– Seni yang Menemukan Manusia

Sebuah forum yang kecil dan intim. Aih, betapa meneduhkan suasana obrolan dalam forum semacam itu. Rasanya, itulah yang kini langka dalam dunia seni kita. Diskusi-diskusi yang terjadi dalam dunia seni kita belakangan ini, selalu berlangsung dalam tensi tinggi. Aroma kecurigaan, dan saling silang sengkarut kecurigaan membuat pertukaran pikiran lebih diwarnai nada pertengkaran dengan argumen-argumen yang kadang menggelikan dan penuh kemarahan. Oleh itulah, saya selalu males muncul ke acara-acara diskusi sastra, misalnya. Saya lebih suka sembunyi dalam sunyi. Bila pun saya diminta dateng, saya selalu menginginkan forum diskusi yang ibarat rumah, ia rumah yang bersih terang dan tenang. Diskusi, yang dihadiri sedikit orang yang memang memiiki minat dan intensitas yang sama atas tema yang akan dibicarakan.

Ketika beberapa teman datang dan mengajak saya diskusi, saya pun memprasaratkan itu. Maka berlangsunglah obrolan intim dan intens seputar pertanyaan: apa yang masih bisa dilakukan oleh sastrawan atau seniman di zaman ini? Zaman, di situ, tentu saja mengacu pada situasi kekinian di mana pengarang hidup dan tumbuh. Ah, pertanyaan itu, tiba-tiba mengusik saya: untuk apakah saya menulis ditengah zaman seperti ini? Adakah memang benar zaman ini masih membutuhkan kehadiran seorang penulis? Apa relevansi karya-karya itu bagi masyarakat kita? Esai berikut, yang saya tuturkan dalam obrolan hangat itu, barangkali bisa memperlihatkan kegelisahan saya saat ini, berkaitan dengan sikap kepengarangan saya…

Seni yang Menemukan Manusia

Oleh Agus Noor

Sebagaimana dinyatakan Michel Foucault, terjadinya “individualisasi ide” (dalam ilmu pengetahuan, kususasteraan, filsafat dan ilmu terapan) menjadi momentum yang istemewa bagi keberadaan “Pengarang” (author). Segala macam kategorigasi karya, mazhab, menjadi (terasa) kurang istimewa kedudukannya dibandingkan dengan unit atau entitas yang disebut pengarang dan hasil karyanya. Individualisasi ide (sebagai konsekuensi bawaan dari modernisme) memang telah memberikan posisi yang istimewa bagi pengarang, hingga ia selalu menjadi bayangan yang tak gampang dihilangakan dari karya yang dihasilkannya.Bahkan ketika gagasan yang ingin menyurutkan posisi pengarang (bahwa pengarang telah mati begitu satu tulisan selesai, sebagaimana diyakini oleh Barthes dan para kaum strukturalis) mulai banyak diterima dan diyakini untuk mengkaji otonomi sebuah teks, kita (setidaknya saya) sangat sulit untuk mengabaikan posisi dan kedudukan pengarang berkaitan dengan karya(-teks)-nya.

Sebelum individualisasi ide terjadi, kita bertemu dengan karya-karya yang anonim. Karya-karya yang membuat kisah dan tokoh menjadi yang utama, memiliki kedudukan istimewa dalam ingatan satu komunitas. Zeus, Hera, Hermes, Helios, Sangkuriang sampai Wiranggaleng, menjadi lebih utama dan istimwa, meski kita tak pernah menemukan nama pengarangnya. Sampai kemudian indvidualisasi ide itu terjadi, dan para tokoh dengan seluruh kisahnya seperti surut ke belakang punggung pengarang. Don Quixote dan Miguel de Cervantes, seperti tak terpisahkan, meski Borges melalui ficciones yang dikembangkannya (pernah) mencoba “mempermainkan” keduanya. Tetapi indivisualisasi ide seakan-akan memberikan wilayah khusus yang mempertautkan hubungan antara pengarang dengan tokoh yang diciptakannya. Pengarang dan tokoh, menjadi memiliki hubungan yang tak terpisahkan, yang membawa resiko dan segala kemungkinan yang bisa mempertautkannya, sebagaimana Madame Bouvary dengan Flaubert, atau Minke dengan Pramudya. Di sinilah, mungkin, pengarang mulai mendapat perlakuan khusus berkaitan dengan authenticity, attribution sekaligus berkaitan dengan valorization: sistem nilai dimana pengarang terlibat di dalamnya yang membuatnya terkait erat secara kultural dan sosial. Pada konteks ini, saya pun selalu sulit memisahkan antara Bawuk dan Umar Kayam. Antara Pariyem dengan Linus Suryadi Ag.

Berkaitan dengan “para tokoh yang diciptakan pengarang” itulah, saya mulai meyakini apa yang bisa dilakukan oleh seorang pengarang ketika ia bersikeras untuk terus menulis. Yakni, kekeraskepalaan yang menegangkan untuk menciptakan tokoh. Karena bagi saya pribadi (setidaknya saat ini) menulis memang sebuah upaya untuk menemukan tokoh. Tokoh-lah, yang menurut saya, pada saat ini, bisa merepresentasikan sekaligus menggambarkan: apakah individualisasi ide (yang menjadi hak yang telah dimiliki oleh seorang pengarang modern) menemukan artikulasi estetisnya, atau tidak. Sekaligus bisa memperlihatkan urgensi dari klaim-klaim tersebut, berkaitan dengan situasi sosial yang kini terjadi.

Indivisualisasi ide memungkinkan pengarang menemukan authenticity-nya. Authenticity ini bagi saya tak ada kaitannya dengan sikap dan gaya hidup seorang pengarang. Artinya, authenticity ini tidak berkorelasi langsung antara pengarang dengan kecenderungan estetis yang dikembangkannya, termasuk di dalamnya adalah tokoh-tokoh yang diciptakannya. Saya lebih melihatnya sebagai sebuah peluang yang dimiliki pengarang untuk menghadirkan nilai-nilai otentik, yang bisa menjadi refleksi bersama. Dan nilai-nilai otentik itu bisa dihadirkan melalui pergulatan tokoh. Dan di sinilah, individualisasi ide dan authenticity yang dimiliki seorang pengarang menjadi sebuah peluang untuk menghadirkan karakterisasi tokoh yang bisa mengartikulasikan situasi dan kondisi manusia di tengah zaman yang melindasnya.

Ketika sastra (juga teater) tidak “menghasilkan” tokoh-tokoh semacam itu, maka, saya melihat (atau merasa) bahwa ada sesuatu yang salah di sana. Dan itulah yang cukup menggelisahkan saya, ketika dalam dunia cerpen kita muncul sinyalemen soal tokoh yang fragmentaris dan tipis – satu gejala, yang mungkin juga tersasa pada novel-novel kita (belakangan ini) dan panggung-panggung teater. Kita lama tak bertemu dengan tokoh yang inspirasional, yang muncul ke hadapan kita dengan kompleksitas psikologis dan persoalannya, yang memiliki karakterisasi yang kukuh utuh, tokoh yang sebagaimana diungkapkan Goenawan Mohamad, “mampu untuk tersisa dalam kenangan setelah kita selesai membacanya” – saat ia membicarakan kecenderungan cerpen yang banyak muncul di koran. Tokoh yang oleh Iwan Simatupang dinyatakan sebagai “variant dari genus manusia”.

“Idealisasi” tokoh seperti itu, barangkali sudah lama ditolak oleh para pengarang kita. Karena dalam idealisasi tersebut tersirat korelasi yang otoriter antara pengarang dan tokohnya: seakan-akan pengaranglah yang menciptakan tokoh. Karena “diciptakan”, maka tokoh menjadi terkesan inferior di banding pengarang yang telah menciptakannya (bayangkanlah: adakah mungkin Minke dilepaskan dari bayang-bayang pemujaan terhadap Pramudya Ananta Toer?). Padahal, tokoh bisa saja seperti monster bagi pengarang, seperti mahkluk ciptaan dokter Frankesnstein dalam novel Marry Selley, yang meneror dan mengganggu penciptanya. Saya sendiri tidak terlalu memercayai bahwa pengaranglah yang menciptakan tokoh. Pengarang memang menuliskan kisah dan riwayat tokoh itu, tetapi ia dibentuk tidak semata-mata dari hasil imajinasi dan keterampilan tekhnis seorang pengarang. Tokoh dituliskan oleh seorang pengarang, karena ia hidup dalam imajinasinya, dan imajinasi itu terbentuk oleh lingkungan sosial yang membuat pengarang gelisah untuk menuliskannya. Ketika tak ada tokoh, yang mampu merepresentasikan kegalauan zaman itu, saya menduga ada yang salah dalam kegelisahan seorang seniman – hingga meski pun ia terus menulis dan menghasilkan karya, kita (sebagai masyarakat pembaca) wajib mempertanyakannya. Setidaknya mencabut hak-hak individualisasi ide yang membuat seorang pengarang memiliki “status sosial” tersendiri. Jangan-jangan, para pengarang itu hanya menulis untuk sebuah selebrasi sosial, yang hanya menguntungkan kedudukannya.

Para pengarang semestinya mengingat, betapa individualisasi ide yang dimilikinya juga membuatnya memilki tanggung jawab moral pada situasi dan zamannya. “Kita harus menulis untuk zaman kita sendiri”, tulis Jean Paul Sartre, “tetapi tidak berarti kita harus mengunci diri dalam zaman itu. Menulis untuk zaman kita bukan berarti mencerminkannya secara pasif, tetapi berarti ingin mempertahankan dan mengubahnya”. Dengan kata lain, ada sesuatu yang coba kita perjuangkan, baik dalam satu upaya mempertahankan keyakinan atau mengubah satu kecenderungan. Di situlah, menulis untuk zaman kita ialah “sebuah pergerakan” lanjut Sartre, untuk terus-menerus mengungguli diri sendiri. Memakai pemikiran Sastre sebagai keyakinan, saya meyakini, bahwa upaya seorang pengarang untuk terus mengungguli diri sendiri ialah dengan cara menuliskan kisah bagi tokoh-tokohnya, bukan bagi eksistensi dirinya. Ketika tokoh tak kokoh, maka yang muncul adalah nama pengarangnya. Dan ini menjadi semacam gejala sastra kita pada umumnya, yang membuat kehadiran tokoh-tokoh yang diciptakannya itu menjadi representasi pengarangnya semata-mata. Tokoh, kemudian sering lekat dengan sosok (bahkan pribadi) pengarangnya.

Saya tak sedang mengidamkan tokoh besar, dengan segala macam heroisme dan tragedinya, tetapi saya sedang merindukan sebuah cara bagi sastra untuk “menemukan manusia”. Di zaman yang massif dan konsumtif seperti ini, dengan segala macam kodifikasi yang membuat individu menjadi anonim, maka bertemu “manusia” menjadi kebahagiaan tersendiri; bertemu manusia yang mampu merefleksikan dan mengartikulasikan kegalauan dirinya, untuk menemukan kepribadian yang otentik, yang tak umum; seperti bertemu sesosok individu di tengah massa yang mengambang dalam politik kita. Barangkali, secara tekhnis, tokoh itu bukanlah tokah yang bersifat round character, tetapi tokoh yang tercabik-cabik, yang gagap dan gagal menyelesaikan persoalan yang dihadapinya, tetapi ia tetap berdiri di hadapan kita, meski dengan kaki gemetar. Mungkin seperti tokoh Waska dan Borok dalam drama Arifin C. Noer yang, menurut saya merupakan variant dari genus manusia” – satu frase yang digunakan oleh Iwan Simatupang ketika ia menekankan pentingnya tokoh dalam sastra.. Bagi saya Waska menjadi otentik bukan sekadar karena cara penghadirannya (dalam lakon tersebut), tetapi lebih karena reaksi dan tanggapannya yang khas atas peristiwa dan problematika yang dihadapinya. Emosinya, kemarahannya, kelebatan pikirannya ketika berinteraksi dengan tokoh-tokoh lainnya dan saat memandang dan menghadapi dunia sekelilingnya begitu otentik, hingga tokoh ini tak mungkin tergantikan dengan tokoh lainnya.

Saya menyadari, ketika seorang pengarang hidup di zaman yang tak lagi mengangungkan otentisitas kepribadian, tak lagi peduli dengan unikum manusia sebagai sebuah individu yang otentik, maka menulis adalah menjadi jalan untuk mengingatkan pentingnya “manusia-manusia berkarakter”. Fakta dan peristiwa bisa dihadirkan oleh banyak medium (seperti televisi dan surat kabar atau ilmu sosial), tetapi manusia hanya terasa menggugah dalam seni. Karena itulah, belakangan saya meyakini, menulis bukanlah persoalan mengungkapkan fakta, tetapi sebuah pergulatan untuk menghadirkan tokoh yang otentik, sebagai satu cara untuk melawan massifikasi nilai yang membuat kita dari hari ke hari makin seragam. Para pengarang memiliki tanggungjawab seperti itu, karena ia memang telah diberi keistimewaan untuk melakukan individualisasi ide, yang membuat dirinya diberi kesempatan untuk bergelut dengan gagasan-gagasan estetik, dan mengekspresikannya sebagai ekpresi yang orisinil. Tanpa itu, para pengarang, para seniman, hanya akan jadi tukang, atau di paksa menjadi tukang.


3 Responses to “– Seni yang Menemukan Manusia”


  1. 1 roslan jomel Maret 13, 2008 pukul 3:10 am

    Salam.

    Tulisannya bagus sekali tentang betapa pentingnya kedalaman perwatakan dalam sebuah fiksyen. Mengingatkan saya kepada cerpen panjang Metamorfosis tulisan Mendiang Franz Kafka.

  2. 2 veta April 5, 2008 pukul 5:14 am

    om agus, tulisan di blognya keren-keren. Salam kenal.

  3. 3 agusnoorfiles April 5, 2008 pukul 8:42 am

    Salam kenal juga. Fotomu juga keren, hehe…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Maret 2008
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: