– INSENSATEZ

Insensatez

Cerpen Agus Noor

MAYA telanjang, telentang di ranjang. Dan aku memandanginya gamang. Seperti ada keasingan yang perlahan menggenang, memenuhi kamar. Cahaya kekuningan lampu kamar yang remang membuat kulitnya yang langsat seperti diluluri madu. Dia menggeliat, memberi isyarat agar aku segera mendekat. Tapi aku hanya duduk di sofa, memandanginya. Ada sesuatu yang tak kunjung aku fahami. Padahal dia sudah menyiapkan suasana yang begini romantis. Musik yang lembut, yang selalu diputarnya berulang-ulang bila kami bercinta. Harum opium yang menyebar dari asap aroma terapi begitu meneduhkan, dan membuatku melayang. Kenapa aku malah begini gelisah? Dia bangkit meraih selendang yang terkulai di lantai, kemudian menatapku. Lekuk susu dan bentuk putingnya yang tegak, agak ganjil di antara silhuet kaki-gelas yang ramping.

Ada apa? Kau lagi sungkan bercinta?” Dia bangkit, bersijengkat mendekat.

Lihatlah caranya berjalan yang seakan-akan melayang, bagai mambang keluar dari rerimbun petang. Jari-jarinya terasa lebih lentik ketika dia menenteng dan memain-mainkan selendang.

Kau lagi tak selera?”

Dia bersimpuh, merebahkan kepalanya di antara kedua pahaku yang berselonjor di sofa. Nafasnya hangat. Jejarinya dengan lembut mengurut bagian bawah perut, kemudian mengusap menelusup pelan di selangkang, menekan-nekan kerampang, hingga aku menggelinjang. Dia memang begitu hafal, bagaimana membangkitkan birahiku dengan cara sedikit nakal!

Tapi, untuk kesekian kali, aku merasakan sesuatu yang kian mengasingkanku.

Kenapa? Kamu sudah mulai merasa bosan?” Ditekannya kepalaku ke sandaran sofa. “Katakanlah, apakah aku telah membuatmu bosan?” Suaranya seperti ciuman yang mengharapkan balasan.

Tidak. Aku tidak bosan. Aku hanya merasa ada yang tak kunjung aku fahami. Entahlah…

Aku ngerti, kamu mulai berfikir bagaimana caranya meninggalkan aku!”

Aku menggeleng.

Kamu akan menyelinap pergi dari kehidupanku, seperti kamu menyelinap keluar dari kamar pelacur yang barusan kamu setubuhi!”

Dia mengangkat bahuku, hingga kami bertatapan begitu dekat. Ujung hidungnya menyentuh ujung hidungku. Dia mulai menciumi leherku, menjilati telingaku sambil mendesah, “Aku akan membuatmu tak mungkin meninggalkanku…” Lalu tangan kanannya bergerak pelan ke arah dadaku. Jari-jarinya mengembang, menyentuhkan ujung-ujung kukunya yang berkutek ungu, tepat di bagian ulu. Dia tersenyum. “Aku akan mengambil hatimu, bila perlu…” Lantas dengan tenang dia merancapkan kukunya ke dadaku, membuat sayatan, seperti pisau dokter yang melakukan pembedahan. Lalu dia benamkan telapak tangannya merogoh dadaku… Dan, dengan sekali sentak membetot hatiku.

Bagai ada yang tiba-tiba lepas, dan aku merasakan tubuhku seringan kapas.

Dia menyeringai, bergairah, seperti baru saja mendapatkan kegembiraan baru yang belum pernah dirasakan sebelumnya. “Bagaimana kalau kita bermain-main sebentar? Mungkin ini akan membuatmu sedikit terangsang…”

Aku kian terbenam dalam keasingan yang memenuhi kamar, ketika menyaksikan dia mulai meliuk-liuk, menari, memain-mainkan hati yang terus menetes-neteskan darah itu. Dia menciumi dan menjilati hati itu, hingga darah belepotan di bibir dan pipinya. Dia menari meliuk-liuk mendesah menggesek-gesekkan hati itu ke seluruh bagian tubuhnya, seperti tengah bermain-main dengan sabun mandi. Hingga seluruh tubuhnya memerah belepotan darah. Kemudian ia berdiri mengangkangiku. Dan ia kian meliuk-liuk jalang, ketika aku mulai terangsang.

Rasa asing dan gamang yang tadi menggenang, seperti bau kamper yang menguap di udara. Aku nanar menatapnya yang terus meliuk menggelinjang. Bahkan aku tak pernah menyaksikan adegan striptease seperti ini. Aura yang memancarkan birahi purba seakan-akan keluar dari tubuhnya, seperti sulur-sulur akar. Saat itulah aku merasakan ada teluh yang menggemuruh dalam tubuh. Aku merasakan sulur-sulur akar bercecabang yang keluar dari tubuhnya itu mulai membelit dan melilit tubuhku. Hingga aku hanya bisa menjerit ketika sejulur akar dengan kasar membelit batang zakar, menghisap seluruh cairan dalam tubuh. Sampai kemudian aku terlempar dan terkapar, mendapati tubuhku telah gosong dan garing. Rasanya, tak ada lagi secuil pun sperma menetes dari ujung kelaminku yang kering.

Maya tersenyum puas, beringas. Dia menyodorkan tangannya yang berlepotan darah. “Lihatlah, hatimu akan kukunyah, kumamah.” Lalu sambil tersenyum riang ia menjauhiku yang tergolek di sofa. Ia melangkah gemulai menuju kamar mandi, sembari terus dengan penuh gairah mengunyah hati yang dikerkahnya pelan-pelan, seakan melahap sepotong semangka…

***

AKU terbangun.

Segera kuraba dada. Tak ada luka. Masih ada degup. Sedikit gugup. Lalu aku mulai menyadari, seperti ada mimpi yang bersijengkat pergi. Tapi ini bukan mimpi. Semalam Maya memang berada di sini. Aku masih bisa mencium bau tubuhnya. Menguar dalam kamar. Dan di dekat bantal – yang masih terasa hangat dan basah karena keringat – aku dapati dua helai rambut menelusup serat seprei. Seakan-akan Maya sengaja meninggalkannya untukku.

Aku terbaring, masih dengan perasaan asing. Maya selalu membuatku terpana, seperti kemunculannya. Dia datang dan pergi serupa misteri. Seakan-akan ada yang sengaja dia tutup-tutupi. “Seperti persetubuhan, sesuatu akan mengesankan bila ada yang tak terungkapkan,” katanya suatu kali. Dan memang, bersama Maya, selalu kurasakan tengah memasuki labirin rahasia. Ada sesuatu yang selalu ingin membuatku kembali, karena selalu saja kurasakan ada yang selalu tak tertuntaskan. Selalu kutemukan sesuatu yang tak terduga. Hingga kemudian aku kian faham, betapa kenikmatan seringkali bisa kita dapatkan pada saat dan tempat yang tak biasa.

Seperti ketika aku melihatnya pertama kali pada sebuah pesta…

Saat itu aku mulai melayang karena dua butir blue diamond yang sekaligus kutenggak dengan sebotol air mineral. Saat itu aku mulai merasakan kabut dingin merayap naik menjalari kulit tubuhku. Telapak kakiku mulai berasa lembab dan basah, sehingga aku seakan-akan mengapung di atar permukaan air yang sejuk. Begitu enteng. Perlahan-lahan pula eksterna telingaku mulai termuka, seperti ada bunga yang pelan-pelan mekar dalam telingaku. Alangkah nyaman, dan aku mulai bisa merasakan harmoni dentaman house music yang menggetarkan membran dan koklea. Di antara gemuruh dan segala yang hingar-bingar, aku bisa mendengar gemeritik dan gemerincing bunyi-bunyian yang ajaib, bagaikan ada kereta kencana dengan kuda-kuda putih turun dari surga. Dan kabun dingin dalam tubuhku membuatku serasa begitu ringan mengambang melayang-layang di kesejukan semesta yang tak berbatas. Saat itulah, ditengah hingar bingar bermacam suara ketika beberapa orang mulai muntah tetapi masih saja terus tertawa-tawa, aku merasakan sepasang mata menatapku penuh gelora. Sepasang mata yang menggerayangi seluruh tubuhku, tanpa perlu menyentuh. Lalu ketika puluhan pasangan mulai bertumbangan terkapar setengah telanjang, kulihat dia duduk di atas meja bertelanjang dada dengan kedua tangan bersilang dan bersidekap, bagai pertapa yang abai pada keriuhan dunia. Dia seperti menyihirku dengan pesonanya. Dia seperti memahami gairah dan kesepianku. Caranya memandangiku, seolah-olah ia mempersembahkan hidupnya untuk kunikmati.

Sejak itulah, cara Maya tertawa atau merajuk mulai menjadi bagian kisah tersendiri dalam hidupku. Aku suka caranya tertawa. Seakan-akan dia ia bisa mengatasi semua persoalan, cukup hanya dengan tertawa. Aku juga suka pada caranya menikmati orgasme: seluruh tubuhnya meregang, hingga perutnya menjadi pipih dan mengencang, dan punggungnya melengkung seperti pelangi. Dan seperti kubilang, ia sering muncul begitu mengejutkan. Tahu-tahu ia sudah berdiri di sudut kamar mandi, memandangiku yang lagi masturbasi. Tiba-tiba desah suaranya muncul di telepon, menjilati daun telingaku. Atau terkadang aku begitu kaget mendapatinya sudah menggeliat di bawah selimut, mendesis-desis, kemudian mulai menghisap dan menjilatiku. Caranya bercinta selalu mengagetkan, seperti petasan.

Tetapi semua itulah yang barangkali sering membuatku tekejut, dan termangu setelahnya. Selalu aku merasakan kelengangan yang panjang, setelah ledakan petasan itu menghilang. Aku hanya mendengar suara langkahnya yang pelan, menjauh. Gema suara tawanya yang bagai tertanam dalam kaca, hingga aku sering melihatnya berkelebat di sana. Dan aku, seperti saat ini, hanya bisa berbaring diusik perasaan asing.

Aku kaget ketika handphone di meja berbunyi. Dari nada ring tone-nya aku sudah tahu itu telepon dari siapa. Aku malas menerimanya. Tetapi handphone itu terus menjerit-jerit seperti kanak-kanak yang minta diperhatikan.

Ada apa?”

Ada apa! Aku cuma mau ngingetin, nanti siang kamu mesti temenin Bettita. Ketemu di mall ajah langsung! Halo?! Halo! Kamu udah hidup kan? Dasar kampret. Pasti semalam kamu keluyuran. Jangan lupa nanti temenin Bettita!”

Aku menguap sebal. Itu telepon dari Dona, istriku.

***

“PAPA!” riang teriakan Bettita menghambur ke arahku. Yap! Aku mengangkatnya tinggi-tinggi, kemudian menciuminya gemas. Inilah saat-saat aku merasakan hidup begitu berharga. Bettita diantar sopir dan ditemanin baby sitter-nya. Aku malah suka, dari pada ia datang datang bersama mamanya.

“Puter-puter dulu atau langsung makan, sayang?”

“Makan ajah dulu. Betita udah laper.”

Bettita minta ke Izzy Pizza. Agar aku bisa lebih punya waktu bersama Bettita, baby sitter itu kusuruh pulang duluan sama sopir. “Biar nanti aku yang anter Betita ke rumah…”

Bettita selalu membuatku merasa masih memeiliki kebahagiaan. Keriangannya membuatku menyukai saat-saat bersamanya setiap akhir pekan seperti ini. Betapa pun, Bettita menjadi semacam ingatan, betapa aku pernah menikmati perkawinan yang menyenangkan, sebelum akhirnya aku cerai dengan Dona, dua tahun lalu.

Aku tak pernah risau dengan perceraian itu. Karena aku sendiri menganggap perkawinan kami hanya menjadi semacam formalitas. Aku tak terlalu perduli, apakah Dona benar-benar menyintaiku atau tidak. Waktu itu, aku merasa perkawinan adalah salah satu jalan untuk menepis gunjingan. Seakan-akan aku hanya ingin membuktikan, bahwa aku bisa kawin, punya anak, dan bla bla bla… Atau mungkin juga karena aku ingin mengingkari kenyataan – dan terlebih perasaanku – dengan cara memasuki perkawinan. Seperti seseorang yang ingin melupakan sesuatu yang selalu merisaukannya dengan cara menyibukkan diri. Dan perkawinan, kufikir, bisa menjadi semacam kesibukan untuk melupakan kerisauanku itu. Meski pun terkadang aku merasakannya lebih sebagai sebuah pengingkaran: seperti pecundang yang melarikan diri dari seseuatu yang tak mau diakuinya.

Sampai pada akhirnya pecundang itu tak lagi bisa terus-menerus melarikan diri. Tak bisa terus-menerus menyembunyikan diri. Ia tersiksa menjadi seorang yang terus-terusan munafik. Hingga akhirnya ketahanannya meledak. Dan Dona hanya terbelalak ketika aku mengakuinya, bahwa aku tak pernah bisa benar-benar mencintainya. Bahwa perkawinan ini hanyalah tempat aku menyembunyikan diri.

“Bagaimana mungkin kamu melakukan semua ini? Bahkan sampai kita punya Bettita?!” Dona gemetar tak percaya, saat aku mengatakan semuanya. Aku bisa merasakan tatapannya yang penuh kebencian, karena selama ini merasa dipermainkan. “Aku tak pernah menyangka kalau selama ini kamu menganggap perkawinan kita hanya seperti itu. Bagimu perkawinan ini menjadi tempat persembunyian, bagiku tak lebih lubang kehancuran…”

Dan kami bercerai. Perceraian yang berlangsung lancar, dan baik, kurasa. Aku masih diijinkan bertemu Bettita setiap hari Minggu, bila aku atau Bettita pingin ketemu. Bagaimana pun aku berterimakasih, karena Dona mau memahami. Meski ia tetap tak bisa menghilangkan perasaan jijiknya padaku. Karena itulah, aku lebih suka bertemu Bettita, tanpa harus disertai mamanya. Hanya lebih karena tak ingin pertemuan kami berlangsung kaku, karena ekspresi Dona yang tak kunjung bisa menghadapiku tanpa perasaan sebal.

Perceraian, bagaimana pun selalu tak mengenakkan. Tapi bagiku terasa membebaskan. Membebaskan? Dari apa? Entahlah. Toh aku masih saja terus diusik kebimbangan. Merasakan saat-saat yang asing dan gamang, seperti ketika aku memandang Maya yang telentang telanjang di ranjang…

Maya datang memhampiri seluruh kerisauanku. Dia datang dengan segenap pesona dan keanggunannya. Dia muncul…

“Hai…”

Aku kaget disapa tiba-tiba. Maya! Nyaris aku tak bisa menguasai kegugupanku.

“Lagi jalan-jalan?”

Aku tersenyum. Lalu melirik ke arah beberapa orang yang memandang ke arah maya. Maya memang akan jadi pusat perhatian, lebih-lebih di tempat keramaian seperti ini. Aku terkesan dengan penampilannya: memakai setelan two-pieces, perpaduan celana cokelat lembut berbahan crepe dan atasan model blues yang potongan kerahnya bergaya sabrina, tapi hanya sedikit terbuka, memperlihatkan satu bahunya yang bersih. Pertemuan yang mengejutkan. Pertemuan yang tak kusangka-sangka. Jujur saja, aku tak pernah membayangkan akan bertemu maya di keramaian seperti ini. Seperti ada yang ingin cepat-cepat aku sembunyikan…

Saat itulah Bettita berlarian riang, muncul dari arah toilet. “Papa…” Dan anak itu seketika berdiri mematung memandangi Maya. Aku bisa menangkap kelebat keheranan dalam wajah Bettita. Begitu lama dia memandangi Maya, yang berdiri di hadapanku. Sedang aku mencoba menghindari tatapan Maya.

“Ini Bettita. Anakku…” Aku tarik Bettita mendekat. “Sini sayang… Beri salam ama Tante Maya…” Lidahku seperti terbelit, nyaris kegigit, ketika mengucapkan ‘Tante Maya’. Ganjil kedengarannya…

Cara Bettita menatap Maya, membuatku tak bisa mengatasi suasana. Aku tak tahu, apakah Bettita terpesona oleh penampilan Maya, atau ia merasa heran dengan sosoknya…

***

KAMI terus diam, meluncur dalam hujan. Aku menyetir, dan Maya bersandar memandang ke arah jalanan yang terlihat aneh dengan cahaya lampu-lampu yang terlihat seperti meleleh. Sudah hampir tiga jam kami hanya berputar-putar. Dan aku makin gelisah melihat Maya terus diam.Kurasakan hujan seperti serpihan kepedihan, menyimpan galau yang tertahan. Seakan ada yang ingin dibangkitkan oleh hujan. Kami terus meluncur pelan dalam diam…

Kamu marah?”

Maya hanya menggeliat, terus menatap ke arah jalan. Apa yang ia lihat dalam kelambu hujan?

Boleh aku merokok?” Akhirnya ia bersuara.

Sikapnya yang formal dan penuh kesopanan malam membuatku kian merasa terpojokkan.

Dan dia merokok, setelah sebelumnya memencet angka pada tape mobil, hingga nomor lembut Insensatez1 kembali mengalun. Terdengar bening dantara kucuran hujan, seakan ingin melintasi malam. Dia sangat suka komposisi lagu ini. Maya memang menyukai bossa nova. Aku selalu ingat pada apa yang pernah ia katakan, “Selalu kurasakan ketengan dalam kelembutannya…”. Dan ia pun bercerita, betapa dia selalu memimpikan hidupnya mengalir seperti sebuah bossa nova. Tak terlalu banyak kejutan, seperti jazz. Karena itulah, aku terkadang begitu heran, kenapa ia bisa begitu penuh fantasi ketika bercinta…

Tidak seperti bossa nova yang aku bayangkan, ternyata kamu penuh kejutan…” dia mendesah, menghembuskan rokok, terus memandang ke depan.

Maafkan soal Bettita…”

Bukan itu soalnya.”

Lantas?”

Tapi bahwa kamu menikah…”

Pernah menikah…”

Apa bedanya?”

Setidaknya aku mencoba berani mengambil keputusan. Setidaknya aku telah berani mencoba untuk mengakui.”

Mengakui apa?”

Aku diam.

Hujan perlahan menyusut. Jalanan berkilatan di bawah luapan cahaya yang kini terlihat bening dan segar.

Bisakah kita tak usah bertengkar?”

Apa aku kelihatan ingin bertengkar?” dia balik bertanya, kini menatapku. “Kamu menginginkan hubungan kita berjalan nyaman, begitu? Tidak! Yang kamu inginkan bukanlah perasaan nyaman, tapi sesuatu yang tersembunyi dengan aman. Kamu ingin hubungan kita berlangsung diam-diam. Karena kamu masih terus ingin sembunyi. Kamu tak pernah mengambil keputusan. Kamu tak pernah berani mengakui. Perceraian itu tidak membuktikan kamu telah melakukan apa-apa…”

Aku melihat kesedihan yang pecah dalam matanya. Ada yang tak terucapkan, tetapi aku jadi kian memahami raut wajahnya yang kini murung. Garis alisnya yang rapi. Lipstik merah marun pada bibirnya yang gemetar. Dan selalu, aku merasakan selubung rahasia, yang tak pernah berani aku buka. Tak pernah dengan berani aku memasukinya, setidaknya hingga saat ini.

Aku memang tak pernah menginginkan kamu melakukan apa yang belum berani kamu lakukan. Meski aku selalu ingin membuktikan, betapa aku memang mencintaimu.”

Aku juga mencintaimu…”

Dia tersenyum.

Sungguh!”

Andai kamu mengucapkan itu hanya untuk merayuku, aku sudah merasa bahagia.”

Tapi aku memang mencintaimu…”

Sungguh?”

Sungguh…”

Cium aku…”

Aku menciumnya. Ia tertawa tiba-tiba.

Kenapa?”

Aku bisa merasakan getaran bibirmu… Kamu tidak mencintaiku. Kamu bernafsu padaku…” Dia mengatakan itu, seakan-akan ia memang bisa merasakan gairah seseorang dari ciumannya. Ia terus tertawa, dan mulai membuka retsleting celanaku.

Maya…” aku mendesah gugup.

Masuk tol…” ia memerintah, tak ingin dibantah. “Ayo!”

Dan kami meluncur melintasi sisa hujan.

Tetap di lajur pelan…”

Cahaya yang gemerlapan berlintasan. Aku merasakan lembab yang menekan. Lalu hujan mendadak kembali mengucur dengan deras. Kami meluncur pelan, menembus kelam, menembus hujan.

Jangan, Maya…”

Tapi dia sudah memelorotkan celanaku.

Keredap hujan, seperti mengetuk-ngetuk kesunyian. Kenapakah kita bisa begini merasa sunyi? Aku seperti terkurung bayangan malam yang dilapisi kaca yang sedikit berkabut. Andaikan hidup memang seperti bossa nova yang lembut…

Kemudian kami kembali diam. Dengan pelan Maya membersihkan mulutnya dengan tissue. Seperti ingin mengapus dusta dari mulutnya. Mobil terus menembus hujan dan kerisauan.

Turunkan aku sekarang…”

Kita ke bar saja.”

Tidak. Aku mau turun sekarang.”

Hujan masih begini deras.”

Tak apa. Kita pisah sekarang saja…”

Maya…”

Aku selalu menyiapkan diri untuk menghadapi saat-saat seperti ini. Karena aku yakin, semua orang yang aku cintai pada akhirnya memang akan pergi…”

Kamu salah, Maya…”

Mungkin. Tapi aku selalu berani menghadapi pilihan yang salah sekali pun. Sekarang turunkan aku…”

Aku ingin memaki ketololanku ketika akhirnya mobil berhenti. Maya tersenyum, dan mencium bibirku lembut. Masih kurasakan asin rasa sperma yang masih lengket di sela bibirnya. Dan dengan cepat ia keluar.

Hujan begitu deras. Dari balik kaca mobil yang gelap aku melihat bayangan Maya menjauh. Dia kemudian berhenti, menoleh ke arahku. Tubuhnya tampak pucat diguyur hujan dan cahaya lampu jalan. Aku ingin mengejar. Dan Maya seperti berdiri di bawah cahaya itu untuk menungguku keluar mobil, mengejarnya. Tapi aku hanya membenamkan tubuh dalam kebimbanganku. Lalu aku melihat tubuh maya yang pecat perlahan-lahan memudar. Dalam pendaran bening hujan karena sinar lampu jalan, tubuh Maya perlahan-lahan memudar, kemudian pecah seperti plasma cahaya..

PENYANYI itu menembangkan Misty, sembari sesekali memandang ke arahku yang duduk di dekat bar. Sudah sebulan ini aku selalu datang ke bar ini, memesan lagu yang itu-itu juga, sambil berharap bertemu dengan Maya. Di bar ini Maya biasanya nongkrong. Dia pernah bilang, bar ini telah menjadi rumahnya. Tempat dia bisa bertemu teman-teman sehati. Tapi Maya tak pernah muncul, sejak malam berhujan itu, dan aku melihatnya lenyap menjelma plasma cahaya.

Loot at me,

I’m helpless as a kittet up a tree

An I feel like I’m clingin’ to a cloud,

I can’t understand

I get misty, just holding your hand

Aku berharap menembut kabut keraguanku, aku berharap bertemu Maya. Bar masih sunyi – dan seperti akan terus sunyi dalam hatiku – hingga aku malah merasa seperti berada dalam musium tanpa pengunjung. Dan aku perlahan-lahan menjadi arca, masih saja tak bisa berdamai dengan riwayatnya. Hingga ia selalu tergegergap setiap kali berkaca mendapati gurat-gurat lelah yang selalu disembunyikannya. Mata yang kehilangan cahaya. Rahang yang kerontang. Lakrimal yang bagai ceruk dangkal. Dengan bayangan murun tentang rumah yang tenang dengan celoteh anak-anak yang riang.

Lagu itu selalu mengingatku pada Maya, karena di bar ini, suatu malam aku pernah terpesona ketika dia menyanyikannya. Aku mulai merasa betapa ada sesuatu yang memang lebih berharga ketimbang ciuman dan sentuhan.

Andai aku berani mengakui. Andai aku bisa meyakinkan Maya. Tapi dia seakan-akan hilang ditelan hujan – dan setiap kali mengingat ini, aku menjadi kian merasa nestapa, karena kisah cintaku dengan Maya berakhir seperti sebaris lirik lagu pop murahan. Dan itu karena aku tak pernah berani mengakui mimpi-mimpiku. Sejak dulu. Sejak masa kanak-kanak. Aku berusaha mengingkarinya. Seperti ketika aku mengingkari mimpi-basah pertamaku. Aku masih selalu ingat, bagaimana aku tak pernah berani mengakui mimpi-basah pertamaku, ketika semua kawan bercerita tentang asyiknya mimpi-basah pertama mereka. Seorang kawan bercerita bagaimana dia bermimpi mencium teman sekelas yang diam-diam ditaksirnya Ada yang bercerita, ia mimpi mandi bersama Bu Guru mereka. Ada juga yang bermimpi didatangi bidadari, kemudian tergeragap bangun dengan rasa basah di celana. Aku lebih banyak diam mendengarkan. Tapi tak bisa mengelak ketika kawan-kawanku mendesak agar aku giliran bercerita. Sambil menunduk aku bercerita, kalau dalam mimpi basah pertamaku, aku bermimpi berciuman dengan seorang bintang film.

Tentu saja, aku berdusta saat itu. Aku tak pernah berani bilang, kalau dalam mimpi basah pertamaku, aku bersenggama denga ayah…

Sejak itu, aku selalu risau untuk membunuh mimpi-mimpiku. Fantasiku. Aku tak kunjung berani mengakui orientasi seksualku. Sampai aku bertemu Maya, seorang waria yang benar-benar membuatku kasmaran dan jatuh cinta.

Yogyakarta, 2003-2004.

1 Insensatez atau (How Insensitive), judul satu komposisi berirama bossa nova yang dibuat oleh Antonio Carlos Jobin dan Vinicius de Moraes.

(Catatan: cerpen ini diambil dari buku kumpulan cerpen Agus Noor Rendezvous Kisah Cinta yang Tak Setia…)

8 Responses to “– INSENSATEZ”


  1. 1 vetamandra April 26, 2008 pukul 8:25 am

    ini udah pernah baca di bukunya om, kebetulan punya😀

  2. 2 agusnoorfiles April 26, 2008 pukul 11:00 am

    File ini saya munculkan, karena kemaren sy ketemu temen, dan ngobrolin cerpen ini. Ia bilang sangat suka. Lalu dia menyarankan: kenapa tak dikumpulin cerpe-cerpen yang disukai pembaca, atau bagus menurut pembaca2-mu? Kalo ada kompilasi lagu, kenapa ga ada kompilasi prosa? Semocam karya-karya terpilih, yang nge-hit di kalangan pembaca. Hmmm. Kenapa tidak ya? Lalu aku kepikir sebuah buku yang berisi “cerpen-cerpen terbaik Agus Noor”. Maukah kamu membantuku, memilihkan cerpen yang kamu suka? Lalu beri sedikit komentar. Nanti, komentar pendek itu disertakan dalam buku (yang diterbitkan itu. Barangkali, pembaca lain, juga bisa ikutan memilih…

  3. 3 roslanjomel April 27, 2008 pukul 5:26 am

    Esok hari, saya akan mencari buku kumpulan cerpen yang memuatkan cerpen ini di Pusat Dokumentasi Melayu Kuala Lumpur.

    Ya, membaca cerpen-cerpen saudara Agus Noor, sangat mengesankan.

  4. 4 [D2R3D2] Mei 1, 2008 pukul 6:37 pm

    iya akhirnya..saia mengerti cara keluar dari kotak

  5. 5 agusnoorfiles Mei 2, 2008 pukul 4:21 am

    Apa kabar, Roslan? Bagaimana kemajuan sastra di Malaysia? Saya sempat membaca cerpen Anda yang tentang presiden berlayar di perahu layarnya itu. Agak beda dengan kebanyakan cerpen penulis (muda) Malaysia.

    Dan untuk Dik D2R3D2, kalo doh keluar kotak, kotaknya jangan dijual kiloan ya (hehehe)

  6. 6 Binhad Nurrohmat Mei 3, 2008 pukul 9:37 am

    halo, bro… ada berita heboh tuh di web gw

  7. 7 Andi Pratama Maret 25, 2012 pukul 5:15 pm

    mungkin benar di antara cerpen-cerpen lainnya yang menarik, insensatez menurut saya lebih sangat disayangkan kalau tidak dibaca berulang-ulang. entah, saya tidak pernah bosan dengan cerpen ini. pokoknya cerpen-cerpen dalam kumcer Rendezvous sip semua..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: