– KOMEDI (&) POLITIK

Oleh Agus Noor

Tayangan “komedi kritis’ yang belakangan mewarnai pertelevisian kita, mulai dari Republik BBM, News dot Com, Democrazy memperlihakan satu trend dunia komedi televisi negeri ini. Komedi mulai dilihat sebagai suatu peluang untuk menyampaikan kritik melalui parodi dan ironi (sosial politik), tidak semata-mata berfungsi sebagai hiburan belaka. Itulah kemudian yang membuat formulasi “komedi kritis” menjadi berbeda dengan tayangan komedi serupa Ngelaba, Show Time, atau Extravaganza. Disebut “komedi kritis” karena tayangan seperti Republik Mimpi tidak memposisikan lelucon sebagai tujuan, tetapi sebagai medium untuk melihat persoalan-persoalan aktual. Ini mengingatkan pada keyakinan komedian Judy Carter, yang percaya kelebihan komedi(an) ada pada kemampuannya melihat persoalan secara berbeda.

Dalam perkembangan dunia komedi kita, konsepsi “melihat secara berbeda” sebenarnya bukan hal yang baru. Meski masih tampak artifisial, Teguh Srimulat memaknai “yang berbeda” itu sebagai bukan hal yang biasa: “yang aneh itu yang lucu”. Sebagaimana yang kemudian terlihat dari Srimulat, kita menjumpai “hal-hal yang tidak biasa” (pembantu memarahi majikan) dan “aneh” (berupa dandanan para pemain). Hal yang jauh lebih menarik adalah guon parikeno yang dikembangkan Basiyo, dimana ia mampu menghadirkan satu persoalan dengan “memutarbalikkan logika cerita”, hingga memunculkan ironi dan sindiran yang tajam, bahkan terkadang terasa getir. Misalkan dalam lelucon yang mengisahkan seorang tukang becak dan penumpang, Basiyo bisa membalik: bahwa bukan tukang becak yang butuh penumpang, tetapi penumpanglah yang membutuhkan tukang becak. Apa yang dilakukan Basiyo, yang kemudian dikenal sebagai pola komedi Mataraman, memperoleh artikulasi sosial politik yang pas dan terasa estetis pada lakon pentas Teater Gandrik.

Jauh sebelumnya, “komedi kritis” memang telah berkembang di panggung-panggung teater kontenporer kita. Teater Koma dan Teater Gandrik boleh disebut sebagai kelompok yang meyakini komedi sebagai salah satu pilihan ekspresi pemanggungan mereka. Dalam lakon-lakon mereka, yang sering penuh dengan muatan sosial yang aktual, mereka bisa memberikan sudut pandang yang berbeda kepada penonton perihal suatu persoalan. Setidaknya lakon-lakon mereka bisa memberikan satu persfektif dalam memandang satu problem sosial. Berkait dengan zaman, pada saat itu persfektif mereka menjadi cara pandang yang berbeda dengan cara pandang kekuasaan yang koruptif dan otoriter. Itulah masa dimana menjadi dokter gigi adalah pekerjaan yang paling susah, karena orang takut membuka mulut. Sekarang, bila hendak memeriksakan gigi, belum disuruh buka mulut saja orang-orang sudah buka mulut sepanjang hari.

Bila memang situasi sudah berubah, ketika keangkeran kekuasaan telah diledek habis-habisan (disini kita harus berterimakasih kepada Gus Dur yang berhasil mendesakralisasi kekuasaan melalui gaya kepemimpinannya yang penuh lelucon), lalu apa yang bisa dilihat dengan cara berbeda oleh komedi(an)? Ketika satir politik, joke politik, begitu bebas berkeliaran di masyarakat (lewat SMS atau internet), apalagi yang menarik dari komedi yang berpretensi menghadirkan satir politik?

Tayangan komedi semacam Nah Ini Dia, Konak (Komedi Nakal), Komedi Tengah Malam, yang bisa disebut sebagai komedi erotik, yakni komedi yang mengeksploitasi unsur seksualitas dan sensualitas, bisa dilihat sebagai satu fenomena masyarakat yang sudah pengap dengan komedi politik yang begitu banyak mememenuhi ruang sosial keseharian mereka. Dan itulah yang membuat tayangan komedi erotik tersebut kemudian menjadi “katup pelepasan” dari kepengapan politik, sebagaimana dulu komedi politik dalam panggung teater dikatakan oleh Emha Ainun Nadjib sebagai “katarsis sosial” atas represi yang dialami masyarakat.

Tetapi, perubahan sosial ternyata tidak dibarengi dengan perubahan perilaku politik, dimana kesenjangan antara tindakan dan kenyataan justru makin mengentalkan ironi. Membuat negeri ini penuh ironi, yang (mestinya) menjadi lahan isnpirasi yang subur bagi para komedian. Sayang, para komedian kita, selalu berapologi, bahwa humor politik sangat segmented. Dan masyarakat (dianggap) masih sekadar membutuhkan humor sebagai ekspresi hiburan. Tak mengherankan bila komedian kita menempatkan dirinya sebagai clown, yang menjada pusat tertawaan. Tidak mengherankan, apabila para komedian kita masih saja mereproduksi banyolan verbal dan slapstick yang tak jauh-jauh dari gaya ledekan, eksploitasi fisik dan bumbu-bumbu erotik. Yang dalam konteks pertelevisian hanya mengabdi kepada kepentingan industri hiburan, tanpa mampu merefleksikan dan mentransendesikan realitas sosial.

Di sinilah sesungguhnya tayangan komedi kritis semacam Republik Mimpi itu memperoleh momentum yang pas untuk menjadi oase tontontan yang sedikit banyak bisa “mencerdaskan”, hingga industri komedi di negeri ini bisa meningkatkan maqamnya menjadi tidak sekadar industri tawa tetapi juga mulai ikut berperan serta dalam mendistribusikan kecerdasan dalam perubahan sosial. Komedi kritis semacam itu akan bisa sedikit menepis sinisme Woody Allen, yang menyatakan bahwa masyarakat hari ini tidak dibentuk oleh kesenian yang baik, tetapi dipengaruhi oleh tayangan-tayangan televisi yang buruk.

Lebih jauh, komedi kritis itu bisa menjadi indikasi realitas sosial politik yang manipulatif di era media (televisi). Era media adalah era yang penuh dengan kamuflase fakta. Media memiliki kemampuan untuk membentuk persepi seseorang akan kebenaran, bahkan membentuk kenyataan. Disilah kritisisme komedi menjadi salah satu jalan untuk ‘membedah’ kamuflase itu. Ingat, orang tersenyum karena ada kenyataan yang tidak sesuai dengan yang seharusnya, begitu pernah dinyataan filsuf Schopenhauer. Dari sanalah parodi dan ironi bersemi. Dengan pendekatan politik John E Seery menyebut ironi itu selalu memiliki sifat yang kontradiktif, inkonsistensi, janggal, anomali dan abnormal.

Ketika situasi itu terjadi, dan ironi hendak ditutup-tutupi melalui kekuatan-kekuatan media seperti televisi, komedi yang kritis dan cerdas selalu berupaya “membuka” kenyataan yang (hedak) dimanipulasi itu. Benarlah apa yang ditegaskan oleh Effendi Gazalli, bahwa keberhasilan tayangan bermuatan komedi kritis semacam Republik Mimpi tidak bisa diukur hanya melalui ratting. Tetapi (justru!) dari kemampuannya memberikan persfektif secara berbeda dalam melihat suatu persoalan, hingga kita menjadi memiliki kesempatan untuk bersikap kritis terhadap apa yang kita yakini sebagai kebenaran atau fakta yang sudah termediasikan.

Yang mesti kita catat adalah, bahwa apa yang hendak dicapai dari komedi semacam itu adalah penyingkapan manipulasi sosial melalui sejumlah ironi yang akan mereka hadirkan melalui lelucon. Seperti lelucon kenapa Muhamad Yunus yang mendapat Hadiah Nobel, bukan SBY. Karena Karena Muhamad Yunus berhasil mengurangi jumlah kemiskinan, sementara Presiden SBY baru bisa mengurangi jumlah angka statistik kemiskinan. Humor itu memperlihatkan bagaimana kecenderungan penguasa di republik ini cenderung melihat persoalan kemiskinan hanya semata-mata persoalan angka dan data.

Komedi atau humor, sesungguhnya memang bukan sekadar cara bagaimana membuat orang tertawa. Humor juga cermin sebuah budaya, begitu Umar Kayam pernah berujar. Bila budaya difahami sebagai suatu cara manusia mengembangkan dirinya, maka humor pun sebenarnya merupakan sebuah cara manusia untuk merefleksikan persoalan budaya yang hendak dicapainya, “idealisasi” budaya yang diinginkannya. Misalkan idealisasi budaya berbangsa dan bernegara yang sungguh-sungguh bermartabat. Ketika itu masih jauh dari ideal, lelucon akan terus menjadi indikasi kegagalan kita. Lelucon itu bisa menjadi ekspresi perlawanan, pembangkangan atau ketakpatuhan sosial. Bila petinggi Negara, seperti presiden, ingin mengetahui apakah ia dicintai, disukai, oleh rakyatnya, maka ia jangan tanya pada para ajudan atau menterinya. Tapi simaklah humor-humor tentang dirinya. Di China beredar lelucon: nasib Deng tidak setragis Marcos, Stalin, atau Suharto, bukan karena ia orang yang kuat, tapi karena ia mulai menyadari banyak lelucon tentang dirinya, dan ia ingin ngubahnya…

Maka, bila mulai banyak lelucon politik seputar seorang pemimpin, maka sudah suharusnya pemimpin itu insyaf: untuk segera memperbaiki diri!

6 Responses to “– KOMEDI (&) POLITIK”


  1. 1 sahabat88 April 13, 2008 pukul 11:04 pm

    hahaha…
    enakk tuh para penguasa semakin populer dengan acara bbm..
    beberapa tulisan yg aku perkenalkan…. semoga bermanfaat
    berlibur ke malang>/a>
    perbaikan komputer>/a>
    bagi yang mau bisnis warnet>/a>
    😀

  2. 2 agusnoorfiles April 14, 2008 pukul 9:09 am

    makin populer “kesalahan-kesalahannya” ya…

  3. 3 veta April 17, 2008 pukul 6:40 am

    kalo pemimpinnya gak insyaf , gimana om jeger?

  4. 4 agusnoorfiles April 17, 2008 pukul 12:45 pm

    ya kita insyafin dengan kita bacain surat yasin, hehe

  5. 5 jipie Mei 5, 2008 pukul 11:54 am

    mungkin dengan komedi para “tetua” kita bisa sadar dan menyadari akan kekurangannya……

  6. 6 imiin Oktober 7, 2009 pukul 7:14 am

    basmi tuh eank korup !!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: