Arsip untuk Maret 22nd, 2008

– AHMAD DHANI, MAIA, DAN CERPEN AGUS NOOR

Ini waktu yang panjang untuk bermalas-malasan. Saya memutuskan untuk santai di de Click Kafe. Sekalian berselancar gratisan dan liat-liat laman. Baru kemarin aku tiba, dan menyaksikan langit Yogyakarta yang tak terlalu ramah. Karena itu aku memerlukan sedikit gelak tawa dan omong kosong pembunuh sepi. Di de Click, saya kadang menemukan hal-hal yang lumayan mencerdaskan di antara berbagai bualan.

Seperti bualan tentang artis, yang terasa menyedihkan di telinga. Lalu seseorang berkata, ketika gosip tentang Ahmad Dhani dan Maia merambat dari bibir merah televisi. “Aku jadi inget cerpenmu, Gus…” katanya. “Kamu seperti sudah meramalkan kisah perceraian mereka…”

Biasalah, lalu kami bicara bagaimana kini orang senang sekali pingin mengintip masa depan: ramal kartu tarot, bola kristal dan garis tangan, jadi gaya hidup. “Jangan-jangan penulis seperti kamu memang pinter menerawang masa depan juga? Cerpenmu itu kan kamu tulis sebelum ribut-ribut perceraian Dhani dan Maia ini…”

Adakah seorang pengarang berkehendak menuliskan masa depan, atau sekadar ingin menuliskan imajinasinya? Saya ingin berbagi, dan biarlah Anda membaca cerpen Potongan-potongan Cerita di Kartu Pos itu sendiri… Lanjutkan membaca ‘– AHMAD DHANI, MAIA, DAN CERPEN AGUS NOOR’

– TUKANG JAHIT

lukisan2.jpg

Cerpen Agus Noor

Tukang jahit itu selalu muncul setiap kali menjelang Lebaran. Seolah muncul begitu saja ke kota ini. Kata orang, ia tak hanya bisa menjahit pakaian. Ia juga bisa menjahit kebahagiaan. Tukang jahit itu punya jarum dan benang ajaib yang bisa menjahit hatimu yang sakit. Jarum dan benang, yang konon, diberikan Nabi Khidir dalam mimpinya.

Ibu pernah bercerita, betapa dulu, setiap menjelang Lebaran, kota ini selalu didatangi banyak sekali tukang jahit. Kemunculan mereka selalu menjadi pemandangan yang menakjubkan, Nak. Ketika cahaya matahari pagi yang masih lembut kekuningan menyepuh perbukitan dan halimun perlahan-lahan menyingkap, kau bisa menyaksikan serombongan tukang jahit yang masing-masing memikul dua kotak kayu berbaris muncul dari balik lekuk bukit. Kanak-kanak akan berlarian senang menyambut kemunculan mereka, “Tukang jahit datang! Asyiik! Lebaran jadi datang!” Seakan-akan bila para tukang para jahit itu tak muncul maka Lebaran tidak jadi datang ke kota ini. Lanjutkan membaca ‘– TUKANG JAHIT’

– Orientasi Estetis Cerpen KOMPAS

Oleh Agus Noor

DISKUSI kecil berlangsung di Yogyakarta, memperbincangkan kumpulan ‘cerpen Kompas pilihan’ Ripin. Ada dua cerpen saya termaktub dalam buku itu, karena itulah saya lebih banyak menahan diri dalam diskusi. Perubahan proses penjurian (dari biasanya dilakukan ‘orang dalam Kompas’ kini oleh ‘orang luar Kompas’ – dalam hal ini Nirwan Dewanto dan Bambang Sugiharto) mendapat cukup perhatian dari peserta diskusi. Cerpen-cerpen dalam Ripin, diangap memiliki ‘kecenderungan selera yang berbeda’, dibanding pilihan cerpen dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas sebelumnya.

ripin.gifTradisi pemilihan cerpen Kompas dari Kado Istimewa (1992) – Jl. “Asmaradana” (2005) memperlihatkan apa yang oleh kawan-kawan kemudian disebut: cerpen yang khas Kompas. Seperti ada orientasi ‘estetis tertentu’ (disadari atau tidak oleh Kompas), yang membuat cerpen-cerpen yang kemudian dianggap ‘baik oleh Kompas’ memiliki kekhasan yang sebenarnya menjadi bagian yang melekat dengan karakteristik Kompas sebagai sebuah harian. Mencoba memahami kekhasan cerpen Kompas, pada akhirnya juga mencoba memahami nilai-nilai jurnalistik yang dikembangkan oleh Kompas. Pada konteks ini, sebenarnya kita bisa memahami, betapa pada akhirnya cerpen yang muncul di Kompas tidak bisa dilepaskan dari konteks historis dan sosial Kompas sebagai medium jurnalistik. Lanjutkan membaca ‘– Orientasi Estetis Cerpen KOMPAS’


Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Maret 2008
S S R K J S M
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Archives Files

Catagories of Files