– Sedikit Tentang Buku “20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008” Pena Kencana

2 hari lalu, paket berisi buku 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008, saya terima. Karena takcover-buku-cerpen-pk.jpg ada alamat pengirimnya, saya menduga, itu mungkin dikirim oleh Panitia Pena Kencana. Sebagaimana tradisi: barangkali itu sebagai tanda bukti penerbitan. Karna itu, saya berterimakasih, telah mendapat kiriman buku itu. Setidaknya, kini saya sudah melihat wujud buku itu secara langsung dan konkrit. Maklumlah, di belantara kehebohan seputar Anugerah Pena Kencana yang saya baca di koran dan internet, seliweran SMS, juga gosip-gosip yang murahan mau pun yang mengesankan ingin terdengar intelektual, saya belum melihat wujud buku itu secara langsung.

Jadi saya merasa tidak pada tempatnya bila saya ikut-ikutan berkomentar.

Buku itu belum saya baca seluruhnya. Bagian pengantar, terutama tulisan Budi Darma sebagai semacam Ketua Juri prosa (cerpen), saya baca pertama kali. Karena, diam-diam saya memang berkeinginan mengetahui: kira-kira kenapa 20 cerpen itu terpilih, dan dianggap terbaik di antara ratusan cerpen lainnya, yang terbit tersebar di berbagai koran se Indonesia. Tapi Budi Darma, pagi-pagi seperti sudah membatasi pengantar itu dengan mengatakan apa yang ditulisnya mesti dianggap sebagai “jendela terbuka”. Kitalah, yang disuruh menjenguk sendiri-sendiri melalui jendela terbuka itu, untuk menilai cerpen-cerpen terpilih. Jadi, tulisan Budi Darma itu memang benar-benar sebuah catatan pengantar. Bukan semacam pertanggungjawaban penjurian.

Terus terang, saya sebenarnya sangat-sangat tidak kepenak, rikuh dan merasa tidak pada tempatnya bila saya mengomentari buku 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 ini. Lantaran ada 1 cerpen saya di dalamnya. (Yang judulnya, di daftar isi  tertulis “Tentang Seorang Perempuan yang Mati Tadi Pagi” — entah dari mana judul ini bisa muncul ! — berbeda dengan judul cerpen di bagian dalam: “Tentang Seseorang yang Mati Tadi Pagi”) Semestinya, suka atau tidak suka, saya harusnya “diam saja”. Tapi, tak apa kan bila saya menuliskan apa yang berkelebatan dalam kepala saya begitu memandang buku 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 yang tergeletak di meja kerja saya?

Saya tidak bisa bersikap seperti Faisal Kamandobat – yang mengundurkan diri secara terbuka karena merasa tidak nyaman dengan cara-cara dan sistem yang dipakai Anugerah Pena Kencana. (Sesungguhnya sikap Faisal begitu indah, ia tidak setuju, tetapi tetap bisa memahami pilihan yang ditempuh kawan-kawan yang terlibat di Anugerah Pena Kencana. Ia tetap mendukung, tetap mau berkawan, dan tidak terseret dalam perbancuhan sentimen dan permusuhan. Bukankah itu sikap yang indah?) Saya tidak mengundurkan diri, karena saya memang merasa tidak berhak. Karya saya telah menjadi wacana publik.

Karena memang begitulah yang saya yakini: setiap tulisan, buah pikiran, yang telah kita terbitkan, pada akhirnya, tak lagi sepenuhnya milik kita. Ketika satu karya kita terbitkan, artinya kita memang sudah bersiap bahwa karya itu akan dinilai oleh orang lain. Bagaimana cara orang lain itu menilai, tentu tidak bisa kita atur. Atau tidak bisa kita mengharapkan agar orang lain menilai karya kita sebagaimana harapan atau keinginan kita.

Inilah, yang saya yakini sebagai kemajemukan penilaian. Pluralisme pemikiran dan keyakinan. Bahwa untuk menilai satu karya, ada banyak jalan dan cara. Sebuah penjurian, sebuah pemberian hadiah – apalagi dalam sastra – hanyalah salah satu cara di antara banyak cara yang bisa dipakai dan digunakan untuk menakarnya. Sudah pasti, di dalamnya, akan banyak pertanyaan, ketidaknyamanan, hal-hal yang bisa kita ajukan sebagai gerutuan sampai gugatan.

Bahkan pada sitem kompetesi yang sudah mapan sekali pun, seperti dalam sepak bola, kita bisa mengajukan keberatan: kenapa Brasil disebut Juara Dunia? Bukankah kesebelasan Brasil tidak bertanding melawan “seluruh kesebelasan negara-negara yang ada di seluruh dunia”? Brasil “dianggap dan diakui” sebagai Juara Dunia, padahal ia hanya mengalahkan Inggris, mengalahkan Nigeria, mengalahkan Argentina, mengalahkan Jerman. Kesebelasan Brasil belum pernah mengalahkan kesebelasan Indonesia! Padahal kan bola itu bundar. Belum tentu Brasil menang melawan kesebelasan Indonesia (meski PSSI-nya lagi amburadul dan penuh oknum-oknum yang koruptif dan manipulatif). Jadi, sebenarnya, kita bisa meragukan “status Juara Dunia” dari kesebelasan Brasil.

Tapi begitulah, Brasil dianggap Juara Dunia, dan seakan-akan sah sebagai Juara Dunia, karena adanya sistem kompetisi atau kejuaraan yang dipilih.

Dan sistem kompetisi itu, sebagai satu cara untuk menentukan memilih pemenang, sebenarnya juga relatif. Karena dalam sepak bola pun ada banyak sistem yang dipakai untuk menentukan siapa yang dianggap Sang Jawara. Ada sistem putaran kompetisi penuh, dimana seluruh kesebelasan yang ikut saling bertanding home and away. Ada setengah kompesisi. Ada sistem pembagian grup. Ada cara knock out, seperti pada FA Cup. Ada yang mengenal putaran final, babak final, ada yang tidak. Saya kira, itu bisa menjelaskan, bahwa sebuah kompetisi memiliki cara-cara dan prosedurnya sendiri.

Begitu pun dalam sastra, mestinya.

Anugerah Pena Kencana, telah memilih caranya sendiri, yang berbeda dengan cara dan sistem kompetisi yang dipakai oleh Katulistiwa Literary Award, yang berbeda dengan apa yang dilakukan Kompas dengan pemilihan cerpen-cerpen pilihannya, yang berbeda juga dengan cara yang dipakai oleh Kakuslistiwa Award ketika menobatkan karya sastra terburuk. Jadi, sungguh, ada banyak cara untuk menilai, menentukan. Dan itu, tiada lain adalah relativitas: bahwa sebuah kompetisi adalah sebuah versi, diantara bermacam versi. Seperti Delon bisa disebut terbaik versi Indonesian Idol, sementara Tia menjadi terbaik menurut Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Bisa saja kan, sebenarnya, Delon tidak akan menang di AFI, dan begitu pula Tia tidak akan menjadi yang terbaik bila berada dalam kompetisi versi Indonesian Idol.

Apa yang ingin saya tegaskan dari semua ilustrasi itu ialah satu kesadaran sikap: bahwa setiap karya terbaik pun selalu menyisakan keraguan dan pertanyaan. (Ingatlah pada Borges, yang ngomong, bahwa di milenium nanti, karya-karya sastra yang dianggap terbaik boleh jadi bukan karya-karya yang hari ini dianugerahi Nobel). Tetapi, di situlah, sesungguhnya keindahannya. Setiap karya yang dianggap baik pun selalu menyediakan ruang bagi kita untuk terus bertanya, mempertanyakan. Mengkajinya.

Sudah barang tentu, ketika kita mengkaji, kita akan menemukan ketidakpuasan. Lebih-lebih ketidakpuasan pada sistem atau cara kompetisi yang dipilih. Menurut saya, sebuah sistem itu juga tumbuh dan kemudian memiliki peluang untuk (terus menerus) diperbaharui. Sistem yang baik akan mengkaji juga dirinya sendiri. Ia akan memperbaharui dirinya, agar sebagai suatu sistem ia akan menjadi makin laik dan baik. Sebagai suatu sistem penilaian, Anugerah Pena Kencana, saya yakin akan seperti itu pula

Pada bagian depan, saya sempat menyinggung perihal tulisan Budi darma, yang memang menjadi semacam catatan yang mewakili Dewan Juri. Budi Darma, seperti yang sudah saya singgung, memang tidak ingin memasuki wilayah diskursif penilaian, sebuah wilayah yang memang bisa jadi akan menjadi lorong panjang pendebatan yang tak berkesudahan. Menyadari relativitas “nilai estetis” karya sastra, rupanya menjadi jalan yang dipilih untuk menghindarinya. Tetapi, itu juga (seolah-olah) memperlihatkan suatu upaya menghindarkan diri dari keharusan memberikan penjelasan, paparan atau lebih tegasnya: pertanggungjawaban penjurian.

Mungkin bisa ditempuh jalan tengah. Bila memang tidak berkehendak menilai dan membedah satu per satu karya, semestinyalah bisa memberikan gambaran situasi penjurian. Atau memberikan gambaran tahapan-tahapan penjurian. Setidaknya, itu akan sedikit memberikan ilustrasi, bagaimanan sistem yang dipilih itu dibangun dan hendak ditegakkan. Kalo makai bahasa yang lagi ngetrend sekarang ini ya: untuk mewujudkan sistem yang transparan.

Sesungguhnya, itu memang naluri publik, yang selalu ingin tahu rahasia dapur penjurian. Semacam hasrat untuk memuaskan diri. Bahwa kita, cenderung pingin tahu semuanya. Atau sebaliknya, kita merasa paling tahu semuanya? Dan kita membutuhkan “penjelasan” itu hanya karena kita ingin mengafirmasi apa-apa yang kita anggap kita sudah tahu…

Bila memang begitu, saya kira, di situlah letak seluruh sengkarut kesusastraan kita hari ini, di mana kita hidup di lingkungan orang-orang yang merasa paling tahu. Entahlah, karena saya memang sungguh-sungguh tidak tahu. Sungguh, saya tidak sedang pura-pura tidak tahu.

10 Responses to “– Sedikit Tentang Buku “20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008” Pena Kencana”


  1. 1 Yo Maret 31, 2008 pukul 2:01 am

    Selamat, kawan atas cerpennya yang masuk 20 cerpen terbaik PK. menarik tulisan, pikiran sampeyan.

    Saya kira, persoalan PK karena pihak penyelenggara kurang berhitung arti penting ‘ber-PR’ (public relations) alias woro-woro agar orang ‘ngeh’ program apa ini. Sesuatu yang dianggap sepele, tanpa berhitung dampaknya.

    Mungkin saya salah dengan cara pandang ini.
    Tapi pasti tak salah dengan ucapan selamat pada mas Agus.

    salam,
    Yo

  2. 2 agusnoorfiles Maret 31, 2008 pukul 3:15 pm

    Terimakasih, tengkyu, kamsiah… Udah beli blom bukunya? Bukannya promosi, tapi ada menariknya juga kalo punya buku itu. Setidaknya bisa baca cerpen-cerpen yang terpilih, dan bisa tahu seperti apa orientasi estetis dan struktur cerita cerpen-cerpen itu. Kita bisa menilai, mempelajarinya, mengkaji dan adu argumen setelah itu. Itu jauh lebih menyenangkan kan, ketimbang sibuk dengan gosip sastranya…

  3. 3 an ismanto April 20, 2008 pukul 6:17 am

    Kulonuwun, Mas. Aku belum baca antologi ini, jadi belum bisa komentar. Belum punya uang je. Nanti kalau sudah baca, saya komentar.

  4. 4 agusnoorfiles April 20, 2008 pukul 10:51 am

    Oke, aku tunggu komentarnya. Gmana, lagi nulis tema apa neh? Bolehkah aku tanya: apakah adanya Pena Kencana seperti ini merangsangmu untuk makin menghasilkan karya-karya terbaik? Atau biasa-biasa ajah? Kadang, pertanyaan yang sama seperti itu, ingin aku tanyakan juga pada temen-temen penulis lainnya…

  5. 5 an ismanto April 22, 2008 pukul 4:07 am

    Wah, sudah hampir 2 tahun ini aku blocking, Mas. Cuma bisa membenahi tulisan yang dulu-dulu. Sayembara atau lomba kayak gini gak ada pengaruhnya sama sekali buatku. Aku cuma sekali pernah ikut lomba, dulu sekali, itu pun gak menang. Aku bukan tipe petarung lomba. Tapi menurutku sayembara semacam ini tetap bagus, paling tidak bisa jadi gelanggang buat mereka yang bertipe petarung lomba (sori, tipe-tipe itu bikinanku sendiri, tapi maksudnya gampang diterka kan?).

  6. 6 erwin Juni 7, 2008 pukul 12:53 pm

    selamat, salah satu cerpen anda masuk 20 cerpen terbaik versi Pena Kencana. Saya sudah membacanya. Menarik, tetapi tidak memberi kesan yang mendalam seperti saya membaca cerpennya Ratih Kumala “Sepotong Tangan”.

  7. 7 ahmad September 19, 2008 pukul 6:12 am

    seharusnya judul buku kumcer ini adalah “20 cerpen terbaik versi pena kencana”

  8. 8 dewa api Oktober 15, 2008 pukul 5:29 pm

    fisiknya belum pernah lihat, so pasti belum pernah baca, so ga bisa komen macem2

  9. 9 Nana Podungge September 9, 2009 pukul 1:38 am

    Sebagai penikmat Sastra, whatever people discuss and debate, aku tetap menikmati membaca karya-karya yang dipilih oleh para ‘juri’.🙂

  10. 10 eko Desember 30, 2009 pukul 5:28 am

    Pak Agus, saya ada sedikit pertanyaan…

    Seumpama hidup ini,
    tinggal separo kata
    Apa yang harus akau lakukan?

    Nuhun, salam saya
    Eko Wahyudi Sutardjo


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Maret 2008
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: