– Orientasi Estetis Cerpen KOMPAS

Oleh Agus Noor

DISKUSI kecil berlangsung di Yogyakarta, memperbincangkan kumpulan ‘cerpen Kompas pilihan’ Ripin. Ada dua cerpen saya termaktub dalam buku itu, karena itulah saya lebih banyak menahan diri dalam diskusi. Perubahan proses penjurian (dari biasanya dilakukan ‘orang dalam Kompas’ kini oleh ‘orang luar Kompas’ – dalam hal ini Nirwan Dewanto dan Bambang Sugiharto) mendapat cukup perhatian dari peserta diskusi. Cerpen-cerpen dalam Ripin, diangap memiliki ‘kecenderungan selera yang berbeda’, dibanding pilihan cerpen dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas sebelumnya.

ripin.gifTradisi pemilihan cerpen Kompas dari Kado Istimewa (1992) – Jl. “Asmaradana” (2005) memperlihatkan apa yang oleh kawan-kawan kemudian disebut: cerpen yang khas Kompas. Seperti ada orientasi ‘estetis tertentu’ (disadari atau tidak oleh Kompas), yang membuat cerpen-cerpen yang kemudian dianggap ‘baik oleh Kompas’ memiliki kekhasan yang sebenarnya menjadi bagian yang melekat dengan karakteristik Kompas sebagai sebuah harian. Mencoba memahami kekhasan cerpen Kompas, pada akhirnya juga mencoba memahami nilai-nilai jurnalistik yang dikembangkan oleh Kompas. Pada konteks ini, sebenarnya kita bisa memahami, betapa pada akhirnya cerpen yang muncul di Kompas tidak bisa dilepaskan dari konteks historis dan sosial Kompas sebagai medium jurnalistik.

Di sinilah, kemudian, tampak sekali ada hubungan intertektualitas yang tak bisa diabaikan begitu saja, antara Kompas sebagai koran harian (yang memiliki sikap dan prinsip-prinsip tertentu dalam hal jurnalisme yang dikembangkannya) dengan cerpen-cerpen yang muncul di dalamnya. Cerpen-cerpen yang muncul di Kompas boleh dibilang merupakan representasi dari kecenderungan jurnalisme yang dikembangkan Kompas. Tidak mengherankan, bila pun para redaksi yang menyeleksi cerpen Kompas berganti, tetap terlihat kencerungan ‘orientasi estetis yang sama’, ‘yang khas Kompas’. Dengan kata lain, cerpen, bagi Kompas, seperti menjadi bagian dari jurnalisme yang dikembangkanya, yang diyakininya. Cerpen yang muncul di Kompas, sebagai sebuah teks, pada akhirnya juga berkait erat dengan Kompas sebagai teks, juga dengan “teks-teks lain’’ yang secara bersamaan dikembangkan Kompas – yang nanti akan terjelaskan di bagian belakang tulisan ini – dan yang pada akhirnya melekat sebagai ‘identitas yang khas Kompas’.

Saat menyusun Dua Kelamin bagi Midin (cerpen Kompas pilihan 1970-1980), Seno Gumira Ajidarma (sepertinya) sangat menyadari hal itu. Karenanya, Seno menegaskan, betapa saat membaca cerpen-cerpen Kompas pada masa itu, ia tidak menyikukuhkan diri dengan “cerpen sebagai kanon sastra, yang sibuk dengan tekhnikalitas dan virtuositas”, melainkan memahami “cerpen dengan konteksnya”, dengan lingkungan tekstual disekelingnya (dari peritiwa yang aktual yang terjadi pada saat itu, yang menjadi bagian pemberitan, dengan ilustrasi cerpen yang menyertai, dengan iklan yang muncul bersama cerpen itu). Itulah jejaring tektual, antara cerpen dengan lingkungan tekstual yang hadir bersama dengan teks cerpen itu. Pembacaan intertektualitas semacam itu berarti melacak dan kemudian mencoba memahami kesalingkaitan antarteks itu. Barangkali, inilah yang membuat cerpen yang muncul di Kompas, menjadi tidak bisa dilepaskan dari karakteristik Kompas sebagai media yang mengembangkan nilai dan prinsip jurnalisme tertentu.

Radhar Panca Dahana, saat menyusun Riwayat Negeri yang Haru (cerpen Kompas terpilih 1981-1990) juga melihat adanya hubungan yang tak bisa diabaikan begitu saja antara cerpen dengan makna referensial yang diacunya, dimana teks cerpen, menurut Radhar “lebih banyak digunakan untu satu melankoli dalam melodrama kehidupan dari sebuah negeri yang haru”. Inilah kecenderungan yang menempatkan cerpen yang muncul di Kompas menjadi “potret dari realitas kekinian”, karya yang cenderung bersifat populis.

Diskusi kemudian mencoba menilik kembali cerpen-cerpen yang oleh Kompas dianggap baik: Kado Istimewa (Jujur Prananto), Pelajaran Mengarang (Seno Gumira Ajidarma), Dua Tengkorak Kepala Motinggo Busye), Laki-laki yang Kawin dengan Peri, Anjing-anjing menyerbu Kuburan, Pistol Perdamaian (Kuntowijoyo), Jejak Tanah (Danarto), yang kesemuanya memperlihatkan “komitmen sosial yang kuat”, yang tidak hanya sibuk dengan tekhnikalitas tertentu, tidak tenggelam dalam gaya, tidak hendak memukau dengan kecanggihan bahasa. Hanya dua cerpen Budi Darma (Derabat dan Mata yang Indah) yang memperlihatkan upaya tekhnik penceritaan yang tidak konvensinal. Mmembaca cerpen-crpen dalam kumpulan itu, kita akan menemukan sebuah kecenderungan yang (boleh jadi) memang menjadi pilihan orientasi estetis Kompas.

Cerpen Kompas, pada akhirnya sedikit banyak memperlihatkan kecenderungan jurnalisme yang dikembangkannya. Cerpen Kompas, dengan begitu juga menjadi bagian penting dari upaya Kompas untuk “membangun citra” jurnalisme yang diyakininya. Upaya menerbitkan buku kumpulan cerpen yang dilakukan Kompas, oleh seorang kawan peserta, dianggap memiliki kaitan dengan jurnalisme yang dikembangkan Kompas itu. Sebagaimana juga Kompas menerbitkan karikatur Oom Pasikom GM. Sudharta dan kumpulan foto jurnalistik yang pernah muncul di Kompas, Mata Hati; dengan feature yang ditulis Sindhunata, Petruk Jadi Guru atau Burung-burung di Bundaran HI, yang meperlihatkan sikap concern terhadap permenungan mengenai kemanusiaan.

Kumpulan foto jurnalistik Mata Hati, misalnya, bisa merepresentikan komitmen jurnalisme yang dikembangkan Kompas melalui foto-foto yang dipilihnya. Foto-foto dalam buku itu, oleh Oscar Motulah disebut lebih menekankan pilihan pada “gambar yang beraspek features dan bernuansa subjektif. Bercorak agak fictorial ketimbang yang murni foto jurnalistik spot yang nuansanya terlalu keras” (Kompas, 20/7/2007). Bukankah ini paralel dengan orientasi estetis yang muncul dalam cerpen-cerpen Kompas, ujar seorang peserta diskusi.

Dan peserta diskusi yang lain kemudian mengingatkan perihal temuan I Nyoman Darma Putra, tentang kecenderungan cerpen Kompas yang menghindari konflik, yang bisa dikaikan dengan kecenderungan kartun Oom Pasikom, yang memang tidak fontral dalam mmengolah kritik dan konflik. Bahkan seorang peserta mengungkapkan kesannya, betapa karakter tokoh-tokoh dalam cerpen Kompas cenderung moderat dan “bijak”, tokoh yang cenderung kalah secara sosial, tetapi bertahan dalam nilai ideal moral. Sikap para tokoh dalam cerpen itu seolah-olah mewakili karakteristikjurnalistik Kompas: kecenderungan untuk moderat dan bijak dalam berita,dan terutama terasa pada tajuk rencana-tajuk rencana Kompas? Bila tajuk rencana memperlihatkan orientasi politis atau mungkin idiologis sebuah koran, maka cerpen, karya sastra bisa memperlihatkan orientasi estetis media bersangkutan.

Oom Pasikom, foto jurnalistik Kompas, feature Sindhunata adalah teks-teks yang berjejalin dengan cerpen Kompas. Dengan interktualitas seperti itu, kita akan bisa memahami kecenderungan Kompas ketika memilih cerpen-cerpen untuk dibukukan. Cerita-cerita yang kuat dengan “komitmen sosial”, cerpen yang cenderung berada dalam standar realime yang mencoba merefleksikan peristiwa-peristiwa kemanusiaan, adalah sebuah kecenderungan yang memang menjadi bagian dari juranalisme Kompas. Sebuah kecenderungan yang bukan tanpa resiko. Dari Subagyo Sastrowardoyo, Nirwan Dewanto sampai Goenawan Mohamad, dalam pengantar untuk buku cerpen pilihan Kompas, melihat kecenderungan itu sebagai realisme bertenden yang memperalat cerita untuk “menghadirkan” realitas sosial

Nirwan Dewanto mencoba keluar dari kecenderungan itu, ketika memilih cerpen-cerpen Kompas yang kemudian terhimpun dalam Ripin. Dalam pengantarnya, Nirwan menyatakan apa yang menjadi orientasi estetisnya: bahwa sastra hanyalah hasil kepengrajinan. “Membuat fiksi, dalam hal ini cerita pendek, adalah memandang diri pertama-tama dan pada akhirnya sebagai pengrajin kata-bahasa”. Muatan sosial, atau apa pun istilahnya, bukanlah hal yang utama, karena bahasa tidaklah begitu saja sesuai dengan maksud pengarangnya. Dengan orientasi seperti itu, kita jadi mahfum, bila Nirwan secara tersirat mengatakan kalau cerpen-cerpen dalam Ripin kemudian dianggap belum pantas untuk dikritik. Karena “kritik sastra baru bisa berlaku di atas karya satra yang memperlihatkan anasir kritis dalam dirinya”. Sikap Nirwan inilah, yang kalau tidak salah baca, dianggap Binhad Nurohmat sebagai “mendustasi sastra koran’” (Kompas, 8/7/2007)

Nirwan telah negaskan pilihan dan orientasi estetisnya, dan itu jelas menggembirakan, karena pilihan cerpen Kompas kemudian memperlihankan kecenderungan yang berbeda, dibanding pilihan cerpen dalam kumpulan sebelumnya. Perubahan proses penjurian, juga memperlihatkan upaya Kompas untuk tidak berhenti dalam orientasi estetis tertentu. Tetapi apakah semua proses pemilihan itu juga akan mengubah ‘orientasi estetis cerpen Kompas yang, bagaimana pun, telah membuat cerpen-cerpennya terasa khas?

Orientasi estetis itu, akan makin kentara bila melakukan perbandingan antarmedia. Masing-masing koran, seakan-akan berupaya mengembangkan selera sastra atau orientasi estetisnya sendiri-sendiri. Kita bisa melihat kecenderungan orientasi estetis yang dikembangkan Koran Tempo atau Media Indonesia, misalnya. Hal inilah yang disoroti di akhir diskusi. Koran Tempo,oleh sebagian rekan dikatakan lebih ‘menyukai’ karya-karya yang menjelajah kemungkinan bercerita dan berbahasa.

Pada konteks itulah, bila membaca cerpen-cerpen Kompas, akan terasa makin ada sesuatu yang khas pada cerpen Kompas. Kecenderungan umum cerpen-cerpen Kompas memang tampak sederhana, tidak penuh gaya, tidak sibuk dengan eksplorasi berbahasa dan cara bercerita. (Bukan berarti Kompas tidak terbuka bagi cerpen – meminjam kalimat Nirwan – yang mencoba memporak-porandakan hubungan sebab akibat maupun cerapan umum). Mungkin sastra yang realis, konvensional, sederhana, cenderung sosiologis seperti itu, bagi sebagian orang sudah usang dan katrok. Tetapi bukankah sebagai sebuah pilihan estetis setidaknya ia mesti diapresiasi? Di sinilah, sesungguhnya, diantara kecenderungan yang dikembangkan koran-koran lainnya, orientasi estetis cerpen Kompas menjadi penting: karena ia justru memperkaya pilihan selera sastra kita.

12 Responses to “– Orientasi Estetis Cerpen KOMPAS”


  1. 1 monasjunior Maret 24, 2008 pukul 1:54 pm

    Pertanyaannya, kenapa hanya Kompas? Apa media lain tidak tertarik berbuat kebajikan seni yang sama atau setidaknya serupa tapi tak sama lah. Bukan begitu, Mas?

  2. 2 agusnoorfiles Maret 25, 2008 pukul 4:10 am

    Seperti yang tersurat dalam tulisan itu, diskusi memang memfokuskan diri pada cerpen-cerpen yang terbit di Kompas. Barangkali, media-media lain punya policy juga terkait dengan ruang sastranya. Ini akan menarik untuk study juga. Siapa mau mengkajinya?

  3. 3 ekakurniawan Maret 26, 2008 pukul 5:47 pm

    tradisi juri dari luar kompas kayaknya bakal terus berlanjut. kudengar (perlu konformasi) untuk tahun 2008, jurinya Sapardi dan Ayu Utami (saya tidak tahu ini rahasia apa tidak. kalo rahasia, jelas udah bocor, hehehe). seperti apa seleranya, perlu ditunggu beberapa minggu lagi …🙂

  4. 4 agusnoorfiles Maret 28, 2008 pukul 7:24 am

    Hhmm… asyik juga tuh isyu ato bocorannya. Kita tunggu aja. Dan, minggu-minggu ini, emang minggu-minggu yang ditunggu oleh para penulis yang cerpennya muncul di Kompas setahun lalu, kan? Hehehe… Sebagaimana biasanya, minggu-minggu ini akan datang surat yang akan memberitahukan kalo “cerpen kita” terpilih masuk ato tidak. “Penafsir Kebahagiaan” mestinya masuk. Kamu lagi banyak berdoa, ya, Ka?

  5. 5 monasjunior Maret 28, 2008 pukul 11:06 am

    Mmm yah, ini sebenarnya menarik. Yang lebih menarik, kami –mungkin bisa disebut penggiat sastra di daerah–, lebih tertarik bagaimana Kompas bisa menghidupkan sistem kesusastraannya pada halaman khusus mereka selama bertahun-tahun. Maksud saya, Sastra di Kompas tetap eksis, tidak berpengaruh terhadap peralihan generasi, alias, mempunyai proses regenerasi yang kuat. Patut dicontoh (ini pernyataan jujur dan tulus, tidak ada unsur paksaan apapun, red).

    Sementara di media-media lokal, khususnya terbitan provinsi maupun kabupaten, dari tahun ke tahun melulu mengandalkan individu guna kemajuan halaman budaya mereka (terutama halaman yang memuat karya-karya sastra).

    Misalnya di Jambi, ada harian Jambi Independent, Jambi Ekspress dan Posmetro Jambi yang selalu eksis memuat karya-karya sastra pada koran mereka setiap hari Minggu. Malangnya, (karena saya berada di dalam lingkungan salah satu koran ini) saya jadi tahu, bahwa kemajuan kesusastraan media di Jambi, berbanding sejajar dengan individu si Redaktur Budaya.

    Misalnya; si Badu adalah wartawan yang juga penggiat sastra di Jambi, diserahkan tanggungjawab sebagai redaktur halaman budaya di medianya, otomatis halaman itu sekaligus media itu, akan memiliki kekuatan khusus bagi dunia sastra untuk beberapa saat. Tetapi, begitu si Badu di mutasi ataupun dipindahtugaskan sebagai redaktur halaman lain, otomatis halamn budaya maupun media itu, seketika kehilangan ‘roh’. Kembali gersang tersebab pemegang halaman (redaktur)-nya, orang ‘baru’, yang seringkali tak berpengalaman di wilayah kesusastraan?

    Nah, pertanyaannya? Bagaimana di media nasional selain Kompas? Apakah juga terjadi seperti di media lokal, alias, kemajuan kesusastraan amat mengandalkan kemampuan individu redaktur atau penanggungjawab halaman budaya? Mungkin Mas bisa bantu jembatani. Atau rekan-rekan yang lain.

    Terima Kasih

  6. 6 agusnoorfiles Maret 29, 2008 pukul 2:08 am

    Sungguh persoalan yang menarik. Siapa yang bisa dan mau urun rembug, bertukar pikiran soal ini? Pasti menarik, bila banyak pikiran yang terlibat. Saya juga merasa: betapa pada banyak hal, rubrik sastra sangat identik dengan Sang Redaktur. Bukankah, dulu, majalah Sastra juga tak bisa dipisahkan dengan Jassin. Ato seperti Pujangga Baru dan STA?
    Mestinya, sebagai lembaga, rubrik sastra bisa menjadi institusi yang tak terlalu terkait dengan personalitas redaktur. Kompas, saya kira, bisa mewujudkan itu lantaran sistem yang dibangunnya: untuk menentukan sebuah karya, dipilih oleh tim redaktur, bukan ditentukan oleh satu orang yang memiliki otoritas tunggal. Artinya, Kompas berupanya memperkuat lembaga seleksinya, bukan otoritas seleksi.

  7. 7 ekakurniawan Maret 29, 2008 pukul 2:39 pm

    atau, ketika Kompas merasa tak memiliki “orang dalam” untuk mengurusi halaman sastranya, mereka akan memakai orang luar. contoh terbaik adalah halaman puisi Kompas: mereka pernah memakai Sutardji, dan sekarang Hasif Amini. Begitu pula Koran Tempo memakai “orang luar”: Nirwan Dewanto. tentu hal ini sangat ditentukan oleh kultur media bersangkutan untuk “legowo” memberikan beberapa halaman kepada yg mereka pikir lebih mampu.

  8. 8 monasjunior Maret 30, 2008 pukul 8:00 am

    Mmm.. lembaga seleksi, penggunaan ‘orang luar’, saya pikir ini praktek yang patut dicontoh. Kalau bisa, maukah Mas Eka menjabarkan prosedure pemanfaatan orang luar seperti diterapkan di Kompas atau Tempo tersebut? Mudah-mudahan, kami-kami di daerah bisa menirunya demi kebajikan seni khususnya wilayah sastra.

  9. 9 ekakurniawan Maret 31, 2008 pukul 3:15 am

    wah, yg mengetahui prosedur tentu saja koran masing2. tapi mengenai tenaga out-sourching ini, kompas tampaknya emang punya tradisi. Selain Hasif amini mengurusi halaman puisi, ada juga radar panca dahana yang ngurusin halaman teroka. mereka berdua jelas bukan karyawan Kompas; tapi mereka dibayar untuk pekerjaan tersebut. kupikir sesederhana itu.

  10. 10 triyanto triwikromo April 17, 2008 pukul 5:28 am

    Tentang redaktur luar, o, saya membayangkan Eka Kurniawan bisa menjadi “Redaktur Luar”-nya Media Indonesia. Sayang MI yang pernah menjadi salah satu alternatif penting untuk mengekspresikan keindahan sastra Indonesia tak memiliki rubrik sastra hanya karena tak memiliki redaktur andal.

  11. 11 rewn Oktober 30, 2008 pukul 8:18 am

    hoii met kenal juga ya semua nya salam bahagia buat kalian semua wahai jiwa jiwa sang pecinta….sebarkan cinta dan damai niscaya dunia jadi lebih bersahabat dengan kita semua


  1. 1 – Perihal Cerpen-cerpen Terbaik KOMPAS « Agus Noor_files Lacak balik pada Juli 26, 2009 pukul 9:41 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Maret 2008
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: