapkan kata ‘pacar’. Otok tak terlalu peduli. “Kadang-kadang kita emang perlu variasi, kan Pak. Yah, namanya ajah hidup sekali. Kenapa nggak dipuas-puasin. Ya nggak, Pak?”

“Ini buat istri saya.”

“Istri muda kan….” Penjual itu mengambil setangkai bunga. “Mungkin yang ini cocok, Pak. Ini begonia. Orang Brazil sangat suka. Atau yang ini, hyasin. Dulu para bangsawan Rusia sangat senang menyimpan di vas bunga di kamar tidur mereka. Kalau yang umum, ya macam-macam aster ini. Tapi itu tak spesifik, Pak. Atau Bapak lebih suka mawar saja. Atau azalea ini. Atau gradiol…”

Otok malah tambah bingung. “Terus terang, saya tak mengerti bunga. Bagi saya, semua indah. Bapak pilihkan saja, mana yang kia-kira istimewa, yang bisa mengekspresikan gelora cinta saya.”

“Sesuatu yang khusus, begitu? Kebetulan saya punya yang baru. Mungkin Bapak suka. Ini bukan sekedar bunga, Pak. Tapi bunga biji mata.”

“Bunga biji mata?”

“Kalau memang tertarik, bisa saya ambilkan.” Lalu penjual itu beranjak. Ketika kembali keluar dia sudah membawa rangkaian bunga yang agak aneh; bulat kehitaman berbalut warna putih dengan kelopak hijau cerah.

“Bagaimana….” Penjual itu menyorongkannya pada Otok. Dan saat itulah Otok tergeragap menyadari bulatan di tengah kelopak itu seperti biji mata.

“A-apa-kah i-ni….” Otok tergeragap.

“Ya. Ini biji mata. Biji mata sungguhan.”

“Bapak mencungkil biji mata itu?”

“Bukan. Bukan saya. Saya hanya dapat kiriman dari anak saya yang jadi tentara dan kini tengah bertempur di medan perang. Anak saya bilang, mereka suka mencungkil mata para pemberontak dan perusuh. Mula-mula iseng, sekedar membunuh waktu dan melepaskan ketegangan. Tapi kemudian jadi kebiasaan. Setiap orang yang mereka curigai sebagai perusuh, langsung mereka cukil matanya. Tak perduli anak-anak atau perempuan. Nah, anak saya suka ngumpulin biji mata itu. Juga beberapa kawannya. Ada yang dibuat jadi mata akik, jadi kalung atau bahkan jimat. Bila kebetulan pulang, anak saya suka membawa sebaskom biji-biji mata itu. Lalu saya fikir, dari pada tergeletak nganggur, ada baiknya biji-biji mata itu saya bikin jadi kuntum-kuntum bunga. Saya tinggal memberinya kelopak dan tangkai kawat. Lihatlah, indah sekali, kan?”

Otok terpana.

“Di dalam masih banyak. Ketika saya katakan pada anak saya kalau biji mata itu bisa dibikin bunga, anak saya jadi kerap kirim. Begitu pun kawan-kawan sepasukannya. Malah lewat surat, anak saya bilang, kalau mereka bisa mencarikan sebanyak mungkin biji-biji mata itu. Sejak terjadi banyak kerusuhan, memang, kiriman biji mata jadi melimpah. Orang-orang kini jadi gampang main cukil mata orang yang dibencinya. Sebagai penjual bunga, tentu saja saya jadi memiliki peluang untuk mengembangkan usaha. Siapa tahu, bunga biji mata ini banyak yang suka. Saya malah sudah mencoba untuk mengekspornya juga. Bukankah ini bisa jadi sumber devisa. Ha ha ha…”

Otoktak tahu harus bagaimana menanggapinya.

“Lihatlah, mata yang kelam ini, “ Penjual bunga itu memperlihatkan sebutir biji mata pada Otok. “Ini biji mata perempuan yang diperkosa….”

Otok merasa, betapa biji mata itu menatap tajam padanya. Seperti ada kepedihan membeku dalam biji mata itu.

“Bagaimana? Mau beli berapa?”

LAMA Otok hanya memandangi ikatan bunga biji mata itu. Ada sesuatu yang terus berpendaran dan berkilatan dalam biji-biji mata itu, yang membuat Otok kian terkesima. Terlihat aneh dan ganjil, tetapi Otok bisa merasakan ada gelora yang memancar dari mata itu. Aneh, karena baru kali ini Otok melihatnya. Ganjil, karena Otok tak habis mengerti kenapa ada orang tega mencukil biji mata kemudian dibuat jadi setangkai bunga? “Ah, lama-lama juga biasa,” batin Otok, saat ia meyakinkan diri betapa bouquet biji mata itu memang mengandung pesona yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.

Otok pulang dengan perasaan lega, karena pada akhirnya ia bisa memberi sesuatu yang istimewa untuk ulang tahun Mona.

Sembari menunggu Mona pulang, Otok meletakkan boequet itu pada vas. Kian ia pandang kian ia rasakan betapa mata itu berkilat menatapnya. Mata yang bening, dengan bayangan langit jingga. Otok merasa ada banyak rahasia tersimpan di sana. Jam dinding berdentang. Hampir tengah malam, tapi Mona belum juga pulang. Akhir-akhir ini Mona memang sering telat pulang. “Lembur”, jawab perempuan itu datar, setiap Otok bertanya kenapa terlambat. Tapi sekilas, Otok merasa Mona menyembunyikan sesuatu — entah apa — dalam matanya. Ia memang dengar selentingan tentang Mona. Tapi Otok percaya, Mona masih mencintainya.

Terkantuk-kantuk, Otok bertahan menunggu, sambil terus memandangi bouquet itu. Dalam keremangan, biji-biji mata itu seakan memancarkan sinar kepedihan. Mungkin mata itu teringat ketika tiba-tiba sepasukan tentara menyeretnya dan langsung mencungkil matanya. Ia sering mendengar bisik-bisik kekejaman seperti itu. Mungkin itu mata aktivis-mahasiswa yang diculik, disekap dan disiksa. Lantas mayatnya dibuang entah ke mana setelah kedua matanya dikerok dengan sendok. Ia pernah dengar juga bagaimana dalam sebuah kerusuhan, seorang wanita yang tengah hamil dijebol perutnya. Bayi dalam rahim wanita itu diambil, kemudian dipenggal kepalanya. Jangan-jangan mata bayi yang masih merah itu dicukilnya juga. Dari bouquet mata itu, Otok seperti mendengar lengking tangis, gemeretak rumah terbakar, teriakan-teriakan, rentetan senapan….

“BELUM tidur?”

Otok tergeragap. Mona sudah berdiri di pintu yang barusan dibukanya.

“Aku menunggumu.” Kikuk, Otok membalas senyum Mona. Perempuan itu nampak kusut dan capai, membuat Otok merasa bersalah kenapa membiarkan Mona bekerja sampai larut begini. Tapi ia tak bisa apa-apa, karena gajinya toh tak seberapa.

“Selamat ulang tahun….” Otok mendekati Mona, “Aku ada hadiah kecil untukmu. Semoga kamu suka.”

Diberikannya bouquet itu.

“Bagaimana?”

Mona terbelalak, setengah memekik. “Alangkah indahnya! Aku belum pernah melihat bunga seindah ini.”

“Itu biji mata.”

“Biji mata?”

“Ya, biji mata orang yang mati disiksa.”

“Terima kasih,” Mona tersenyum. “Tumben kamu ingat ulang tahunku?” Dikecupnya pipi Otok.

“Maaf, kalau selama ini aku tak perduli.”

“Tak apa. Aku ngerti kok.”

“Kamu suka bouquet ini?”

“Tentu saja. Sangat suka!”

Mona memeluk Otok manja. Membuat Otok merasa begitu bahagia. Betapa pada akhirnya ia bisa membahagiakan Mona. Otok benar-benar merasa beruntung punya istri pengertian dan setia seperti Mona.

Malam itu Otok tidur nyenyak dan mimpi indah.

Sementara Mona tergolek di sampingnya, meringkuk dengan wajah merengut. “Dasar laki-laki tak tahu diri,” makinya dalam hati. “Masa ulang tahun dikasih bunga busuk macam begitu!”

Lalu Mona teringat pada Indra yang diam-diam pacaran dengannya. Sejak sore tadi ia menghabiskan waktu di losmen bersama laki-laki itu. Mona ingat pada cincin yang diberikan Indra untuk ulang tahunnya. Untunglah, ia sudah menyimpannya.

Yogyakarta, 1999

(Catatan: Cerpen ini diunggah dari buku kumpulan cerpen Agus Noor Memorabilia, Penerbit Yayasan Untuk Indonesia, 1999)

0 Responses to “– BOUQUET”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: