Arsip untuk Maret, 2008

– Sedikit Tentang Buku “20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008” Pena Kencana

2 hari lalu, paket berisi buku 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008, saya terima. Karena takcover-buku-cerpen-pk.jpg ada alamat pengirimnya, saya menduga, itu mungkin dikirim oleh Panitia Pena Kencana. Sebagaimana tradisi: barangkali itu sebagai tanda bukti penerbitan. Karna itu, saya berterimakasih, telah mendapat kiriman buku itu. Setidaknya, kini saya sudah melihat wujud buku itu secara langsung dan konkrit. Maklumlah, di belantara kehebohan seputar Anugerah Pena Kencana yang saya baca di koran dan internet, seliweran SMS, juga gosip-gosip yang murahan mau pun yang mengesankan ingin terdengar intelektual, saya belum melihat wujud buku itu secara langsung.

Jadi saya merasa tidak pada tempatnya bila saya ikut-ikutan berkomentar.

Buku itu belum saya baca seluruhnya. Bagian pengantar, terutama tulisan Budi Darma sebagai semacam Ketua Juri prosa (cerpen), saya baca pertama kali. Karena, diam-diam saya memang berkeinginan mengetahui: kira-kira kenapa 20 cerpen itu terpilih, dan dianggap terbaik di antara ratusan cerpen lainnya, yang terbit tersebar di berbagai koran se Indonesia. Tapi Budi Darma, pagi-pagi seperti sudah membatasi pengantar itu dengan mengatakan apa yang ditulisnya mesti dianggap sebagai “jendela terbuka”. Kitalah, yang disuruh menjenguk sendiri-sendiri melalui jendela terbuka itu, untuk menilai cerpen-cerpen terpilih. Jadi, tulisan Budi Darma itu memang benar-benar sebuah catatan pengantar. Bukan semacam pertanggungjawaban penjurian. Lanjutkan membaca ‘– Sedikit Tentang Buku “20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008” Pena Kencana’

– AHMAD DHANI, MAIA, DAN CERPEN AGUS NOOR

Ini waktu yang panjang untuk bermalas-malasan. Saya memutuskan untuk santai di de Click Kafe. Sekalian berselancar gratisan dan liat-liat laman. Baru kemarin aku tiba, dan menyaksikan langit Yogyakarta yang tak terlalu ramah. Karena itu aku memerlukan sedikit gelak tawa dan omong kosong pembunuh sepi. Di de Click, saya kadang menemukan hal-hal yang lumayan mencerdaskan di antara berbagai bualan.

Seperti bualan tentang artis, yang terasa menyedihkan di telinga. Lalu seseorang berkata, ketika gosip tentang Ahmad Dhani dan Maia merambat dari bibir merah televisi. “Aku jadi inget cerpenmu, Gus…” katanya. “Kamu seperti sudah meramalkan kisah perceraian mereka…”

Biasalah, lalu kami bicara bagaimana kini orang senang sekali pingin mengintip masa depan: ramal kartu tarot, bola kristal dan garis tangan, jadi gaya hidup. “Jangan-jangan penulis seperti kamu memang pinter menerawang masa depan juga? Cerpenmu itu kan kamu tulis sebelum ribut-ribut perceraian Dhani dan Maia ini…”

Adakah seorang pengarang berkehendak menuliskan masa depan, atau sekadar ingin menuliskan imajinasinya? Saya ingin berbagi, dan biarlah Anda membaca cerpen Potongan-potongan Cerita di Kartu Pos itu sendiri… Lanjutkan membaca ‘– AHMAD DHANI, MAIA, DAN CERPEN AGUS NOOR’

– TUKANG JAHIT

lukisan2.jpg

Cerpen Agus Noor

Tukang jahit itu selalu muncul setiap kali menjelang Lebaran. Seolah muncul begitu saja ke kota ini. Kata orang, ia tak hanya bisa menjahit pakaian. Ia juga bisa menjahit kebahagiaan. Tukang jahit itu punya jarum dan benang ajaib yang bisa menjahit hatimu yang sakit. Jarum dan benang, yang konon, diberikan Nabi Khidir dalam mimpinya.

Ibu pernah bercerita, betapa dulu, setiap menjelang Lebaran, kota ini selalu didatangi banyak sekali tukang jahit. Kemunculan mereka selalu menjadi pemandangan yang menakjubkan, Nak. Ketika cahaya matahari pagi yang masih lembut kekuningan menyepuh perbukitan dan halimun perlahan-lahan menyingkap, kau bisa menyaksikan serombongan tukang jahit yang masing-masing memikul dua kotak kayu berbaris muncul dari balik lekuk bukit. Kanak-kanak akan berlarian senang menyambut kemunculan mereka, “Tukang jahit datang! Asyiik! Lebaran jadi datang!” Seakan-akan bila para tukang para jahit itu tak muncul maka Lebaran tidak jadi datang ke kota ini. Lanjutkan membaca ‘– TUKANG JAHIT’

– Orientasi Estetis Cerpen KOMPAS

Oleh Agus Noor

DISKUSI kecil berlangsung di Yogyakarta, memperbincangkan kumpulan ‘cerpen Kompas pilihan’ Ripin. Ada dua cerpen saya termaktub dalam buku itu, karena itulah saya lebih banyak menahan diri dalam diskusi. Perubahan proses penjurian (dari biasanya dilakukan ‘orang dalam Kompas’ kini oleh ‘orang luar Kompas’ – dalam hal ini Nirwan Dewanto dan Bambang Sugiharto) mendapat cukup perhatian dari peserta diskusi. Cerpen-cerpen dalam Ripin, diangap memiliki ‘kecenderungan selera yang berbeda’, dibanding pilihan cerpen dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas sebelumnya.

ripin.gifTradisi pemilihan cerpen Kompas dari Kado Istimewa (1992) – Jl. “Asmaradana” (2005) memperlihatkan apa yang oleh kawan-kawan kemudian disebut: cerpen yang khas Kompas. Seperti ada orientasi ‘estetis tertentu’ (disadari atau tidak oleh Kompas), yang membuat cerpen-cerpen yang kemudian dianggap ‘baik oleh Kompas’ memiliki kekhasan yang sebenarnya menjadi bagian yang melekat dengan karakteristik Kompas sebagai sebuah harian. Mencoba memahami kekhasan cerpen Kompas, pada akhirnya juga mencoba memahami nilai-nilai jurnalistik yang dikembangkan oleh Kompas. Pada konteks ini, sebenarnya kita bisa memahami, betapa pada akhirnya cerpen yang muncul di Kompas tidak bisa dilepaskan dari konteks historis dan sosial Kompas sebagai medium jurnalistik. Lanjutkan membaca ‘– Orientasi Estetis Cerpen KOMPAS’

– NASKAH MONOLOG “SARIMIN”

– Seni yang Menemukan Manusia

Sebuah forum yang kecil dan intim. Aih, betapa meneduhkan suasana obrolan dalam forum semacam itu. Rasanya, itulah yang kini langka dalam dunia seni kita. Diskusi-diskusi yang terjadi dalam dunia seni kita belakangan ini, selalu berlangsung dalam tensi tinggi. Aroma kecurigaan, dan saling silang sengkarut kecurigaan membuat pertukaran pikiran lebih diwarnai nada pertengkaran dengan argumen-argumen yang kadang menggelikan dan penuh kemarahan. Oleh itulah, saya selalu males muncul ke acara-acara diskusi sastra, misalnya. Saya lebih suka sembunyi dalam sunyi. Bila pun saya diminta dateng, saya selalu menginginkan forum diskusi yang ibarat rumah, ia rumah yang bersih terang dan tenang. Diskusi, yang dihadiri sedikit orang yang memang memiiki minat dan intensitas yang sama atas tema yang akan dibicarakan.

Ketika beberapa teman datang dan mengajak saya diskusi, saya pun memprasaratkan itu. Maka berlangsunglah obrolan intim dan intens seputar pertanyaan: apa yang masih bisa dilakukan oleh sastrawan atau seniman di zaman ini? Zaman, di situ, tentu saja mengacu pada situasi kekinian di mana pengarang hidup dan tumbuh. Ah, pertanyaan itu, tiba-tiba mengusik saya: untuk apakah saya menulis ditengah zaman seperti ini? Adakah memang benar zaman ini masih membutuhkan kehadiran seorang penulis? Apa relevansi karya-karya itu bagi masyarakat kita? Esai berikut, yang saya tuturkan dalam obrolan hangat itu, barangkali bisa memperlihatkan kegelisahan saya saat ini, berkaitan dengan sikap kepengarangan saya… Lanjutkan membaca ‘– Seni yang Menemukan Manusia’


Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Maret 2008
S S R K J S M
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Archives Files

Catagories of Files