– KUPU-KUPU SERIBU PELURU

Cerpen Agus Noor

BAGAIMANAKAH kami mesti mengenang perempuan buta itu – yang liang selangkangnya bengkak karena dosa, dan sekujur tubuhnya bergetah nanah kena kusta! Adakah ia sundal ataukah santa?

RASANYA belum lama lewat. Selepas hujan tengah malam, sebelum sulur cahaya fajar mekar, seorang peronda terkesiap gemetar: di dekat kandang kuda samping gereja, ia melihat gadis kecil menggigil, bugil, seperti peri mungil yang usil hendak menakut-nakutinya. Segera ia tabuh kentongan yang dibawanya. Dan puluhan warga seketika terjaga, juga bapak pendeta. Setelah kepanikan mendengung bersahut-sahutan, perlahan-lahan suasana jadi tenang, dan mereka pun segera mendekati gadis kecil yang ketakutan serta kedinginan itu. Dengan lembut bapak pendeta menyelimutkan jubahnya ke tubuh gadis kecil itu, sembari berbisik perlahan, “Domba kecilku…” Ia terpesona oleh mata bening si gadis kecil.

Ketika pagi yang lembut terasa seperti hosti, warga kota pun mulai mengerti: betapa kota mereka yang tenang seakan-akan telah terbekati. Gadis kecil itu telah dikirim dari langit untuk membuat hidup mereka yang tenang menjadi lebih riang. Kemudian, ketika duduk-duduk di kedai kopi, beberapa orang mulai bercerita perihal mimpi yang mendatangi mereka malam-malam sebelumnya. Seseorang mengatakan, kalau ia bermimpi melihat gugusan bintang cemerlang menaungi kota. Seorang lagi bercerita bahwa ia bermimpi melihat sekawanan bangau bersayap cahaya terbang melintasi kota mereka. Seseorang yang lain menceritakan pijar api biru yang dilihatnya meluncur dari langit menuju atap gereja. Yang lain menambahi, betapa ia sesungguhnya sudah merasakan tanda-tanda keajaban ini sebelumnya, ketika ia melihat bunga-bunga di halaman rumahnya bermekaran begitu indah melebihi biasanya.

“Dan kau tahu…,” seseorang berkata penuh senyuman. “Aku bahkan sudah merasakan kehadirannya, ketika seluruh kudis di tubuhku tiba-tiba mengering dan mengelupas. Saat itu aku merasakan ada hembus lembut yang berkali-kali meniup-niup kulitku. Aku yakin, itulah nafas lembut bidadari kecil itu…” Wajahnya begitu cerah, seperti seseorang yang begitu percaya betapa Tuhan barusan mengampuni seluruh dosa-dosanya. Kemudian seseorang yang bermulut murung langsung menimbrung, “Ya, saya juga merasa, ketika tahu genjik saya yang baru lahir berkaki lima!”

Kisah-kisah ajaib bermekaran, membuat percakapan di kedai kopi yang biasanya berlangsung datar membosankan menjadi lebih bergairah. Para pembual dan tukang cerita seperti menemukan kesempatan untuk mengembangkan imajinasinya.

TAPI, bagaimana pun, gadis kecil itu memang membuat kota kecil ini jadi menggeliat dan lebih hangat. Sudah begitu lama segalanya terasa lamban dan membosankan, karena semua hal nyaris sudah mereka percakapkan dan rasakan. Pantai yang putih, teluk yang jernih. Juga lorong-lorong kota yang begitu tertata bersih. Sudah lama semua itu enggan mereka percakapkan, karena terkesan jadi seperti menyombongkan. Sebab tanpa mereka percakapkan pun semua orang sudah tahu tentang kota mereka yang kecil dan indah, hingga banyak pelancong begitu terkesan dan kerasan. Bangunan-bangunan tua yang terawat, dimana setiap riwayat tergurat, seperti selalu mengisahkan kembali sejarah kota yang penuh kedamaian. Jembatan dan kanal, gereja dan dermaga, kedai-kedai kopi sepanjang jalan utama – ah, apalagi yang masih perlu dipercakapkan?

Keriangan gadis kecil itu membuat warga kota seperti menemukan kembali cahaya terang dalam pikiran mereka, seakan disadarkan dari ketenangan dan kelambanan yang selama ini justru telah terasa membosankan. Ketika gadis kecil itu meloncat-loncat riang mengikuti bapak pendeta yang berjalan keliling kota menenteng piskis, mereka jadi lebih antusias memerhatikan, dan terpesona pada keredap cahaya matahari yang memantul dari tepi nampan perak itu. Ketika gadis kecil itu bermain-main di alun-alun kota bersama kawanan merpati, orang-orang tak hanya melihat burung-burung yang berhamburan berebut remah roti sebagaimana yang selama ini mereka saksikan, tetapi juga bisa melihat bercak kecoklatan di kaki-kaki ramping burung merpati itu, alur dan galur garis-garis lembut dibulu-bulunya, juga pada jejak-jejak halus yang nyaris merata menutupi permukaan tanah yang tak terlalu basah. Mereka jadi bisa merasakan bau lembab rerumputan. Mereka seperti kembali menemukan kegembiraan ketika memandangi patung perempuan dari batu pualam yang mendekap jambangan. Sekarang bisa mereka lihat serat-serat coklat di leher patung itu, seperti gegurat urat pada selembar daun yang menua, lantaran cahaya terasa lebih cemerlang menerangi kota mereka. Kini mereka juga suka memerhatikan gemericik pancuran yang mengucur dari jambangan itu, ketika menyentuh permukaan kolam. Percik-percik air itu berloncatan seperti puluhan anak-belalang bertubuh terang. Ketika mereka selesai menikmati segelas kopi, mereka pun tak hanya melihat sisa ampas, tetapi juga liuk lekuk bekas bibir mereka di gigir gelas. Mereka bisa melihat dengan jelas oroma kelabu yang keluar dari mulut seseorang yang baru saja menikmati anggur. Segalanya seakan-akan menampakkan diri lebih jelas, dengan seluruh kelembutan dan pesona detail-detailnya. Hingga keheningan tak hanya terasa begitu dekat, namun juga pekat.

Semuanya tumbuh bersama gadis itu, yang membuat warga kota menjadi lebih giat mendatangi gereja. Mereka begitu senang setiapkali mendengar gadis kecil itu bernyanyi. Orang-orang bisa melihat halus pipi bocah itu bersemu kemerahan. Rambut kalongnya yang lembut, dan beberapa helai rambutnya yang karena keringat melekat di lehernya yang kuning mengkilat. Bulu matanya melengkung lentik, seakan menaungi sepasang matanya yang hening agar tak terkena guguran debu-debu dosa.

Gadis itu tumbuh, seperti perasaan seorang beriman yang diberkahi kedamaian. Dan warga kota pun selalu teringat tanda-tanda yang menyertai kemunculannya, sebagaimana selama ini tak bosan-bosan terus-menerus mereka percakapkan: ia datang dari gugusan bintang cemerlang dibawa sekawanan bangau bersayap cahaya kemudian menjelma pijar api biru yang meluncur menuju atap gereja hingga bunga-bunga di halaman rumah bermekaran begitu indah melebihi biasanya dan membuat kulit penderita kudis seketika mengering serta seekor anak babi bisa terlahir dengan kaki lima…

“Bagaimana pun,” kata bapak pendeta, “kita seringkali melihat kemegahan cahaya yang menandai kedatangan mereka yang mulia. Atau terkadang ia terlahir di sebuah kandang…”

Dan orang-orang pun teringat, betapa gadis kecil itu ditemukan seorang peronda, meringkuk di dekat kandang kuda.

KEHIDUPAN di kota kecil itu pun tak lagi menggeliat lambat.

Perlahan-lahan, meski pun segalanya masih terasa begitu khidmat, mereka mulai merasakan ada sesuatu yang menggeliat gawat. Mereka menyaksikan bocah cilik itu sudah menjadi gadis yang seranum buah murbai. Tawanya begitu bergerai, bergerak gemulai, dan ia melangkah amat semampai. Kemudian jalanan dipenuhi baju-baju aneka warna, karena anak-anak muda kini selalu berpakaian cerah. Ada sesuatu yang tumbuh, melebihi gairah pesta-pesta yang setiap malam seringkali digelar sepanjang trotoar. Sesuatu yang membuat anak-anak muda itu tertawa lebih keras, dan merasa tak perlu untuk cepat-cepat menutup mulut mereka dengan tangannya. Malam lebih panjang dengan keramaian, terompet dan nyanyian. Dan selalu, di puncak kemeriahan, terjadi perkelahian. Karena setiap pemuda berebut ingin berdansa dengan gadis paling jelita di kota. Karena setiap pemuda merasa paling berhak dan ingin menjadi penguasa satu-satunya. Sedangkan gadis-gadis lain menangis – juga histeris – karena merasa diabaikan, terhina dan diluapi kebencian. Fitnah dan hujah pun membuat gatal dan resah. Setiap gunjingan kemudian menudingkan jari telunjuknya ke arah gadis itu, yang selepas malam selalu terlihat bersama beberapa pemuda berkeliaran beramai-ramai sepanjang pesisir pantai…

“Dan itu hanya dilakukan para lonte!” para perempuan mulai bergunjing, sambil memperhatikan tingkah lalu para lelaki yang belakangan ini memang lebih suka menghabiskan waktu di tepi pantai ketimbang duduk-duduk di kedai. Para istri mulai menajamkan mata, mengawasi suami-suami mereka. Tentu saja, para suami yang merasa tak dipercaya jadi gampang meluap marah. Nyaris, sepanjang hari, bila kini engkau berkunjung ke kota kecil itu, engkau akan mendengar suara pipi ditampar, teriak perempuan kalap mencakar-cakar, umpatan-umpatan kasar.

Tak mengherankan, apabila gadis cantik itu terlihat melintas, para perempuan buru-buru menghindar dengan gegas…

MELEBIHI usia tua yang celaka, bapak pendeta mulai gelisah ketika dari hari ke hari kian sedikit warga kota yang berdoa bersamanya. Para perempuan enggan datang ke gereja, bila gadis itu ada di sana. Kaum lelaki, yang tak mau terlalu kelihatan memendam birahi, juga jadi sungkan mengikuti ekaristi. Bau sunyi mulai membuat gereja itu terlihat pasi setiap Minggu pagi. Bapak pendeta tak juga menemukan jalan bijaksana, bagaimana ia mesti mengatakan ini semua, tapi tak membuat hati gadis itu terluka.

Saat bapak pendeta berdoa agar diberikan jalan keluar, ia mendengar kerekit pintu gereja terbuka, kemudian suara langkah kaki diseret pada lantai kayu yang kasap. Bulu-bulu tengkuknya seketika meremang, saat ia merasakan ada sehembus angin halus: seakan-akan ia merasakan kehadiran sesuatu yang kudus.

“Maafkan saya, Bapa…” terdengar suara yang begitu dikenalnya. “Saya telah menyusahkan Bapa. Biarlah saya yang tak lagi ke gereja. Saya akan kembali ke kandang kuda. Karena dari sanalah asal saya…”

Betapa terbelalak bapak pendeta, ketika menatap gadis yang berdiri hadapannya. Lihatlah mata gadis itu: matanya tak sebak air mata, tapi darah! Gadis itu telah mencongkel kedua biji matanya dengan jari-jarinya sendiri, karena tak mau lagi melihat dosa. Karena semua yang dilihatnya tiada lain ialah dusta. Bapak pendeta menunduk gemetar, tak tahan melihat darah yang masih basah terus merembes keluar dari liang mata gadis itu…

Kota kecil itu pun gemetar.

KETIKA dengan cepat kabar itu menyebar, orang-orang menyaksikan senja yang seolah bergetar, dan jantung mereka begitu berdebar. Seseorang bercerita, betapa selintas ia melihat liang mata gadis itu bengkak dan memar. Lalu seorang tukang sapu dikabarkan menemukan biji mata gadis itu, tergeletak di belukar belakang kandang kuda. Biji mata itu sudah mengisut digerumut semut. Tapi tukang sapu itu hanya menemukan satu biji mata. Sedang yang satunya, entah ke mana. Mungkin sudah digondol celurut. Orang-orang mendengarkan cerita itu dengan mulut asam dan kecut, serasa mengunyah cuka.

Gadis itu tak lagi kelihatan di gereja. Berhari-hari gadis itu mendekam di kandang kuda, berdoa. Sejak itu, warga kota selalu mendengar gumam gema suara orang doa yang mengalun dari arah kandang kuda. Seperti laut yang mulai pasang, gema suara orang berdoa itu dari hari ke hari semakin membuat suasana seakan mengapung mengambang. Apabila engkau berjalan-jalan menyusuri kota, engkau bisa merasakan bagaimana cuaca mulai meredup dan semua suara mendadak susut, dan yang terdengar hanya gema doa yang membuatmu diluapi kesedihan yang asing. Dan engkau akan menyaksikan orang-orang yang berjalan dengan menundukkan kepala.

Warga kota kini lebih banyak berdiam diri ketika duduk-duduk di kedai kopi. Mereka gampang terkejut, bahkan oleh denting paling pelan suara sendok yang menyentuh gelas. Apabila saat ini engkau berada di antara mereka, engkau bisa merasakan raut cemas yang menyelusup halus dalam senyum ramah mereka.

Apalagi ketika mereka melihat gadis itu – yang kian terlihat begitu cepat tua – melintas di jalan, bila ia membutuhkan makanan. Orang-orang dengan bergegas akan menghindar, warung-warung akan segera menutup kerai dan pasar segera bubar. Karena ketika ia berjalan tidak terlihat menyedihkan, tapi mengerikan. Sementara gema doa bagai membungkus tubuhnya, ia terlihat tertatih-tatih dengan sepasang tangan yang seakan-akan selalu merabai punggung udara. Gaun etamin hitam yang serupa jubah, terjulai hingga bagian bawahnya menyapu tanah. Debu-debu halus berleduban setiap kali perempuan itu melangkah. Wajahnya selalu tertutup selendang usang, tapi orang-orang tetap saja bisa memandang sepasang liang matanya yang remang. Lebih-lebih bayangan wajahnya yang ledang. Bahkan orang-orang lebih ketakutan pada sepasang liang yang tak lagi berbiji mata itu, karena mereka percaya: justru setelah buta, perempuan itu mampu melihat semua yang kasat-mata. Ia bisa merasakan kebusukan yang dengan penuh kesopanan disembunyikan.

Ketika berlangsung pesta yang diadakan untuk membangkitkan kembali kenangan-kenangan bahagia yang pernah memulas kota dengan warna-warna keriangan – karena bagaimana pun kota ini mesti tak boleh terbenam dalam kemurungan – mendadak perempuan itu muncul. Ia sudah berdiri di dekat pancuran, menuding ke tangan-tangan warga yang tengah bersulang. “Yang kalian minum bukan anggur, tapi darah seorang pelacur…” Suaranya bagai muncul dari bawah tanah yang seketika bergetar seperti punggung orang yang terbatuk-batuk. Saat itu pula mereka mencium bau yang amis, serupa miasma yang menguap dari rawa-rawa. Beberapa hari kemudian, perempuan itu berdiri di tengah jalan menghentikan kereta walikota. Sementara para pengawal walikota hanya mematung tak berdaya, bagai tersihir, perempuan buta itu segera mendekati walikota dan langsung menepuk-nepuk punggungnya. Saat itulah orang-orang yang menyaksikan melihat puluhan ekor ular keluar dari lobang telinga walikota. Beberapa ekor juga keluar dari mulutnya, dari hidungnya, dari duburnya…

Pernah pula, perempuan buta itu mengatakan kepada beberapa gadis yang berpapasan di jalan, agar segera membuang lintah yang memenuhi perut mereka. Kepada seorang saudagar perempuan itu mengingatkan agar tak lagi makan belatung. Ia membuat malu seorang guru karena dikatakan suka menggauli anak kandungnya yang gagu. Dengan tegas ia menuding hidung seorang tentara yang dikatakannya gemar memperkosa. Ia mengucapkan semua itu semudah orang menyemburkan ludah. Kadang-kadang caranya berkata-kata seperti seseorang yang tengah menyumpah. Bahkan ia begitu kurang ajar mengatakan bapak pendeta tak cukup beriman untuk membimbing para jamaahnya!

Itulah yang membuat orang-orang dengan gemetar menghindar. Ia mengerikan karena telah menyerahkan jiwanya pada setan, hingga ia dapat melihat dalam kegelapan seperti makhluk malam. Setiap pintu rumah orang terhormat tak akan terbuka setiapkali ia mengetuknya. Setiap orang kemudian berdoa agar perempuan buta itu terkena lepra…

KARENA tak diterima di kota, perempuan itu lebih sering terlihat memandangi laut, seakan seorang peramal yang mencari isyarat maut. Kadang sepanjang hari ia berdiri di tebing karang di kelilingi burung-burung camar, atau menyusuri pantai memunguti barai, kerang atau lengkitang. Ia menyeruput siput-siput itu langsung dari cangkangnya, membuat jijik siapa pun yang melihatnya. Kecuali pelacur-pelacur miskin yang menghuni gubug-gubug rumpang di sisi dermaga, yang segera meniru kelakuannya; karena menganggap perempuan itu mengajarkan kepada mereka satu cara mengatasi kelaparan. Karena itulah, setiap sore, para pelacur itu mengundangnya untuk bertandang ke gubug mereka. Dengan cepat ia menjadi dekat dengan para barua, mucikari, kecu, pencoleng, budak-budak pelabuhan, para begundal dan juru mudi kapal.Para pelacur selalu terhibur dengan kisah-kisah yang didongengkan oleh perempuan itu. Para mucikari melayani perempuan itu dengan setulus hati. Para budak menghormati perempuan itu karena mau menemani mereka tidur di geledak. Mereka memperlakukan perempuan itu begitu istimewa, karena menganggap perempuan itu santa pelindung kaum pendosa.

Sementara senja kian muram. Di kedai-kedai kopi orang-orang lebih banyak diam. Hanya sesekali mereka mengingat perempuan itu dengan pedih, dengan sesal yang tak berkesudahan. Kemudian kisah lama hadir, dengan suasana berbeda. Kenapa, dulu, tak kita buang saja gadis cilik itu ke laut? Ia pasti keturunan putri duyung yang suka menggoda dengan nista dan airmata, seseorang berkata. Atau dia memang anak jadah dari rahim seorang pelacur yang sengaja membuangnya, timpal yang lainnya.

“Sejak pertama kali ia ditemukan, aku sesungguhnya sudah ingin mengingatkan, kalau sebelumnya aku bermimpi buruk: kota kita diserbu jutaan burung pelatuk. Aku ingin menceritakan mimpi itu, tapi aku takut kalian tak mempercayainya waktu itu…” kata seseorang sembari membuang pandang, seperti seorang munafik yang ingin menyelamatkan diri.

“Sesungguhnya aku berdusta soal mimpi burung bangau bersayap cahaya…”

Kemudian setiap orang mengisahkan mimpi-mimpi lainnya, yang jauh berbeda dengan yang dulu mereka katakan.

Kota kecil di tepi teluk itu seperti wajah orang tua yang mengantuk, sementara kecewaan kian lama kian menumpuk. Perempuan itu membuat kota mereka yang indah menjadi berbau nanah. Dari arah pelabuhan selalu terdengar suara pelacur-pelacur yang mengikik, lebih menyebalkan dari suara jangkerik. Para begundal mengerang dihisap mulut sundal. Mereka, kaum pendosa, membuat kota ini celaka. “Karena kepada para pelacur dan pencoleng yang menjadi kaumnya, perempuan buta itu selalu berbicara tentang sorga tapi membiarkan mereka saling remas kelamin di hadapannya,” kata seorang warga, sambil tangannya menunjuk arah dermaga. Terkutuklah perempuan itu! Dia najis, karena membiarkan puting susunya yang garing dihisap pengemis-pengemis kudis. Dia iblis, karena dengan lidahnya mau menjilati borok di selangkang pelacur yang terkena sipilis. Dia nista, karena melayani budak dan bromocorah dengan tubuhnya. Dia sundal, karena bersenggama dengan ratusan begundal…

Dan perempuan buta itu sungguh-sungguh tak terampunkan, ketika perutnya bengkak oleh dosa, dan ia mengaku mengandung bayi buah cintanya dengan malaikat. Dari hari ke hari perut perempuan buta itu kian membengkak. Dan para pelacur sundal pencoleng begundal yang selalu mengelilinginya kian yakin kalau perempuan itu memang santa, karena mereka melihat dari rahimnya memancar cahaya. Apalagi ketika seorang dari begundal itu bercerita, betapa dia suatu malam melihat cahaya berkilauan turun dari surga. Itulah cahaya yang memancar dari sepasang sayap malaikat, yang segera menghampiri perempuan buta itu. Laut seperti memejam, ombak redam, ketika malaikat dan perempuan buta itu berciuman.

“Kalian dengar omong kosong para sundal dan begundal itu?” gelegak seorang warga yang tak lagi bisa menahan geram. “Bahkan mereka berani berdusta kalau malaikat mau bersenggama dengan seorang perempuan buta!”

Di puncak kemarahan, puluhan warga kota segera mendatangi bapak pendeta. Bagaimana pun perempuan bidah itu mesti ditangkap, dirajah. Dengan bijaksana bapak pendeta menyerahkan semuanya kepada walikota. Maka segeralah dikirim bala tentara, mengobrak-abrik pelabuhan, mengusir pergi para sundal dan begundal. Dan perempuan buta itu diseret, dilecut punggungnya sepanjang perjalanan menuju penjara. Setiap warga melempari tubuh perempuan itu dengan batu, sambil menghujah marah.

“Bidah!”

“Penyihir!”

“Lonte!”

Kemudian perempuan itu dilemparkan ke ruang penjara bawah tanah. Di sel pengap sempit dengan ujung-ujung besi runcing yang saling jepit saling kait. Sel yang penuh ular keling dan kalajengking. Berhari-hari, berbulan-bulan, tanpa makanan.

PADA bulan ke delapan, keputusan telah dimaklumatkan. Perempuan itu mesti mati sebelum bayi itu dilahirkan. Karena kota ini mesti dibebaskan dari rantai kutukan. Karena dosa mesti ditumpas sebelum sempat tumbuh lagi satu tunas. Dan seluruh warga kota yang mulia dan terhormat sepakat, perempuan itu mesti dirajam dengan tembakan. Setiap warga yang memiliki senapan boleh ambil bagian.

Pistol-pistol tua yang selama ini tersimpan dalam peti atau lemari, dikeluarkan dan dibersihkan. Senapan berburu yang selama ini hanya jadi pajangan, segera diturunkan. Peluru-peluru disiapkan. Yang belum punya senapan, segera membeli di pasar loakan. Atau pinjam pada kenalan. Seluruh lelaki di kota itu telah menenteng senapan, berdiri di sepanjang jalan. Bahkan banyak juga perempuan yang dengan gembira mengacung-acungkan senapan. Sementara di alun-alun kota, dimana hukuman akan dilaksanakan, beratus-ratus bala tentara sudah siap dengan senapan di tangan yang siap ditembakkan.

Dan inilah prosesi pembantaian yang paling dinantikan…

Langit bersih, siang itu, seperti merestui. Seluruh warga kota sudah memenuhi alun-alun, ketika perempuan buta itu diseret keluar dari penjara bawah tanah. Ia melangkah dengan kaki yang tak goyah. Perutnya bertambah besar. Liang matanya terlihat kian kelam. Rambutnya dipenuhi sindap, lengket bergempal-gempal bau apak. Tubuhnya penuh keranta, meruapkan aroma kematian. Tapi lihatlah, betapa ia tampak damai. Meski sekujur tubuhnya penuh koreng. Jari-jari tangannya menggeropeng, beberapa nyaris putung digerogoti kusta. Sikapnya seperti seorang perempuan yang bersikeras mempertahankan martabat. Di atas panggung hukuman, tepat di tengah alun-alun kota, ia berdiri memandangi langit dengan sepasang matanya yang buta.

Dosa sebentar lagi dilenyapkan. Beratus-ratus lup senapan diarahkan. Ketika segalanya kiat dekat, keheningan kian terasa sempurna. Saat itu, bila engkau ada di sana menyaksikan itu semua, engkau akan bisa mendengar suara air mata yang bergulir dari keluk kelopak mata. Karena bagaimana pun segalanya terasa menyedihkan ketika engkau melihat ke arah perempuan butu itu. Ia terlihat sengsara, menjijikkan, tetapi memancarkan kedamaian…

Kemudian detik seketika meledak. Sementara delap menguap dari tiap ujung senapan yang berkali-kali ditembakkan, beribu-ribu peluru menghambur menyerbu mengepung tubuh perempuan buta itu dari segala penjuru. Beribu-ribu peluru yang menderu, hingga engkau bisa mendengar suara peluru-peluru itu berdesing-desing membelah udara yang kering, dan kau lihat percik-percik cahaya memenuhi udara. Cahaya? Di bawah sinar matahari, beribu-ribu peluru itu memang terlihat bagai biji-biji cahaya yang berlesatan, membuat terkesima siapa pun yang melihatnya. Dan orang-orang kian terkesima: ketika senapan terus menerus ditembakkan hingga ribuan peluru terus berlesatan di udara, tapi pada saat itu juga, peluru-peluru itu saling bertubrukan dan pecah menjadi keping-keping cahaya bening yang terbang melayang-layang seperti kupu-kupu. Ya, kupu-kupu! Kami menyaksikan beribu-ribu peluru itu seketika menjelma kupu-kupu sebelum menyentuh tubuh perempuan buta itu…

Terdengar suara puluhan senapan terlepas berjatuhan, sementara setiap orang menyaksikan semuanya dengan penuh ketakjuban. Beribu-ribu kupu-kupu dengan sayap yang membiaskan cahaya lembut aneka warna, terbang melayang-layang, kemudian mulai hinggap di tubuh perempuan buta itu. Hinggap di kedua tangannya yang terentang, seakan-akan ia disalibkan. Hingga di kepalanya, seakan tengah memahkotainya. Hingga seluruh tubuh perempuan itu penuh kupu-kupu, dan berkilauan memancarkan cahaya. Lalu, bergitu pelan, beribu-ribu kubu-kupu itu mengangkat tubuh perempuan itu, hingga tampak seperti balon udara yang tengah mengangkasa. Terus membumbung. Berkilauan dalam kemegahan sayap-sayapnya, kemudian gaib ditelan langit.

Kami terkesima memandanginya, tetapi kami juga merasa begitu hampa. Ada yang tak kunjung kami fahami, hingga kini. Bagaimanakah kami mesti mengenang perempuan buta itu?

Jakarta, 2004.

6 Responses to “– KUPU-KUPU SERIBU PELURU”


  1. 1 clara Mei 9, 2008 pukul 1:53 pm

    Sepertinya ini cerpen Mas Agus kesekian yang bersinggungan dengan kupu-kupu. Kenapa kupu-kupu, Mas?

  2. 2 agusnoorfiles Mei 9, 2008 pukul 2:25 pm

    Hmm…karena ada kupu-kupu di dadaku…

  3. 3 mufti Mei 12, 2008 pukul 5:18 am

    Salah satu cerpen agus noor favorit saya, padahal saya nggak terlalu paham isinya.😀

  4. 4 Cok diah April 24, 2010 pukul 4:15 am

    Wah,, cerpen isiny bgs bgt…
    Mas gmn shi crny buat cerpen dg kt2 yg imajinatif seperti itu??
    Makasi…

  5. 5 Kornelia Tutwuri Agustus 21, 2010 pukul 1:53 pm

    ggiillaa…gag nyangka ada cerpen yg endingnya…aaarrgghhh…

    susah ditebak

    mantep !!!

  6. 6 rizky Januari 18, 2013 pukul 4:18 am

    Wah Cerpennya bagus sekali.
    Mas, kalo boleh tau, sosok wanita yang buta itu representasi dari apa ya?
    Mohon bantuannya, soalnya saya sedang mengkaji cerpen ini untuk tgs ahir kuliah. mksh.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: